
Renita masih belum mampu berkata-kata dengan kejutan yang Malik berikan, kini pandangan nya yang mengarah ke atas meja dimana kue tart tersedia di sana yang berhiaskan bunga mawar merah serta ucapan yang indah.
Melihat Renita masih mematung di tempat, kini Malik berlutut di hadapan Renita sembari memegangi sebuah kotak kecil warna merah. Lalu ia buka dan isinya sebuah cincin permata Indah.
Membuat Renita semakin terkaget-kaget, dia benar-benar tidak menyangka dan tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan semua ini? sementara dalam pikirannya Renita, Malik sudah berkeluarga. Buat apa membuat kejutan seperti ini buat dirinya? nanti ada yang cemburu.
Dan hanya untuk melambungkan perasaannya, melayang jauh di angkasa lalu nantinya akan dijatuhkan ke bawah sampai ke dasar-dasarnya.
"Renita, maukah kau menjadi istriku menjadi ibu dari anak-anak ku nanti? sesungguhnya dari sejak lama ... ketika kita satu kelas dulu, aku menyukai mu! aku menyayangi mu dengan tulus dan perasaan itu tidak pernah hilang sampai detik ini pun!" ungkapnya Malik dengan posisi yang sama yaitu berlutut di hadapan Renita.
Renita bukannya bahagia tapi dia malah kebingungan! bingung harus gimana dan menjawab apa? yang dia ucapkan hanyalah kata terima kasih. "Makasih banyak atas kejutan yang sudah kamu berikan untuk ku! walaupun jujur ... aku merasa kebingungan kau ini bisa-bisanya memberikan kejutan ini padaku!"
Karena responnya dari Renita lain, Malik pun berdiri lalu mengajak Renita untuk duduk dan berhadapan dengannya. "Ya sudah ... kita kesampingkan dulu pertanyaan ku yang tadi, sekarang silakan kamu duduk dan potong kuenya! jangan lupa berdoa!"
Renita kembali tersenyum dan kini dia mencoba untuk memotong kuenya dan tentunya potongan pertama dia berikan kepada Malik, walaupun di dalam hati yang paling dalam. Dia merasa was-was. Gimana kalau sedang acara begini datanglah keluarga atau istrinya Malik? yang tentunya akan membuat hati Renita menciut. Dan itu sangat pasti.
Istri yang mana yang nggak akan marah jika suaminya sedang mengadakan dinner dengan wanita lain! sehingga timbul sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut Renita kepada Malik. "Apa tidak ... ada yang akan marah ya? kau membuat kejutan untuk ku seperti ini? seperti keluarga mu, istrimu?"
"Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu?" Malik malah balik bertanya kepada Renita.
"Karena bagaimanapun seorang Istri nggak akan rela suaminya mengistimewakan wanita lain! dan itu aku rasakan sendiri, gimana sakitnya dikhianati tidak menjadi prioritas lagi," jelasnya Renita sembari menikmati makannya.
Lalu kemudian datanglah hidangan makan malam, yang tentunya sudah dipersiapkan sebelumnya sedari tadi dan suara petikan musik dari biola pun sudah terdengar ketika Renita membuka matanya.
Malik dan Renita mengangguk kepada pelayan yang sudah membawakan hidangan makan malam mereka berdua. Lalu keduanya bersiap untuk menikmati makan malamnya tersebut.
__ADS_1
"Aku rasa ... Aku tidak mengkhianati siapapun! jadi buat apa kamu takut?" ucapnya Malik sembari menyuapkan makanan ke mulutnya.
Renita mengernyitkan keningnya. Apa maksud tidak mengkhianati siapapun? istrinya tidak akan merasa di khianati gitu?
"Apa maksud mu ya? kok aku nggak ngerti, apa ... rata-rata pria seperti itu? mempunyai keluarga, mempunyai istri. Tapi tidak diakui ketika di luaran, sehingga dia dapat dengan mudahnya mendapatkan wanita lain? apakah seperti itu?" rentetan pertanyaan dari seorang Renita sembari menatap lekat ke arah Malik.
"Aku rasa ... tidak seperti itu juga, dan mungkin kamu bicara seperti itu karena belum mengenal aku saja secara lebih dalam! karena kalau saja kamu mengenal ku lebih jauh ... kamu nggak akan bicara seperti itu!" membalas tatapan dari Renita lebih lekat dan entah mengandung arti apa.
Renita terdiam coba mencerna Apa maksud dari perkataan dari Malik.
