Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Aku bermimpi


__ADS_3

“Aku bermimpi yang sangat mengerikan sekali, dan berasa nyata. Sumpah deh ... sangat menakutkan banget.” Kata Renita sambil bergidik dan menoleh pada suaminya.


Malik menoleh dan kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan yang padat tersebut. “Sebaiknya kita bicaranya di kantor saja ya? sebentar lagi kita akan sampai di sana.”


Renita pun mengangguk seraya tersenyum tipis saja. Lantas memandangi ke arah jalanan yang ramai itu, di mana kendaraan roda empat dan dua yang paling banyak menghiasi jalanan.


Sesampainya di kantor dan mereka akan bicara di ruangannya Malik, biar Renita merasa lega dan plong bila sudah bercerita dan Malik sendiri pun teramat penasaran dibuatnya.


“Sekarang ... semuanya sudah tenang dan nyaman, silakan sekarang sayang cerita,” ucap Malik sambil membuka gorden jendela besar yang membuat tembus pandang keluar.


Renita mendudukan dirinya di atas sofa yang di susul oleh sang suami. Duduk berdua di sofa tersebut dan malik mengambil sebotol air putih yang dia buka tutupnya.


“Em ... Yank, semalam kita ke datangan tamu yang tidak di undang alias maling—“


“Kata siapa? semalam tidak ada apa-apa, kalau ada apa-apa ... kita bisa membuka cctv? sebagai mencari buktinya?” potong Malik yang tidak merasa seperti itu. Ia yakin kok ... kalau semalam di rumahnya itu tidak ada apapun, kalau ada pun ia pasti segera cek cctv dong.


“Denger dulu dong ... aku belum selesai cerita, Yank ... aku tidak tahu yang mereka incar. Akan tetapi beberapa saat kemudian aku menemukan Alena terbujur kaku, bersimbah Da-ra-h yang buat seisi rumah panik. Aku pingsan dan tidak sadarkan diri, lalu nangis tersedu dan terisak. Sampai beberapa waktu kemudian aku terbangun di bangunkan oleh Rendy dan kamu tadi.” Ujarnya Renita sambil menghela nafas nya yang terasa berat.


Malik memandangi dengan lekat dan tanpa komentar apapun sambil meneguk minumnya yang terasa menyegarkan di tenggorokan. Renita menatap heran pada suaminya yang hanya memandangi saja tanpa sepatah kata pun yang terucap.


“Sayang, itu yang menyebabkan mu tidur nyenyak dan terus menangis juga memanggil nama Alena?” malik menatap wajah sang istri. “Tapi aku bangunkan tidak bangun-bangun, kan aneh.”


“Oya, aku kau bangunkan dan aku menangis terus juga memanggil Alena?” selidiknya Renita sambil meraih botol minum bekas sang suami.


“Iya. Kamu menangis dan terus memanggil nama Alena, entah apa yang kamu mimpikan sehingga begitu. Biasanya


sebelum subuh sudah bangun, jam lima saja ku bangunkan tidak bangun juga,” ungkap Malik sambil menggeleng.


Renita nyengir sambil merapikan kerudungnya. “Aku tidak bisa membayangkan kalau itu benar-benar terjadi, aku


sangat takut sesungguhnya,” memegangi dadanya yang terus berdebar dan ada rasa was-was dalam hati sanubari yang paling dalam, tidak bisa membayang jika itu terjadi.

__ADS_1


Malik semakin mendekat dan merangkul pundaknya sang istri sembari berkata. “Serahkan semua ini pada yang maha kuasa dan dia lah yang maha menentukan! kita sebagai manusia hanya bisa menjalani saja segala kehendaknya.”


Renita menatap lekat pada wajahnya Malik. “Aku takut saja bila ada orang tidak suka pada keluarga kecil kita dan juga tega mencelakai salah satu antara kita dan aku jadi parno sayang ... takut. Mendingan kalau itu aku. Kalau anak-anak ... aku tidak rela sungguh aku tidak rela.”


“Huussh ... sayang, jangan berpikiran jelek begitu. Takutnya sampai ke langit dan menjadi doa. Justru kita harus berpikir positif demi kebahagiaan kita juga.” Malik merangkul bahunya sang istri ke dalam pelukannya.


“Aku takut saja, Yank ...


khawatir, seandainya kamu tahu rasanya hancur saat aku melihat putri kita yang sudah tidak bernyawa dan bersimbah da-ra-ah—“


“Huussh ... cukup. Jangan bicarakan itu lagi atau mengingatnya lagi, takut nanti kamu kepikiran terus dan menjadi penyakit  ... itu yang tidak aku mau,” lirih Malik sambil menatap lembut pada istrinya itu. Sejenak mereka saling tatap penuh perasaan seiring berdebar di dada.


