
Tampak seorang laki-laki yang keluar dari mobil mercy hitam, memasuki kediaman Yati yang tiada lain adalah suaminya Yati.
"Assalamu'alaikum, ada tamu rupanya!" ucap pria tersebut Seraya menghampiri sang istri dan mencium keningnya, dia adalah suami Yati yang bernama Riko.
"Wa'alaikum salam ... Iya nih ... masih ingat kan? dia Renita!" balas sang istri.
"Masih ingat dong ... masa sudah lupa. Aku belum pikun!" jawabnya sang suami lalu mengulurkan tangan ke pada Renita.
Yang langsung disambutnya. "Apa kabar? ucap Renita dengan ramah.
"Alhamdulillah baik ... seperti yang kau lihat, tidak kurang suatu apapun!" jawabnya Riko kemudian pria itu berpamitan untuk masuk ke dalam, meninggalkan kembali sang istri bersama Renita.
"Suami ku nggak tampan-tampan amat, bahkan lebih tampan suami eh mantan suami mu, tapi aku sangat berharap kalau suamiku tidak berulah seperti mantan suami mu itu, iih ... amit-amit ku gorok dia kalau sampai seperti itu." Yati memutar kedua bola matanya.
"Ya jangan seperti itu dong ... makanya banyak berdoa. Ada suami mu tidak macam-macam, tapi kebanyakan ... ya realita justru yang tampan katanya nih katanya ... banyaknya banyak yang berulah, kalau yang standar mah baik-baik. Emang sih ada juga yang baik banyak, karena kembali lagi tergantung orangnya!" ujar Renita.
"Hooh sih." Yati mengangguk pelan.
"Bunda ..." suara itu mendatangi Renita.
"Eeh ... kesayangan Bunda udah bangun! ya sudah kalau udah bangun ... kita pulang ya!" Renita langsung menyambut putranya.
"Eeh! jangan buru-buru lah ... kasihan dia baru bangun, masih ngantuk tuh doa. Mending kasih makan dulu dianya ... pasti lapar!" kata Yati sambil menatap anak itu lalu mencubit pipinya dengan gemas.
"Mau makan sayang Hem?" tanya Renita kepada putranya tersebut. Yang kini nemplok di pangkuannya tampak masih mengantuk.
"Mau!" jawabnya dengan suara para.
"Ya sudah ... tungguin duduk sini dulu ya? Bunda mau ambilkan ke dapur!" Renita mendudukkan Rendy atas sofa kemudian dia sendiri ngeloyor ke dapur.
"Sini, sama tante duduknya sini?" ajak Yati.
Namun Rendi menggeleng sembari menyandarkan punggungnya ke belakang.
"Anak siapa dia? anak Renita ya? ganteng, lucu." Tanya suaminya Yati seraya duduk di sebelahnya sang istri.
"Iya dia anak Renita. Kasihan dia Mas," gumamnya Yati.
__ADS_1
"Emang kenapa?" tanya Riko.
"Orang tuanya akan bercerai!" suara Yati sangat pelan.
Mulut Riko sudah menganga hampir bertanya sesuatu. Namun keburu datang Renita membawakan mangkok yang berisi makan buat Rendy.
Kemudian. Renita menyuapi putranya yang masih terlihat ngantuk terlihat masih menguap beberapa kali.
"Hai ganteng ... makan yang banyak ya? biar gemuk biar pipinya tambah tembem nih!" kata Riko kepada Rendi dan Rendy hanya tersenyum tipis.
"Lucu ya Mas! ganteng dan menggemaskan!" tambahnya Yati.
"Sering-seringlah, bawa dia kemari. Aku suka anak ini lucu! menggemaskan juga ganteng, kali aja nanti anakku seperti dia gantengnya! jangan kayak bapaknya jelek."
"Nggak apa-apa deh, Mas jelek juga nanti anaknya ganteng kok ... lagian ngapain wajah mu tampan kalau sifat mu kayak setan he he he ..." ucap Yati sambil nyengir.
"Jangan bicara gitu kali ah, mau ganteng mau jelek! mau biasa mau luar biasa itu kan sama aja di mata Allah, kita harus tetap bersyukur!" tambahnya Renata sembari mengulas senyumnya.
Setelah selesai menyuapi Rendy. Renita berpamitan, dan alasan nya sudah mulai sore. Mereka harus segera pulang.
Yati pun menawarkan agar Rico mengantarnya pulang dengan mobil, namun Renita menolaknya. Lagian dia membawa motor sendiri, kalau naik mobil nanti motor siapa yang nganterin.
...--------------...
Hari ini Renita sedang OTW ke pengadilan agama bersama lawyernya Ibu Sarita.
