Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Di depak


__ADS_3

Terlihat Shopia membawa putranya dan juga dua koper besar barang miliknya, yang dengan susah payah dia turunkan dari lantai atas ke lantai bawah.


Renita merasa heran seraya bertanya kepada Malik dan juga mama mertuanya. "Itu Shopia mau ke mana, kenapa membawa-bawa koper segala?"


Dan Malik tidak menjawab Dia asik saja menyudahi sarapannya.


Sang ibu mertua Renita beranjak serta menatap ke arah Shopia. "Emangnya kamu mau ke mana Shop ... sudah! tinggal di sini saja, kamu itu punya anak kecil dan kamu juga belum bisa bekerja! kamu juga tidak punya tempat untuk pulang."


"Buat apa saya tinggal di sini lagi Tante? Malik saja sudah tidak peduli dengan saya, dia tidak suka saya tinggal di sini. Jadi buat apa sih saya di sini!" jawabnya Shopia dengan nada angkuh.


Sang ibunda Malik melirik ke arah Malik berharap putranya itu mencegah Shopia untuk pergi, karena bagaimanapun Shopia sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain saudaranya.


Setelah dia ditinggalkan sama suaminya di saat hamil, Shopia tinggal sama Malik sampai saat ini. "Malik cegah Shopia agar dia tidak pergi! dia mau pulang ke mana? sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kita!"


"Mah ... Mamah dengarkan, dia bilang apa? kalau aku ini tidak peduli, padahal selama ini aku sangat peduli sama dia bahkan sampai detik ini aku perhatikan keperluan dia dan putranya, semuanya, Mah ..." Malik sama sekali tidak ingin mencegah kepergian Shopia dari rumahnya.


"Iya sayang, jangan biarkan dia pergi kasihan mana punya anak kecil, masih mending kalau dia masih punya tempat untuk tinggal! yaitu keluarga, orang tua! kalau tidak punya gimana?" suara Renita dengan lirih meminta Malik agar mencegah Shopia pergi.


"Sayang, Mama ... biarkan saja dia pergi, dia sudah dewasa kok dia tahu mana yang baik dan benar! dan dia juga punya tabungan yang cukup untuk tinggal dan bekal!" Ucap Malik kepada Renita juga mamanya.


"Tapi sayang ... kasihan dia mau pergi ke mana?" lagi-lagi Renita mencoba untuk membujuk Malik.


"Selama di sini setiap bulannya aku kasih dia tabungan! dan aku rasa apa sih yang dia beli? karena semua keperluan dia pun juga putranya aku siapkan semua, jadi biarkan saja dia mandiri." Rupanya Malik kekeh membiarkan Shopia agar tidak tinggal lagi di rumahnya.


Masih lekat di dalam ingatannya Malik. Pada malam itu sebelum dirinya menikah dengan Renita bahkan masih baru-baru bertemu lagi.


Waktu itu Sophia menyelinap ke dalam kamarnya dengan menggunakan pakaian tipis yang tak ayal menggoda imannya sebagai laki-laki. Malik sangat kaget! terkesiap dibuatnya! dia yang tengah tidur langsung melonjak naik. Terbangun semuanya melihat keberadaan Shopia yang sangat tidak jauh dari tempat tidur yang sedang Malik gunakan.


Dan Sophia semakin mendekati Malik yang masih setengah sadar. Juga mencoba menggodanya dengan menonton kan semua yang dia miliki, yang hanya mengenakan balutan kain tipis yang sangat menerawang.

__ADS_1


Untung saja Malik sadar kalau wanita itu sepupu dia dan bukan apa-apa untuk menjadi teman bermain di ranjangnya. Sehingga Malik segera mengusir wanita tersebut keluar dari kamarnya.


Itupun kejadiannya bukan sekali atau dua saja, ada tiga dan empatnya. Terkadang dia pura-pura numpang mandi aja di kamarnya Malik dan lantas itu menonton kan dirinya dengan balutan handuk. Apa masih wajar jika Malik harus mempertahankan sepupunya tuk tinggal di rumah itu.


Kalau jika Malik mempertahankan ... itu karena dia sepupunya dan kasihan dia mau tinggal di mana, pasti sudah Malik depak dari semula, alias dihalau. Tetapi Malik masih punya hati, rasa kasihan dan tidak tega sehingga dia masih membiarkan sepupunya itu tinggal serumah dengannya, dan kejadian itu tidak ada yang tahu dan dia pun tidak pernah cerita kepada siapapun termasuk ibunya.


Mendengar ucapan seperti itu dari Malik, Shopia semakin kesal dan dia semakin nekat untuk pergi, dua kopernya yang besar-besar dia minta tolong kepada sopir untuk membawakannya keluar.


