Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Pakai logika


__ADS_3

"Shutttt .... jangan bicara begitu, Allah yang menjadi saksinya kalau kita tidak akan terpisah--"


"Sekarang kita memang berencana bersama, kalau kamu sendiri nantinya aku tahu curang dan aku diduakan ... aku nggak mau! mendingan kita terpisah kalau memang seperti itu!" timpal Renita memotong perkataan dari Malik.


Kedua tangan Malik bergerak menangkup wajah Renita. "Sayang, jangan bicara seperti itu. Aku tidak akan pernah menduakan mu, jangankan menduakan tergoda pun aku tidak akan pernah oleh wanita lain. Allah yang menjadi saksinya aku tidak ingin pernah kehilanganmu seperti dulu lagi! aku akan berusaha dengan sekuat tenaga, agar kita terus bersama untuk selama-lamanya," seraya menggelengkan kepalanya.


"Tapi bagaimanapun ... kita harus menggunakan logika, karena bukannya rezeki. Jodoh, maut Allah yang mengatur. Sementara manusia hanya bisa merencanakan dan Tuhan yang menentukan." Seru nya Renita sambil mengambil salah satu tangan Malik yang lalu ia kecup punggungnya.


"Aku tahu itu, nah itu kembali. Kita hanya bisa berencana Tuhan yang menentukan dan tentunya kita berusaha agar apa yang kita inginkan dan di cita-citakan terwujud bukan membiarkan kita hancur!" tambah Malik.


"Makanya kita memang berjanji untuk hidup bersama untuk selama-lamanya, tapi jika Allah berkehendak lain ... kan kita tidak bisa apa, dan kita harus berpikir dengan logikanya gini! kita harus siap dengan apa yang sekiranya akan terjadi, seandainya kita terpisah!" sambung Renita kembali sembari bergerak dan beranjak dari duduknya.


Kebetulan perutnya sudah lapar dan mau turun ke ruang makan. Sehingga dia beranjak dan membuka mukenanya.


"Mau ke mana?"


"Mau makan lapar. Emangnya kamu tidak lapar?" tanya balik Ranita.


"Lapar, sama!" Malik berdiri dan menyusul sang istri yang sudah berjalan mendekati pintu. tangannya pun meraih tangan Renita dan menggandengnya.


Renita membiarkan tangannya diganti oleh sang suami, berjalan menuruni anak tangga menoleh ke kamar kosong, sepertinya dia sudah turun dan benar saja. Alena juga Rendy sudah berada di meja makan tampak menikmati makan malamnya masing-masing tanpa menunggu mereka berdua hadir di sana.


"Aih ... papa dan Bunda dari mana sih? lama banget dipanggil-panggil juga nggak nyaut! orang udah laper nih, makanya makan duluan!" celotehnya Alena sambil menggerakkan tangannya dan juga mulut yang penuh.


Renita mengedarkan pandangannya ke arah kedua buah hatinya dan juga meja makan yang dihiasi menu-menu masakan terus berganti lagi ke arah Alena. "Ya tidak apa-apa makan saja, nggak mesti harus nunggu bunda sama papa kalau kalian memang sudah lapar!"


"Malah Rendy nggak kuat, Bun. Masakan ini semuanya seolah-olah melambaikan tangan serta berbisik, agar aku segera menyantap dengan rakus, kan kalau sudah makan jadi puas he he he ..." Rendy mengusap perutnya yang merasa kekenyangan.


Sementara Malik hanya tersenyum dan menarik kursinya untuk diduduki, tidak lupa juga menarik kursi buat sang istri yang duduk di sampingnya. "Sudah lanjutin aja makannya, jangan banyak bicara! kapan kamu pulang?" tatapan Malik tertuju pada Rendy karena sebelum maghrib Rendy belum pulang.

__ADS_1


"Aku pulang setengah jam yang lalu, Pa. Dan kebetulan aku salat di masjid dulu! makanya pas pulang langsung aja nangkring di meja makan. Iya kan Bi? tas aku aja nih masih ada di sini," Rendy menoleh pada bibi dan juga tasnya bergantian.


"Iya Den!"


"Syukurlah kalau sudah salat dulu, jadi makan pun tenang!" Malik menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, lalu meraih gelasnya yang lantas ia sesap isinya hingga tinggal setengah.


"Bun, tahu nggak? sekarang itu Kak Rendy sedang dekat sama cewek! ceweknya cantik rambutnya lurus pirang, kayaknya mereka pacaran deh, Bun, Pa." Celetuk Alena sembari melirik ke arah Bunda dan papa nya.


"Eh-eh, kamu ngomong apaan sih? mana ada aku pacaran, nggak ada pacar-pacaran enak aja!" protesnya Rendy dan menatap tajam pada sang adik yang malah asik memasukan paha ayam ke mulutnya.


