
Terdengar suara mobil Azam keluar halaman rumah disebut. Renita mengusap wajahnya dengan kasar, dia merasa ... buat apa dia menangisi perpisahan itu? bahkan justru dia harus bersyukur, karena dia terlepas dengan seorang yang bukan terbaik untuknya.
"Rendy ... Rendy kan anak laki-laki, tidak Rendy boleh menangis! tapi harus lebih kuat dan jadi anak yang hebat, Rendy harus bisa menyayangi Bunda mau kan?" kedua tangan wanita membingkai wajah Rendy.
Di tatapi dengan lekat serta perasaan yang penuh haru, anak itu akhirnya harus terpisah juga dari sang ayah.
"Aku harus ikhlas dengan semua ini, aku tidak boleh rapuh karena hidup ku masih panjang. Dan demi Rendy aku harus bisa lanjutkan hidup meski tanpa suami." Gumamnya Renita sambil memeluk Rendy yang sudah berhenti menangis.
Jefri menganggukkan kepalanya. Sambil menatap kasihan pada Renita dan Rendy. Kedua anak manusia itu akan saling menguatkan.
"Aku akan bantu urus ini semua, Mbak. Dan aku akan mencarikan pengacara untuk mengurus perceraian Mbak dan mas Azam." Kata Azam sambil memandangi keduanya.
Jefri yang adiknya Azam malah kebalikannya dan ingin mengurus kepentingan Renita yang notabene nya kakak ipar, bukan Kakaknya sendiri.
"Jefri, apa kamu gak salah? ingin membantu ku? bukan kakak mu?" ucap Renita menatap ke arah Jefri yang perduli padanya.
"Apa, aku harus membela mas Azam. Aku salah?" menggelengkan kepalanya. "Nggak ada alasan untuk membantu orang seperti itu Mbak."
"Sebelumnya Mbak ucapkan makasih! karena Jefri sudah banyak membantu Mbak, tapi untuk soal lawyer biar Mbak cari sendiri saja. Kebetulan ada kenalan kok ... insya Allah dia akan membantu Mbak!" ucapnya Renita sambil memangku Rendy yang kelihatannya ngantuk.
"Yakin Mbak bisa mengurusnya sendiri?" selidiknya Jefri
"Yakin, Mbak bisa ... bisa kok!" balesnya Renita. "Kamu nggak usah khawatir dan Mbak ikhlaskan semua ini terjadi, mbak terima kenyataan ini dengan lapang dada. Insya Allah mbak bisa." Renita meyakinkan Jefri kalau dia insya Allah mampu melewati semua itu.
"Sekali lagi atas nama keluarga ... aku minta maaf Pak atas kelakuan Azam. Aku pun tidak menyangka kalau Mas Azam melakukan seperti itu--"
"Sudah aja nggak usah dibahas lagi ya? sudah malam. Lagian kamu istirahat aja! besok pagi kamu akan pulang kan. Kasihan keluarga mu!" kata Renita seraya beranjak memangku putranya berjalan mendatangi kamar ia pribadi.
Jefri tidak lagi berkata-kata. Dia hanya menatap sendu ke arah kakak iparnya yang sedang berjalan menuju kamar.
__ADS_1
Setelah berada di dalam kamar, Renita mengedarkan pandangan ke seluruh ruang tersebut yang tampak berantakan! pintu lemari terbuka dan tempat pakaian Azam pun sudah kosong melompong, tampaknya tidak tersisa satupun. Begitupun dengan barang-barang lainnya kecuali foto pernikahan mereka berdua.
Renita menghela nafas dalam-dalam, kemudian menidurkan putranya di atas tempat tidur yang biasa dipakai bersama Azam.
"Baiklah! mulai malam ini aku akan songsong hidup ku, nikmati kesendirian tanpa sosok suami. Renita ... sekarang Azam hanya masa lalu dan masa depan hanyalah Rendy juga hidup mu sendiri!" gumamnya Renita.
Dia membawa langkahnya ke kamar mandi, untuk membasuh mukanya bekas air mata. Bagus-bagus bisa membasuh luka yang tertoreh, karena kekejaman seorang suami yang rela meninggalkan istri dan anaknya demi wanita lain.
Renita mencari es batu dari lemari pendingin untuk mengompres pipinya yang masih terasa panas, dan di ujung bibirnya pun yang sempat tadi berdarah.
Keesokan harinya, Renita sudah tampak seperti biasa seolah tidak ada yang aneh dalam rumahnya tersebut. Menyapu, mengepel membuka-buka gorden dan menyiapkan sarapan buat dirinya, Rendy dan Jefri sebelum pulang.
"Gak kenapa-napa, Mbak ... kalau aku tinggal pulang?" tanya Jefri sembari menikmati sarapannya.