Perlahan Malik mendekatkan wajahnya pada wajah Renita dan mengecup bibir sang istri dengan lembut dan penuh kasih sayang. Manik mata Renita terpejam sesaat, lalu ia berdiri setelah Malik menghentikan sentuhannya.


“Em ... aku mau ke ruangan ku dulu ya?” Renita merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.


Tangan Renita yang masih dipegang oleh Malik dan Malik pun berdiri. “Oke, hati-hati kerjanya ya? kalau ada apa-apa kasih tahu aku,” malik mengusap lembut bibir Renita yang tampak lembab bekasnya barusan.


Jantung Azam tiba-tiba berdebar kencang, melihat Renita berada di rungan Malik dan dia sempat mundur ketika sekilas melihat mereka sedang ....


Kemudian Azam meneruskan langkahnya setelah Renita telah lebih dulu menjauh dari rungan tersebut, Azam mengetuk daun pintu. Yang langsung mendapat sahutan dari Malik. “Masuk.”


Azam pun menghampiri dan lalu duduk setelah mendapat perintah dari sang empu. “Makasih!”


Malik menatap ke arah Azam lalu berdiri mengambil minuman yang ia simpan di depan Azam. “Silakan minum dan mana berkas yang saya pinta kemarin.”


“Makasih, ini berkas nya dan coba cek kembali. Mungkin masih ada yang kurang atau gimana.” Azam memberikan berkas yang bosnya pinta sebelumnya.


 “Oke makasih, dan gimana kabar istri mu di rumah sakit? sudah pulang atau—“


“Masih di rumah sakit di rawat, belum bisa di berikan pulang sebelum kering luka nya. Mohon doa nya saja.” ungkap Azam sambil menyesap minumnya.

__ADS_1


“Ya ... kami akan mendoakan semoga cepat sembuh dan segera pulang. Biar kita lebih merasa tenang bila di rumah sehat walafiat.” Malik mengangguk pelan sambil membuka berkas yang dari Azam.


Setelah itu Azam pun berpamitan untuk kembali ke rungan kerjanya, Malik mengangguk lalu Fokus ke benda yang ada di tangannya itu tanpa berkedip.


Azam yang berjalan sampai di dekat pintu ... membalikan tubuhnya menoleh pada Malik yang tampak sangat serius, lalu membalikan kembali dan melanjutkan langkahnya menuju tempatnya bekerja.


Setelah Azam menghilang dari tempat itu, Malik menoleh pada ambang pintu yang barusan ada Azam di sana. seraya menghela nafas dengan berat. “Huuh ... astagfirullah ....”


“Selamat bekerja dan semoga betah ya? jadi orang yang rajin, amanah dan juga ulet.” Renita berdiri sambil mengulurkan tangannya pada salah satu karyawan baru, yang baru saja melamar dan Renita terima.


“Terima kasih, Bu ... semoga aku bisa betah dan semangat bekerja di sini.” Wanita tersebut tersenyum sambil menyambut tangan Renita.


Renita duduk kembali setelah karyawan baru itu keluar dari ruang kerjanya dan Renita mengembuskan nafas


melalui mulut sehingga mengembung. Tangannya mengambil berkas, sebuah laporan bulan kemarin.


Pas jam makan siang ... Malik langsung mendatangi sang istri yang masih tampak sibuk dengan pekerjaannya. “Sayang, ayo kita makan. Masih sibuk saja ach.”


Renita menoleh pada suaminya. “Iya ... bentar ya, aku bereskan ini dulu.”


“Oke ... aku tunggu dan jangan lama-lama,” Malik melipat tangannya di dada sambil berdiri tidak jauh dari sang istri yang tengah merapikan meja kerjanya.


“Yo, aku sudah siap nih.” Renita meraih tas nya dan ponsel yang tergeletak di meja. Menoleh pada sang suami yang sedari tadi memandangi dirinya.


“Oke. Kita cari makan yang agak jauh ya, bo-san di sana terus.” Malik meraih tangan sang istri digandengnya mesra dan mereka pun berjalan berbarengan. Membuat yang melihat merasa iri dengan kemesraan mereka berdua.


“Siang Bos.” Sapa orang-orang yang berpapasan dengan Malik dan Renita sembari membungkuk hormat.


Keduanya membalas dengan senyuman dan mengangguk pula. “Sudah waktunya jam makan siang, jangan lupa.” Malik dengan ramah.


“Auwh!”

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2