
Kini Malik sudah berada di kantor nya, kembali berkutat dengan pekerjaan yang menumpuk di meja.
Sejenak Malik terdiam, dia bengong dan menjadi kepikiran Azam. Dulu dia seseorang yang mempunyai jabatan penting di sebuah perusahaan dan sekarang dia hanya sebagai pekerja kuli bangunan membuat hati Malik menjadi miris dan kasihan, rasanya ingin sekali membantu Azam.
"Kasian juga, mungkin aku harus membantu dia dalam hal pekerjaan. Kasihan dia dari pegawai kantoran kini menjadi kerja bangunan, haah! baiklah Malik ... apa salahnya kamu memberi pekerjaan kepada Azam? lagian kamu nggak ada masalah apa-apa sama dia, sekarang kau harus pikirkan. Pekerjaan seperti apa yang akan kau berikan padanya!" gumamnya Malik bermonolog sendiri.
Sesaat kemudian Malik berdiri dari tempatnya, berjalan keluar menuju ruangan sekretarisnya dan tidak sengaja netra matanya melihat ke arah salah satu ruangan yang kosong sejenak dia berdiri mengingat-ingat ruangan Staf apa yang sedang kosong.
"Oh iya! aku butuh manajer pemasaran ya-ya-ya ... kebetulan menajet pemasaran sedang cuti melahirkan, nanti ku pikirkanlah kalau dia masuk lagi bila perlu aku naikkan jabatan! yang ini dipegang sama Azam saja, oke. Ada manfaatnya juga aku jalan ke sini!" Malik menganggukan kepalanya beberapa kali.
"Dan ... aku harus bicarakan dulu soal ini dengan istriku di rumah. Kebetulan besok pun dia akan turun kembali menduduki posisinya sebagai HRD perusahaan ini, ya apa salahnya aku masukkan Azam di perusahaan! anggap saja membantu kehidupan dia, perekonomiannya." lagi-lagi Malik bermonolog.
Di saat jam pulang, Malik pun langsung balik ke rumah dan mencari keberadaan sang istri.
Yang ternyata Renita sedang menikmati suasana sore di balkon sembari mengamati putranya yang sedang berenang di kolam bawah.
"Sayang, Assalamu'alaikum ..." Malik langsung mendekati dan mencium pucuk kepala sang istri yang menolehkan kepala padanya.
"Wa'alaikumus salam ... sudah pulang," Renita mencium tangan nya Malik penuh hormat nan mesra.
"Sedang apa di sini?" selidiknya Malik sembari merangkul dada bagian atas Renita dari belakang.
"Apa kau tidak melihatnya. Aku sedang tidur he he he ..." jawabnya Renita sembari terkekeh.
"Ooh, pantas berarti yang sedang pelukan ini adalah dalam mimpi ya." Malik menempelkan dagunya di atas kepala Renita.
"Aku sedang menikmati indahnya sore dan juga melihat Rendy yang sedang berenang tampak asik sama temannya di sana!" Renita menunjuk ke bahwa di mana Rendy, sedang bermain dan berenang di kolam tersebut bersama dua orang temannya.
Kepala Malik pun menoleh ke bawah, melihat Rendy yang tampak asik. "Iya sayang tadi aku bertemu dengan Azam!"
Renita melirik ke arah Malik. "Terus. Emangnya kenapa?"
__ADS_1
"Sayang, tidak sengaja ... tadi aku melihat dia pas mau balik ke kantor dan dia sedang bekerja menjadi kuli bangunan! aku berhenti sebentar aja dan mengobrol dengannya! sedikit banyaknya dia merasa sedih dan juga menyesal, menyesal karena sudah menyia-nyiakan kalian berdua aja. Sedih karena seakan-akan Rendy tidak mengenalinya." Ujarnya Malik seraya merindukan dirinya di samping sang istri.
"Gimana lagi semua ini karena ulahnya juga! coba dia nggak terlalu memberi jarak kepada Rendy mungkin kenyataannya nggak akan seperti ini juga. Orang dewasa aja jika di jauhi ya otomatis dia pun akan menjauhi. Begitupun dengan anak-anak!" Renita menghela nafas dalam-dalam.
"Abang sudah menyuruh dia agar lebih mendekatkan diri lagi kepada Rendy! bagaimanapun dia Ayah biologisnya dan kita menyayangi Rendy bersama-sama." Tambahnya Malik.
"Terus apa jawabannya?" Renita menatap penasaran pada sang suami.
"Dia bilang dia merasa malu banget, dia nggak punya keberanian untuk menemui Rendy apalagi mendekatinya. Dulu ketika dia masih punya harta tidak pernah menemui Rendy ataupun memberikan nafkah! dia mangkir atas tanggung jawabnya yang malah sudah disepakati." Malik mengatakan apa yang sudah dikatakan oleh Azam padanya waktu itu.
