Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Ingin cucu


__ADS_3

Suatu hari Azam bertemu dengan mantan istri nya. Yaitu Sharon dia sedang berjalan gontai dan sepertinya sedang berjualan gorengan.


Azam yang tahu itu Sharon. Cuek bebek dan pura-pura nya gak lihat wanita itu, tapi sepertinya Sharon mengenali Azam yang kebetulan tidak memakai helm. Sehingga ketika motor Azam lewat sudah berapa meter pun dipanggilnya.


"Mas Azam? Mas Azam tunggu?" Sharon setengah melompat menyusul motornya Azam.


Terpaksa Azam pun menghentikan motornya di pinggir. Menoleh ke arah Sharon yang menjalankan menghampiri nya.


"Mas tunggu Mas aku mau bicara sama kamu!" Sharon mempercepat langkahnya.


"Ada apa?" tanya Azam dengan ada yang dingin dan tetap intens ke arah Sharon, penampilannya sih tetap seksi dan tak ada yang berubah namun yang berbeda adalah yang dia tenteng.


"Mas, aku ingin bicara sama kamu!" ulangnya Sharon sambil berdiri sesaat mengibaskan rambutnya yang terurai.


"Iya ada apa dan aku rasa kita tidak ada masalah apapun!" Azam menggeleng.


"Justru itu Mas, kita nggak ada masalah apapun tapi Mas kenapa setiap ketemu denganku selalu membuang muka! padahal yang sudah kita lewati bukan sebuah keburukan! cuman waktu itu aku minta maaf Mas!" Sharon menundukkan kepalanya ke bawah.


"Apa lu kate? nggak ada keburukan, apa yang sudah kau perbuat itu sungguh sangatlah buruk! yang harus aku alami dan harus aku hadapi." Batinnya Azam bermonolog.


"Saya rasa tidak perlu minta maaf saya sudah melupakannya dan menghapus semua memori yang pernah ada!" jawabnya Azam sembari mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Em ... Mas, gimana kalau kita ngobrolnya di situ! di sini nggak enak pinggir jalan Mas!" Sharon menunjuk ke arah kursi di dekat sebuah warung tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri.


"Sorry, saya rasa tidak ada lagi yang harus kita obrolin, semuanya sudah berakhir dan kebetulan saya ada ... em ... ada urusan yang sangat penting!" Azam kembali menaiki motornya dan bersiap menyalakannya kembali.


"Sepertinya Mas Azam sangat membenciku!" gumamnya Sharon dalam hati.


"Mobil Mas ke mana? kok sekarang pakai motor?" selidiknya Sharon sambil menatap ke arah motornya mah Azam.


"Aku jual, untuk bayar pengobatanku dan juga mencicil hutang! itu pun sampai sekarang masih menggantung." Jelasnya Azam sambil ngegas motornya. melaju sangat cepat meninggalkan di mana Sharon berdiri.


"Na-jis nggak ada ekspresi bersalah sama sekali dan tidak punya malu!" Azam menggelengkan kepalanya sambil terus melajukan motornya.

__ADS_1


...----------------...


"Kalian itu menikah sudah hampir setahun, tapi sampai saat ini Renita belum juga ada tanda-tanda mengandung!" ucap Ibu Amelia menatap pada Malik dan juga Renita, mereka bertiga sedang berkumpul di ruangan tengah tengah menonton televisi bersama.


"Mungkin belum waktunya saja Mah. Allah belum memberi kepercayaan kepada kami untuk mempunyai momongan!" tambahnya Malik.


"Tapi kan apa salahnya usaha, kamu itu sudah cukup umur untuk mempunyai anak! apalagi Mama ini sudah tua dan mungkin tinggal menunggu waktu, dan Mama ingin melihat dulu cucu Mama dari kamu Malik!" tutur sang Bunda menatap dekat putranya.


Untuk sementara waktu ... Renita hanya terdiam sembari memainkan jari-jemarinya di atas pangkuan dan menyimak obrolan dari sang ibu mertua juga suaminya.


"Usaha apa lagi Mah? periksa ke dokter sudah dan hasilnya kami sama-sama sehat dan ... nggak ada kendala apapun, dan juga usaha-usaha lainnya rajin kita lakukan! pada kenyataannya belum juga tumbuh gimana? kan kita hanya bisa berusaha Allah juga yang menentukan Mah ..." ungkapnya Malik dengan lirih.


"Kawan-kawan kamu yang lain sudah punya anak bahkan ada yang sudah besar, juga yang kemarin barengan kalian menikah. Juga sudah punya baby, sekarang istrinya baru melahirkan tapi kalian masih juga belum, "Ibu Amelia tetap saja mengeluh tentang perihal anak nya Malik atau cucu dari beliau.


"Terus aku harus gimana Ma? aku rasa sudah maksimal kok ... untuk berusaha dan hasilnya kita serahkan saja pada yang Maha kuasa!" Malik merasa kesal juga karena lama-kelamaan ibunda seolah memojokkan Renita dan juga dirinya karena belum ngasih cucu.


