Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Terpaksa


__ADS_3

"Kalau memang kamu tidak pernah menawarkan diri sama laki-laki lain, Saya minta kamu jangan pernah tidur dengan laki-laki lain, selain sama saya!" ucap nya Joni setelah menyelesaikan permainannya yang lalu memberikan sejumlah uang pada Sharon.


"Iya, Mas. Saya melakukan ini terpaksa demi kehidupan bersama anak-anak. Kalau saja saya punya pekerjaan yang layak, nggak bakalan saya kaya gini Mas!" kata Sharon dengan menunjukkan ekspresi wajah yang sedih. "Sekarang saja saya harus membayar uang sewa rumah dan saya belum pegang uang sedikit pun."


Jono duduk di tepi tempat tidur seraya mengerutkan keningnya. "Emang berapa bayaran rumah nya sebulan?"


"Satu juta Mas, kata yang punya rumah ... kalau sampai tiga hari ini uang itu tidak ada. Katanya saya akan diusir dari rumah," jawabnya Sharon dengan nada sedih.


"Baiklah saya tambahin lagi nih 500.000 cukup nggak," Jono mengeluarkan kembali uang rp500.000 yang diberikan kepada Sharon.


Namun Sharon bengong, dia tetap merasa bingung, biarpun uangnya menjadi genap satu juta, itu tetap saja tidak akan cukup! karena seandainya bisa membayar rumah, bagaimana dengan makan besok? bahkan sekarang pun perutnya sudah mulai keroncongan.


"Kenapa bengong, masih kurang?" Jono menatap tajam ke arah Sharon yang malah bengong.


"Saya bingung, Mas. Kalau ini dikasih buat bayar rumah, saya nggak punya uang buat makan besok sama anak-anak, mana listrik pun sudah ngak-ngik-ngok Pengen diisi. Sementara di rumah gak ada beras dan yang lainnya." Lirih nya Sharon sambil mengenakan pakaiannya.


"Oh gitu ya sudah saya tambahin lagi ini rp500.000, saya rasa cukuplah untuk berapa hari ke depan, dan ingat ya Rp500 bonus, dan 1 juta itu sebuah pinjaman! jadi kamu mempunyai hutang sama saya dua malam." Jelasnya Jono sambil berjalan mendekati pintu kamar setelah memberikan kembali uang Rp 500.000.


Jadilah uang yang dipegang sama Sharon saat ini genap rp1.500.000 cukuplah untuk membayar rumah, membeli beras serta lauk-pauknya. Membeli token dan sisanya untuk jajan, lagian besok juga dia akan berdagang kembali yang setidaknya dapat uang.


Kemudian mereka keluar kamar hotel lalu tukeran nomor ponsel. Agar bila butuh, gampang.


...----------------...


Saat ini keluarga Renita sedang diselimuti rasa bahagia, sebab bayi yang selama ini mereka tunggu-tunggu akan hadir juga di tengah-tengah keluarga tersebut.


Bu Amelia lebih-lebih dia sangat berbahagia sekali karena sebentar lagi akan menimang cucu dari Malik. Yang selama ini menjadi permasalahan antara mereka.


"Selamat ya Reni, Mama sangat bahagia sekali karena sebentar lagi mama lagi punya cucu yang selama ini Mama merindukan dari kalian berdua," ucapnya Bu Amelia sembari memeluk Renita.


"Huh ... dari kalian berdua, bukannya kemarin ingin pisahkan ya!" Renita bergumam dalam hati namun tetap saja bibirnya mengulas senyuman bahagia yang dia tunjukkan kepada Mama mertua.

__ADS_1


"Hore ... Rendy mau mempunyai adik ... Cewek apa cowok Pah?" Reni sangat bahagia mendengar kabar kalau mamanya sedang mengandung.


"Belum tahu lah sayang ... kan belum ketahuan apa gendernya. Nanti kalau sudah waktunya bisa di cek, baru akan ketahuan! jadi sekarang sabar aja dulu ya!" Malik mengusap sambutnya Rendy.


Hari-hari mereka tampak sangat bahagia, namun dengan begitu tidak membuat Renita berdiam diri di rumah, biarpun sang mama mertua melarang keras untuk Renita bekerja.


Renita tetap bekerja dengan alasan dia membawa anak, dan dia nggak mau terlalu tergantung sama suami dan keluarga, Renita berasumsi. Lagi baik mungkin mereka akan menerima! tapi kalau tidak baik, siapa tahu mereka mungkin permasalahkan keberadaan Rendy dan biayanya.


"Saya mau berkas ini diperbarui secepatnya dan setelah itu langsung bawa ke hadapan saya kembali," pintanya Renita pada salah satu stafnya.


"Baik Bu. Akan saya usahakan untuk diselesaikan secepatnya," jawabnya sang staf sembari mengangguk dan mengambil berkas tersebut.


Lalu kemudian Renita kembali membawa langkahnya menuju ruangan tempat di mana dia bekerja.


"Selamat siang, Bu ... di ruangan ada tamu yang sedang menunggu ibu!" kata asisten nya yang berpapasan di sebuah koridor.


