Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Traktir


__ADS_3

"Tidak apa-apa, kalau begitu juga. Tapi Rendy jangan terpuruk dalam kesedihan ya! mereka butuh perhatian dan kasih sayang dari Rendy juga! apalagi saat ini mama tidak ada!" Lirih Renita sembari memeluk putranya.


"Iya Bun!" Rendy mengangguk pelan.


Setengah sebentar menyuapi Poppy dan Syifa, Renita pun berpamitan karena dia mau ke kantor dan dia juga terus mengingatkan Rendy agar tidak terpuruk dalam kesedihan.


Mobil yang ditumpangi oleh Malik dan juga Renita melesat dengan sangat cepat menuju kantor tempat mereka berdua bekerja.


.


.


"Aku sudah lama tidak makan bakso, siapa yang mau ikut?" ucap Alena yang diarahkan pada kedua temannya ceweknya yang sama-sama berambut di kepang dua itu.


"Mau-mau, apalagi kalau ditraktir. Mau banget. Siapa yang nggak mau coba!" kata temannya yang langsung menyambut tawaran dari Alena.


"Oho ... siapa juga yang gak mau kalau di traktir, mau banget dong ..." Timpa yang lainnya dengan sorot mata yang berbinar dan wajah sumringah.


"Baiklah kalau gitu kita cari konter bakso!" Alena yang berjalan sembari memegangi tali tas yang tepat di depan dadanya.


Dengan tidak sengaja dia menemukan sosok cewek yang sedang asyik menikmati makan bakso ditemani dengan es buah di sampingnya. "Sebentar-sebentar. Dia kan cewek itu yang kemarin datang bawa bunga dan menemui Kak Rendy!" Alena melepas pandangan sembari mengedarkan pandangannya ke arah Priscilia yang tengah asik makan bakso bersama berapa temannya.


Kedua teman Alena menatap gadis itu yang menghentikan langkahnya dan berdiri menatap yang entah ke mana?


"Hei, bengong aja. Ayo kita cari tempat duduk dan di sini penuh. Sebelah sana yo!" tangan Alena ditarik salah satu temannya. Namun tubuh Alena tetap bertahan dengan pandangan terus setuju ke arah Pricilia.


"Guys, duluan aja lah. Kalian pesan nanti aku yang bayar kok, duluan aja sana ..." Frisca menoleh ke arah kedua temannya yang langsung dapat anggukan, biarpun merasa heran mau ke mana temannya yang ini.

__ADS_1


"Tapi kamu ... mau nyusul kan?" salah satu teman Alena, takut Alena kabur. Siapa yang akan membayar? sementara mereka hanya membawa uang pas.


"Jangan khawatir, guys, aku pasti menyusul kalian kok. Aku mau ke sana sebentar!" Alena menuding ke salah satu tempat, kedua temannya pun mengikuti arah yang Alena tunjukan.


Keduanya mengangkat kedua bahu sembari menjauhi Alena untuk memilih meja buat mereka duduk dan makan bakso, sementara Alena berjalan menghampiri Pricilia.


"Halo, Kak ... masih ingat aku nggak!" Alena dengan ramahnya mengulurkan tangan pada Pricilia yang tampak kaget dan terheran-heran namun tak ayal dia berdiri dan menerima uluran tangan dari Alena.


"Siapa ya? Aku lupa-lupa ingat gitu! emangnya adek siapa, dan tahu dari mana aku?" Pricilia menatap heran pada alena yang mengenakan seragam putih biru.


"Oh kenalkan aku si gadis cantik yang bernama Alena, dan aku adiknya Kakak tampanku yang bernama Rendy.m si calon pilot." Ucap Alena sembari menggerak-gerakan kedua kakinya dan juga tubuhnya yang sengaja sedikit mileok-leok.


"Kamu adiknya Rendy! Rendy si calon pilot itu!" Tatap Pricilia dengan meneliti lalu kemudian menyuruh Alena untuk duduk di samping dia.


"Terima kasih, Kakak ... yang cantik!" Alena pun duduk di tempat yang ditunjuk oleh Pricilia. Alena pun mengangguk ke arah teman-temannya Pricilia. Mereka tersenyum dan balas dengan anggukan.


"Oh terima kasih Kakak cantik, Kakak sangat cantik deh, baik ... pula dan ramah." Puji Alena yang terus-terusan menatap ke arah wajah Pricilia yang memang cantik, rambutnya pun pirang keemasan. Sangat cocok dengan wajahnya.


"Kamu bisa aja dek! Oh ya kamu di sini sedang apa dan sama siapa ke sini nya?" tanya Pricilia sembari celingukan. Alena hanya tersenyum rasanya dia tidak bosan-bosan memandangi wajah Pricilia yang bening nya, amboy ....


