Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Menyusul


__ADS_3

Di saat mereka sedang asyik mengobrol, datanglah keluarga Renita yang tampak cemas ingin menjenguk sang cucu tentunya dengan Sheila.


"Assalamu'alaikum ... gimana keadaan Rendy, Ren ... Masya Allah cucuku kenapa?" ucap sang ibu yang langsung menghampiri sang cucunya, yang sedang tertidur dan langsung bangun mendengar keriuhan di ruang tersebut.


"Wa'alaikum salam ... Bu, Bapak. Sheila, Rendy sudah Alhamdulillah agak mendingan kok!" jawabnya Renita penuh syukur.


"Bunda ... bun?" suara seraknya Rendy memanggil sang Bunda yang langsung menghampiri.


"Iya sayang, ini Bunda lihat ... ada nenek dan kakek juga tante! mereka mau menjenguk Rendy, biar Rendy cepat sembuh." Suaranya Renita dengan lirih sembari mengangkat anak itu.


"Rendy sayang ... kenapa! sakit apa Nak? sampai-sampai harus menginap di rumah sakit segala? ih amit-amit!" tangan sang nenek membelai kepalanya Rendy penuh kasih sayang.


Rendy hanya diam saja tanpa berkata-kata, yang biasanya bawel berceloteh. Kali ini dia cuman diam dan hanya menggerak-gerakkan kedua menikmatinya saja menatap ke arah sekitar.


"Sebenarnya cuma demam kok, Bu ... tapi demamnya tinggi banget! makanya aku panik dan segera aku bawa ke rumah sakit ini," jawabnya Renita.


"Tapi sekarang demamnya sudah turun kan?" tanya sang kakek sambil mengusap kepala sang cucu.


"Iya, Pak ... Alhamdulillah sudah turun dan sebentar lagi akan diperiksa lagi oleh dokter." tambahnya lagi Renita.


"Ya syukurlah, kalau begitu!" sang kakek mencium kening dan bagian tubuh lainnya Rendy.


"Ya kalau Rendy nya sakit, gak ada yang minta es krim dong ... sama tante! padahal Tante mau borong es krim lho, soalnya Tante habis gajian nih," kata Sheila sambil mengusap kepala Rendy yang berada dalam pelukan sang Bunda.


"Nanti aja kalau Rendy sembuh, Reny akan minta es krim yang bua ... anyak ... sekali pada tante, tapi Tante harus belikan ya? kalau sekarang, Rendy tidak mau apa-apa!" anak itu seraya menggelengkan kepalanya dengan lemah.


"Oke, keponakan Tante makanya cepet sembuh ya? biar nanti Tante borongkan es krimnya rasa durian, rasa melon atau rasa stroberi?" tawarnya Sheila kembali.


"Rendy mau semuanya!" sahutnya Rendy lalu menyusupkan kepalanya ke dada sang Bunda.


"Adu-du-du-duh, duh ... kasihannya ponakan aku panas ya! Iya deh


... cepat sembuh ya? nanti kita memborong es krimnya sampai Rendy puas!" lanjut Sheila


Kemudian Jefri berpamitan, karena dia mau mendatangi rumahnya Sharon yang diyakini Azam berada di sana, karena ditunggu-tunggu chat dari Jefri tidak dibalas juga.

__ADS_1


"Mau ke mana?" tanya Sheila yang menatap penasaran kepada Jefri dan yang sang kakak.


"Nggak tahu, tanya aja sama Jefri nya tuh!" kata sang kakak sembari menunjuk ke arah Jefri yang sudah keluar dari ruangan.


Lalu Sheila menyusul Jefri keluar. "Mas Jefri tunggu? tunggu aku Mas?"


Jefri pun yang berjalan sangat cepat, berhenti karena mendengar suara Sheila. "Ada apa?"


"Mas mau ke mana?" selidiknya Sheila.


"Aku mau menyusul mas Azam ke rumahnya, karena jam segini pasti dia pasti sudah pulang dari kantor. Telepon aku nggak pernah diangkat! chat aku juga nggak dibalas, aku tunggu-tunggu dia datang ke sini langsung ... nggak ada juga, dia harus tahu kalau anaknya sakit!" ujar Jefri dengan panjang lebar sembari menggerak-gerakan tangannya.


"Oh jadi mau ke rumah Mas Azam, belum tahu kalau anaknya dirawat di rumah sakit?" tanya kembali Sheila.


"Ya mungkin sekarang dah tahu, kan aku sudah chat tapi nggak dibalesnya dan ku tunggu-tunggu dia datang, nggak ada. Bikin kesel!" sahut Jefri sembari hendak membalikan badan.


"Terus kamu menyusul ke mana? kamu tahu tempat tinggalnya sekarang?" selidik lagi Sheila yang tambah penasaran.


