Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Kempes Ban


__ADS_3

"Bun, mobilnya kenapa, kok berhenti?" tanyanya Rendy yang hampir saja barusan dia tertidur! karena merasa mobil berhenti, dia terbangun kembali.


Renita pun tampak celingukan dan kebingungan. "Bunda nggak tahu Nak, kok tiba-tiba mogok sih mobilnya."


"Yah ... terus gimana dong? tapi itu kan mesinnya nyala. Bun," ucap anak itu sembari memeluk bahu jok yang ditempati sang Bunda duduk.


"Makanya ... Bunda juga nggak mengerti, apa mungkin ban nya kempes ya!" Renita mematikan mobilnya lalu membuka pintu dengan niat mau keluar dan melihat kondisi ban mobilnya tersebut.


"Iya nih lihat deh. Bun Rendy ikut ya, Bun!" tangan Rendy pun sudah bersiap untuk membuka pintu mobil.


Namun Renita mencegahnya. "Tidak usah sayang, kamu nggak boleh turun! duduk saja di situ biar Bunda aja sendiri yang turun dan melihatnya."


Sehingga anak itu mengurungkan niatnya dan kembali ke posisi semula. Sementara Renita turun dan mengecek ke 4 ban mobil tersebut.


"Eh ... benar saja ban yang depan kempes. Masya Allah gimana ini? mana jauh ke bengkel, jalanan pun sepi." Renita bergumam sendiri.


"Gimana, Bun? apa masalahnya?" pekik Rendy dari dalam mobil.


"Ban depan kempes Nak." Jawabnya Renita sembari berdiri setelah beberapa saat berjongkok.


"Ya ... gimana dong Bun? kita kan masih jauh, kembali ... ya sudah kembali aja Bun ke rumah tante! telepon tante biar dijemput!" celotehnya Rendy yang ngasih saran untuk kembali lagi saja ke tempatnya Sheila.


Renita meraih ponselnya yang berada di dalam tas di tengah-tengah jok mobil. Lalu dia berdiri di luar pintu menggulir layar ponselnya mencari kontak untuk menelepon sang suami.


Dia ingin memberitahu kalau ban mobil kempes, jadi ada kemungkinan balik lagi ke tempat Sheila kalau seandainya Malik tidak mau menjemput.


Akan tetapi belum juga meng klik kontak sang suami, handphone nya sudah disambar orang. Membuat wanita terkesiap dan langsung menoleh ke arah belakang! dimana ada dua orang yang bertubuh tinggi memakai teregos, berdiri. Dan satunya memegangi ponsel milik Renita.


"Sebaiknya serahkan apa yang kamu punya! semuanya," pinta orang yang memegangi ponsel Renita dan yang satu lagi menodongkan senjata api ke arah bahunya Renita.


Tentunya bikin Renita shock dan dia langsung meminta pada sang anak, agar tidak keluar dari mobil.


"Rendy, kunci pintunya dan jangan keluar dari mobil." Pekiknya Renita pada sang buah hati yang berada di dalam mobil.

__ADS_1


Rendy pun yang melihat walaupun tidak jelas dan hanya mendengar yang jelasnya suara orang yang tidak dikenal mengancam sang Bunda, langsung dihinggapi rasa ketakutan. Mulutnya menganga dia pun sangat khawatir dengan keselamatan bundanya.


"Bunda kenapa. Ada apa?" anak itu masih sempat-sempatnya bertanya pada sang Bunda dengan apa yang terjadi.


"Pokoknya diam saja di situ. Jangan pernah keluar!" jawabnya sang Bunda dengan suara yang bergetar ketakutan.


Pria yang merampas ponselnya milik Renita, menimbulkan kepalanya ke dalam mobil yang jendela depannya terbuka. Dan mengambil tasnya Renita seraya menoleh pada Rendy yang disertai ancaman.


"Eh bocah. Jangan pernah kau teriak ya? kalau tidak mau ibumu kenapa-napa!" pintanya orang tersebut sambil menatap tajam ke arah Rendy yang tampak mulai ingin menangis! khawatir bundanya kenapa-napa, takut dengan kedua orang tersebut bercampur menjadi satu.


"Bunda ... hik-hik-hiks, Rendy takut!" gumamnya anak itu sambil menangis namun dengan suara yang pelan.


"Ayo serahkan lagi apa yang kamu punya! tentunya barang yang berharga," kata orang yang mengambil ponsel Renita dan sudah mengambil tasnya juga.


"Ta-tapi ... yang saya punya sudah kalian ambil dan tolong lepaskan saya! biarkan saya pulang." Renita memohon untuk di lepaskan.


"Pulang itu gampang cantik ... tapi saya masih pengen barang berharga darimu!" ucap orang yang menodongkan pistol kepada Renita.


