Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Jangan khawatir


__ADS_3

Setibanya di rumah, Malik dan Renita langsung bersih-bersih dan setelah nya tidur yang langsung nyenyak saking capek nya. Sebelumnya memastikan terlebih dahulu kalau Rendy tidak berada di rumah itu.


Pagi-pagi sekali Renita sudah siap dengan niat mau ke rumah nya Azam untuk menjenguk kedua anak-anak Azam yang dari Rosita, juga mau memastikan ke adaan Rendy yang sedang masa berkabung.


Renita membuatkan sarapan terlebih dahulu buat suami dan putrinya, yang tadi sudah tampak siap bersekolah menengah.


"Sarapan dulu, Yank!" saat melihat suaminya turun sambil menjinjing tas tangan. Berjalan menuruni tangga dan menghampiri meja makan di mana sang istri berdiri dan menyiapkan sarapan.


"Iya sayang, makasih. Mana ayah sama ibu belum keluar ya?" Malik menggeser kursinya untuk dia duduki dan kepala menoleh kanan dan kiri, menanyakan ibu dan ayah mertuanya.


"Belum, mungkin sebentar lagi mereka keluar." Jawab Renita sembari menuangkan air putih ke dalam berapa gelas.


"Bi, tolong ambilkan selai srikaya buat roti ya! Renita menoleh pada Bibi yang langsung menganggukan kepala dan memenuhi perintahnya.


Wanita cantik itu pun duduk di samping Malik, sembari menuangkan nasi goreng ke dalam piringnya Malik dan dia sendiri mengambil roti.


"Kita mau ke rumahnya Azam dulu?" selidiknya Malik sembari menggeser piringnya, dan mengambil sendok yang dia pakai untuk mengaduk nasi goreng yang penuh dengan bawang goreng juga di atasnya telur mata sapi kesukaannya.


"Kita ke sana dulu, sekalian lihat Rendy! aku khawatir sama putra ku itu," Renita pun mengangguk seraya memasukkan potongan roti ke dalam mulutnya.


"Pagi Bunda ... pagi Papa ..." suara Alena sembari setengah berlari menuruni anak tangga, menghampiri kedua orang tuanya. "Muach, muach!" datang-datang langsung mencium kening papa dan bundanya ini.


"Pagi juga sayang!"


"Pagi-pagi sekali kalian sudah siap. Emang mau ke mana? emangnya mau buka kantor jam segini apa?" Alena menatap kedua orang tuanya sembari mendudukkan diri berseberangan.


"Rencananya, Bunda mau ke rumahnya om Azam alm dulu. Mau melihat Popi dan Syifa sekalian, kan Kak Rendy nggak pulang jadi bunda mau melihat dia." Renita sembari menyodorkan roti yang sudah dibubuhi selai srikaya kepada Alena.

__ADS_1


"Terima kasih, Bun!" Alena langsung menyantap roti tersebut dengan nikmatnya beradu di mulut. "Bun kok aku jadi kepikiran ya! sama cewek yang kemarin itu, kasihan deh. Bun. Asli, sumpah deh aku kasihan banget! coba cewek itu adalah aku, maksudnya aku pengen bejek-bejak tuh muka si cowok nggak menghargai banget gitu. Maksudnya aku pengen ku lempar aja tuh pakai batu." Kata Alena sembari mengeluarkan ekspresi kesalnya.


Renita mengulas senyumnya sembari melirik pada sang suami. "Iya, Bunda juga pasti akan merasakan hal yang sama seperti kamu, tapi gimana lagi situasinya berbeda! karena Rendy nggak mungkin bersikap seperti itu kalau suasana hatinya baik-baik saja! Alena juga pasti ngerti gimana perasaan Kakak saat ini!"


"Iya juga sih, Bun ... yang benarnya Kakak saat ini sedang berkabung dan waktu kemarin pas ketemu dengan cewek itu hatinya sedang berantakan, tapi kan cewek itu nggak tahu keadaan Kakak yang sebenarnya--"


"Emangnya yakin, cewek itu tidak tahu kondisi Kakak sekarang? siapa tahu aja tahu!" Potong sang Bunda sambil menatap lekat pada putrinya.


"Aku yakin sih, Bun ... kalau Kak Rendi dari kemarin sampai sekarang belum tentu tuh ngasih kabar sama cewek itu! aku yakin siakin-yakinnya Bun." Imbuhnya Alena penuh keyakinan. Dia sangat yakin kalau kakaknya nggak ngasih kabar sama tuh cewek.


"Ngomong-ngomong, emang siapa cewek itu? kan kak Rendy sudah janji nggak pacaran dulu sebelum dia mampu menggapai cita-citanya," Malik mengarahkan pandangannya kepada Alena.


Alena menaikkan kedua bahunya. "Entah tapi Alena sih yakin kalau cewek itu yang sering telepon Kak Rendy, intinya dekat lah, tapi kalau soal pacaran sih ... entah! aku nggak tahu."


Karena sarapan selesai, Renita pun beranjak dari duduknya. Namun dia duduk kembali setelah melihat kedua orang tuanya menghampiri. "Ibu, Ayah sarapan dulu, aku harap kalian jangan pulang dulu. Menginap dulu beberapa hari di sini," ucapnya dengan lirih serta menatap pada kedua orang tuanya.


