Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Domba jalu


__ADS_3

Pandangan Malik mengarah pada layar ponsel yang sedang mulai memutar cctv. Dia begitu serius dan mengamati apa yang ada di sana.


Semua yang terjadi di setiap ruangan ada kecuali kamar-kamar yang terlalu pribadi. Malik semakin menajamkan pandangannya ketika melihat kumpulan yang ada di meja makan dan merubah ekspresi wajahnya.


"Ya ampun ... Shopia." Kepala Malik menggeleng pelan.


Brugh!


Malik sedikit menggebrak meja kerjanya ketika melihat ulahnya Shopia yang dengan sengaja menyinggung bagian tubuh Renita yang sedang belajar berjalan di tangga.


"Masih untung Renita begitu kuat pegangan ke pagar tangga. Coba kalau tidak! aku tidak bisa bayangkan tubuh Renita pasti akan terjatuh dan terguling-guling ke lantai bawah." Malik menggelengkan kepalanya dengan kasar, dia tidak percaya dan tidak pernah menduga kalau Shopia teganya dan ini mungkin belum seberapa.


Sampai-sampai kejadian anaknya Sophia terjatuh pun terlihat dari CCTV dan di sana tampak kalau Sophia terburu-buru turun tangga tatkala melihat putranya terjatuh.


Kemudian Malik pun menutup sambungan CCTV dari rumahnya. Seiring dengan datangnya seorang laki-laki yang usianya hampir sama dengan dirinya dan wajahnya lumayan tampan, hitam manis dan berwibawa, penampilannya juga rapi.


"Hai ... apa kabar?" sambutnya Malik kepada pria tersebut.


"Hai juga lama nggak ketemu nih gimana kabar sebaliknya? kayaknya tampak happy aja. Setelah menikah tapi kok nggak undang-undang?" balas pria tersebut sembari berjalan mendekati meja kerjanya Malik.


Dan Malik langsung menyambutnya, Mereka pun berpelukan sembari mengusap punggung masing-masing.


"Tentu dong ... bukan kah menikah itu menambah kebahagiaan! menambah ketentraman tentu sajalah kalau aku tampak lebih happy ha ha ha ... soal ngundang ... gampang lah kami belum mengadakan resepsi!" Malik tertawa.


Lalu kemudian mereka mengobrol dengan sangat serius, tentunya soal pekerjaan dan lama-lama karena obrolan itu sudah selesai Malik bertanya kepada pria tersebut yang bernama Dion.


"Gimana kapan mau nyusul? sesungguhnya menikah itu enak lho, tentram. Nyaman ... pokoknya enak aja, ada yang merhatiin melayani gitu. sepulang kerja ada yang nemenin tidur ada yang dipeluk." Malik mengalihkan pembicaraan dari pekerjaan yang memang sudah fix.


"Nggak tahu nih, kalau harus jujur sih ... aku belum punya calonnya! waktu aku sempat taaruf dengan seorang wanita--"


"Oh wanita, kirain sama domba he he he!" potongnya Malik sambil tertawa.


"Ha! sialan, lo pikir gue domba jalu yang ditawarin domba bikang! ya ... wanita lah, gue kan manusia normal dan laki-laki sejati. Ha ha ha ..." Dion pun tertawa mendengar celetukan dari sahabatnya itu, Malik.

__ADS_1


"Oke terus, lanjut?" Malik merubah ekspresi wajahnya dengan serius.


"Kami ta'aruf sekitar 2 bulan dan akhirnya dia mundur--"


"Karena? mundur karena apa alasannya!" tanya Malik kembali.


"Alasannya adalah ... dia kembali kepada mantannya dan sekarang mereka sudah menikah! makanya sampai sekarang aku belum menikah, padahal waktu itu satu bulan lagi menuju ke hari H." Kenang Dion menerawang.


"Kenapa tidak mencari lagi? wanita banyak, jangankan wanita rumahan, wanita yang berkarir pun pasti sering kamu temukan dan memangnya kamu mau wanita seperti apa?" selidik Malik dengan nada yang sangat serius.


"Aku sih simpel ya ... berpendidikan harus tinggi kalau bisa, kalau nggak juga nggak apa-apa. Baik! cantik relatif lah ... dan tidak harus orang kaya sih ... karena soal finansial sih aku pun cukup!" ungkapnya Dion seraya mengetuk-ngetuk kan jarinya di meja kerja Malik.


"Aku punya adik ipar, cukup cantik lumayan lah ... sekarang dia masih harus menyelesaikan studinya dan dia juga menjadi pengajar PAUD kalau nggak salah, entah TK. Kurang hafal juga sih! cuman ... menurut aku dia baiklah dan usianya pun cukup matang! mau nggak aku kenalin sama dia?" tawarnya Malik sembari menempelkan dagu di punggung tangannya.


