Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Baby Alena


__ADS_3

Hari-hari di kediaman Malik dan Renita selalu banyak orang yang datang, seperti tetangga. Keluarga jauh dan juga staf. Relasi juga karyawan terus berdatangan untuk melihat baby nya Malik dan Renita.


Seperti sekarang pun Renita kedatangan Sheila beserta keluarga suaminya. Jefri juga ada bersama istri juga orang tuanya yang tiada lain adalah mertua Renita juga alias nenek dan kakek nya Rendy.


Membuat suasana rumah selalu ramai dan tidak pernah sepi dari makanan di meja, selalu tersedia makanan ringan maupun makanan berat. Di meja makan maupun di meja ruang tamu dan ruang tengah tak ketinggalan buah-buahnya pun selalu ada.


Biar kalau ada tamu nggak harus pasangin lagi dan pasangin lagi, karena sudah tersedia di beberapa titik. Di lantai bawah maupun di lantai atas.


Alena Malik Rianzah. Itu nama bayinya Malik dan Renita yang cantik, putih menggemaskan. Banyak hadiah yang sudah didapatkan bahkan satu kamar pun penuh dengan hadiah-hadiah yang dipersembahkan untuk Alena.


"Cantiknya Alena. Aku sayang ini!" ucapnya Sheila sambil menggendong Alena yang baru saja mandi yang tampak segar wangi khas bau baby.


"Emangnya aunty cantik ... cantikan bunda!" celetuknya Rendy sambil tertawa.


"Iih, Rendy ... jahat sih sama tante!" awas ya nanti Tante tidak kasih jajan--"


"Biarin, Rendy banyak uang kok ... nggak perlu dikasih jajan sama Tante ha ha ha ..." Rendy menyahut dan tertawa.


"Pintar ... ponakan om, pintar dia. Ngapain minta jajan sama tante Sheila, orang tidak kekurangan kok. Ha ha ha ..." timpal Jefri sembari tertawa lepas.


"Iih dasar kurang ajar si Mas Jefri, jahat!" Sheila mengerucutkan bibirnya sambil mengangkat baby Alena.


"Huust ... sayang, dijaga bicaranya depan anak kecil nggak boleh gitu!" ucap sang suami sambil menggendong putri mereka bedanya mungkin beberapa bulan saja.


"Iya nih ... di depan anak kecil itu jangan sembarangan ngomong! karena otak anak kecil itu mudah mencerna dan nanti diikutin. Makanya kalau ngomong jangan kasar." Tambah Jefri seolah merasa puas Sheila di protes suaminya.


Sheila mencibirkan bibirnya pada Jefri. "Awas kau. Satu saat ku balas dan kamu akan kena mental sendiri. Hi hi hi!"


Renita pun menunjukan senyumnya yang indah, dia baru saja masuk kamar setelah berbincang dengan tamu yang melihat baby Alena.


"Kalian makan dulu gih, makanan sudah siap di bawah." Kata Renita sambil mendudukan diri di tepi tempat tidur.


"Mbak ... gimana sekarang sudah sepasang nih ... mau nambah lagi gak?" tanya Jefri sambil nyengir.


"Ooh, nambah dong ... tapi nanti-nanti saja dah. Kasih jarak dulu." Malik yang baru saja masuk.


"Tapi selesai nifas tempur lagi ya, ha ha ha ..." Doni terkekeh.


"Bener itu, selesai, tempur lagi. Ini juga sudah meron--" kalimat Malik terhenti dengan gerakan jari Renita yang mencubit pinggangnya.

__ADS_1


"Awh, sakit sayang. Dah sakit di bikin sakit lagi." Pekik Malik tertahan.


"Makanya jangan ngomong ngelantur, malu! apa lagi ada anak-anak," Renita setengah berbisik.


"Iya sayang iya ..." Malik mengangguk dan mencium keningnya di hadapan orang banyak.


"Mbak, baby nya kayanya haus deh ... buka mulut terus tuh ..." kata istrinya Jefri.


"Mulutnya langsung terbuka lebar, pasti mulut papa nya juga macam itu kalau lagi haus dan mencari air yang menggantung. Ha ha ha!" celetuk Jefri.


"Aduh, aku di serang nih kalau macam gini aku jadi speechless." Malik sambil menggeser duduknya dan membiarkan istrinya duduk lebih santai untuk memberikan asi pada baby Alena.