"Tidak apa-apa Jefri, Mbak sudah biasa dan akan terbiasa. Lagian nggak enak sama keluarga kamu dari kemarin kamu bersama Mbak, dan tolong sampaikan sama bapak dan ibu maafkan atas kekurangan ku dan ceritakan tentang semuanya agar mereka tidak menyalahkan Mbak sebagai istri yang kurang baik untuk Mas Azam." Tutur Renita sembari menyuapkan sendok ke mulutnya.
"Mbak, justru kami yang harus minta maaf! karena keluarga kami yang telah membuat hati Mbak terluka Rendy juga!" Jefri menghembuskan nafasnya dengan kasar, di pikirannya terbayang lagi perselingkuhan sang kakak.
"Bun, hari ini Rendy sekolah kan?" tanya Rendy yang masih mengenakan baju bebas.
"Iya dong sayang, kan kemarin nggak sekolah! masa sekarang nggak sekolah lagi?" sang bunda menoleh pada sang buah hati sembari mengusap pipinya dengan lembut.
"Tapi ... Bunda nggak kenapa-napa kan?" Rendy sambil menatap ke arah wajah Bundanya yang masih terlihat kusut dan pipinya pun masih terlihat sedikit membiru.
Sejenak Renita terdiam sembari menikmati sarapannya, kemudian dia menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis pada Rendy. "Bunda nggak kenapa-napa kok! Bunda kan kuat ... bunda harus menjadi wanita hebat agar Rendy bangga punya Bunda yang kuat dan hebat seperti Bunda."
"Wow ... is amazing. Bunda hebat dan Rendy juga ingin menjadi orang yang hebat, yang kuat. Yang pintar ... yang bisa membanggakan Bunda!" anak kecil itu bertepuk tangan dia merasa bangga mempunyai Ibu seperti Renita.
Jefri tersenyum melihat keduanya yang tampak saling menyayangi dan ingin membanggakan satu sama lain.
__ADS_1
Sesudah sarapan, Jefri pun berpamitan dan dia mau bantu-bantu agar wanita tetap kuat dan sabar.
"Iya Jef, jangan kuatir ya? insya Allah mbak bisa kok ... melewatinya, bisa kuat. Sekali lagi titip salamnya buat ibu dan bapak sampaikan maaf Mbak, lain kali Mbak pasti ke sana kok! untuk mempertemukan Rendy sama mereka! atau ibu dan bapak silakan datang ke sini kapanpun mereka mau, karena pintu ini akan selalu terbuka!" ucap Renita kepada Jefri.
"Baik Mbak. Aku percaya sama Mbak. Rendy jangan nakal ya? harus sayang dan nurut sama Bunda. Jangan dipikirkan soal papa mu, biarkan saja nanti juga kalau dia ingat sama Rendy pasti akan datang ke sini--"
"Emangnya. Papa ke mana? emang Papa nggak mau pulang lagi ke sini? kan ini rumahnya papa juga!" anak itu dengan polosnya bertanya.
"Nanti juga Papa ke sini kok menemui Rendy!" timpalnya sang Bunda.
Sesaat Jefri pun memandangi ke arah Rendy. Jefri memangkunya sebentar dan menciumnya. "Ya sudah. Om mau pulang dulu ya? kapan-kapan mau makan main lagi ke sini!"
"Ya, Om dadah Om ..." Rendy melambaikan tangannya. Setelah dia diturunkan oleh Jefri.
Jefri berlalu dari tempat tersebut, yang sebelumnya mengucap salam. Dan juga melambaikan tangan ke arah Rendy.
"Rendy, sekarang kita siap-siap buat sekolah ya? ini kan belum ganti baju!" Renita menuntun tangan Rendy ke dalam rumah.
"Jeung, semalam Ada apa? kok ribut-ribut tiba-tiba!" suara itu menghentikan langkah Renita yang baru saja mau melintasi pintu.
Renita menoleh ke sebelah di mana tetangganya berdiri di dekat pagar rumahnya. "Itu tidak kok tidak ada apa-apa, mungkin salah dengar saja!" aku nya Renita.
"Masa sih salah dengar? tetangga yang lain pun mendengarnya kok, di rumah ini ada yang ribut dan ada juga yang menangis, suara itu suara mas Azam dan Jeung Renita! kalian baik-baik saja kan!" selidiknya Ibu tersebut.
Renita tersenyum seraya berkata. "Insya Allah kami baik-baik saja!"
"Pertengkaran dalam rumah tangga itu hal biasa, walaupun selama ini kalian terdengar Adem ayem ... pasti ada saatnya kalian bentrok, berbeda pikiran lah atau apalah! yang penting kalian masih bisa mengalah dan menerima satu sama lain." Tambahnya wanita tersebut dengan bijak.
Kemudian Renita mengangguk lalu dia terburu-buru, masuk karena suara Rendy sudah memekik dan minta dipakaikan pakaian sekolah ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Jangan lupa like komen dan lainnya ya makasih