
"Mama, Papa ..." suara anak-anak Yusna sambil mendekat dan menatap orang tuanya bergantian.
Wajah-wajah anak itu membuat hati Yusna mencelos, tapi takkan merubah keputusannya buat bercerai. Lagian semua berkas yang di butuhkan untuk pengajuan perceraian sudah berada di tangan pengacara yang dia tunjuk untuk mengurus perceraiannya dengan Anto.
Dan Shopia dipastikan akan terseret sebagai selingkuhannya Anto. "Aku pastikan kamu tidak akan mendapatkan apapun dari buah perceraian kita."
Yusna menatap nanar pada kedua putra dan putrinya. Yang kemudian dia berlalu ke kamar tamu dan memilih tidur di sana.
Kedua anaknya menatap pada sang ayah dengan tatapan aneh. Tetapi detik kemudian keduanya menyusul mamanya.
"Mah, Mama tunggu!" Reka dan sang kaka menyusul mamanya ke kamar tamu.
"Mah, Mama kenapa! kenapa kalian bertengkar sih Mah ..." tatapan Reka berkaca-kaca, Reka sama kakaknya duduk di sebelah kanan dan kiri sang Bunda yang tampak semrawut dan kacau.
Yusna tampak frustasi yang menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menangis dan dia mengungkapkan Apa yang sebenarnya terjadi. Kedua buah hatinya dah termasuk dewasa, sehingga mereka pun mudah mengerti dengan penjelasan bundanya.
Seketika Yusna melonjak naik dan dia baru ingat untuk melakukan visum.
.
.
Hari ini Renita menjemput Rosita untuk berbelanja keperluan hantaran lamaran dan lamarannya akan dilangsungkan besok hari.
"Maaf ya, Mbak. Jadi merepotkan, Mbak." Kata Rosita kepada Renita setelah mereka duduk berdampingan di dalam mobil.
"Iya, tidak apa-apa ... aku senang kok." Balasnya Renita.
"Tapi membuat Mbak gak masuk kerja bukan, dan Alena sama siapa di rumah?" tanya Rosita mengingat Alena yang tidak diajak oleh Renita.
"Nggak apa-apa, kerja juga di kantor Abang kok. Cuma untuk mengisi waktu saja dan sekalian setidaknya dengan kerja aku punya gaji untuk keperluan Rendy! tujuannya supaya tidak terlalu mengandalkan Abang dan juga papanya." Ungkapnya Renita sembari meneguk air mineral yang sudah disediakan sebelumnya.
"Oh gitu ya? jadi Mbak kerjanya di kantor abang Malik!" Rosita menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Iya benar, dari awal memang aku bekerja! karena nggak mau terlalu mengandalkan suami dan juga papanya selama aku masih bisa bekerja. Apa salahnya bukan? dan hari ini kebetulan Alena nggak aku ajak dia bersama neneknya dan orang tua mas Azam sedang berada di rumah ku makanya Alena gak aku bawa." Tambahnya Renita.
"Jadi hubungan Mbak sama orang tuanya Mas Azam sangat baik ya?" selidiknya Rosita.
"Oh iya sangat baik, alhamdulillah. Hubungan kita sangat baik!" jawabnya Renita kembali. "Hubungan aku sangat dia dengan orang tuanya mas Azam. Biarpun waktu itu hubungan antara orang tuanya dan mas Azam sempat renggang, tapi aku dan mertua baik-baik saja."
"Oh, Oo ya Mbak, boleh aku bertanya lagi?" Rosita menatap penasaran ke arah Renita.
"Iya boleh, tanya aja! yang bisa ku jawab. Pasti aku jawab!" Renita pun menolehkan kepala pada Rosita dan menatapnya.
"Emangnya dulu Mbak sama Mas Azam kenapa berpisah? maksud aku baik-baik kah atau gimana cara perceraiannya? maaf Mbak jika aku bertanya!" kata Rosita dengan nada yang hati-hati.
Sejenak Renita terdiam mengenang kembali masa-masa itu. "Em. Emangnya mas Azam tidak cerita?"
Rosita menggeleng. "Nggak! dia hanya bilang ... dia berbuat kesalahan yang fatal sehingga dia kehilangan istri dan anaknya. Itu saja!"
"Yah, mungkin dia memang telah melakukan kesalahan yang fatal, entah dia silap atau gimana. Yang jelas kan gara-gara itulah kami terpisah bahkan Rendy pun sempat jauh dari papanya jauh dalam arti hubungannya." Jelaskan Renita.
"Iya benar, hingga sampai akhirnya mas Azam mencarikan aku. Lagian aku juga yang menggugat cerai--"
"Oh gini Mbak yang menggugat cerah dia?" selidiknya Rosita semakin penasaran.
"Iya, dan dia lebih duluan mengucapkan talak pada ku!" sahutnya Renita seraya menghela nafas dengan dalam.
Rosita menggelengkan kepalanya, helaan nafasnya terlihat berat.
