
"Sayang, kamu kenapa?" Malik terkejut mendapati sang istri di kamar mandi muntah-muntah.
Malik langsung menghampiri dan memijat pundaknya, menatap cemas pada wajah Renita yang pucat dari pantulan cermin.
"Ohek-ohek ... Ooo ... nggak. Ambilkan minyak angin! dan air hangat?" pinta Renita sambil membuang ludahnya sisa muntahan.
Malik yang tampak panik tidak konsen, bingung mau ngerjain apa saja. Mau ngambil minum malah ngambil gayung, minta minyak angin. Di bawakan parfum.
Renita yang tampak pucat menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya yang mungkin panik, gugup melihat dirinya muntah-muntah.
"Yank ... aku minta air minum hangat sama minyak angin, buat apa gayung? ini air juga ada di wastafel! parfum juga buat apa?" suara lirihnya Renita sembari menggelengkan kepalanya yang diarahkan kepada Malik yang sedang mengayunkan langkahnya memasuki kamar mandi.
"Ha, iya. Maaf sayang maaf!" Malik kembali keluar dari kamar mandi.
Dan berapa saat kemudian dia kembali dan kali ini apa yang dia bawa sesuai dengan permintaan. Minyak angin dan segelas air minum hangat.
Lalu kemudian Malik mendekatkan bibir gelas tersebut ke mulutnya Renita lantas meminumkannya.
"Hooh. Makasih Yank!" tampak keringat dingin kejujuran dari sekujur tubuhnya Renita.
Kemudian Malik pun mengaplikasikan minyak angin tersebut di pundak! di leher, pelipis juga hidung nya Renita.
"Kamu kenapa sih sayang? kita ke dokter ya? aku khawatir! coba lihat tubuh ku gemetaran kayak gini, panik. Gugup dan tak tau apa lagi namanya!" ucapnya Malik dengan nada cemas.
"Jangan dulu deh tunggu besok dulu siapa tahu besok aku sembuh." sembari menghirup udara sebanyak-banyaknya dari sekitar.
"Yakin nih ... tidak apa-apa? aku khawatir!" Malik menatap lekat pada sang istri yang sangat tampak pucat dan berkeringat dingin.
"Oo, Oo ... tidak aku yakin tidak apa-apa, kamu jangan terlalu khawatir ya!" Renita menyentuh tangan sang suami seolah memberi keyakinan kalau dia baik-baik saja.
"Baiklah, kalau begitu aku nggak akan memaksakan mu. Tapi kalau ada apa-apa segera kasih tau aku ya?" Malik Malik membelai rambut sang istri nan mesra.
"Aku yakin." Lantas Renita keluar dari kamar mandi tersebut, digandeng oleh Malik dan dibaringkan di atas tempat tidur.
"Bobo sayang." Malik memasangkan selimut tebal ke tubuhnya.
__ADS_1
"Aku kan sudah tidur, Hem ... Oo ...Oo," sesekali wanita kembali namun tidak sampai mau muntah. Dan cepat menangkap tangannya ke mulut.
"Sebentar aku akan ambilkan gayung, biar nanti kalau kamu mau muntah ke gayung aja!" Malik setengah berlari ke dalam kamar mandi untuk mengambil sebuah gayung yang akan digunakan jika nanti Renita mual dan ingin muntah kembali.
Detik kemudian Malik pun kembali dengan sebuah gayung, di simpannya di bawah tempat tidur agar Renita lebih mudah! namun detik kemudian ia pindahkan kembali ke atas nakas dan di sana diyakini lebih mudah lagi.
Mereka berdua pun bersiap untuk beristirahat. Malik memeluk sang istri dengan perasaan cemas.
Sementara Renita merasakan gak enak di badan. Kepala pening dan mual juga terus bergolak, sepanjang malam ia terjaga dan Malik sesekali terbangun sebab merasakan pergerakan Renita yang gelisah.
"Sayang, nggak bisa tidur apa?" tanya Malik dengan suara parau khas bangun tidur.
Malik terbangun dan menggantikan lampu dengan yang lebih terang. Melihat sang istri yang tampak kepanasan sehingga berkeringat dingin bercucuran.
Padahal AC menyala dengan normal tapi Renita tampak kepanasan. Sehingga Malik menaikan suhu AC yang mungkin di rasa Renita terlalu normal.
