
Sekitar pukul 16.30. Renita mendatangi ruangan suaminya yang masih berada di dalam rungannya.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
“Sayang. Pulang sekarang.” Suara Renita sambil masuk dan tanpa menoleh pada ruangan yang akan dia datangi ada siapa.
Dan ternyata ada Azam di sana sedang meeting, entah berbincang biasa dengan suaminya, Malik. Keduanya melihat ke arah Renita yang main masuk saja.
Namun Malik langsung menyambut Renita dengan perkataan nan mesra. “Iya sayang, bentar lagi ya ... aku sedang meeting dengan tuan Azam.”
Renita pun mengangguk pelan dengan perasaan yang agak aneh.
Azam melihat ke arah Renita dan Malik bergantian. Dengan perasaan yang sulit di gambarkan dengan kata-kata.
Renita masih terdiam dan mematung ditempat setelah tahu ada Azam di sana, dan tidak melihat ke arah Azam lagi, lalu dia berjalan ke sofa. Duduk di sana, menunggu suaminya selesai meeting.
Dan setelah menunggu beberapa saat, akhirnya meeting pun berakhir. Azam juga berpamitan pada Malik juga Renita yang hanya mengangguk kecil.
Sesaat kemudian. Malik pun menoleh pada sang istri yang sedang memainkan ponselnya. “Sayang, kita pulang sekarang!” mengenakan jas nya yang dia gantung sandaran kursi.
Renita pun beranjak sambil memasukan ponselnya pada tas soren miliknya. “Kita ke super market dulu sebentar ya? ada yang ingin aku beli.”
“Iya sayang, siap kemana pun kau pergi pasti ku turut kan.” Malik menggandeng pinggang sang istri.
“Hem ... bila aku ingin ke neraka?”
“Aku cegah dong kalau mau ke sana, sembarangan aja.” Sambarnya Malik sambil berjalan berbarengan.
“He he he ... tadi katanya kemana saja aku turut kan?” Renita terkekeh sambil terus membawa langkahnya berjalan di koridor.
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil yang meluncur ke sebuah supermarket. Tidak lama di perjalanan, tiba lah di sebuah supermarket. Renita pun turun dan di susul oleh Malik yang memasuki supermarket tersebut.
__ADS_1
Renita membeli beberapa macam yang dia butuhkan dan tidak lupa membeli eskrim dengan rasa yang Rendy sukai. Setelah mendapatkan semuanya. Renita pun kembali ke mobil yang sebelumnya membayar dengan kartu debit.
Tatkala mau memasuki mobil yang di bukakan oleh Malik. Renita melihat anak perempuan yang berpakaian lusuh sedang menangis, membuat Renita mengurungkan niatnya untuk masuk mobil dengan segera.
Renita menghampiri anak perempuan tersebut. Malik pun yang merasa heran namun mengikuti langkahnya sang istri.
“Dek, kamu kenapa menangis di sini?” tanya Renita pada anak perempuan tersebut.
“Mamanya mana ya?” selidik nya Malik sambil celingukan ke area sekitar siapa tahu ada ibunya.
“Hngi ... hngi ... hik hik hik ... aku tidak tahu mama ku di mana dan tadi aku di suruh menunggu di sini, tapi sampai sekarang belum kembali.” Jawab anak itu sambil menangis tersedu.
“Hem ... kasihan sekali, sudah lama menunggunya di sini?” Renita menatap kasihan pada anak perempuan itu.
“Adek sudah lama menunggu mama nya di sini?” tambahnya Malik sembari berjongkok d depan anak perempuan itu.
“Sudah lama sekali dari tadi siang dan aku pun lupa jalan pulang.” Jawab nya lagi seraya mengusap wajahnya yang basah dengan air mata.
Renita pun ikut mengusap air matanya yang terus mengalir dan perutnya pun terdengar bersuara dengan teriakan lapar. Membuat Renita menoleh pada sang suami.
Malik pun dengan cepat beranjak dan bergegas ke mobil mengambil makanan yang Renita suruhkan.
“Nama mu siapa hem ... mama nya kemana sih ... kok tega membiarkan mu disini menunggu,” Renita mengusap kepalanya si anak itu dengan lembut.
Anak itu menggeleng dan hanya mengusap pipinya yang mulai kering dari air mata. Menatap ke arah Renita yang tampak tulus padanya.