"Ayah dan Ibu hari ini juga mau pulang di kampung, kan lagi sibuk di kebun! kalau nggak sibuk sih ... dari berapa hari kemarin juga kami datang ke sini." Balas Ayah sembari mendudukkan dirinya berbarengan dengan sang istri.


"Di sini juga kami nggak ada kegiatan dan mendingan kita di kampung ada kegiatan berkebun, kalau kalian kangen kan kalian bisa datang ke sana! lagian kan hari ini kita ketemu," lirihnya ibu sambil menatap pada Renita.


Renita hanya bisa menghela nafas, menoleh pada sang suami yang tersenyum. Serta mengarahkan tatapan pada kedua mertuanya itu.


"Baiklah. Terserah kalian yang penting happy, sehat dan panjang umur! nanti aku suruh supir untuk mengantar kalian. Dan sayang bilang sama supir untuk belanja buat oleh buat ibu" Malik pun melirik pada sang istri.


"Iya, nanti aku suruh pak supir untuk belanja!" Renita mengangguk mengiyakan perintah suaminya.


"Sebaiknya kalian jangan repot-repot, sudah dianterin aja udah alhamdulillah nggak usah repot-repot belanja segala! orang di sana Ibu cuman hidup berdua kok." Timpal sang ibu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bu ... kami nggak repot kok. Oh ya, sekarang aku mau berangkat dulu mau melihat Popi dan Syifa, kasihan dia dan Rendy juga, ingin ketemu Rendy!" Renita berdiri dan mencium tangan ibu juga ayahnya.


"Assalamualaikum ... Ibu, Ayah ... aku pergi dulu!" ucap Renita sambil memeluk ibu dan ayahnya bergantian.


"Wa'alaikum salam ... hati-hati bawa mobilnya, Ibu jadi ngeri," ucap Ibu sembari melambaikan tangan berdiri di ambang pintu.


Mereka pun berjalan menuju pintu utama setelah mewanti-wanti kepada orang tua Renita, bahwa nanti kalau pulang akan di antarkan oleh sopir, tidak boleh pulang sendiri.


Mobil Malik melaju dengan kecepatan sedang menuju kediamannya Azam, suasana masih pagi sekali dan tampak belum begitu terang, mata hari masih malu-malu untuk bersinar, namun cukup menghangatkan tubuh yang kedinginan, daun-daun pun masih berembun dan bak permata yang berkilauan. Setibanya di kediaman Azam, Renita langsung menemui anak-anak dan kebetulan Rendy pun sedang berkumpul sama adik-adiknya menemani sarapan.


"Assalamu'alaikum ... Popi ... Syifa, apa kabar, Nak?" Renita langsung mencium pucuk kepala kedua anak itu dan memeluknya bergantian penuh haru, anak-anak yang kemarin masih komplit orang tuanya dan sekarang sudah berpindah status menjadi anak yatim. Bahkan ibunya saat ini masih berada di rumah sakit.


"Bunda, Mama kok nggak ada di rumah ya dari kemarin? katanya mau menghadiri wisuda nya Kakak, tapi kok belum pulang juga!" ucap Syifa yang baru usia 6 tahun itu. Mendongak pada Renita yang selalu dia panggil Bunda.


"Iya sayang. Mama belum pulang ... tapi nanti setelah Mama sembuh, pasti akan pulang kok! kalian baik-baik di rumah ya jangan nakal-nakal harus saling menyayangi ya! Dan berdoa semoga mama cepat sembuh," Renita mengusap kepala anak itu dengan suara yang sedikit parau. "Oya, Bunda bawa makanan buat kalian berdua. Di makan ya!"


"Bun, Papa sudah tiada! berarti kami jadi anak yatim ya, Bun?" Suara itu semakin mengiris hati Renita dan orang yang mendengarnya di sana.


Renita menoleh ke arah Popi. "Sayang ... sabar ya, dan doakan semoga Papa ditempatkan sama Allah di tempat yang indah?" kini Renita memeluk keduanya erat dan tak kuasa menjatuhkan air mata.


Kemudian Renita menoleh pada Rendy yang tampak bengong, walaupun sedang di ajak berbincang oleh papanya, Malik Renita menghampiri. "Rendy ... Bunda kangen sama kamu! Dan Bunda sangat khawatir sama kamu."


Perlahan Rendy membuyarkan lamunannya dan membalas rangkulan sang Bunda. "Aku baik-baik saja, Bun ... Bunda jangan kuatir sama aku!"


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, hari ini Rendy mau pulang nggak ke rumah? atau mau di sini aja dulu barang berapa hari? Bunda juga pasti sering-sering ke sini kok menengok Popi dan Syifa juga ke rumah sakit menengok Mama, kebetulan mama ditunggui sama Opa dan Oma di sana, tadinya Bunda yang mau menemani. Akan tetapi karena Alhamdulillah mereka bersedia menemani mama! jadi Bunda bisa ke kantor," ujar Renita sambil masih memeluk putranya.


"Iya, Bunda ... Rendy biar di sini dulu sambil menemani adek-adek!" suaranya terdengar berat dan helaan nafas pun sangat terlihat ....

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2