Adiknya tidak peduli dengan omongan sang Kakak. "Beneran Bun Pah dia itu di rumah juga sering teleponan lama ... banget, kalau kata orang yang bohong nih ya, lupa makan atau tidur gitu!"


"Bohong, Bun. Pa ... Alena nggak bener! dia bohong ... mana ada aku kayak gitu, ya kalau telepon-telepon sih wajar lah. Lagian nggak pernah lama-lama, paling sebentar!" Rendy memanyunkan bibirnya ke depan sembari mengerling kan matanya ke arah Alena.


Renita maupun Malik saling bergantian memandangi kedua buah hatinya. Dengan tatapan yang menelisik pada Rendy juga Alena.


"Bohong, Pa. Bun ... Alena jangan didengar! aku nggak punya pacar kok," wajah Rendy berubah merah dia tampak malu-malu.


"Memang benar itu ... sebesar apapun rasa sayang kita, seberapa besar sayang kita pada pasangan apalagi sama pacar jangan sampai mengalahkan logika. Karena sesuatu yang belum tentu. Apalagi sekarang Rendy sedang kuliah ... lebih dekat untuk menggapai cita-citanya untuk menjadi pilot 'kan ... jadi Rendy harus lebih serius menjalaninya, sekiranya pacaran dapat mengganggu belajarnya Rendy, Bunda harap jangan dulu deh--"


"Nggak bisa gitu juga, Bun ... Rendy itu bagaimanapun sudah dewasa, Rendy pasti punya perasaan terhadap teman wanitanya. Biarkan saja dia pacaran yang penting tidak menyalahi aturan dan tidak keterlaluan. Juga tidak mengganggu pelajarannya! itu saja!" timpal Malik pada sang istri yang sedikit berbeda pendapat dengan dirinya.


Rendy hanya terdiam dan menyimak perkataan dari papa dan bundanya. Perkataan keduanya memang masuk diakal, serta dapat dia cerna maksud dan tujuannya. Rendy cukup mengerti dengan apa yang diuraikan oleh kedua, Bunda dan papa. Dia cukup paham! makanya dia pun memilih untuk tidak pacaran dulu dan mengesampingkan perasaannya yang tidak jauh beda dengan pemuda-pemuda lainnya.


"Rendy mengerti, Bun, Pah. makanya aku nggak punya pacar, bukannya aku nggak laku ... bukannya aku nggak punya perasaan terhadap seseorang, tapi ya begitulah. Aku tidak ingin terlalu bucin dan sampai mengganggu belajarku, aku tidak mau terjadi hal seperti itu. Karena aku ingin fokus menjadi pilot dulu, Bun ... aku tidak pernah pacaran memang ada tujuannya, sesuatu yang ingin aku capai hingga, serta nanti indah pada waktunya!"


"Papa bangga sama kamu, Nak ... terus lah berprinsip yang akan menjadikan mu ke arah yang tepat." Malik merangkul bahu putranya.


Rendy menjulurkan lidah pada sang adik yang juga melakukan hal yang sama. Sementara Renita dan Malik tersenyum melihat kelakuan putra dan putri mereka berdua.

__ADS_1


.


.


Pricilia menyesap minumnya sambil mengedarkan pandangan ke arah sekitar. Dimana banyak pengunjung yang sedang menikmati hidangan rumah makan tersebut lalu mengalihkan pandangan pada Rendy yang tampak serius makan.


"Rendy ... gimana kalau kita pacaran saja--"


"Ohok-ohok ..." Rendy langsung tersedak mendengarnya, dia langsung meneguk minumnya sampai tandas. Ia kaget mendengar ucapan Pricilia yang mengajak pacaran.


"Ih ... kamu kenapa tersedak begitu kayak kaget lihat apa gitu? Ini minum ku, masih kurang nggak!" Pricilia menyodorkan minumannya, kali saja Rendy masih ingin minum.


Rendy tampak menahan sakit di tenggorokannya sembari berkata. "Tidak, tidak usah. Makasih."


"Lagian, kamu kenapa sih sampai tersedak begitu. Makanya pelan-pelan ngapain makan dengan terburu-buru!" Pricilia mengulang kembali perkataannya.


"Nggak-enggak, gak apa-apa kok, ehem!" Rendy berdehem perlahan melanjutkan kembali makannya.


Pricilia pun melanjutkan menyuapkan sayur ke dalam mulut serta menatap ke arah Rendy. "Kamu belum menjawab perkataanku tadi!"


"Eh ... perkataan yang mana?" Rendy pura-pura nggak ngeh dan tidak tau apa yang dikatakan Priscilia tadi.


"Aduhh ... kok kamu gak dengerin aku sih." Pricilia menggaruk kepalanya.


"Aku memang nggak denger, tadi 'kan aku fokus makan tahu, kan ..." Rendy memanggil mbak pekerja rumah makan untuk meminta minum air mineral.


Pricilia menggerakan tangannya menggenggam tangan Rendy yang berada di atas ....


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2