"Aduh, aku aja cewek nggak ada bosan-bosan memandangi wajah Kakak ini, apalagi cowok! pasti cewek ini banyak digandrungi cowok, ach. Kak Rendy payah! masa gak suka cewek seperti Kaka ini." Gumamnya dalam hati Alena sambil terus menatap wajah cantik Pricilia dengan mulut yang tidak mampu mingkem.


Pricilia menatap heran ke arah Alena, gadis yang masih ABG itu terus menatap dirinya entah apa yang sedang dia pikirkan, membuat Pricilia yang merasa aneh. Beberapa teman Pricilia pun merasa heran dan memandangi ke arah Pricilia dengan kode-kode yang seolah bertanya siapa dan mau apa anak ini.


"Oh ya Kakak cantik, aku masih ingat waktu itu kamu membawa buket bunga ke kampus! masih ingat kan? dan kamu menyapa Kak Rendy sementara kak Rendy menjadi cuek, dingin begitu saja. Kamu pasti sakit hati 'kan?" Alena mulai membuka pembicaraan.


Pricilia mengingat kejadian berapa hari lalu di saat dia datang ke kampusnya Rendy, yang justru ia mendapat kekecewaan. Sebab jangankan sapaan hangat dari Rendy, bahkan dari sikap pun sepertinya dia tidak suka dengan kehadirannya di sana.

__ADS_1


"Oh banget-banget, banget kecewa dan sampai sekarang aku nggak tahu kabarmya gimana, chat aku nggak pernah dibalas. telepon pun nggak diangkat, buket bunga dan sebagai ucapan! aku buang, jengkel aku. Ada ya cowok sedingin dia!" Katanya sambil memasukan bola baso ke dalam mulutnya seperti merasakan gemas sekali.


"What? nggak ada kabar sama sekali!" Alena tanpa kaget sampai segitunya punya kakak. Saking cuek dan dinginnya sama cewek.


Salah satu teman Pricilia mendekat dan mengusap lembut bahunya seraya berkata. "Sudahlah jangan diingat lagi, nanti kamu merasa jengkel ... laki-laki banyak kok! bahkan yang tergila-gila sama kamu, ngapain ingat-ingat ya apalagi ngejar dia. Iih ... kalau aku sih ogah!"


"Gimana nggak ingat dia! dia kan cinta sejati aku ... Biarpun hanya cinta bertepuk sebelah tangan!" Pricilia menunjukkan raut wajah yang sedih.


"Aslinya Kak, Kak Rendy nggak ada ngasih kabar gitu. Atau dia balas sama sekali chat dari kakak? tega banget tuh orang kalau kakak didapatkan cowok lain baru tahu rasa dia," Alena menuding-nudingkan jemarinya tanpa arah.


Pricilia mengangguk dan mengiyakan kalau memang seperti itu kenyataannya. Alena semakin geram tapi dia mencoba paham dengan sikap kakaknya tersebut.


"Tapi Kak ... Tapi Kakak nggak pacaran kan sama dia sedihnya lagi dan Pricilia langsung menggeleng pelan.


"Kalau mau aku kasih tahu nih, ya Kak ... dan Kakak jangan marah ya sama Kak Rendy, aku rasa sebelumnya dia kan sikapnya nggak kayak gitu, kan ... sama kakak! dia begitu sebab papanya bertepatan dengan hari wisuda nya ... kecelakaan! hingga merenggut nyawa papanya, ngerti kan ... otomatis karena itu kak Rendy sedih dan berkabung!" ungkap Alena panjang lebar.


Pricilia yang sedang menyuruput kuah bakso, langsung mendongak. "Apa Papa kalian meninggal, begitu maksudnya?"


Teman-teman Pricilia pun ikut memandangi ke arah Alena, mereka berpikir papanya meninggal, kok anak ini ceria-ceria aja. Nggak ada sedih-sedihnya. Mana berkabungnya?


"I-Iya, papanya meninggal, tapi bukan papaku. Papaku masih hidup Alhamdulillah dan kalian pasti berpikir 'kan ... kalau papaku meninggal kenapa aku bisa ceria seperti ini, kenapa aku nggak berkabung? begitu 'kan!" Alena malah nyingir.


Pricilia dan teman-temannya pun mengangguk membenarkan dugaan Alena tentang apa yang mereka pikirkan.


"Jadi maksud kamu, kamu dan Rendy itu beda papa? Kok dia nggak bilang sih sama aku? kan kalau aku tahu, aku bisa datang turut berduka cita, dia malah diam-diam bae. Ampun deh tuh anak! bikin hatiku gundah ku lana terus dari dulu sampai sekarang." Pricilia menepuk jidatnya, dia tidak habis pikir dengan sikapnya Rendy yang masih aja dingin seperti ....


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2