“Ini sayang makanan nya.” Malik memberikan nya pada sang istri yang langsung menyambutnya.
“Ini Dek di makan ya ... kamu pasti lapar kan?” Renita memberikan roti dan minumnya. “Makan dulu dan duduk di sini.”
Anak perempuan itu pun menurut, dia duduk sebelum melahap roti pemberian dari Renita.
“Gimana Yank ... apa kita titipkan di ake polisi saja?” Renita pada sang suami yang menatap anak itu.
“Em ... apa dia tidak ingat alamat rumahnya? biar kita antar saja ke rumahnya.” Malik mengerutkan keningnya menoleh pada sang istri.
__ADS_1
“Dek ... ingat alamat rumah nya?” tanya Renita dengan lirih menatap anak itu dengan tatapan miris.
Lagi-lagi anak itu menggeleng dan kembali menikmati makannya. Tampaknya tidak ingin memikirkan apa pun selain menikmati makannya.
Lama-lama berangsur orang berdatangan dan menanyakan anak ini siapa? dan mengutuk ibunya yang tega meninggalkan anak itu di area supermarket. Renita dan Malik saling bersitatap dan seakan-akan memikirkan langkah apa yang akan mereka ambil untuk menolong anak perempuan tersebut.
“Sebaiknya kita titipkan saja ke pihak yang berwajib, mau di anatar pulang pun tidak tahu alamatnya kan ... mending kita antar ke kantor polisi terdekat saja, kasihan lho.” Malik mengambil keputusan mana waktu sudah semakin sore dan sebentar lagi akan berkumandang adzan Maghrib.
“Kasihan deh ... ya sudah kalau gitu,” Renita mengangguk dan setuju. “Dek ikut kami ya. di sin kamu takut kita ke kantor saja, biar nanti mama mu menjemput ke sana.”
Pada mulanya anak itu tidak mau ikut, apalagi ke kantor polisi, takut katanya! mending menunggu di sini saja. Tetapi setelah terus di bujuk dan pada akhirnya dia mau juga, Malik dan Renita membawa dan menitipkannya pada polisi terdekat. Biar keselamatan anak itu terjamin.
Akhirnya anak itu mengatakan kalau namanya Vera, namun lupa tempat tinggalnya dimana? Setelah yakin anak itu aman bersama polisi. Malik dan Renita pun pulang, tidak lupa menyisipkan beberapa lembar uang pada anak yang bernama Vera tersebut.
“Kasihan ya, dan tega banget ibunya meninggalkan anaknya di sembarang tempat.” Gumamnya Renita sembari melirik pada sang suami yang sedang menyetir.
“Mungkin dia lupa atau gimana ya? aku tidak habis pikir,” Malik sambil terus menyetir dengan sangat fokus.
Renita menggeleng tidak habis pikir, masa lupa sama anaknya yang menunggu di mana. “Hooh,
“Sudah sayang ... tidak usah di pikirkan, yang penting dia berada di tempat yan aman.” Malik melirik pada sang istri.
Selang beberapa waktu dan di jalan pun mampir ke masjid. Kini mereka sudah tiba di kediamannya. Yang langsung di sambut oleh Rendy sambil menggerutu, katanya kerja nya lambat amat sih? biasanya gak telat begini?”
“Iya sayang ... agak telat dan jalanan nya macet,” ucap Renita sambil memberikan kantong pada Rendy yang berisi eskrim.
“Maaf pangeran kecil Papa ... kami telat pulang dan sekalian ke masjid dulu tadi untuk salat magrib, takut terlambat bulan di rumah!" tambahnya Malik sambil menutup pintu mobil dan menguncinya.
"Ini es krim buat aku kan?" Rendy membuka kantong yang diberikan oleh sang bunda.
"Iya sayang, Bunda beli buat Rendy dimakan ya. Tapi nanti kalau sudah makan!" Renita mengusap kepala Reni lalu kemudian dia meringkas kamarnya untuk membersihkan diri begitupun dengan Malik.
Dan setelah berada di dalam kamarnya, Renita pun bergegas berjalan ke kamar mandi. Di susul oleh Malik sambil membuka semua pakaiannya sambil berjalan, membuat Renita bergidik geli melihatnya ....
.
__ADS_1
Terus beri aku dukungan ya, makasih banyak