Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Mangsa baru


__ADS_3

Niatnya mau pulang, tapi dia malah belok ke mall ingin nongkrong di sana sebentar.


"Hem, kayanya tu laki tajir juga. Dari penampilan nya aja nyentrik dan glamor, biarpun usianya sudah lebih tua dari mas Azam, tak apa lah! kapok gue cari brondong yang gak ada duitnya."


Sharon berjalan dengan gemulai melipir melewati orang-orang yang seliweran di dalam mall tersebut, mendekati seorang om-om yang tampak tajir.


"Tapi aku harus cek dulu apa dia banyak duit juga berehan alias baik tidak sayang uang, atau sebaliknya, bin pelit." Sharon mengibaskan rambut panjangnya.


Sharon pura-pura berjalan dan tidak melihat jalan, sehingga menubruk pria itu yang kebetulan juga berjalan ke arah nya.


Sehingga pria yang berwajah manis dan penampilan formal itu terkesiap, hampir saja yang dalam genggaman nya terjatuh memandangi ke arah Sharon.


"Maaf, maaf? saya tidak sengaja." Sharon meminta maaf sambil menunjukan senyum menggodanya.


Pria yang pada dasarnya mata keranjang begitu jelalatan melihat penampilan Sharon yang berpakaian seksi, di atas kelihatan belahan dan bawah menampakan paha.


Sudah terbaca dalam sekilas pun sama Sharon kalau pria yang di hadapannya itu adalah pria hidung belang. Membuat Sharon senyum-senyum sendiri dalam hati.


"Neng, sendiri saja! kemana temannya? atau suaminya?" tanya pria tersebut sambil celingukan ke arah sekitar.


"Em ... itu, teman aku berada di sebelah sana dan aku tidak punya! permisi ya!" Sharon pura-pura mau pergi namun matanya melirik pada kalung di leher pria itu yang kuning emas.


"Eeh, nanti dulu. Bisa kenalan gak?" pria itu meraih tangan Sharon serta tatapan yang tajam seakan ingin menghujam jantung.


"Kenalan boleh!" cara melakukan kepalanya belanja dalam hati. "Wah ... lumayan aku dapat mangsa baru nih! semoga saja berduit." Gumamnya dalam hati Sharon.


"Darwan. Pengusaha!" pria itu mengulurkan tangannya pada Sharon.


Yang langsung di sambut dengan cepat. "Sarita. Senang dapat kenalan dengan anda."


Tangan Darwan menggerakan jemarinya di telapak tangan Sharon. Menggambarkan kalau pria itu bukan pria baik-baik atau tipe pria setia.


...----------------...


Setelah kartu alat pembayaran di sita dari Sharon, Azam tidak lagi pusing dengan tagihan! namun yang membengkak itu pun masih belum lunas karena memang belum di bayar dan tabungan dia yang menipis gak bisa membayar tagihan itu. Belum byar keperluan harian, mingguan dan bulanan yang harus dia penuhi semuanya.


"Aku harus bagai mana untuk bisa membayar tunggakan itu?" Azam seolah-olah sedang berpikir, memutar otak gimana caranya bisa bayar hutang dan menutupi kebutuhannya.

__ADS_1


Azam menatap langit-langit ruangan kerjanya itu dengan tatapan kosong. Hari ini dia harus membayar cicilan rumah yang masih beberapa bulan lagi.


Bayar keperluan rumah dengan anggaran bulanan. belum menggaji pembantu.


"Pusing juga ya semuanya diurus sendiri. Lebih enak dulu di mana aku nggak harus turun tangan dengan semua urusan rumah." monolognya Azam.


Karena sudah waktunya pulang. Azam pun beranjak dari duduknya yang kemudian sebelum pergi membereskan meja kerjanya terlebih dahulu, kemudian berjalan di koridor kantor dengan langkah yang gontai.


Sesekali bertegur sapa dengan staf dan karyawan lainnya.


Kini Azam sudah berada di dalam mobilnya yang melaju dengan kecepatan sedang sambil dengan pikiran yang melayang. Memikirkan tentang kedepannya gimana.


Hari sudah sore dan senja pun mulai memerah. Mobil Azam memasuki kediamannya yang tampak sepi dan tidak ada penghuni yang ada di luar, Azam pun turun dari mobilnya.


Berjalan memasuki pintu utama yang tertutup dan kedua netra nya menemukan Vera yang sedang bermain di ruang tengah.


"Mama ke mana teh tanya ajam kepada Vera yang sedang bermain, lalu Azam pun mendudukan dirinya di atas sofa.


Vera menolehkan kepalanya kepada Azam, "Mama sedang keluar, tidak ada di rumah!" jawabnya anak itu.


