Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Menjenguk


__ADS_3

Saat ini Renita sedang menikmati susu bumil nya di balkon sambil menikmati angin malam yang sepoi-sepoi menyapu kulit menerpa wajah. Walau belum terlihat bukan maupun bintang di atas langit sana, namun ke adaan langit terlihat cerah dan bercahaya.


Setelah seharian di rumah itu mengadakan acara 4 bulanan kehamilannya, dengan acara tasyakuran juga santunan kepada anak yatim dari setempat maupun dari yayasan.


Acara begitu penuh hikmat. Berjalan dengan sangat lancar, dua keluarga pun semua berkumpul di hari itu. Tetangga dan keluarga jauh pun ikut mendoakan acara 4 bulanan nya Renita.


Setelah salat isya, Renita mencari angin sesaat di atas! dengan niat nanti akan kembali turun. Dan berkumpul dengan keluarga nya yang khususnya ibu dan ayah masih ada di sana, kalau Sheila sudah pulang bersama suaminya.


"Alhamdulilla sayang, acara kita berjalan lancar!" ucap Malik yang baru saja datang ke balkon dimana Renita berada.


"Iya Yank, gak kerasa ya sudah 4 bulan. Rasanya baru kemarin aku di nyatakan kehamilan." Renita mengelus perutnya yang sudah nampak buncit di balik baju panjangnya.


Tangan Malik bergerak mengelus perut sang istri. Sambil mendekatkan dirinya pada tubuh sang istri.


"Aku rasanya sudah tidak sabar menunggu kamu hadir di dunia ini sayang." Ungkap Malik sambil kini merangkul bahunya sang istri.


"Yank, apa bila nanti anak kita sudah lahir. Apa kamu akan tetap menyayangi Rendy ... dan tidak akan menyisihkan dia?" Renita menatap cemas.


Malik seketika melepas rangkulannya dan menatap lekat pada sang istri. "Maksud kamu apa, bisa bicara seperti itu? Rendy maupun anak yang sedang dikandung sama kamu sekarang ini, adalah anak aku juga! sama-sama anak ku. Jadi kenapa aku harus membeda-bedakan mereka berdua?"


"Maaf aku takut saja jika kamu beda-bedakan mereka berdua!" suara lirihnya Renita, dia tidak dapat menyembunyikan perasaannya, rasa takutnya. Khawatir kau antara Rendy dan anak yang tengah dia kandung nantinya mendapat perlakuan yang beda dari sang suami.


"Kamu jangan berpikir seperti itu ataupun mengucapkan yang macam-macam! takutnya menjadi doa, insya Allah aku akan menjadi ayah yang baik. Bagi Rendy ataupun yang sekarang belum lahir, sama saka. Dukung aku dan bantu aku support, agar menjadi seorang ayah yang menjadi panutan buat anak-anak dan juga istri ku ini!"


Renita menarik kedua sudut bibirnya, setidaknya dia merasa lega mendapat jawaban dari Malik seperti itu dan dia bahagia karena memang sampai saat ini ia merasakan kasih sayang Malik kepada Rendy dan juga dirinya.


"Terima kasih ya? insya Allah aku akan selalu mengsuport agar kamu menjadi suami yang baik ayah yang baik untuk anak-anak." kedua tangan Renita merangkul pundaknya Malik.


Lalu kemudian mereka pun berpindah ke dalam kamar, namun baru saja mau mendudukan dirinya di atas sofa. Daun pintu sudah di ketuk dari luar.


Tok ....


Tok ....


Tok ....

__ADS_1


"Malik ... Reni ... kalian sedang apa sih di dalam? keluarga berkumpul di bawah kok kalian malah berduaan sih di kamar! nggak menghargai banget?" suara itu terdengar begitu nyaring dan itu suara Yusna.


Malik dan Renita saling bertukar pandangan mendengar suara itu dan kalimat-kalimatnya yang sedikit menyinggung khususnya bagi Renita.


"Aku di sini hanya untuk istirahat, untuk menghilangkan rasa penat dan panas dan ... aku juga berniat untuk turun lagi ke lantai bawah. Berkumpul dengan mereka lagi," ucapnya Ranita dengan lirih pada sang suami.


"Iya aku ngerti!" Malik mengangguk kecil.


Yang kemudian mereka pun berdiri. Malik menuntun tangan Renita berjalan mendekati pintu hendak keluar dari kamar tersebut.


"Semua orang berkumpul di bawah, kalian malah berduaan saja di kamar! tidak menghargai sekali." Ketusnya Yusna setelah melihat Malik dan Renita berdiri di depan pintu.


"Iya Mbak, aku juga berniat untuk turun lagi kok!" Renita tidak lupa membawa gelas bekas susu bumil.


