Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Membisu


__ADS_3

Kini Renita dan Malik sudah berada dalam mobil menuju kantornya.


Keduanya membisu, terdiam seribu basa. Mereka memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing! apalagi sangat terngiang kata-kata bu Amelia tadi.


"Kalau program itu gagal juga, apa salahnya kalau kamu cari wanita lain. Siapa tahu akan tumbuh benih dengan cepat."


Kata-kata itu cukup terngiang-ngiang di telinga keduanya. Terutama di hati Renita membikin mood anjlok dan kurang bersemangat.


Hingga sampai di kantor pun, mereka tidak banyak bicara. Hanya sesekali aja mereka mengulas kan senyumnya kepada staf dan karyawan yang berpapasan dengan mereka berdua.


Kemudian mereka pun terpisah di koridor kantor. Menuju ruangan kerjanya masing-masing.


"Makan siang nanti aku jemput ya? jangan dulu pergi!" ucapnya Malik pada sang istri serta menyentuh pipinya dengan lembut.


Renita hanya mengangguk, tanda setuju dengan perkataan sang suami. Lalu bergegas berjalan masuk ke dalam ruangan kerjanya untuk memulai aktivitas di pagi hari ini.


"Ya Allah ... beri aku kesabaran dan berikanlah aku yang terbaik jika momongan ada ia hal yang terbaik, berikanlah secepatnya ya Allah." Kepala Renita mendong sebelum memulai aktivitasnya dan menyalakan laptop.


"Bisa-bisanya Mama berpikiran semacam itu. Aku tidak mandul dan soal belum dikasih momongan, karena mungkin itu belum waktunya saja. Karena Allah belum memberikan kepercayaannya kepada kami." gumamnya kembali Renita.


Kemudian datanglah seseorang karyawan, yang membawakan beberapa berkas yang harus Renita tangani.


"Oke makasih ya nanti aku tangani, Oh ya saya sudah siapkan meja untuk beberapa karyawan makan siang bersama!" ucapnya Renita kepada karyawan tersebut yang merupakan seorang wanita yang mungkin usianya sama dengan ia sendiri.


"Ooh, baik Bu ... Terima kasih sebelumnya!" balas wanita itu kemudian mengundur diri dan berpamitan dari hadapannya Renita.


"Permisi!" suara itu beriringan dengan suara ketukan pintu membuat wanita langsung menoleh ke arah datangnya sumber suara.


"Iya, silakan masuk!" Renita menyalakan masuk pada pria yang wajah tampan raseorangpi dan mekanisme.


Pria tersebut pun berjalan menghampiri, kemudian berdiri di depan meja kerjanya Renita yang langsung dipersilakan duduk.


"Oh ya apakah ada yang bisa saya bantu?" Renita mengarahkan pandangan kepada pria tersebut yang tidak lain adalah Azam, seorang manajer pemasaran di perusahaan tersebut.

__ADS_1


"Ini, ada sedikit masalah di pemasaran." Lalu Azam bercerita tentang yang jadi permasalahan yang sedang dia hadapi.


Setelah berapa waktu mereka berbincang dan mendapatkan solusi, pada akhirnya Azam pun berpamitan dan kembali pergi membawa semua berkas yang sudah wanita cek dan ditandatangani.


Tidak terasa sekarang sudah menunjukan jam waktunya makan siang, dan Renita masih duduk manis serta berkutat dengan kerjaannya.


Tok ....


Tok ....


"Sayang, kok belum siap?" Malik datang menghampiri sang istri yang tampak serius dengan kerjaannya.


"Hem, belum. Duluan saja," sahutnya Renita tanpa menolehkan kepalanya.


"Bareng lah, ngapain pergi sendiri?" Malik mendudukan dirinya di hadapan Renita.


"Oya, aku sudah menyiapkan meja untuk beberapa karyawan dan semuanya aku yang bayar. Seperti dulu tujuannya untuk menyatukan dan silaturahmi para karyawan." Ungkapnya Renita sembari menutup berkas yang berada di tangannya.


Renita mengalihkan tangannya pada sang suami dan berapa saat kemudian dia pun berkata. "Baiklah kalau begitu."


Tangan Malik ikut merapikan bekas yang Renita sedang bereskan.


"Yank, bagaimanapun aku jadi kepikiran omongan mama dan aku tidak menyangka, kalau mama kok punya pikiran seperti itu. Tidakkah mama berpikir gimana kalau posisi aku ini ada di Mama atau di anak perempuan nya mama!" pada akhirnya Renita mengeluarkan anek-anek dalam hati, mengungkapkan perasaannya pada sang suami.


