
Yati dan Renita berjalan memasuki sebuah ruangan lawyer yang akan Renita dan Yati temui.
"Permisi! saya ada janji dengan Bu Sarita untuk bertemu beliau." Kata Yati pada sekertaris lawyer.
"Ooh, iya. Sebentar ... saya sampaikan terlebih dahulu." Kata sekretaris sambil.
"Iya, silakan." Yati dan Renita mengangguk pelan sambil mendudukan dirinya di kursi.
Tidak lama kemudian. Sekertaris lawyer kembali langsung menyuruh Yati dan Renita.
Keduanya berjalan memasuki ruangan Sarita yang langsung menyambut kedatangan mereka dengan ramah.
"Hi ... met siang apa kabarmu lawyer kita?" ucap Yati pada Sarita.
"Selamat siang juga, Alhamdulillah kabar baik. ya ampun ini bumil ... kayanya bentar lagi lahiran nih." Kata Sarita sambil membalas pelukan Yati sambil cium pipi kanan dan kiri.
"Oh ya, masih ingat nggak yang mau bertemu dan butuh bantuan ini ... dia ya pasti kenal, lah walaupun gak kenal-kenal banget namanya Renita!" Yati langsung perkenalkan Renita kepada Sarita.
Sarita menoleh kepada Renita yang langsung mengulurkan tangan dan menyebut namanya. "Renita!"
"Iya sih lupa-lupa ingat gitu, lagian dulu paling senyum dan jarang bertegur sapa gitu ya!" kata Sarita sambil menyambut tangan dari Renita.
"Hooh, benar memang seperti itu!" balasnya Renita sembari mengangguk, kemudian Sarita pun mempersilahkan mereka untuk duduk.
Renita yang menuntun Rendy, dia langsung duduk dan Rendy nggak mau duduk bersama sang Bunda melainkan dia duduk sendiri di sofa dengan mainan dan makanannya.
"Boleh duduk dan bermain di sana. Sampahnya jangan dibuang sembarangan ya? tuh ... ada tempatnya, oke?" kata Renita kepada Rendy.
"Baik, Bunda ..." anak itu mengangguk sambil mainin mobil.
"Putranya ya?" gumamnya Sarita yang di arahkan kepada Renita.
"Iya, Bu ..." jawabnya Renita sembari menunjukkan senyumnya.
"Lucu, deh ... ganteng! pasti pintar juga!" Sarita memandangi ke arah anak itu.
Renita mengulas senyuman yang tipis, kemudian dia mengarahkan pandangannya kepada Sarita. "Boleh saya ... to the point? karena mengingat untuk mempersingkat waktu dan mungkin ... ibu sendiri padat jadwal atau sibuk lah!"
__ADS_1
"Oke, silakan. Emang apa yang bisa saya bantu?" Sarita menyilakan Renita untuk mengutarakan maksud dan tujuannya.
"Iya, aku juga jadi penasaran deh," Yati pun menatap ke arah Renita.
"Mmmm ... Maksud dan tujuan saya ke sini ... mau meminta bantuan untuk mengurus proses perceraian." Jelas Renita dengan pelan namun jelas.
"Dengan alasan apa anda ingin bercerai? karena pasti ada alasan yang membuat anda ingin bercerai, terus apa membawa data-data?" Balasnya Sarita.
"Secara agama saya sudah ditalak 3 oleh mantan suami saya, dan ... alasannya ia lebih memilih janda lain dan menjanda kan istrinya--"
"Apa, serius?" Yati tampak kaget, di buat menohok dengan penjelasan Renita.
Renita menoleh ke arah Yati, kemudian dia bercerita dari awal pernikahan, sampai pada akhirnya mantan suami berselingkuh dengan seorang janda ber'anak dua! tak ada yang Renita tutupi termasuk dengan bukti-bukti yang sudah dia dapat.
Dan juga bukti yang masih hangat-hangatnya ketika kemarin di kamar, mereka memergoki mantan suaminya! rekamannya pun sudah Renita pegang dan bisa jadikan bukti nantinya.
"Oh my God ... segitunya! suamimu ... walah-walah-walah ... aku pikir suami mu alim, nggak akan macam-macam! ternyata oh ternyata ..." Yati terus menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Karena beda dengan apa yang dia lihat.
Renita maupun Sarita menoleh ke arah Yati, kemudian ibu Sarita mengarahkan pandangannya kepada Renita supaya melanjutkan berceritanya tentang keluarga nya. "Lanjutkan ceritanya."
"Mungkin ... sebelum mengenali perempuan itu, memang mantan suamiku baik-baik saja. Nggak ada yang aneh! cuma berapa bulan terakhir sikapnya mendadak berubah, sehingga pada akhirnya aku menemukan bukti-bukti yang mungkin akan dibutuhkan suatu saat nanti." Ujar Renita dengan lirih, dia merasa mencelos menceritakan ini, Namun dia harus tegar dan tetap kuat.
"Iya ... begitulah kira-kira! dia lebih memilih janda dan membuat saya menjadi janda." Renita mengangguk pelan.
