
Kini Renita dan Malik sudah berada di dalam kamar dan waktu pun sudah menunjukkan pukul 09.00 malam dan waktunya beristirahat.
"Alhamdulillah ya? tadi pas kejadian Azam ada, jadi dia langsung gerak cepat membawa Rendy!" ucap Malik sembari membuka kaosnya.
"Iya Alhamdulillah, aku pas kejadiannya nggak tahu. Aku sama ibu di ruang keluarga, sebelumnya mas Azam juga di sana. Terus ke kolam renang! aku dengar suara air yang muncrat dengan hebat tapi aku pikir ya biasa aja. Pas mas Azam minta tolong! baru aku ngeh dan ketiaka aku mencoba menghampiri Rendy sudah digendong." Ungkap Renita yang mendudukkan dirinya di atas tempat tidur.
"Em ..." gumamnya Malik.
"Tadi aku benar-benar merasa shock, panik! takut Rendy kenapa-napa, tapi alhamdulillah dia baik-baik saja! membuat aku merasa lega." Tambahnya Renita sembari menyandarkan kepalanya ke bantal yang di tumpuk.
Tangan Malik menarik bau Renita agar berada dalam pelukannya. "Tapi sekarang sudah tidak apa-apa kan sayang? sudah tenang kan? nggak panik lagi, barusan aku lihat Rendy tidur nyenyak!"
"Iya, aku sudah merasa tenang." Renita menunjukkan senyumnya yang indah kepada sang suami.
"Cuph. Aku juga cemas mendengar nya. Tapi aku tadi nggak bisa buru-buru pulang! setelah Mama telepon aku, Apalagi aku pikir ada Azam yang bisa menjaganya!" ungkap Malik seraya mendaratkan beberapa kecupan di kening dan pipi sang istri.
"Oh tadi Mama yang telepon kamu?" Renita mendongak pada sang suami menatap wajahnya yang tampan.
"Iya, tadi Mama telepon aku, mama bilang katanya Rendy dibawa ke rumah sakit oleh Azam sama kamu juga!" Malik menatap intens wajah sang istri. Lalu mengarahkan pandangannya pada bagian yang menonjol.
"Aku sendiri mana sempat bawa ponsel, dompet pun aku nggak bawa saking paniknya." Tambahnya Renita sambil menempelkan pipinya di dada sang suami.
Hening!
"Oh iya, ternyata Azam sama Shopia sudah tidak hubungan lagi ya? mereka membatalkan hubungannya dan rencana pernikahan!" Malik sambil membelai rambut sang istri yang berada di dadanya.
"Itu sudah lama kejadiannya, kalau nggak salah setelah mereka jalan-jalan dan Rendy bercerita tentang itu. Keesokan harinya Mas azam langsung memutuskan Shopia! kasihan memang, tapi entah gimana sekarang pemikiran Mas Azam tentang seorang wanita yang akan menjadikannya istri--"
"Yang pastinya Azam sekarang lebih selektif, lebih hati-hati untuk memilih wanita! karena mungkin ... dia pikir! dia bukan hanya membutuhkan wanita yang bisa menyayangi dirinya sendiri tapi juga sayang sama Rendy. Mungkin dia tidak mau seperti dulu lagi dimana saat-saat dia menyia-nyiakan Rendy. Seperti yang kita tahu sekarang Azam lebih perhatian sama Rendy dan itu lebih bagus!" ujarnya Malik kembali.
"Mungkin juga seperti itu, mungkin sekarang mas Azam lebih dewasa dalam memilih pasangan!" Renita mengangkat wajahnya, mendongak menatap kembali wajah Malik yang mendekat untuk menjangkau bibirnya.
__ADS_1
Nyess ....
Dingin-dingin gimana dan kenyal geli bercampur menjadi satu.
"Mmmmm ... Ach ..." suara indah itu terdengar terdengar lolos keluar dari mulutnya Renita tatkala buah segarnya di remas gemas oleh tangan nakalnya Malik.
Malik menyeringai mendengarnya dan melihat Renita memejamkan pasang matanya. Merasakan setiap sentuhan yang ia berikan yang lembut.
Cuph Cuph ... Malik menghujani wajah Renita dengan kecupan nakal dan mengundang syahwat nya sebagai laki-laki, dorongan untuk memiliki dan menikmati. Menyalurkan hasratnya yang meronta.
Lalu sentuhannya turun ke bawah, area leher dan dada, juga lama ... durasi Malik menciumi perut buncit istrinya seraya dia ajak komunikasi yang barada di dalam perutnya, seakan meminta ijin untuk menjenguknya.
Malik memposisikan dirinya dengan senyaman mungkin, apalagi di saat Renita tengah hamil tua yang harus lebih hati-hati dan menciptakan kenyamanan yang lebih-lebih.
