
Renita pulang dengan membawa hati yang sedikit berbunga-bunga. Sebab biarpun belum satu bulan dan belum mendapatkan gaji, dia sudah mendapatkan bonus! setidaknya untuk menyambung hidup bersama Rendy.
Di tengah perjalanan pulang. Renita mampir dulu di sebuah supermarket dan membeli es krim kesukaannya Rendy.
Dan ketika di sana, apa yang didapatkan oleh kedua manik matanya? yaitu melihat mantan suaminya itu sedang berbelanja yang diantaranya susu bayi pokoknya keperluan bayi.
Di belakang Azam ada istri mudanya, sedang memangku balita. Sejenak Renita terdiam mematung melihat mantan suaminya tersebut dan yang membuat hatinya mencelos sedih ... adalah? yaitu dia belanja memperhatikan keperluan anak dari istri mudanya, sementara dia lupa kalau dia punya anak dari dirinya.
"Kamu tega, Mas. Kamu rela mengeluarkan uang berapapun untuk anak wanita itu! sementara kamu lupa sama anak mu sendiri, di mana hati nurani mu Mas?" gumamnya Renita sembari menatap nanar ke arah Azam yang beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Kemudian Renita berusaha untuk tidak menangis, dia tidak boleh rapuh ataupun kalah dengan keadaan! dia harus kuat, tegar dan buat Rendy bahagia bukan berharap perhatian dari ayahnya.
"Oke, aku tidak boleh terpuruk dan aku nggak boleh berharap dikasihani!" Renita menghela nafas dalam-dalam, lalu beberapa kali ya hembuskan jangan sangat panjang lagi dan lagi.
Ketika Renita menoleh kembali ke arah Azam, pas kebetulan dia pun melirik ke arah Renita hingga pandangan mata pun bertemu sesaat. Namun tak ada sesuatu pun yang mereka lakukan yang akhirnya Renita melengos pergi, kebetulan apa yang dicari sudah dia dapatkan.
"Siapa Mas?" tanya Sharon pada Azam saat melihat Azam melepas pandangannya ke salah satu wanita yang dia lihat berjalan menjauhi dan menghilang di antara etalase barang-barang.
"Em ... itu, dia--"
"Dia mantan istri mu ya? belanja apa dia?" Sharon melihat ke arah suaminya dan juga bekas wanita tersebut.
"Entahlah aku nggak tahu! jawabnya Azam dengan nada dingin.
Sharon tersenyum licik yang disembunyikan dari Azam. "Lihatlah aku, yang menang ini dan mendapatkan semua dari Mas Azam termasuk perhatiannya." Sharon bermonolog dalam hati.
"Mas ... kapan kita akan melihat rumah baru? rasanya aku sudah tidak sabar ingin melihatnya dan pindah ke sana soalnya!" Sharon merajuk ingin segera melihat rumah barunya yang katanya Azam sudah dipersiapkan untuknya.
__ADS_1
"Iya nanti, sabar ... nanti juga kalau sudah siap. Aku bawa kamu ke sana! nanti kita langsung pindah." jawabnya Azam sembari mendorong troli belanjaan.
"Iya tapi kapan? aku sudah nggak sabar pengen melihat dan segera pindah, kan di rumah Ibu! kita nggak bisa kasih nginep asisten kita ... orang gak ada kamar." Sharon terus merajuk.
"Iya sayang sabar!" gumamnya Azam.
Sharon berjalan menyusul langkahnya Azam. "nggak mau pokoknya aku pengen hari ini juga kita ke sana."
Azam menghentikan langkahnya seraya melirik ke arah Sharon! namun ia tidak berkata-kata.
Melihat suami yang tampak dingin, membuat Sharon merasa kesal. "Awas ya ... kalau nggak ajak aku hari ini juga melihat rumah itu ... nggak akan aku kasih jatah kamu malam ini, bodo amat mau berdiri semalaman kek! mau sakit semalaman kek! aku tidak perduli."
"Ck, Iya-iya ... nanti sepulang belanja kita ke sana! jangan gitu lah ... seperti anak kecil. Senyum dong dan nanti malam aku minta beberapa ronde!"