Bu Amelia pun sudah merasa lelah untuk membujuk Shopia agar tidak pergi. Dan air matanya pun mengalir di pipi yang sudah tidak segar lagi, bagaimanapun dia merasa kasihan kepada keponakannya itu.


"Sayang, kok melamun?" gumamnya Renita tatkala melihat Malik begitu anteng melamun kan sesuatu.


Suara lembutnya Renita memecah lamunan Malik, sebentar dia menggercapkan sepasang matanya melirik ke arah sang istri. "Ha! apa?"


"Kok kamu malah melamun sih? lagian dah waktu pergi ke kantor!" Renita memegangi jasnya Malik yang tadi dia simpan di kursi yang kosong.


"Bunda, Rendy pergi sekolahnya sama siapa? sepertinya Pak sopir mau mengantar tante Shopia!" tanya Rendy kepada sang Bunda.


"Hore ... ini atas nama Papa lagi!" anak kita setengah berjingkrak merasa senang kalau Malik yang akan mengantarnya ke sekolah.


Bu Amelia yang sedang bersedih karena kepergian Shopia, pun ikut tersenyum melihat Rendy yang tampak sangat bahagia karena mau di antar sama Malik.


Renita merapikan dasinya Malik lantas memakaikan jasnya. setelah Malik rapi, Renita pun memakaikan tas punggung Rendy lantas menyiapkan makan buat bekalnya.


"Sekolahnya yang pinter ya? yang rajin. Nggak boleh nakal, harus sopan kepada guru baik kepada teman ... oke?" Renita memasukkan bekalnya Rendy ke dalam tas nya.


"Oke, Bunda ... Rendy tak nakal kok ... kecuali kalau ada yang nakal sama Rendy, Rendy akan melawan. Begitu kata Papa juga." Anak itu melirik pada Malik yang tengah tersenyum padanya.


"Oke Sayang, aku pergi dulu ya!" Malik mendaratkan ciuman di kening sang istri.

__ADS_1


Renita pun meraih tangannya Malik yang lantas ia cium dengan penuh hormat. "Hati-hati ya bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut!"


"Iya hati-hati kok, tapi kalau mata-mata boleh kan melihat--"


"Apaan sih melihat ... yang cantik yang seksi? boleh! tapi awas nanti malam tidak dapat," ucapnya Renita dengan sangat pelan agar tidak didengar oleh yang lain apalagi Rendy, putranya.


"He he he ... bercanda sayang!" Malik kembali mencium pipi Renita kanan dan kiri.


Kemudian mengucapkan salam setelah sebelumnya mencium tangan sang Bunda! begitupun dengan Rendy mencium tangan Bundanya dan juga Oma.


"Assalamu'alaikum ... sayang, Mama. Aku pergi dulu!" Malik menuntun Rendy berjalan menuju pintu utama.


"Wa'alaikumus salam ... warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati!" jawabnya Renita dan sang ibu mertua dengan serempak.


"Dah ... Bunda, dah ... oma!" ucapnya Rendy sembari melambaikan tangan kepada ibundanya dan juga Oma.


Kemudian ibu Amelia menghela nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan kasar, sungguh dia tidak habis pikir! kenapa Malik begitu marah dan membiarkan Shopia pergi dari rumah tersebut?


"Saya tidak habis pikir! kenapa malah begitu marah dan membiarkan Shopia pergi dari rumah ini. Padahal dia sudah tidak punya keluarga, tidak juga punya tempat tinggal karena rumah orang tuanya sudah dijual sama kakak-kakaknya." Gumamnya Bu Amelia.


Renita yang mendengar itu melirik pada sang ibu mertua. "Aku sudah mencoba untuk membujuk Abang, tapi ternyata Abang membiarkan dia pergi. Mungkin Abang punya alasan tersendiri, Mah ...."


"Tapi apa yang jadi alasannya? Mama penasaran dan ingin tahu apa sebabnya?" sang ibu mertua menatap lekat ke arah mantunya tersebut.


"Mana Reni tahu Mah ... Abang tidak pernah cerita tentang masalahnya apa atau gimana!" Renita menggelengkan kepalanya, karena memang ia pun merasa bingung kok sampai segitunya! Malik marah sama Shopia hanya gara-gara Shopia bersikap tidak welcome kepada dirinya dan Rendy.


"Mama jadi penasaran!" gumamnya lagi sang ibu mertua.


"Yang pasti ... Abang punya alasan yang kuat! tidak mungkin lah kalau masalahnya kecil, sampai kecewa segitunya!" kini giliran Renita yang bergumam sambil membereskan bekas makannya ....

__ADS_1


.


Jangan lupa meninggalkan jejaknya ya ... biar tambah semangat.


__ADS_2