Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Nasib


__ADS_3

Sesekali Shopia melirik sinis pada Sheila yang tengah asik makan. "Kau itu, jangan pernah berpikir akan mendapatkan Malik." Batin Shopia bergejolak.


"Kau pikir aku akan bersaing dengan mu soal Malik ha? no ... aku tidak level bila harus bersaing untuk mendapatkan suami orang. Aku masih punya hati dan aku ingin mendapatkan pria single, bukan suami orang apalagi suami Kakak ku." Gumamnya dalam hati Sheila.


"Sheila, Abang ingin mengenalkan seseorang sama kamu. Gimana, apa kamu mau?" Renita membuka obrolan dan di tujukan pada Sheila sang adik.


Sheila mengangkat wajahnya dan menoleh pada Renita dan Malik bergantian. Ibunya Malik dan ibunya Renita pun ikut menatap ke arah Renita.


"Dia itu perempuan apa laki-laki?" tanya ibunya Renita dan Sheila.


"Laki-laki, Bu ... siapa tau mereka cocok, insya Allah dia baik nan finansial nya pun dah cukup!" jawabnya Malik sembari meneguk minumnya.


"Em ... boleh, semoga aja cocok ya Mbak, Bang!" Sheila menyambut senang dengan niat Malik yang katanya mau kenalkan dia dengan seorang pria.


"Mampus kau, akhirnya Malik akan mengenalkan mu dengan pria lain dan kamu tidak perlu lagi berharap pada Malik." Shopia berkata dalam hati ambil tersenyum sinis namun dia sembunyikan.


"Kalau gitu ... lusa kita akan mengadakan acara makan malam di sini. Biar dia yang datang ke sini!" sambungnya Malik sembari melipat tangan di atas meja.


"Oke, aku akan ke sini lagi." Sheila menganggukan kepalanya.


Renita mengalihkan pandangannya pada Rendy yang menyudahi makannya. "Sayang, setelah ini belajar ya. Bukannya ada PR ya!"


"Iya, Bun ..." Rendy berdiri dan berjalan. Namun ketika melintasi Shopia, Rendy terjatuh hingga lututnya membentur lantai.


Renita kaget dan berkata. "Rendy, kanapa Nak?" dan hendak berdiri.


Malik yang lebih dekat pada Rendy yang terjatuh langsung mengangkat anak itu. "Kenapa pangeran kecil Papa kok jatuh?" di bawa ke sofa sambil meminta bibi bawakan obat merah.


Shopia melirik puas, serta mengulum senyumnya yang dia sembunyikan.


"Sayang tidak pa-pa?" Renita duduk di sampingnya Rendy.


Rendy menaikan celana yang menutupi lututnya yang lecet. Dan Malik langsung mengoleskannya dengan obat merah.

__ADS_1


Nenek, Oma dan Sheila gegas menghampiri mereka dan bertanya pada Rendy yang barusan terjatuh.


Shopia semakin dongkol pada Rendy yang kini lebih diperhatikan oleh Malik dan keluarganya.


Rendy terdiam sambil menatap ke arah kolong kursi meja makan. Di otaknya mengingat lekat pada kejadian barusan adalah kakinya yang melangkah di hadang oleh kakinya Shopia sehingga dia terjatuh.


"Rendy kenapa melamun? apa lagi yang sakit?" selidik Renita sambil memeluk kepala buah hatinya.


...-------...


Kesehatan Azam mulai pulih dan dia mulai menata hari. Dan mencari kerjaan ke sana kemari malam juga kunjung diterima aja.


"Huuh ... Sudah berapa perusahaan yang Aku datangi tapi tidak juga menerima aku untuk bekerja. Mungkin karena riwayatku kemarin yang sudah menggelapkan uang, ya Tuhan sulit banget hidup saat ini." gumamnya sembari berjalan mendatangi sebuah kantor.


Azam memasuki sebuah ruangan HRD. "Selamat siang ... maaf saya mengganggu waktunya sebentar."


"Iya. Selamat siang juga silakan duduk," balasnya seseorang yang menjabat HRD di perusahaan tersebut.


Setelah beberapa saat berbincang, Azam pun memberikan berkas data-datanya kepada yang bersangkutan.


"Ya ... saya bukan sengaja melamar menjadi karyawan biasa, maunya sih ... emang yang berjabatan tapi daripada saya tidak mendapatkan pekerjaan sebagai staf. Menjadi karyawan biasa pun tidak apa-apa." Azam penuh harap bahwa dia akan diterima di perusahaan tersebut, sekalipun untuk menjadi karyawan biasa.


"Em ... maaf, data-datanya biar saya tahan dulu di sini, nanti akan saya hubungi!" kata sang HRD.