Anak itu bengong sebentar, menatap kosong entah apa yang sedang dia pikirkan. "Nggak tahu dari kapan, aku pulang sekolah Mama sudah tidak ada. Dan Denis pun ngamuk-ngamuk pengen ke mamah! tapi mamanya tidak ada, ditelepon pun tidak menjawab."


Azam menoleh kepada mbak yang baru saja muncul di tempat tersebut sembari menuntun Denis. "Nyonya ke mana Mbak?"


"Kurang tahu, Tuan! ditelepon pun nggak diangkat!" jawabnya Mbak sembari menggeleng.


"Emang sejak kapan perginya?" tanya kembali Azam.


"Eh ... eh sehabis dzuhur, Tuan!" jawabnya mbak kembali.


"sebentar sebentar kamu bilang habis zuhur dia baru pergi sebentar aku ada jam berapa pulang Azam melirik ke arah Vera.


"Aku pulang sekolah jam 11.00 Papa!" sahutnya Vera dengan polos.


"Kata Vera, dia pulang sekolah jam 11.00 dan mamanya sudah tidak ada! kok bisa dia perginya setelah dhuhur? sementara Vera sendiri tidak ketemu sama mamanya." Azam menatap tajam dan curiga kepada mbak.


Yang tampak kebingungan dan gugup, karena memang sebenarnya seperti itu. Dari pagi Sharon pergi dan selalu berpesan kalau Azam sore pulang bilang aja dia perginya sudah zuhur.

__ADS_1


"Em ... itu, itu nyonya ..." Mbak menunduk dia bingung takut juga gugup.


"Jadi sebenarnya. Nyonya itu perginya kapan? pagi atau siang?" jelasnya Azam dengan sedikit membentak pada mbak.


"It-itu, nyonya ... Iya Tuan perginya pagi. dan sampai sekarang belum juga pulang! tadi Denis ngamuk-ngamuk tapi ditelepon pun Nyonya tidak menjawab. Hingga Denis tenang kembali dan bisa bermain," jelasnya mbak.


"Ooh, dia sering bilang seperti itu ya? berarti setiap pergi dong, dan saya tanya, apa setiap hari dia pergi pulangnya sore." Selidiknya Azam. Kemudian.


"Kemana lagi dia? bilangnya mau ke mana dia sampai tiap hari segala?" selidik kembali Azam kepada mbak.


"Maaf Tuan, saya tidak pernah nanya mau ke mana! dan ... dia nggak pernah cerita!" sahutnya kembali lalu mengajak bermain Denis dan juga Vera.


Azam terdiam, beranjak dari duduknya lalu dia menjinjing sepatu dan tasnya ke lantai atas di mana kamarnya berada di sana.


Karena penasaran, Azam mengambil ponselnya menghubungi nomor ponselnya Sharon, tersambung tapi tidak diangkat sama sekali.


Sekitar pukul 9 malam Sharon baru pulang ke rumah, tentu saja langsung di interogasi oleh suaminya.


"Dari mana kamu? jam segini baru pulang, seharian keluar rumah tanpa izin suami meninggalkan keluarga! dari mana?" selidiknya Azam pas melihat istrinya masuk rumah dengan mengendap-endap.


Sharon mengusap-usap dadanya merasa kaget, dia pikir suaminya tidak berada di ruang tengah karena biasanya jam segini dia suka sibuk dengan laptopnya di atas.


"Em, itu Mas. Aku ... dari ketemu teman lama, iya benar! ketemu teman lama." Sharon sedikit gugup dan dia berusaha untuk menenangkan dirinya juga mengendalikan rasa gugup yang menyapa jiwa.


"Ketemu teman lama sampai seharian begini? emangnya kamu gak punya anak apa ha? kamu gak punya suami! dari pagi sampai jam segini, mana tanggung jawab mu sebagai istri dan ibu?" Zam langsung marah dan berdiri dari tempatnya yang tadi Sadang menonton televisi.


Sharon itu takut sama Azam tapi bandel dan mau nya mengikuti kata hati. "Kamu tidak ada hak untuk mengatur ku dan mengekang langkah ku, kamu memang suami ku tapi bukan berarti aku harus berdiam di rumah selama 24 jam lamanya."


"Saya suami mu dan saya punya hak mengatur kamu!" bentak nya Azam sambil mengeluarkan biji matanya sambil lebih mendekat pada sang istri.


"Sudah saya bilang, jangan mengatur ku! aku tidak suka di atur, apalagi uang pun kamu cekik. Siapa yang mau tunduk sama suami pelit bin pedit dan tidak mengerti akan kebutuhan istri." Sharon setengah berteriak dan pergi meninggalkan tempat tersebut setengah berlari meninggalkan ruangan itu.


Azam tidak bisa berkata-kata lagi atau salain melayangkan tangan di udara merasa kesal dengan Sharon yang susah di atur ....


...🌼---🌼...


Terima kasih atas dukungan dari reader ku sampai saat ini ya, makasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2