Renita menghembuskan nafas yang terasa berat. "Semuanya sudah terlanjur dan sudah lewat!"
"Begini sayang ... apa salahnya sih kalau kita membantu kesulitan dia? aku berniat mau memberikan sebuah pekerjaan kepadanya! kasihan dia. Mudah-mudahan apa yang sudah terjadi dijadikan sebuah pengalaman dan kita bantu agar dia bangkit kembali." Malik menatap wajah cantik istrinya seakan meminta persetujuan.
Renita mengalihkan pandangannya pada sang suami seraya mengerutkan rekeningnya. "Serius?"
"Ha ha ha ... ya serius lah sayang. Sangat serius! kapan sih ngomong aku nggak serius?" Malik tertawa namun tetap dengan nada seriusnya.
Renita mengembuskan nafasnya dengan perlahan. "Terserah Abang saja, aku nurut saja. Oya besok aku mau masuk kerja lagi, tidak apa kan? boleh kan?"
"Oke, aku mau mandi dulu." Malik beranjak dari duduknya dan menarik tangan sang istri dan menuntun nya ke dalam kamar.
Lantas Malik masuk ke kamar mandi dan Renita menyiapkan pakaiannya Malik yang dia ambil dari lemari.
Selanjutnya Renita turun ke lantai dasar untuk membantu baby memasak, menyiapkan makan malam.
"Reni bisa Mama minta tolong?" suara sang ibu mertua yang baru saja datang ke area dapur.
"Iya Mah ... mau minta tolong apa?" Renita menolehkan kepalanya menatap sang ibu mertua yang sedang berdiri di dekat meja makan.
"Rasanya ... Mama pengen makan sop deh, ada bahannya nggak? kalau ada tolong bikinkan! tapi Mama nggak mau pesan dari luar!" sang ibu mertua menatap penuh harap.
__ADS_1
"Oh, kalau gitu ya aku cari dulu lihat dulu bahan-bahannya!" Renita langsung membuka lemari pendingin menjadi bahan-bahan di sana, dan kebetulan bahan-bahannya ada lengkapnya.
"Ada Mah ... aku bikinkan ya!" tanpa menunggu jawaban dan Renita pun langsung mengambil semua bahan yang dibutuhkan dari mulai kol, wortel. Kentang! bawang daun, seledri. Bawang merah dan bumbu tumbuk.
"Bi, tolong yang ini di aduk-aduk ya!" Renita menoleh pada bibi.
"Iya Non, biar ini Bibi yang nanganin!" bibi mengorak arik masakan yang tadi Renita pegang.
Dan kini waktunya makan malam. Bu Amelia, Malik. Renita dan Rendy sudah siap melingkari meja makan. Renita pun mengambilkan buat sang suami, mertua dan putranya.
"Apa benar besok Reni mau masuk kerja kembali? memangnya kaki kamu sudah kuat dan sedang berhenti terapi?" Selidiknya Bu Amelia.
"Terapinya masih berjalan, tapi paling dua minggu sekali." jawabnya Malik sembari menikmati makan malamnya.
"Tidak apa-apa Mah, aku sudah kuat kok ... lagian di rumah juga aku nggak ada kerjaan!" tambahnya Renita yang kemudian meneguk minumnya.
"Ya sudah kalau kayak gitu, yang penting jangan lupa kewajiban saja sebagai seorang istri yang harus mengurus suami dan anak!" lirihnya sang ibu mertua.
"Jadi bunda akan mulai bekerja lagi?" tanya Rendy sembari mendongak pada sang Bunda.
"Iya sayang, tapi Rendy berangkatnya sekolahnya sama Bunda ya, terus pulang nya dijemput sama sopir, oke?" Renita tersenyum pada sang buah hati yang menanggapi dengan anggukan.
"Pinter," Renita mengusap pucuk kepala Rendy penuh kasih dan sayang.
Selepas itu mereka pun berpindah tempat duduk santai di ruang keluarga berbincang-bincang.
"Oh ya, rasanya Mama sudah lama nggak denger kabarnya Shopia Mama hubungi pun nomornya gak aktif." Seru Bu Amelia kepada putranya.
"Entah, aku juga nggak tahu, Mah ... dari waktu itu aku nggak pernah melihat dia. Nggak ada kabar dia." Jawabnya Malik sembari meremas tangan sang istri yang berada di sampingnya menonton televisi.
Sementara Rendy bermain di lantai dengan banyak mainannya. Di luar terdengar suara ketukan pintu yang membuat yang ada di ruang tengah tersebut menoleh ke arah pintu ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Apa kabar semuanya semoga kabar baik ya, Terima kasih Sampai detik ini masih mengikuti karya ku🙏