Wanita cantik yang berkerudung coklat muda itu menghela nafas dalam-dalam, kemudian mengarahkan pandangannya kepada sang ibu mertua. "Kita tidak bisa menginginkan suatu seperti yang orang lain miliki Mah ... karena lain orang lain juga rezekinya! begitupun dengan anak antara kami berdua, kalau Allah belum ngasih ... kita bisa apa dan kita hanya bisa berusaha! "


"Iya sih. Mama tahu ... tapi rasanya Mama sudah tidak sabar ingin menimang cucu dari kalian berdua dari Malik, Renita kan tahu Mama ini sudah tua sementara Mama belum mendapatkan cucu dari Malik," tambahnya sang ibu mertua seraya menajamkan pandangan ke arah mantunya tersebut dengan tetapan yang sedikit kecewa.


"Apa yang dikatakan sama abang itu benar, Mah ... anak itu sebuah rezeki dan juga titipan yang berat!" Renita membenarkan perkataan dari sang suami.


"Mama sabar aja ... karena jika sudah rezeki tidak akan ke mana, tapi jika tidak ada rezeki ... kita harus ikhlas dengan apa yang Allah berikan kepada kami berdua." Tambahnya kembali Malik pada sang ibunda.


"Sebab ... sesungguhnya antara kami berdua nggak ada masalah apapun! mungkin cuma waktu saja Mah!" Renita menyentuh punggung tangan sang ibu mertua yang menunjukkan ekspresi wajah yang sedih.


"Emangnya dulu waktu sama Azam, kamu lama menunggu kehadiran nya Rendy?" selidiknya Ibu Amelia kepada Renita sang mantunya.


Dan Renita menggeleng pelan seraya berkata. "Waktu itu sekitar 3 bulan setelah menikah dan aku langsung mengandung!"


"Nah ... cuma 3 bulan kosongnya, kenapa sekarang hampir setahun belum juga ada tanda-tandanya?" sebuah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab oleh Malik maupun Renita.


Emangnya mengandung itu seperti meniup balon! pompa langsung membesar? kan tidak. Gimana kalau membesar pun tapi nggak ada benihnya? ah sungguh pertanyaan yang tidak masuk akal.

__ADS_1


Sementara Malik maupun Renita tidak memakai kontrasepsi apapun untuk menjaga kehamilan.


"Renita tidak memakai kontrasepsi kan kamu juga Malik?" Ibu Amelia menatap tajam ke arah putra juga mantunya.


Malik dan juga Renita menggelengkan kepala! sebuah jawabannya kalau mereka berdua tidak memakai kontrasepsi sama sekali.


"Cobalah kalian untuk program bayi tabung! Siapa tahu dengan cara ini kalian berhasil." Kata Bu Amelia dengan nada yang tampak serius.


Degh.


"Bayi tabung?" tidak pernah terpikirkan di benak Renita sebelumnya.


Begitupun dengan Malik, Dia sangat terkejut mendengar perkataan atau saran dari sang Bunda, sampai-sampai menyarankan untuk mencoba bayi tabung segala.


"Mah ... bayi tabung pun tidak gampang, banyak proses yang harus kita lakukan dan tidak semudah yang kita bayangkan." Ungkap Malik.


"Tapi kan apa salahnya dicoba dulu, jika bayi tabung nggak berhasil ya mungkin secara alami berhasil atau sebaliknya. Dan tidak ada salahnya bukan ... bila kalian mencobanya!" Ibu Amelia menatap keduanya bergantian.


Malik dan Renita saling bersitatap. Bertukar pandangan serta kebingungan dengan saran wanita sepuh yang berada di hadapannya tersebut. Rupanya wanita itu masih kukuh ingin segera mendapatkan cucu dari Malik.


Sementara mereka berdua begitu santai, karena bagi mereka kalau belum rezeki apa yang harus dikejar? sebab kalau bukan rezeki sejauh apapun kita mengejarnya dia akan menjauh pergi. Tetapi jika sudah rezeki? tidak diduga sekalipun dia akan mendekat dengan cepat.


Lagi pula bagi Renita, dia sudah mempunyai Rendy. Memang ada keinginan ... dia pun sangat ingin memberikan buah hati untuk Malik, tapi jika memang belum diberikan dan belum waktunya! dia hanya bisa bersabar sampai waktunya tiba dan indah pada waktunya.


"Mama-Mama, begitu kukuh ingin punya cucu dari aku!" batinnya Malik sembari meneguk minumnya di dalam gelas bermotif bunga.


"Baik Mah ... insya Allah kami akan mencobanya! jika Abang tidak sibuk kami akan konsultasi ke dokter ahli--"


"Sebaiknya jangan menunggu jika tidak sibuk! tapi harus mewajibkan diri. Menyempatkan dengan secepatnya!" potongnya sang ibu mertua yang tidak setuju dengan kata jika tidak sibuk.


Lagi-lagi Malik dan Renita saling pandang dengan lekat. Dan suasana menjadi hening, semua menyatukan bibirnya terdiam dan bermacam-macam pikiran yang berada di kepala mereka bertiga.


Di luar terdengar suara mesin mobil yang berhenti ....

__ADS_1


.


Ayo ayo ayo ... ramaikan kembali dan jangan lupa meninggalkan jejaknya ya? agar aku tetap semangat, terima kasih.


__ADS_2