Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Radio butut


__ADS_3

"Em ... Pak, jangan bilang sama siapa-siapa ya? kalau bapak melihat dia di supermarket tadi, apalagi bilang dengan laki-laki yang mirip mas Anto. Takutnya menjadi fitnah, saya mohon ya Pak!" pintanya Renita penuh permohonan. Agar Pak sopir tidak bercerita pada keluarganya tentang Sofia dengan suami Yusna.


"Iya sih, Bu ... saya juga nggak mungkin bilang-bilang, cuman ... beneran kan kalau itu suaminya Mbak Yusna?" Pak sopir malah bertanya penasaran.


"Sepertinya sih begitu, Pak! tapi entahlah, siapa tahu aja cuman mirip doang!" jawabnya Renita yang tidak ingin terlalu banyak membahas soal itu.


Mobil yang ditumpangi oleh Renita semakin melesat menuju kediamannya. Dan setibanya di rumah, Renita langsung turun membawa belanjaannya.


"Bi, gimana baby ku anteng?" tanya Renita kepada Bibi yang sedang berada di dapur. "Tolong beresin! saya mau langsung naik!"


"Sepertinya anteng, Neng! soalnya nggak kedengaran menangis! jawabnya Bibi sembari mengambil yang dibawa oleh Ranita.


"Ya sudah, aku naik dulu ya Bi, tolong ya?" Renita mencuci kedua tangannya dan langsung naik ke lantai atas.


Langkah Renita yang lebih dipercepat, sehingga berapa detik kemudian langkahnya sudah sampai di lantai atas dan langsung mendapati ruang tengah. Dan bayinya pun berada di sana bersama Omanya, ada Erika dan juga Yusna.


Sejenak Renita terdiam mematung di ujung tangga setelah mengucapkan salam. Dalam pikirannya begitu jelas suami Yusna tadi bersama Shopia.


Sementara Yusna dan putrinya berada di sini. "Mbak gak liburan nih?" gumamnya Renita sambil berjalan menghampiri mereka.


"Nggak, lagi malas. Lagian suami Mbak sedang ada urusan kerja!" jawabnya Yusna sambil menatap ke arah Renita dengan sangat meneliti.


"Tante, Aku gemes deh lihat baby Alena! pengen nyubit!" ucap Erika sambil melihat ke arah Renita yang hendak mengambil Alena dari pangkuan omanya.


"Gimana anteng nggak? tidak ngamuk kan?" tanya Renita sambil menggendong bayinya yang sudah berusia hampir 3 bulan.


"Anteng kok, cuman tidurnya cuma sebentar saja dan itu main terus." Kata Bu Amelia.


Dan baby yang menggemaskan itu langsung bersuara di pangkuan bundanya. "Haoooo, haek! haooo, mmmamam ...."


"Apa sayang ... main sama siapa? sama oma dan sama aunty juga ya, anteng ya. Baby bunda anteng kan!"


Lalu kemudian Reni telepon beranjak sambil membawa baby nya. "Abangnya ke mana tanya Renita sambil menoleh ke arah Bu Amelia dan Yusna.


"Entah, tadi pergi mau mencari kamu kali. Takut kamu sama laki-laki lain!" ketusnya Yusna.

__ADS_1


Renita melongok sembari menatap ke arah Yusna. "Apa Mbak? bilang apa? aku pergi untuk belanja Mbak ... dan aku pergi sama sopir, iya sama laki-laki karena sopirku bukan perempuan!"


"Sepertinya Malik ada di ruang kerja, nggak usah didengar mbak mu itu ... suka aneh-aneh." Kata Bu Amelia mencoba melarang agar mereka tidak berkepanjangan.


"Kalau abang ada di dalam, kenapa. Mbak bilang begitu? aneh kan Mah!" suara Renita sembari mengayunkan langkahnya menuju ruang kerjanya Malik dan di sana Malik memang ada tampak sibuk dengan laptopnya.


"Aneh deh, suka ngomong yang aneh-aneh!" gumamnya Renita sembari memasuki ruangan tersebut dan mendatangi suaminya.


Malik menoleh pada kedatangan wanita yang memangku bayinya. "Baru pulang sayang?"


"Ada 10 menit yang lalu." jawabnya Renita sembari yang medudukan dirinya di samping sang suami.


"Oh kenapa menggerutu, apa yang salah? baby Alena kan anteng. Lagian Abang pusing bila harus berkumpul dengan mbak Yusna merepet aja mulutnya ngomong aneh-aneh!" ucap Malik tampak jengah.


"Emang ngomong apa dia? ngomongin aku ya, ketemu laki-laki lain gitu! atau bertemu mas Azam?" suara Renita terdengar dingin.


Malik menoleh pada sang istri dan yang dikatakannya adalah benar, Yusna selalu nyerempet ke sana seolah-olah mencurigai atau tidak suka pada sang istri sehingga mencari-cari kesalahannya.