Di kantor tersebut dia langsung mengajukan gugatan cerainya, yang kebetulan ternyata belum ada laporan atau pengajuan dari pihak yang bernama Azam.
Sehingga sudah pasti kalau Azam adalah pihak yang digugat, semua berkas-berkas sudah komplit dari a sampai z sudah masuk ke dalam dokumen yang diajukan oleh ibu Sarita.
Renita merasa lega setidaknya proses. "Semoga lancar ya Bu ..." ucapnya Renita kepada Sarita.
"Iya, semoga aja semua berjalan dengan lancar dan kamu pun harus bersabar ya dan ... juga berdoa terus berdoa supaya kita menang nanti." Balasnya Sarita.
"Amin ... itu yang di Harapkan saya, dan sekarang tinggal saya mencari pekerjaan yang sekiranya bisa membawa Rendy, agar saya tidak merepotkan orang untuk menitipkan Rendy."
"Kamu butuh pekerjaan!" tanya Sarita.
__ADS_1
"Tentu saya butuh pekerjaan untuk menyambung hidup, kalau nggak ... saya dari mana? kalau makan yang ada ya habis lah!" jawabnya Renita dengan senyum tipis.
"Kalau memang membutuhkan pekerjaan ... saya bisa merekomendasikan kamu--"
"Mau-mau-mau, yang penting bisa mengerti dengan waktu saya yang harus menjaga anak!" sambutnya Renita dengan sangat antusias.
"Aku ada kawan. Dia sedang buka lowongan kerja di bidang apa ya lupa, tapi kalau soal bisa bawa anak atau enggak saya enggak tahu, tapi kan mengharuskan dari pagi masuknya. Sementara anak kamu harus sekolah juga gimana dong?"
"Oh iya, ya! berarti aku harus mencari pekerjaan yang sekiranya bisa masuk siang, biar aku bisa mengantar dulu Rendy ke sekolah," tiba-tiba wajah Renita yang mulanya ceria memudar, mengingat hampir semua pekerjaan khususnya kantoran menuntut untuk masuk pagi kecuali di rumah makan kali.
"Kenapa nggak titipkan saja sama keluarga ketika kamu bekerja dan hak akan mengganggu sekolahnya kan otomatis!" ucapnya Sarita sembari memasuki mobilnya.
"Orang tua saya jauh, tidak tinggal di sini. Sementara kan kita berdua tinggal di sini, otomatis mencari kerja pun di daerah sini percuma dong kalau mati-matian! bela-belain ingin rumah menjadi hak milik saya dan anak kalau harus saya tinggalkan gara-gara hanya ingin menitipkan anak kepada orang tua!" ujarnya Renita kembali setelah mendudukan dirinya di samping Ibu Sarita sambil memangku Rendy.
"Ya, saya paham itu. Memang masuk akal tapi kan nggak mungkin kalau secara kamu mau cari pekerjaan di kantoran, sementara anak mu dibawa. Di sisi lain dia pun sekolah gitu!" ucap Sarita kembali sembari menggerakkan tangannya.
Renita mengangguk memang paham dengan penjelasannya Ibu Sarita.
"Terkecuali ada yang menjaga anak dari pagi sampai sore atau setengahnya sampai siang lah. Kalau memang seandainya bisa membawa anak ke tempat kerjaan, jangan sampai meganggu sekolahnya."
Renita terdiam dan mendengarkan perkataan dari Sarita.
"Sementara temen saya itu membutuhkan seseorang yang akan menjabat HRD di perusahaannya, otomatis harus benar-benar serius dalam bekerja!" sambungnya Ibu Sarita.
"Untuk jabatan HRD?" tanya Renita sangat antusias.
"Iya benar, dia membutuhkan untuk jabatan itu, setidaknya asisten HRD!" jawabnya kembali ibu Sarita.
Mobil pun melaju dan kecepatan sedang yang dikemudikan oleh sang supir.
"Saya ada minat sih tapi bingung, dengan urusan anak Rasanya nggak mungkin juga kalau orang tuaku tinggal di sini." Gumamnya Renita cara menghilangkan nafas dalam-dalam.
"Ya kalau soal itu silakan dipikirkan lagi, cuman ya kalau saran saya ... ya seperti itu harus ada orang yang mau ke titipan Rendy selama Kamu bekerja dari pagi sampai sore." Ibu Sarita meyakinkan kalau pekerjaan itu akan cocok dan sayang dengan gajinya yang lumayan besar
"Iya saya akan pikirkan kan lagi," Renita mengangguk pelan. Dia akan memikirkan kembali gimana caranya dan Gimana baiknya.
Mobil terus melaju menuju ke rumahnya Renita Untuk mengantarkan lebih dulu wanita tersebut, dan barulah setelah itu Sarita akan kembali ke kantornya ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Mohon dukungannya ya dan terima kasih