"Nggak usah di layani," suara Renita pelan. Masalahnya ada Rendi dan anak Jefri di sana.


Ibu nya Renita dan bu Amelia pun datang ingin menggendong cucunya yang sedang minum asi.


"Hem ... padahal kami mau gendong di cantik ..." Bu Amelia mengelus pipi baby masih merah itu.


"Aku lagi haus Oma ..." ucap Renita sambil memberi asi.


Kemudian Sheila sama suaminya berpamitan pada sang kaka dan Malik. "Mbak, Abang ... aku pulang dulu ya, lain kali aku datang lagi."


"Iya, nanti makan. Yok pamit dulu." Sheila memeluk sang kaka cepaka-cepiki.


Lalu menghampiri sang ibu yang menggendong putrinya. "Bu mau ikut ke tempat aku gak?"


"Hem ... lain kali saja, kenapa gak menginap saja di sini!" kata sang ibunya.


"Besok aku harus ngajar, Bu! mungkin besok sore atau lusa ke sini lagi, main lagi." Sheila mau jalan bersama sang ibu yang menggendong putrinya untuk mengantar sampai ke lantai bawah.


"Bang aku pulang dulu ya!" Sheila mengangkat tangannya pada Malik yang sedang berbincang dengan Dino, suaminya yang langsung menyusul.


Malik pun membalas dengan anggukan. "Oke terima kasih atas kedatangannya! dan juga hadiahnya merepotkan kalian!"


"Nggak pa-pa sama-sama, yo aku pergi dulu!" Dino menepuk bahunya Malik, lalu menyusul sang istri yang sudah keluar.


"Eh, Jefri ... ku duluan?" Dino pun menoleh pada Jefri.


"Ayo. Aku juga sebentar lagi akan pulang." Balas Jefri lalu mencari orang tuanya yang ternyata sedang makan bersama Bu Amelia dan yang lainnya.

__ADS_1


Istri Jefri pun menyusul dan ikutan makan, Sheila dan suami yang katanya mau pulang mampir terlebih dahulu.


Di kamar Malik tinggallah Renita yang tengah menyusui dan Malik yang bersiap mau mandi. Namun dia malah berbaring di dekat Renita sambil mengelus. Katanya sakit kepala.


"Hem ... aku pijit ya. Sebentar setelah menidurkan baby." Renita pun menurunkan kakinya yang mau menjangkau tempat tidur bayi.


Malik hanya memicingkan matanya melihat pergerakan sang istri. Yang detik kemudian menghampiri lagi.


"Mau yang ingin ku pijit?" Renita naik dan duduk di sampingnya Malik yang terlentang.


"Kepala." Malik memindahkan kepalanya di pangkuan sang istri.


Renita pun perlahan memijat Kening dan pelipis Malik.


"Pusing banget yank, kalau tidak tersalurkan. Hasrat ku tak dapat tersalurkan jadinya pusing atas bawah." Malik menatap sang istri dengan posisi masih tiduran di pangkuannya.


"Ya salurkan dong ... belanja kek ... apa kek!" timpalnya Renita sambil mesem.


"Sayang ... kalau hasrat belanja atau memborong barang, iya ... salurkan dengan belanja. Ini hasratnya makan kamu gimana, hem? bisa kah bila kita melakukannya secepatnya?" Malik merengek pada sang istri.


"Nggak lah ... nggak sabar gitu ih ... baru aja seminggu!" Renita membelai rambutnya Malik.


"Kalau gak tahan gimana sayang?" Malik semakin merajuk.


Bikin Renita menjadi bingung, harus buat apa kalau melihat suaminya merengek seperti ini. Bak anak yang minta jajan gak di kasih.


"Sayang, gimana. Nggak tahan nih ..." Malik terus merajuk meminta sesuatu dari Renita yang tidak mungkin memberinya.


"Em ... Katanya tadi mau mandi dipencet udah, mandi sana!" Renita mengangkat bahu nya Malik agar bangun.


Namun Malik tidak memindahkan perkataannya, tetap aja Malik meletakan kepala di pangkuan sang istri dengan tangan yang mulai aktif.


"Yank ... diam deh, aku jadi risih, nanti orang masuk kamar kita, kan malu!" Gumamnya Renita sedikit celingukan.


Khawatir orang masuk kamar, sementara Malik tengah merajuk seperti ini ....


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2