"Boleh. Aku bercerita sama kamu?" tanya Malik kepada Renita.
"Tentang apa ya?" Renita bertanya kepada Malik dan seolah dia pun menghentikan makannya.
Renita pun mengangguk lalu dia melanjutkan makannya, yang menggunakan sendok dan garpu. Karena makannya pun tanpa nasi tapi stik daging dan kentang dan juga hidangan lainnya.
"Aku rasa kamu perlu tahu kalau sesungguhnya aku belum berkeluarga, apalagi menikah belum sama sekali. Aku mencintaimu sejak dulu dan sampai saat ini dan di hati aku tidak pernah ada Renita lain. Dulu pun aku ingin mengungkapkannya tapi aku malah keburu pindah ke luar Negeri!" sejenak Malik menjeda ucapannya dengan menikmati makanannya.
Renita dan diam dan menerawang ke masa lalu, dimana waktu itu mereka masih satu kelas. Malik adalah pria yang menjadi idaman para gadis di sekolahnya waktu itu. Dan tidak kurang gadis yang mengatakan cintanya kepada Malik.
Tetapi Malik bersikap cuek kepada mereka, dan Renita sendiri tidak merasakan apa-apa, dan menganggap Malik teman biasa. Apalagi seperti teman Renita yang lain yang mengejar-ngejar dan berharap cintanya Malik, tidak bagi Renita.
Dan sekarang ... dia mendengar kalau Malik justru mencintai dirinya dari waktu itu sampai sekarang. Terus wanita yang kemarin menggendong balita itu siapanya Malik?
"Aku sering ingin mencari kabar mu! tapi aku terlalu punya malu untuk itu. Orang tua ku sering menawarkan aku untuk memilih salah satu wanita pilihan mereka! namun aku tolak dengan alasan. Aku nggak ingin menyakitinya. Karena aku belum tentu bisa mencintainya!" sambungnya Malik seraya menghela nafas dalam-dalam.
__ADS_1
"Sebentar-sebentar, terus wanita itu yang balitanya pernah kamu gendong! bukankah itu istri mu?" akhirnya Renita mengusir rasa penasarannya dengan cara bertanya langsung kepada Malik soal wanita tersebut.
"Ha ha ha ..." Malik malah tertawa lebar bahkan suaranya mengalahkan suara musik dari biola.
Membuat Renita merasa heran, lalu meneguk minumnya. "Kok malah ketawa sih, bukannya menjawab. Emangnya ketawa mu itu bisa menjawab pertanyaan ku?"
"Itu sepupu ku, yang ditinggal sama suaminya sebelum lahiran. Dan ... suaminya itu lepas tanggung jawab sama sekali, memang kami tinggal satu rumah. Dan orang-orang menganggap kalau kami berdua suami istri, padahal sebenarnya kami sepupuan. Dan anaknya pun memanggil aku ayah." Jelasnya Malik sambil menyedot minumannya.
Renita mengerucutkan bibirnya seraya berkata. "Benarkah itu?"
"Kalau kamu tidak percaya ... secepatnya aku kenalkan dia sama kamu, kami sepupuan dan suaminya meninggalkan begitu saja!" Malik meyakinkan Renita kalau wanita itu bukan istrinya.
Renita terdiam dan Dia menghabiskan makanan yang ada di depannya. Dalam hati sih tersenyum, kalau memang itu benar adanya! kalau saja memang Malik tidak beristri. Jadi setidaknya Renita merasa tenang seandainya sering berbarengan dengan Malik pun.
"Terus, gimana mau diterima lamaran ku atau tidak?" Malik menatap ke arah Renita dengan sangat dalam.
Dan Renita tersenyum samar. Sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Padahal aku sudah pendam perasaan ini sejak lama lho, aku berharap ... kalau suatu saat kita bertemu kembali dan ternyata Tuhan mempertemukan kita lagi, meskipun dengan keadaan yang berbeda. Tetapi aku ikhlas menerima statusmu yang sekarang dan aku pun sayang sama Rendy seperti aku menyayangi anak dari sepupu ku, karena bohong sekali kalau aku harus bilang. Aku menyayangi Rendy seperti anak ku sendiri, karena mengingat aku belum pernah punya anak ha ha ha ...."
Renita pun mengulum senyumnya mendengar tertawanya Malik yang menular ....
...🌼---🌼...
Halo ... apakah masih ada yang menunggu karya aku ini? jika masih ada. Terima kasih ya dan terima kasih juga atas dukungannya.
__ADS_1