"Tapi dia wanita baik-baik, kan?" sedihnya Dion sembari menatap tajam ke arah Malik.


"Emangnya kamu pikir ... aku akan mengenalkan kamu sama wanita sembarangan apa? wanita kurang baik gitu ... atau wanita malam! atau ... wanita penghibur. No!" Malik menggelengkan kepalanya.


...----------------...


Mereka berkumpul di gazebo belakang, bersama ibunya Malik yang juga ikut mengobrol bareng di sana.


"Saya itu senang ... bahagia melihat sekarang Renita sudah lebih baik, sekarang dia bisa berjalan lagi biarpun belum kuat jauh, ya Ren?" kata sang ibu mertua sembari melirik ke arah Renita.


"Iya Mah ... alhamdulillah!" sambungnya Renita sembari mengarahkan pandangan pada sang ibunda yang tersenyum melihat dirinya.


"Aku juga sangat bahagia mendengarnya, dan ... itu yang kami harapkan kamu bisa berjalan lagi seperti semula, dapat beraktivitas. Menjaga anak dan melayani suami. Itu yang kami doakan setiap waktu!" ucap sang ibunda dengan lirih.


"Aamiin. Iya semoga saja seperti itu, cuma hari ini aja dokter tidak datang kerena berhalangan, makanya tidak terapi!" tambahnya sang ibu mertua Renita.


"Mbak aku mau ngambil minum dulu ya!" Sheila banyak ya duduknya sembari memegang gelas mereka yang sudah kosong.


Dan Renita pun mengangguk membereskan kepada sang adik.

__ADS_1


"Tante mau ke mana?" tanya Rendy yang sedang bermain sendiri dengan banyak mainannya di lantai tidak jauh dari gazebo.


"Tante mau ngambil minum, haus mau ikut nggak?" jawabnya Sheila.


"Nggak mau ah, Rendy mau di sini saja!" kepala anak itu pun menghilang lalu melanjutkan kembali bermainnya.


Sheila terus berjalan memasuki sebuah ruangan melalui pintu belakang, kemudian dia mengambil segelas air minum.


"Apa kau ke sini mau menemui pria yang kamu taksir?" tiba-tiba seorang itu terdengar dari arah belakang, membuat Sheila langsung berbalik.


"Oh kamu, kirain siapa?" gumamnya Sheila sembari beberapa kali meneguk minumnya.


"Iya, emang kau pikir siapa? kalau bukan aku?" Shopia menatap tajam kepada Sheila.


"Ya ... aku pikir Nenek Lampir!" yang menjelma menjadi bidadari--"


"Apa maksud mu ha? bicara seperti itu, kau di sini tamu ya! jangan kurang ajar," potongnya Shopia dengan tatapan yang kurang bersahabat.


"Saya memang tamu di sini, tapi kamu juga bukan tuan rumah. Karena sesungguhnya kamu itu juga numpang!" jelasnya Sheila kepada Sofia yang langsung melotot dengan sangat sempurna.


"Kamu datang ke sini hanya ingin buat ribut denganku ha? kamu hanya tamu di sini dan kamu harus menghormati tuan rumah--"


"Siapa yang tuan rumah? yang namanya tuan rumah itu bang Malik, istrinya. Juga ibundanya ... sementara kamu kan cuma sepupu di sini, bukannya kamu juga numpang? Jadi bukan tuan rumah kan ... apa bedanya denganku!" semakin berani bicara dengan Shopia.


Shopia nampak sangat geram tangannya mengepal giginya pun mengerat kuat. "Kau sangat kurang ajar ya? awas kamu akan aku adukan kepada Malik apa yang sudah kamu perbuat!"


"Emangnya aku berbuat apa? justru aku yang sebagai kunci apa yang kamu perbuat! jadi jangan pernah mengancam saya. Shopia Latasha!" ucapnya Sheila penuh penekanan.


Sophia tidak segera membalas perkataan dari Sheila, matanya semakin merah, giginya semakin mengerat dan kedua tangannya pun mengepal! rasanya ingin sekali menghajar ataupun memukul Sheila.


Hening ....


"Hei, kalian sedang apa? tegang seperti itu, apakah ada masalah?" tiba-tiba suara itu memecah keheningan dan membuyarkan apa yang ada dalam pikiran kedua perempuan tersebut ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Apa kabar hari ini semua reader aku tercintai, dan terima kasih masih jua menjadikan karya ku yang ini sebagai favorit di minggu ini. Terima kasih banyak ya!


__ADS_2