"Halah ... alasan saja. Kalau nggak ku panggil juga belum tentu kalian secepatnya keluar!" ucap kembali Yusna dengan tetap nada ketus.


Malik menatap tajam ke arah sang kakak yang sikapnya kurang mengenakan. Emang iya sih dianya sendiri pun sebenarnya masih ingin mengobrol sama sang istri di kamar! namun diganggu oleh sang kakak tersebut, tapi Malik hanya menghela nafas dalam dan tidak sepatah kata pun ia ucapkan sesuatu untuk sang kakak Yusna.


Malik hanya terus memegang tangan sang istri dan ditariknya jalan, meninggalkan Yusna yang berdiri berpangku tangan melihat tajam ke arah mereka berdua.


Sampai di lantai bawah dan berkumpul dengan keluarganya yang tampak tengah asik mengobrol. Yaitu terdiri dari orang tuanya Renita, Bu Amelia dan juga Paman. Bibinya Malik yang masih buka di sana.


"Sebenarnya saya itu suka bertanam tapi karena tidak ada lahan, ya ... akhirnya bertanam di lahan istri saya saja!" kata sang paman yang di tujukan pada ayah Renita.


"Alhamdulillah sih kalau saya ... ada lahan biarpun tidak luas dan lumayanlah untuk bercocok tanam sayuran, ya buat makan sehari-hari saja alhamdulillah ada!" balasnya sang ayah Renita sembari meneguk minumannya dan menyicip makanan yang ada.


"Bagus itu, ada hasilnya buat kehidupan sehari-hari. Kalau saya hasilnya cuma anak-anak ha ha ha!" tambah sang pamannya Malik diakhiri dengan tertawa lepas.


"Kalau itu sih jelas! seperti Malik menanam benihnya! tumbuh juga cucu kita," timpalnya sang ayah Renita kembali.


Malik menggeleng sambil mesem mendengar obrolan mereka. "Ehem, kalian suka menanam di kebun dan menghasilkan. Nanti aku sediakan lahan yang lebih luas agar kalian bisa tanam apa saja yang penting mengahasilkan."


"Menanam apa, kebaikan atau keburukan?" tanya Renita pada suaminya sambil mesem.


Jari Malik mencolek hidungnya Renita. "Tanaman dong sayang ... emang apa!"

__ADS_1


Karena malam sudah semakin beranjak dan mereka pun bubar dari ruang keluarga, untuk beristirahat di kamarnya masing-masing.


Saat ini Renita ke kamar Rendy sebelum ke kamarnya bersama Malik. Tampak Rendy masih bermain dengan robot-robotan nya.


"Kok, belum bobo sayang ... dah alam dan bobo lah ... jangan terlalu malam. Kurang baik." Renita mendekati dan mengusap kepala putranya tersebut.


"Iya, Bun ... aku mau membereskan terlebih dahulu mainan." Rendy langsung membereskan mainannya.


"Oke," Renita mengangguk sambil memperhatikan geraknya Rendy yang sedang merapikan mainannya tersebut.


"Bun, kata papa Azam, Papa mau nikah lagi dan minta ijin sama aku--"


"Terus, Rendy bilang apa saja sama papa?" potong Renita sambil mendudukan dirinya di tepi tempat tidur.


Jadi teringat lagi kalau waktu itu Azam bilang mau menikahi seorang janda beranak satu. "Apa jadi kali ya? sama wanita itu?" batinnya Renita.


"Rendy cuman ... bilang terserah, kan lagian ... Rendy juga tinggalnya sama papa dan bunda, tidak sama papa Azam." Jawabnya Rendy sambil menyimpan wadah kotak tempat mainan.


"Ooh, tapi jangan bicara gitu juga sayang ... biar saja, biar papa ada temannya kan ... agar papa tidak kesepian." Tambahnya Renita


Setelah memastikan putra nya tidur, Renita pun beranjak dan mematikan lampunya lalu keluar dari kamar itu. Berjalan ke arah menuju kamar pribadinya.


Dan setibanya di dalam kamar, Malik langsung meluknya dengan erat.


"He he he ... aduh ... gerah deh, aku kepanasan nih." Renita mencoba memudarkan pelukan sang suami.


"Tapi kangen deh sayang, mau menjenguk naby! hi hi hi ..." rajuk nya Malik.


"Lain kali ach, biar istirahat dulu, setiap malam kan ..." Renita menarik selimutnya menutupi tubuh.


"Ini gimana sayang, sudah hidup dan sudah untuk tidurnya. Dosa lho menolak ajakan suami." Bisiknya malik.


Renita sejenak terdiam. Mengatupkan bibirnya sambil menatap langit-langit, sementara suaminya memeluk dengan sangat erat ....


Makasih ya ... ada yang masih setia. Jangan lupa ramaikan juga Sugar Deddy&Sukma.

__ADS_1


__ADS_2