
Semenjak kepergiannya dari rumah, Azam langsung ke rumah Sharon dan keesokannya mereka, Azam dan Sharon menikah secara sirih untuk menutupi rasa malu atas semua yang telah mereka lakukan!
Keduanya tampak sangat bahagia dengan pernikahan ini, karena Azam bisa menikahi pujaan hatinya dan pernikahan itu tidak satupun yang tahu dari keluarganya Azam termasuk Jefri.
Azam menikahi Sharon benar-benar membawa dirinya sendiri tanpa adanya keluarga atau sahabat. Hanya dia sendiri saja.
"Mas nanti malam kita makan dulu ya? bosan, bosan di rumah terus." Ajaknya Sharon dengan nada manja dan bergelayutan mesra di tangannya Azam.
"Iya sayang ... nanti malam kita makan malam di luar! sekarang aku akan ngantor dulu ya!" jawabnya Azam sembari mencium pipi Sharon.
Kemudian Azam berjalan memasuki mobilnya dan meninggalkan halaman rumahnya Sharon.
Lambaian tangan dari Sharon yang berdiri di teras mengiringi kepergian mobil yang dibawa oleh Azam dengan wajah yang sungguh riang dan tampak bahagia, lalu berjalan kembali ke dalam rumah mau membangun kan si buah hati yang belum bangun.
"Akhirnya aku bisa menikah juga dan memiliki mas Azam dengan seutuhnya tanpa berbagi dengan siapapun. Ataupun wanita lain." Gumamnya Sharon dalam hati.
"Sudah siang, bangun sayang?" Sharon mengecup kening putranya yang masih tertidur dan bermalas-malasan.
Sementara Vera sudah siap untuk sekolah dan tidak di antar olah Azam, karena masuknya agak siangan. Kini Sharon pun merapikan penampilan putrinya yang ada acara di luar sekolah tersebut.
"Vera sekolahnya jangan nakal ya? yang rajin harus membanggakan mama sama papa Azam ya?" ucap saran kepada putrinya yang sedang dia kepang rambut nya menjadi dua.
"Iya Mah ... aku akan membanggakan Mama dan papa. Oh ya Mah ... teman-teman Aku punya boneka hello Kitty Mah. Aku mau dong!" anak itu merengek.
"Iya nanti dibelikan, yang penting sekarang sekolah dulu yang benar, yang baik! nanti malam kita jalan-jalan sekalian kita akan makan malam di luar!" bujuk Sharon sambil mengulas senyumnya.
"Oke, Mama." Anak itu beranjak seraya mengambil tasnya! dia akan ke tempat temannya terlebih dulu, sekalian pergi sekolahnya bareng dan di situ kebetulan ada bus jemputan sekolah SD sehingga orang tua tidak terlalu khawatir atau harus antar jemput.
"Baiklah sayang ... hati-hati ya!" Sharon melambaikan tangannya kepada putrinya tersebut.
"Iya, Mam. Dah ... nenek.
__ADS_1
"Emangnya tidak diantar!" tanya sang ibu.
"Nggak lah, Bu ... kan ada bus yang jemput kecuali kalau ada masih ada Mas Azam yang nganterin nya kan enak, kalau aku sendiri malas!" jawabnya Sharon sembari ngeloyor ke kamarnya, kembali mengganggu Putra bungsunya agar bangun, sang ibu mematung lihat langkah Sharon yang memasuki kamarnya.
Saat ini Sharon sedang mengasuh putranya yang bermain mengacak-ngacak mainan, sesekali Sharon memainkan ponselnya sembari memperhatikan putranya yang lucu.
"Padahal anaknya lagi anteng, bisa kan ... sambil mengerjakan yang lain! seperti mencuci, menyapu atau menyetrika. Lagian Deris anteng bermain!" kata sang ibu yang ditujukan kepadanya.
"Malas banget. Nanti cari saja orang untuk mencuci!" jawabnya Sharon dengan gampangnya.
"Ya ampun Sharon ... nyuruh orang itu kan harus dibayar! apa susahnya dikerjakan sendiri. Lagian anak juga anteng kok." Balas sang ibu.
"Buat apa aku punya suami kaya, Bu ... kalau harus aku juga yang ngerjain! masa buat bayar pembantu saja gak mampu. Ibu tenang saja, aku akan cari orang untuk membantu pekerjaan rumah." Sharon sangat penuh keyakinan.