"Aku tahu tempatnya si wanita itu, kemungkinan sih mas Azam tinggal di sana--"


"Baiklah, kamu ikut! come on ?" Jefri semakin melebarkan langkahnya berjalan di sebuah korodor rumah sakit menuju parkiran di mana motornya disimpan.


"Jujur aku penasaran, Mas. Seperti apa sih wanitanya yang sudah merebus suami kakak aku? suara Sheila sambil berjalan yang begitu agak cepat menyusul langkahnya Jefri.


"Nanti saja kau juga akan lihat gimana orangnya ya mungkin untuk penilaian akan berbeda-berbeda, memang cantik, body aduhai. Seksi pula mungkin itu yang buat mas Azam tergoda atau mungkin ... ada yang lainnya juga! seperti servis yang lebih baik mungkin dia, sudahlah enggak usah ngomongin itu!" Jefri langsung mengenakan helmnya yang tergantung di stang motor.


"Iih ... kan aku cuman penasarannya, pengen sharing sama kamu juga Mas. Oh jadi menurut kamu wanita itu emang cantik, menarik dan seksi gitu!" hebat! tapi kurang sih ... murah kali ya ... kurang harga diri sehingga merebut suami orang." Sheila malah merutuki wanita yang sudah merebut suami kakaknya tersebut.


"Iya, biar jelas nanti saja kamu lihat sendiri! kalau omongan orang kan beda-beda persepsi." tambah kembali Jefri sembari menaiki motornya.


Motor melaju dengan cepat setelah Sheila duduk di belakang Jefri, melaju motor begitu kencang seolah-olah terbang untuk segera mencapai tujuan.


"Aduh Mas ... jangan sekencang ini juga kali ... aku jadi ketakutan! emangnya kita punya nyawa serep apa? nyawa kita cuma satu," Sheila menepuk pundaknya Jefri.


Namun Jefri malah ketawa "Ha ha ha ... Apa itu serep?"

__ADS_1


"Itu ... emangnya kamu punya nyawa cadangan apa? kalau seandainya kita ada apa-apa di jalan, bisa dengan mudahnya hidup kembali?" ulangnya Sheila.


"Oh itu ... ya berdoa saja kalau kita selamat di perjalanan. Jangan berharap yang tidak-tidak, ucapan bisa menjadi doa!" seru nya Jefri sambil terus melajukan motornya dan sangat cepat, dengan tujuan yaitu rumahnya Sharon.


Setelah selang berapa lama di perjalanan, akhirnya tiba juga di area halaman rumahnya Sharon yang tampak sepi.


Sheila pun lebih dulu turun dari motor Jefri sembari menatap ke arah rumah tersebut. "Ini ya rumahnya?"


"Bukan, ini rumah Pak RT. Ya iya lah ... siapa lagi?" Jefri menyimpan helm. Lalau berjalan yang diikuti oleh Sheila.


Jefri langsung mengetuk pintu dengan kerasnya. Namun lama sekali pintu tersebut tidak ada yang membuka nya.


"Kok nggak ada yang buka? apa nggak ada orangnya?" suara Sheila menatap ke arah Jefri dan pintu bergantian.


"Coba tanyakan tuh sama tetangganya, apakah orang yang punya rumah ini ada di rumah!" Jefri menyuruh Sheila agar mendatangi tetangga rumah itu, untuk menanyakan keberadaan yang punya rumah.


Sheila buru-buru meninggalkan Jefri dan mendatangi rumah yang menjadi tetangganya! namun tidak lama kemudian Sheila pun kembali.


"Katanya nggak melihat keluar! berarti berada di dalam." Kata Sheila sembari celingukan mengintip dari jendela ke arah dalam.


Sekian lama menunggu, akhirnya terdengar suara derap langkah yang mendekati daun pintu.


Jefri menatap lekat ke arah pintu yang sebentar lagi akan terbuka dan ketika terbuka, Blak ... ternyata yang membuka pintu adalah seorang ibu-ibu bukan Azam ataupun Sharon.


Sejenak Jefri terdiam dan menatap ke arah dalam rumah tersebut, lalu pada akhirnya dia berkata. "Permisi, mas Azam nya ada?"


"Kamu lagi? apa kamu mau bikin onar lagi di sini?" ucap ibu itu dengan sinis nya.


"Saya bukannya mau bikin onar Bu ... tapi saya cuman mau bertanya di mana mas Azam? saya ingin ketemu dia! dan waktu kemarin saya minta maaf, bukannya saya sengaja untuk bikin onar! tapi memang kelakuan kakak saya dan anak ibu yang tidak senonoh makanya saya bikin onar!" jelasnya Jefri dengan tatapan yang tajam.


Dengan obrolan Jefri dan ibu itu, Sheila bisa menangkap kalau ibu itu adalah ibunya wanita yang sudah merebut Azam atau selingkuhan Azam ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa like, comment dan dukungan lainnya ya. Ku ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada reader ku semuanya yang kucinta, yang sampai saat ini masih setia dengan karya ku ini 🙏

__ADS_1


__ADS_2