"Tapi sudahlah, yang jelas mas Azam sudah mendapatkan balasannya, dia menikah lagi dan ternyata istrinya berselingkuh! hingga ketahuan sedang berdua di hotel membuat Mas Azam kalaf mungkin, akhirnya Mas Azam kena tikam! masuk rumah sakit berapa bulan. Kerjaannya pun hilang hartanya pun habis! sementara sebelumnya dia tidak pernah mengingat Renita."
Rosita menatap haru kepada Renita. Dia tidak menyangka kalau kejadiannya seperti itu. Dia bisa membaca uraian dari perkataan Renita kalau Azam pernah selingkuh dengan wanita lain.
"Sebenarnya mas Azam itu baik, perhatian! sayang sama keluarga. Cuman entah kenapa ketika mengenal wanita itu dia berubah! sehingga terjadinya kehancuran Rumah tangga ku dengannya. Namun setelah kejadian itu memang ada hikmahnya, mas Azam kembali dekat dengan Rendy, kembali bekerja setelah diterima kerja di perusahaan Abang." Jelasnya Renita yang mengenakan kerudung Bunga Roos kecil.
"Tapi Mbak sangat baik, bisa memaafkan Mas Azam. Hingga saat ini hubungan kalian begitu akrab dan aku sangat salut." Rosita memegangi tangan Renita.
__ADS_1
"Itu juga tak lepas dari peran Abang yang berusaha menyatukan Rendy dan papanya, dan sekarang mas Azam pun lebih selektif untuk memilih calon istrinya! bukan semata-mata untuk dirinya tapi juga harus sayang sama anaknya juga!" lanjutnya Renita sembari menatap ke arah Rosita dengan tatapan yang lekat dan penuh harap kalau Rosita bisa menyayangi Rendy putranya.
Tapi memang sudah terlihat ketulusan Rosita, jika dia bisa menyayangi Rendy juga! bukan sekedar ayahnya saja.
"Em, Mbak ... tolong bimbing aku ya agar menjadi istri yang baik seperti yang mas Azam inginkan dan tegur aku jika aku salah, aku kurang perhatian pada Rendy misalnya. Akan tetapi insya Allah aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk mereka!" ucap Rosita sembari memegangi kedua tangan Renita.
"Iya insya Allah, tapi aku bukan wanita yang sempurna! aku juga masih banyak kekurangan makanya mas Azam dulu mencari yang lain, sehingga terjadinya kehancuran rumah tangga kami. Yang intinya kita semua sama-sama belajar untuk lebih baik!" Balasnya Renita sambil menunjukan senyum tulus kepada Rosita.
"Iya begitu Mbak, kita sama-sama belajar untuk menjadi yang lebih baik. Apalagi Mbak sudah lebih berpengalaman dalam rumah tangga! sementara aku dulu aja cuman berapa bulan saja, setelahnya pisah karena kecelakaan!" Kenangnya Rosita.
"Alhamdulillah, sudah sampai ayo turun! sebentar aku ambilkan dulu kursinya!" Renita turun lebih dulu dan berniat mengambil kursi roda miliknya Rosita! namun sudah diambil lebih dulu oleh sopir, sehingga dia hanya membukakan pintu untuk Rosita saja.
"Makasih, Mbak!" Rosita turun dari mobil dan duduk di kursi rodanya.
"Hati-hati, tidak perlu terburu-buru," yang kemudian Renita pun mendorong kursi rodanya Rosita memasuk ke sebuah Mall.
Di sana mereka berbelanja mulai dari pakaian, alas kaki. Kerudung alat kecantikan keperluan mandi. Perlengkapan tidur.
"Mbak ini buat hantaran lamaran atau buat hantaran nikahan sih? apa nggak kebanyakan?" Rosita menatap heran ke arah Renita.
"He he he ... permintaan mas Azam seperti itu dan juga perhiasannya! kita harus membeli perhiasan dan itu entah buat mas kawin atau ... entah buat apa aku juga gak ngerti! yang jelas beli aja, ya? kita ke toko perhiasan nanti." Renita terkekeh sendiri.
"Mbak, apakah dulu sama Mbak juga begini belanja banyak?" tanya Rosita pada Renita, merasa penasaran apakah dulu juga Azam seperti ini.
"Ehem, dulu sih nggak! nggak sebanyak ini soalnya 'kan kita bersama ibaratnya dari nol jadi nggak punya rumah ... kendaraan cuman punya motor. Setelah menikah barulah kehidupan kita semakin meningkat itu pun aku ikut turun tangan untuk mencari tambahan. Sudahlah rezeki orang itu kan berbeda-beda?" Renita terus mengembangkan senyumnya sambil mendorong kursi roda Rosita menuju toko perhiasan. Dia malas untuk mengenang masa lalu pas meniti hidup bersama dari nol istilahnya.
Setelah selesai membeli perhiasan. Mereka pun keluar dan berniat untuk pulang. Sebab semua yang dibutuhkan sudah terbeli.
Di saat setengah asik berjalan tiba-tiba ....
.
Bersambung
__ADS_1