"Aku percaya bahwa itu tidak benar sayang, dan kalian kan ... memang aku yang meminta agar Azam untuk sering datang ke sini dan menemui Rendy juga silaturahmi kita pun terjaga! gitu kan!" Malik mengusap pipi Alena yang kini tengah diberi asi oleh bundanya.


Beberapa saat kemudian Renita tampak melamun sehingga Malik yang barusan sibuk dengan layar dan keyboard laptop kembali bertanya. "Kenapa melamun, apakah ada yang dipikirkan?"


Renita yang sambil memberi ASI dan melamun pun segera menoleh kepada sang suami seraya berkata. "Ah tidak, aku tak memikirkan apa-apa!"


Padahal yang sebenarnya Renita sedang memikirkan apa yang sudah dia lihat di supermarket tadi. Bahkan bukan dirinya saja yang melihat pemandangan itu tapi juga sopir.


"Kalau ada masalah ... ngomong aja jangan ada yang disembunyikan dariku, dan kalau mbak Yusna ngomongnya yang macam-macam! nggak usah didengar ya? nggak usah dianggap! anggap aja itu cuman radio butut. He he he ..." ucap Malik yang diakhiri dengan terkekeh.


Membuat Renita pun tersenyum tipis. "Apa itu radio butut?"


"Iya maksudnya ... nggak usah didengar biarpun dia merepet ngomongnya kemana-mana! anggap saja lah angin lalu." ralatnya Malik.


"Kalau soal itu sih .... aku sudah biasa bahkan lebih dari yang kamu tahu! sudahlah nggak usah bahas mbak Yusna lagi ya. sebentar lagi magrib Alena pun bobo nih." Renita langsung beranjak dan menuju kamar mereka untuk menidurkan Alena di tempatnya.


Malik pun langsung menutup laptopnya lalu beranjak dari tempatnya duduk, mendekati jendela untuk menutup semua gorden yang masih terbuka! kemudian dia pun menyusul sang istri tapi Malik ingat sama Rendy yang sedang les, apa dia sudah pulang atau belum.

__ADS_1


Baru saja Malik keluar dari ruang kerjanya, sudah tampak Rendy berjalan di tangga dan menampakkan kakinya di lantai atas dengan tas punggung yang menghiasi punggungnya.


"Oh, capek. Aku baru pulang nih!" ucapkan Rendy sambil meraih tangan Malik.


"Kenapa baru pulang jangan-jangan main dulu ya?" kata Malik pada anak itu yang mulai menurunkan tasnya.


Reni menggelengkan kepalanya sembari memeluk tas punggungnya. "Wihhh ... boro-boro main dulu Pah ... selesai langsung pulang! kan dijemput sama sopir kalau nggak percaya tanya saja Pak sopir!"


"Iya ... Papa percaya kok. Sudah masuk sana ambil air wudhu sekarang lagi magrib." sambungnya Malik sembari menuju ke arah kamar Rendy.


"Oke. Tapi Pah, nanti aku dijemput sama papa Azam boleh nggak?" anak itu yang sudah berjalan beberapa langkah kakinya balik lagi.


"Em ... emang mau ke mana? jangan sampai mencari sesuatu dan nggak dapat! nanti Rendy marah-marah seperti waktu itu! Papa nggak suka." Malik menatap lekat ke arah Putra sambungnya.


"Nggak Pah, kali ini bukan untuk mencari miniatur kok! tapi papa Azam mau ngajak aku entah jalan ke mana." Jawabnya anak itu.


"Ya nggak apa-apa! boleh saja, cuman ... kalau nggak pulang ke sini, misalnya mau nginep di apartemen Papa Azam ya! bilang ya biar bunda nggak khawatir. Oke?" Malik mengacak rambut Rendy.


"Oke, Pah. Nanti juga aku akan pamit sama bunda kok!" kemudian anak itu membawa langkahnya menuju kamar tempat dia beristirahat.


Sejenak Malik menatap punggung anak itu yang sudah semakin tinggi, tidak terasa yang pas ketemu dia masih TK dan sekarang dia sudah SD dan bentar lagi masuk SMP, tubuhnya sudah hampiri sama dengan dirinya.


Detik kemudian Malik melanjutkan langkahnya untuk menuju kamar, dia bersama Renita.


Sekitar pukul 07.00 malam Azam datang untuk menjemput Rendy dan tidak lupa dia minta izin sama Malik dan juga Renita.


"Oh ya, aku akan mengajak Rendy jalan-jalan apakah diizinkan?" ucap Azam pada Malik dan Renita.


"Iya nggak apa-apa cuman ingat besok mau sekolah, jangan sampai terlalu malam apalagi telat istirahatnya!" balasnya Malik.


Setelah mendapatkan izin, Azam pun pergi membawa Rendy ke suatu tempat yang Rendy sendiri belum tahu mau diajak ke mana ....


.


Apa kabar semuanya reader ku ... semoga kabar baik ya? dimudahkan segala hal, usia yang panjang, di sehatkan ... dimudahkan rezekinya! yang sedang mengalami kesulitan semoga diberi kelapangan. Aamiin

__ADS_1


__ADS_2