Malik pun menatap lekat ke arah Renita, dia sudah menduga kalau perkataan ibunda akan mengganggu pikirannya sang istri.


"Jangan dengarkan Mama sayang, biarkan aja dia mau ngomong apa. Aku nggak mungkin mencari wanita lain hanya untuk mempunyai anak, bagi aku ... Rendy pun sudah cukup kok! jika memang Allah tidak memberikan dari benih ku sendiri." Ujarnya Malik sembari mengusap punggungnya Renita.


"Tapi kan yang lain, khususnya mama, pasti berpikirnya kayak gini. Kamu itu orang yang berada, berkecukupan, nanti harta mu akan kemana jatuhnya? kalau bukan untuk putramu sendiri. Sementara Rendy itu hanya anak sambung!" ungkapnya kembali Renita dengan nada sedih.


Renita pun tidak kuasa menahan air mata yang tiba-tiba lolos dari ujung matanya! rasanya teramat sakit, dada pun rasanya sesak jika membayangkan suami yang sekarang memilih wanita lain dengan alasan anak.


Cukuplah yang dulu mengkhianati karena tergoda wanita lain, jangan sampai sekarang berpaling pada wanita lain gara-gara ingin mempunyai keturunan.

__ADS_1


"Lho ... Kok sedih gitu sih? jangan nangis dong nanti cantiknya ilang make up-nya pun luntur!" bujuknya Malik sembari menghapus air mata Renita yang jatuh di pipi.


"Aku nggak bisa membayangkan saja, jika suami ku kembali melabuhkan hatinya pada wanita lain! seberapa banyak kekurangan aku ini?" hik-hik-hiks, Renita menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah.


Hati Malik mencelos. Dia berdiri dan mendekati Renita merangkul bahunya sang istri.


"Sayang-sayang ... dengarkan aku! aku tidak mungkin seperti itu apapun alasannya, kita akan terus bersama dan berdua seperti ini!"


"Rasanya sudah cukup! suami yang dulu berpaling dariku! sebab tergoda wanita lain!" suara Renita dengan terisak-isak.


"Shuttt ... sudahlah sayang, jangan sedih seperti ini dan aku janji, bumi dan langit yang menjadi saksinya! kalau aku tidak akan menduakan mu! apapun yang terjadi." Malik mengeratkan rangkulannya dan membiarkan Renita menyembunyikan wajah di perutnya.


Renita berdiri di hadapannya Malik. "Tapi ... bila memang aku nggak bisa memberikan mu buah hati. Aku pasrah jika memang harus seperti itu asal kamu bahagia!"


"Tidak sayang, tidak! aku bahagia bersama kamu! buat apa aku menunggu kamu bertahun-tahun? bahkan nggak ada harapan untuk bertemu apa lagi bersama seperti sekarang ini, kalau hanya alasan anak saja aku berpaling darimu." Malik mengusap bekas air mata yang di pipi Renita lalu kembali memeluknya.


Renita kembali terisak dalam pelukan Malik, dadanya bagai diremas-remas nyeri. Sakit jika terlintas bayangan itu.


"Sayang, aku sangat mencintaimu dari dulu sampai saat ini tidak pernah berubah. Sekalipun kamu membina rumah tangga dengan pria lain. Aku tidak ada masalah dan aku tetap teguh dengan perasaanku ini, jangan berpikir yang tidak-tidak! sebab aku takut itu akan menjadi sebuah doa!" pintanya kembali Malik, beberapa kali mendaratkan kecupan di pucuk kepala sang istri tercinta.


"Aku juga sayang sama kamu, dan aku nggak mau kehilangan kamu sosok suami dalam hidupku!" suara Renita bergetar dan mengeratkan pelukannya ke pinggang Malik.


Setelah puas sedih-sedihan! tangis-nangisan, kemudian Renita membeku membasuh wajahnya memobokan bedak dengan tipis di pipi nya. Lantas mereka berdua meninggalkan tempat tersebut menuju restoran tempatnya makan siang selalu bergabung dengan yang lain.


Suasana terasa manis kekeluargaan. Di meja ini tidak ada namanya staf dan karyawan, atasan dan bawahan semuanya sama saja.


Dibarengi Senda dan gurau juga canda-tawa, diantara mereka semua yang berada di meja panjang sembari menikmati makan siangnya.


Untuk sesaat Renita maupun Malik mampu melupakan masalah yang ada yang khususnya masalah momongan. semuanya terlupakan ketika berada di meja makan bersama staf dan karyawan ....


.


Tidak bosan-bosannya ya aku minta jangan lupa meninggalkan jejak agar aku tambah semangat. Makasih sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2