Orang yang memegangi tas Renita pun mengalihkan pandangannya pada kunci mobil yang masih terpasang di tempatnya.


"Sudah tidak punya apa-apa, ini apa?" orang itu menirukan omongannya Renita sembari menunjukkan kunci yang kini sudah beralih tangan.


"Ja-jangan, itu kucingnya jangan diambil. Saya harus pulang bawa anak saya. Su-sudah cukup tas dan ponsel saya yang kalian ambil dan di dalamnya ... juga ada dompetnya!" tambah Renita yang sekarang semakin tampak gugup dengan ujung pistol yang sudah menempel di dada bagian kanan.


"Di dompetnya ada uang nya tidak?" tanya orang yang memegangi tasnya Renita dan memasukkan kunci ke dalamnya.


"Tidak ada! di dalam dompet itu isinya daun semua, ya pastinya ada duitnya dong be-go ... ngapain wanita kaya ini masukin daun ke dalam dompetnya? otak itu di pakai ... bukan dijadikan pajangan," orang yang menodongkan pistol ke arah Renita tampak geram pada kawannya itu.


"Iya juga ya? ngapain menyimpan daun di dalam dompet!" orang itu langsung mengecek isi dompet Renita ya memang berisi berapa lembar uang berwarna merah. ATM, KTP. STNK dan surat berharga lainnya.


"Iya makanya ... ambil sekalian sama mobilnya!" pekik orang yang menodong Renita dengan suara yang tertahan.


"Ya sudah, kalau kalian mau ambil mobil. Ambillah! saya tidak apa-apa tapi tas sama isinya sini kan? karena saya butuh uang untuk pulang!" Renita malah bernegosiasi dengan kedua orang tersebut, biarpun merasa ketakutan dan putus asa.

__ADS_1


Jdugh.


Tangan orang yang sedang menodongkan pistol pada Renita memukul kaca jendela mobil. Namun tidak sampai membuat kaca tersebut pecah. Tatapannya sangat tajam ke arah Renita.


"Kamu pikir kita sedang kerjasama apa ha? sehingga bernegosiasi segala? enak saja tawar-menawar! jangankan mobil! tubuhmu saja bisa saya rampas. karena saya lihat-lihat ... kamu tuh cantik juga pasti akan memuaskan saya di ranjang!" sehingga pria itu sambil menggerak-gerakan bola matanya yang menakutkan itu.


Membuat Renita meremang ketakutan, jantung pun semakin berdebar kencang. Keringat pun bercucuran di seluruh tubuh. Dari dalam mobil terdengar suara Rendy yang menangis dan memanggil-manggil Bunda.


"Saya mohon lepaskan saya. Saya janji tidak akan melaporkan kalian pasa polis, yang penting lepaskan saya dan anak saya! biarkan saya pulang," Renita terus memohon dan dia mundur satu langkah, tubuhnya sehingga menyentuh badan mobil. Tatkala tangan pria itu berniat menyentuh pipi Renita.


"Teruslah memohon cantik, saya suka dengan suaramu yang lembut dan membuat saya semakin bergairah. Hasratku meronta-ronta ingin kamu layani saya, bagaimana kalau kita melakukannya di mobil saja hem?" suara pria itu semakin menyeramkan bagi wanita cantik dan berkerudung itu.


Dan membuat jantung Renita semakin berdebar ketakutan, bahkan rasanya ingin melompat dari tempatnya. Renita menggelengkan kepalanya kasar seraya bergerak menjauh dari pria tersebut. Tapi terhenti karena orang yang memegangi tas Renita menghadang.


"Saya mohon lepaskan saya! saya sudah bersuami dan saya pun sedang mengandung, tolong lepasin saya?" kedua tangan Renita disatukan di depan dadanya, meminta dan memohon agar dibiarkan pulang.


"Ha ha ha ... kau pikir saya perduli dengan pengakuan mu itu ha? Saya tidak peduli biarpun kau sedang mengandung atau tidak, tetapi kau pasti bisa melayani saya!" Suara itu semakin membuat Renita meremang.


Yang terlintas di pikirkan Renita saat ini adalah gimana caranya untuk bisa lepas dan bisa pulang? membawa dirinya dan Rendy yang berada dalam mobil.


Renita menjerit dalam hati, berharap kedua orang ini berbaik hati. Tidak apalah seisi tas raib pun yang penting dirinya dan Rendy Selamat.


Dugh.


Degh.


Ngek.


Kedua orang itu di serang dan pistol yang sedari tadi menempel di atas dada Renita pun di rampas dari pemiliknya ....


.


Apa kabar nya nih reader ku semua ... masih setia kan?

__ADS_1


__ADS_2