"Tapi kan sekarang banyak pekerjaan rumah, ini sambil kerjain napa?" ucap sang ibu lagi sambil menenteng cucian di keranjang.
"Ach, malas!" sahut Sharon dengan mudahnya, dia malah rebahan bersantai ria dengan ponselnya sembari mengawasi di buah hati yang sedang bermain.
Kepala sang ibu menggeleng dan kemudian ngeloyor meninggalkan Sharon yang tidak perduli dengan omongannya itu.
"Sayang, ini pesanan mu!" Azam memberikan pesanan Sharon.
"Cuph ... makasih sayang!" Sharon mengecup pipi suaminya dengan mesra.
"Sama-sama cinta ... buatkan aku kopi dong!" pinta Azam sambil menggandeng pinggangnya Sharon yang menonjolkan keseksian nya.
"Sebentar ya sayang." Sharon pun pergi ngeloyor ke dapur.
Sesaat kemudian Sharon kembali dengan segelas air putih. "Mas, sayang ... aku kan kecapean bila harus mengurus rumah semuanya sendirian dan ibu juga sudah tua, boleh kan aku mengambil orang, asisten maksud ku."
"Em ... boleh, terserah kamu saja dan aku mau nya kamu banyak merawat diri saja buat aku." Azam mencolek dagu nya Sharon.
__ADS_1
"Makasih sayang, tapi Mas ... ini kan rumahnya ibu. Masa iya sih kita tinggal sama ibu terus? aku kan dari suami yang dulu gak punya rumah lho Mas ... sekarang suami aku kan lebih baik nih ... bisa dong ... beli rumah sayang!" Sharon menempelkan dagu nya di bahu Azam sambil menatap penuh rayuan.
"Em ... gitu ya?" Azam mengerutkan keningnya. Mengingat rumah dia yang kemarin di tempati dengan Renita memang suratnya atas nama Rendy dari dulu juga dengan Renita.
"Gimana Mas ... bisa dong beli rumah baru tapi atas nama ku!" Rajuk Sharon sambil terus gelayutan mesra di tangan.
"Iya, nanti aku pikirkan lagi, sabar aja dulu." Azam sambil meneguk air minumnya.
"Hem ... makasih ya ... dan 8ngin secepatnya. Karena aku ingin segera mendapat rumah impian, sedih deh. Selama berumah tangga dengan manatan suami almarhum ... belum kebeli rumah!" suara saring dengan nada sedih.
Azam membelai rambutnya dan menatapnya dengan sangat lekat, mendengar suara saja membuat Azam merasa tidak tega. "Iya ... kan harus nyari dulu lokasinya di mana yang lebih strategis. Nggak gampang begitu saja! tenang saja ... nanti aku beli rumah kok buat kita tinggal."
"Serius! kamu mau beli rumah untuk ku?" Sharon menatap dengan sangat lekat dengan sorot mata yang berbinar.
"Iya sayang ... serius! apa sih yang nggak buat kamu? cuma sabar aja dulu,dalam beberapa hari ini kita pasti pindah kok. Jangan risau!" ucap Azam sambil celingukan.
"Makasih sayang, makasih banyak! aku tambah sayang deh sama kamu. Aku cinta banget sama kamu, jangan tinggalin aku ya? Aku nggak bisa hidup tanpa kamu!" ucapnya Sharon penuh manja serta mencium pipi kanan dan kirinya Azam.
"Anak-anak ke mana?" tanya Azam sembari menengok kanan dan kiri, intinya mencari keberadaan anak-anak Sharon.
"Dia sama ibu, lagi main!" jawabnya Sharon.
"Oh lagi main ya? kalau begitu kita masuk kamar yo? Aku mau mandi nih ... tapi sebelum mandi kita mandi dulu," ajaknya Azam sambil menarik tangan Sharon.
"Iih ... Mas, aku baru selesai mandi lho." Sharon menahan dirinya sesaat.
"Tidak apa-apa ... mandi saja lagi, ayo ... sebentar. Sudah di ujung nih ... sayang sih menggoda terus!" Azam terus menarik tangan Sharon agar mengikutinya ke kamar.
Tanpa malu Sharon berciuman dengan Azam semasih di ruang tengah juga. Sampai ke kamar.
Suasana yang hening membuat mereka lebih leluasa untuk melakukan ritualnya ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Jangan lupa like comment subscribe juga yang belum agar mendapat notifikasinya dan sebelumnya Ku ucapkan banyak-banyak terima kasih.