Kepala ibu Sarita mengangguk-angguk sembari menatap ke arah Renita, lantas membaca data-data sebagai perlengkapan dokumen.
"Rumah katanya memang sudah atas nama anak saya Rendy, tapi Saya khawatir kalau suatu saat nanti rumah itu akan diambilnya dan saya ingin rumah itu mutlak jatuh ke tangan kita saya bersama tanahnya." Sambungnya Renita.
Bu Sarita mengangguk pelan pada Renita dan mendengarkan dengan seksama.
"Dan motor Beat itu ... membelinya memang dengan uang tabungan saya dan atas nama saya pribadi, sementara tabungan mas Azam yang saya tahu saldonya xx, saya ingin itupun dibagi dua. Sebab itu tabungan dari awal kami menikah."
"Dia keluar rumah, membawa apa saja?" selidik Bu Sarita yang usianya tidak jauh dari Renita dan Yati.
"Untuk sementara ini ... dia ... dia hanya membawa mobilnya saja! katanya sih memang rumah untuk anak kami, tapi entah kapan-kapan gimana? makanya saya ingin rumah itu benar-benar jatuh ke tangan putra saya dan begitupun dengan putra saya itu, jangan sampai berpindah hak asuhnya kepada mantan suami, itu lebih pentingnya!"
"Ini khusus anak ya? kalau mengingat sikap dia, terus perilaku dia dan penghianatan dia itu. Nggak mungkin banget kalau anak akan jatuh hak asuh ke bapaknya, tentu bagaimanapun akan dimenangkan sama ibundanya!" jelasnya Ibu Sarita Kemudian mereka pun melanjutkan obrolannya dengan banyak hal dan semua tak ada yang tidak ditutup-tutupi oleh Renita.
__ADS_1
Terjadi sebab kesepakatan kalau Bu Sarita memang bersedia untuk menjadi lawyer pribadinya Renita. Untuk masalah siapa cepat, kalau berkas-berkas dari Renita lebih duluan masuk ke kantor agama berarti Renita yang menggugat cerai Azam.
Tapi kalau sebaliknya, berarti kebalikannya menjadi tergugat. Jadi intinya untuk saat ini siapa yang lebih cepat dia yang menggugat atau yang tergugat. Tapi sepertinya Renita akan lebih cepat mengurus ini semua, ketimbang Azam yang dia lebih sibuk bekerja dan lebih sibuk dengan wanitanya.
"Oh ya, satu lagi! yang ingin saya tanyakan, gimana perihal uang nafkah apa ingin mengajukan sesuatu?" tanya ibu Sarita sembari menatap ke arah Renita.
"Soal itu ... saya ingin dia memberikan nafkahnya perbulan kepada Azam nggak neko-neko sih, saya inginnya sekitar 3-4 juta saja. Karena aku tidak ingin terlalu memberatkan dia." Harapnya Renita.
"Baiklah semuanya data-data nya akan saya kunci dan dijadikan berkas, yang tidak akan lama lagi akan saya kirimkan ke kantor agama." Ungkap ibu Sarita.
Setelah merasa cukup obrolan mereka akhirnya, Renita. Yati pun berpamitan! sebelumnya Renita mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Sarita yang sudah bersedia menjadi lawyer priabadi Renita.
"Terima kasih Ibu atas kesediaannya untuk mendampingi saya dan semoga semuanya lancar." Renita berjabat tangan dengan ibu Sarita.
"Iya sama-sama! nanti saya akan datang ke rumah mu, saya membutuhkan sesuatu untuk mencukupi data-data yang ada! Dan besok kita akan mendatangi kantor agama untuk pengajuan!" balasnya Ibu Sarita.
Kemudian mereka pun berpamitan. Berjalan meninggalkan ruangan lawyer tersebut dan Rendy sudah mulai merengek katanya dia ngantuk.
"Iya sayang ini kan juga mau pulang." Renita memangku putranya tersebut.
"Ngantuk, Bunda ... pengen pulang!" rengek Rendy.
"Iya sabar ya sabar! bentar!" Renita sambil berjalan bersama dengan Yati.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil Yati. "Nah sekarang sudah berada di mobil kalau si gemoi mengantuk bisa bobo!" Yati menoleh karena Reni dan Renita sembari menyalahkan mobilnya.
"Awas ... hati-hati?" teriaknya Renita ketika mobil Yati hampir saja menabrak mobil orang.
"Astagfirullah ..." ya dibuat spot jantung dengan teriakan Renita maupun apa yang dia perbuat.
Sehingga langsung mengerem mobilnya tersebut dan sedikit mundur! banting setir ke samping dan tak ayal membanting kaca spion mobil orang lain.
"Yati!" teriaknya Renita kembali.
Tubuh Yati membatu, dia benar-benar shock hampir saja, benar-benar buat dia merasa terkesiap yang tidak terkira ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Mohon dukungannya ya? dalam bentuk apapun! agar author semakin bersemangat terima kasih.