"Oh ya. Makasih ya! tapi siapa ya?" Renita mengerutkan keningnya sembari terus melangkahkan kedua kakinya dengan teratur menuju ruangan kerjanya.


Seorang pria yang rasanya agak asing bagi Renita. "Selamat siang ... ada yang bisa saya bantu?" ucapnya wanita cantik berkerudung itu sembari duduk di kursi kebesarannya.


'Selamat siang juga ... Anak yang bernama, Bu Renita?" balas pria tersebut yang ujung-ujungnya bertanya.


"Iya benar saya! ada apa ya?" Renita mengangguk seraya sedikit menarik kursinya untuk lebih maju ke badan nya meja.


"Oh senang dapat ketemu Anda! kenalkan nama saya Ferdi!" Pria muda itu langsung mengulurkan tangannya pada Renita.


"Oh sama Pak Ferdi ya! maksud dan tujuannya apa ya? kan saya belum dapat informasi sebelumnya nih, jadi maaf kalau saya banyak bertanya!" Selidiknya Renita.


"Saya adalah rekan bisnisnya tuan Malik dan ada sesuatu yang ingin dibicarakan dan kata tuan Malik saya harus mengobrol kan nya dengan anda! karena saat ini dia sedang meeting!" sambungnya Pak Ferdi kembali.


"Karena belum dapat info dari tuan Malik. Dan rasanya saya belum pernah melihat anda sebelumnya, juga saya belum ... apa! belum dikasih tahu gitu sama yang bersangkutan jadinya saya em ... kaget juga heran dan bertanya-tanya siapa dan ada apa gitu!" ucap Renita yang memang sebelumnya tampak kebingungan.

__ADS_1


"Oh saya kira sudah diobrolin gitu sama tuan Malik, pantas ibu sendiri sedikit tampak kebingungan," ucapnya Ferdi dengan sikap yang sangat ramah.


"Ya ... mungkin dia lagi sibuk jadinya belum sempat beritahu saya," sejenak Renita membuka pesan singkat dari suaminya yang mengatakan kalau memang akan ada tamu yang bernama Ferdi, rekan bisnis dari luar kota dan ingin mengobrolkan sesuatu tentang bisnis dan karena Malik sendiri sedang sibuk jadi di wakili oleh Renita.


Kemudian mereka pun berbincang soal bisnis, dengan sangat serius! sesekali meneguk minum yang sudah tersedia di meja.


Dan Renita pun terkadang mengalihkan pandangannya ke layar laptop, namun tidak mengurangi keseriusannya dalam berbincang dengan tamunya tersebut.


Sekitar satu jam kemudian ... Malik datang dan ikutan nimbrung berbincang dengan Renita dan Ferdi. Hingga obrolan itu pun berakhir.


"Oke! terima kasih atas kerjasamanya dan saya mohon pamit sampai jumpa di lain kesempatan!" Ferdi berdiri dan mengulurkan tangan kepada Malik dan juga Renita bergantian.


"Sama-sama! kami juga mengucapkan banyak-banyak terima kasih dan semoga kerjasama kita langgeng dan ... menghasilkan sesuatu yang lebih baik dan juga bermanfaat!" balasnya Malik sembari berjabat tangan dengan lawan bicaranya tersebut.


"Iya, itu bener banget!" timpalnya Ferdi selain mengalihkan pandangannya ke arah Renita yang mengucapkan Aamiin.


Dan setelah Ferdi pun menghilang dari ruangan dan Renita, Malik menolehkan kepala pada sang istri. "Sayang pasti belum makan ya?"


"He he he ... tahu aja gimana aku mau makan siang? orang tamu datang sebelum jam makan siang kok," Renita sembari mengusap-ngusap perutnya yang memang terasa lapar.


"Ya sudah, kalau gitu kita makan dulu kasihan. Sekarang kan kamu berbadan dua. Lain kali di ruangan ini sediakan makanan buat ngemil, bila di mana-mana telat makan ... pun perut sudah terisi!" Malik memberikan tangannya kepada Renita yang langsung disambutnya serta senyuman yang manis.


Lalu kemudian mereka berdua keluar dari kantor tersebut! mencari restoran terdekat untuk makan siang.


"Padahal aku sudah bilang ... sebaiknya kamu banyak di rumah aja jaga kesehatan, jaga kandungan tidak perlu capek-capek bekerja. Karena uang pun akan selalu kamu dapatkan dari suami." Kata Malik sembari memasuki sebuah restoran.


"Tetapi selama aku masih mampu! aku akan tetap bekerja, karena aku juga perlu tabungan pribadi untuk Rendy ke depannya, masalahnya aku tidak bisa terlalu mengandalkan dirimu yang bagaimanapun sebagai ayah sambung! bu-bukannya aku nggak percaya sama kamu, bukan ... aku percaya sama kamu. Tapi aku juga harus menjaga perasaan keluarga mu yang lain." Renita langsung meralat omongannya.


Malik menghela nafas dalam-dalam seraya mengajak duduk sang istri di meja yang tersedia ....


.

__ADS_1


Apa kabar reader ku semua, mohon maaf bila aku sering melakukan kesalahan atau pun typo yang tak beraturan, maaf dan maaf yang bisa ku ucapkan pada kalian.


__ADS_2