Azam hanya menghela nafas dalam-dalam, kemudian ia hembuskan dengan kasar. Setelah itu Azam pun berpamitan. "Baiklah terima kasih atas waktunya dan saya tunggu panggilannya. Saya janji tidak akan mengecewakan perusahaan ini jika saya diterima!"


"Baik Pak, akan saya pikirkan dan bandingkan dengan yang lain!" berjabat tangan.


Lalu kemudian Azam pun berlalu meninggalkan, tempat tersebut dengan hati yang masih was-was antara nanti diterima atau justru kebalikannya ditolak.


Azam berjalan di pinggiran dan mencari taksi atau angkutan umum, karena dia sekarang tidak punya kendaraan lagi.


"Uang ku semakin menipis, untuk keperluan ku saja tidak ada akan cukup. Bolak-balik mencari kerjaan itu butuh duit. Makan pun dari orang tua, huuh ... sampai segitunya nasib aku saat ini," tangan Azam merogoh sakunya. mengecek uang di dalam dompet yang tinggal rp100.000 saja.

__ADS_1


"Biasanya paling banter aku naik motor, sekarang cuma mengandalkan jalan kaki doang. Naik angkutan umum atau taksi yang lebih mahal sementara uang ku semakin habis, ck-ck!" keluh Azam sambil berdecak.


"Mana tagihan hutang sangatlah besar, dari mana aku bisa membayarnya jangankan membayar hutang makan saja dari orang tua!"


Azam terkenal pada sikap dirinya ketika mengenal Sharon dan sampai menikahinya, dia begitu tidak peduli dengan orang tuanya dan sekarang justru dia menggantungkan hidupnya kepada mereka. Rasanya menyesal sudah menyia-nyiakan orang-orang yang seharusnya dia dekati.


Waktu itu orang tuanya lebih dekat dengan Renita ketimbang dirinya dan Sharon, dan sekarang justru dia yang menggantungkan hidup kepada orang tuanya tersebut. Malu sih malu! namun gimana lagi daripada dia hidup terlunta-lunta di jalanan tidak punya tempat tinggal, makan pun susah seandainya. Mendingan menahan malu walaupun dang di cibir oleh Jefri, tapi Azam harus tahan karena memang itu kesalahannya.


Kini Azam sedang beristirahat di sebuah warung meneguk Air es sebagai penghilang dahaga.


Entah Azam itu sedang melamun atau memang tidak kerasa, sehingga pas dia berdiri mau membayar segelas air es tehnya. Dompet yang berada di saku pun raib entah ke mana? padahal di sana terdapat KTP berapa kartu ATM biarpun tak ada uangnya, kartu SIM dan uang lembar 100.000.


Azam bengong setelah celingukan mencari-cari siapa tahu dompetnya terjatuh di sekitar sana karena, karena dia yakin dompetnya tidak jatuh di jalan.


"Ya Tuhan ... gimana aku pulang? uang nggak ada sama sekali sama dompet-dompetnya juga," kepalanya menggeleng kasar dan dia juga bingung harus membayar pakai apa es teh nya.


"Kenapa Pak, kaya kebingungan seperti itu?" tanya si tukang warung.


"Em ... Dompet saya hilang, entah jatuh ntar ada yang nyopet? jadi saya bingung harus membayar es tehnya dengan apa? karena uang saya semuanya berada di dompet beserta kartu ATM dan juga KTP. SIM juga ada di sana." Azam berkata apa adanya.


Si ibu tukang warung pun ... dia keluar dari tempatnya dan ikut mencari. Siapa tahu memang dompetnya Azam terjatuh di tempat tersebut, namun tidak ada! ditanyain sama pengunjung lain pun pada menggeleng tidak tahu.


"Sungguh nasibmu Azam ... jelek banget, mungkin ini karma karena kamu sudah menyia-nyiakan keluargamu, huuh ...."


"Ya sudah Pak, es tehnya nggak usah dibayar, kalau memang dompetnya hilang!" ucap si Ibu warung sangat baik.


"Oh makasih ya Bu Makasih banget, semoga rezeki Ibu semakin melimpah dan saya tidak akan lupa dengan kebaikan ibu ini," wajah Azam begitu berseri atau sumringah. Karena dia sudah dibebaskan dari membayar es teh dan gua potong roti yang sudah dia makan tadi.


"Iya sama-sama Pak, Aamiin." Balas si ibu warung.


Azam keluar dari warung tersebut sambil menenteng berkas di tangan, berjalan dengan gontai. Dalam hati dia masih bingung gimana caranya dia bisa pulang? sementara dia tidak memegang uang sama sekali.


Cekitttth ....

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2