"Mmmmmh!" Renita merangkul pundaknya Malik dengan erat di saat Malik membawa Renita ke alam nirwana yang indah dan merasakan puncaknya melayang di angkasa.
"Ohhh ... mmh ... hahhhh." Malik penuh semangat membawa wanitanya dalam perjalanan travelingnya yang lumayan jauh dan memakan waktu.
"Oo ... perjalan kita indah sekali sayang. Menikmati pemandangan yang jarang-jarang kasat mata. Lembah dan pegunungan yang indah cuma sesekali di dapatkan, dan bila tidak melakukan perjalanan terlebih dahulu ya ... tentunya tidak mendapatkannya!"
Renita hanya tersenyum dan merasakan lelah dan capeknya habis perjalanan barusan, membuat nafas pun terengah-engah. Seperti orang yang habis lari maraton.
Malik pun tidak jauh beda. Dia berusaha mengontrol nafasnya yang terasa berat. Peluh di tubuhnya pun bercucuran dan bertukar dengan peluhnya Renita.
Selimut tebal sudah membalut kembali keduanya yang tampak sangat lelah! setelah melewati perjalanan yang cukup panjang.
"Sayang nyaman kan? tidak menyakitkan? dan tidak mengganggu sama sekali!" Malik menempelkan bibirnya di kening sang istri.
Renita menggeleng karena memang dia tidak merasakan suatu masalah apapun, dan dia merasa nyaman-nyaman saja.
Namun setelah beberapa jam kemudian, mereka pun sudah tertidur lelap. Renita merasakan mulas yang teramat sangat.
__ADS_1
...------...
"Kamu itu tidak salah, mau menikah dengan dia janda dua anak. Apa kamu siap menafkahinya?" seorang wanita paruh baya itu menatap putranya yang bernama Jono yang saat ini membawa Sharon ke hadapannya.
"Emangnya kenapa Bu? dan bila aku siap menikah dengan wanita berstatus janda ... berarti aku harus siap menerima paketannya. dan apa salahnya?" protesnya Jono pada sang Bunda.
Sementara Sharon hanya terdiam dan menunduk dalam, kedua tangannya bertaut dan mengeluarkan keringat dingin. Dia sudah bisa menduga kalau orang tua dari Jono belum tentu bisa menerimanya yang berstatus janda anak dua.
Wanita paruh baya itu memperhatikan ke arah Sharon dengan intens. Kedua manik matanya tertuju ke arah bagian leher Sharon yang banyak tanda merahnya! sementara Sharon memakai baju yang lehernya rendah, jelas kelihatan.
"Mungkin saja kamu bisa menafkahi dia dan juga anak-anaknya, tapi Ibu tidak setuju! masa kamu menikah sama wanita yang sepertinya bukan wanita baik-baik!" ucap ibunya Jono kembali manatap curiga pada Sharon.
"Bu, kurang baik gimana? Ibu bilang seperti itu karena ibu belum mengenal dia, baik kok! dan dia termasuk wanita hebat yang mau berjuang hidup demi anak-anaknya, Bu. Aku yakin Ibu akan menyukai calon istriku ini setelah nanti lebih mengenalnya!" tambahnya Jono sembari melirik juga ke arah Sharon yang menunduk lalu melihat dirinya dengan senyuman samar.
"Wanita baik-baik itu tidak akan mudah menyerahkan dirinya pada laki-laki, termasuk calon suaminya!" Tambah sang ibu sinis.
"Bu, kalau soal itu tidak bisa diukur! apalagi kalau saling cinta bisa saja dilakukan demi kebahagiaan pasangannya." Celetuknya Jono sambil meraih tangan nya Sharon yang terasa dingin.
"Heleh, itu bukan cinta namanya, tapi pembodohan menghancurkan diri sendiri itu namanya! emangnya melakukan seperti itu menjamin menikah apa?" kata sang ibu dengan nada yang kurang suka memang.
"Kalau menurut aku sih ... kalau sudah melakukan hubungan yang lebih, ya pasti nikahin, Bu ..." akunya Jono dengan yakin.
"Oh. Jadi kalian sudah melakukannya? hubungan yang lebih dan menjijikan." Sang ibu bergidik jijik serta membuang pandangannya ke lain arah.
"Gini aja, Bu ... di ijinkan ataupun tidaknya. Aku akan tetap menikahi Sharon. Karena hidup kita, kita yang jalanin bukan orang lain ataupun ibu!" Jelas Jono sembari meremas jemarinya Sharon yang tetap menunduk.
Padahal dalam hati sangat berkecamuk dan ingin sekali menampar calon mertua dengan omongan yang lebih pedas. Akan tetapi Sharon masih bisa menjaga dan menahan diri.
Apalagi kalau anaknya tetap kekeh ingin menikahinya, jadi buat apa beradu mulut dengan wanita paruh baya tersebut! yang penting anaknya mau dan menikahinya ....
.
__ADS_1
Bersambung.