"Nah ....gitu dong, kan aku jadi tambah cinta sama kamu. Dan kalau soal itu ... nggak usah takut! aku pasti memberinya, i love you sayang!" cuph, Sharon mencium pipi kanan dan kirinya Azam.
Membuat bibir Azam pun menyungging ke samping, membentuk sebuah senyuman yang mengembang.
Sesuai dengan yang dijanjikan oleh Azam, Azam pun langsung membawa Sharon ke sebuah perumahan. Mobil hitam mengkilat itu masuk ke dalam sebuah gang yang dijaga ketat oleh security atau pihak keamanan di sana.
"Yang mana sayang rumahnya?" Sharon celingukan melepas pandangan dan mencari-cari rumah barunya itu.
"Ini nih ... rumahnya yang cat ungu putih itu!" Azam menuju sebuah rumah minimalis lantai 2 yang dengan cat kombinasi ungu dan putih.
"Wawh ... itu, cantik sekali. Aku suka deh sayang ... aku suka banget, belum lihat dalamnya aja aku udah jatuh cinta, kamar berapa itu?" Sharon begitu sangat antusias melihat ke arah rumah yang Azam tunjukan.
Dan kini mobil Azam pun sudah berada di dalam pekarangan rumah tersebut.
__ADS_1
"Kamarnya ... ada 5 kamar, anak-anak 2, kamar utama 1. Tamu 1 dan kamar pembantu 1, dan ... aku rasa itu cukup." jawabnya Azam sembari melepas pandangannya ke rumah itu.
Sharon yang sedang menggendong Deris yang tampak tidur itu, tidak menghalangi dia untuk mencium pipi sang suami sebagai tanda terima kasih.
"Makasih banyak sayang ku ... makasih banyak ... i love you!" cuph, cuph kecupan bolak balik dia berikan pada Azam.
Dan Azam malah nyosor mengecup bibir Sharon dengan penuh nafsu, mungkin kalau tidak ada Deris di pangkuan sang istri. So pasti minta jatah di sana juga, kebetulan ada yang on. Sayang sekali, ada Deris dalam pangkuan Sharon sehingga Azam tidak bisa berbuat lebih.
Kemudian mereka pun turun dari mobilnya! memasuki rumah tersebut yang memang kuncinya sudah Azam minta dari pihak ke amanan tadi.
Rumah itu 80% sudah lengkap dengan isinya. Sehingga Sharon menidurkan putranya di tempat tidur kamar utama! sementara dia melihat-lihat ke setiap ruangan lainnya bersama sang suami sembari tangannya bergelayut mesra.
"Sayang! aku suka banget dengan rumahnya ... isinya juga, makasih cintaku ... terima kasih. Ach love you, love you! muahc-muahc." Sharon beberapa kali mencium wajah suaminya tersebut.
Membuat Azam semakin tidak tahan, sehingga ingin melepaskan hasratnya di saat itu juga. macam mana istrinya kata sopan yang ada di lantai atas, dan dia langsung mencumbu Sharon di sana.
Sharon cekikikan dengan sentuhan suami yang menggelikan. Serta membuang semua yang melekat di tubuhnya.
Pertama kali mendatangi rumah baru tersebut langsung saja mengadakan ritual enak-enak, yang lain rumah baru itu di kasih doa, sematan. Ini malah mengadakan ritual khusus.
Keduanya sangat menikmati ritual pribadinya, tidak peduli dengan tangisan sang anak yang baru saja bangun! yang suaranya terdengar dari dalam kamar utama yang kebetulan pintunya di tutup. Jadi itu anak kebingungan untuk keluar.
Namun kegiatan mereka malah semakin memanas sehingga peluh keduanya pun bercucuran seolah pertukaran bagai mandi keringat.
Mana di luar hujan rintik-rintik menambah sahdu yang sedang mengadakan ritual khusus tersebut.
Tubuh Azam jatuh di atas dada nya Sharon, merasakan lelah nya habis pergulatan yang tidak ada yang menang atau pun kalah. Sehingga napas keduanya pun ngos-ngosan dan maklum habis lari maraton ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Makasih banyak ya, pada reader ku semua yang sampai detik ini masih mengikuti semua karyaku. Makasih banyak reader ku tercinta ♥️♥️♥️