"Sayang kok, mau ku ambilkan sesuatu?" tawarnya Malik sambil menatap lekat pada sang istri yang meringsut duduk bersandar.
"Nggak, makasih dan tidurlah ... aku tidak kenapa-kenapa kok. Jangan khawatir." Renita dengan lirih sembari mengikat rambutnya.
"Sayang, sebaiknya kau istirahat saja tidak usah memaksakan diri." lirih Malik sambil menatap sang istri.
Renita yang sedang menuangkan nasi goreng dan lalu menolehkan kepalanya. "Iya, aku sudah agak baikan kok."
"Besok jangan masuk kantor dulu dan ... nanti siang aku antar ke dokter ya biar berobat." tambahnya Malik kembali.
"Jangan dulu lah. Lihat-lihat kondisi. Siapa tahu aku agak baikan." Renita menghidangkan sarapan buat suaminya tersebut.
Datang lah ibu mertuanya, dan duduk di hadapan mereka berdua.
"Mama mau sarapan apa?" tanya Renita sambil menatap ibu mertuanya tersebut.
"Em ... boleh nasi goreng." jawabnya Bu Amelia sambil memandangi wajah Renita yang tampak pucat.
"Reni ambilkan dulu," Renita berdiri dan mengambilkan piring yang dia tuangi nasi goreng.
__ADS_1
Tidak lupa Renita sisakan buat bibi yang sedang mengepal di lantai atas.
"Ini Mah nasi gorengnya." Renita kembali menempelkan bokongnya di tempat semula setelah menyodorkan sepiring nasi goreng pada ibu mertuanya.
"Kamu kenapa pucat seperti itu?" selidik sang ibu mertua yang mengamati Renita sedari tadi.
"Em, Reni lagi kurang sehat Mah ... dari semalam dia muntah dan pusing." Jawabnya Malik sambil melirik pada istrinya juga.
"Sakit ... ke dokter dong, kamu pasti masuk angin." Kata Bu Amelia sambil memasukan sendok ke mulutnya.
"Iya, Mah ... nanti sore, paling aku mau periksa itupun kalau masih terasa," balasnya Renita sambil menangkup mulutnya ketika rasa mual menyerang.
"Periksalah, agar tidak berkepanjangan." Sambungnya Bu Amelia.
Setelah selesai sarapan, Renita pun kembali ke kamar dan Malik berolah raga di ruang nge-gym.
Renita tiduran di atas tempat tidur dengan ukuran king size. Berselimut tebal hingga menutupi lehernya.
Tiba-tiba Renita melonjak bangun karena mengingat sesuatu. Dia ingat kalau sudah sebulan ini belum datang bulan, sudah telat dua Minggu ini.
"Ya ampun, aku sudah telat. Jangan-jangan! apa mungkin aku jamil?" menyentuh perutnya yang rata.
"Tapi! tidak, aku tidak boleh terlalu banyak berharap. Takut kecewa!" gumamnya Renita sambil menatap perutnya.
Wanita itu menjadi bengong memikirkan apa iya dia hamil atau hanya sakit biasa. Menjadi dilema dalam pikiran Renita saat ini.
Biarpun dalam hati tidak ingin berharap, tapi tetap saja penasaran dan berharap kalau dia dapat memberikan keturunan pada Malik, suaminya dan biarpun dokter menyatakan Malik kurang subur! kan bisa saja Tuhan berkehendak lain. Memberikan ia dan Malik buah hati yang selama ini mereka rindukan.
"Semoga Allah memberikan yang terbaik pada ku dan keluarga ku!" Renita mendongak menatap langit-langit penuh dengan doa.
Kemudian dia turun menapakkan kakinya ke lantai. Berjalan mendekati pintu kamar mandi, sebelum mendorong kenop pintunya Renita langsung berbalik mendekati sebuah naskah hendak mengambil sesuatu di sana.
"Seingat aku ada testpack di sini, masih ada gak ya?" Renita menarik pintu malas dan mengacak isinya mencari testpack.
Setelah mengacak-ngacak! dan akhirnya dia menemukan sebuah testpack yang masih baru. "Nah ... kan, aku bilang juga apa. Aku masih menyimpan ini, siapa tahu saja beneran aku positif dan aku jangan dulu bilang sama siapa-siapa, biar tidak menjadi harapan palsu."
__ADS_1
Renita langsung membawanya ke kamar mandi dan mau diam-diam aja dulu! sampai benar-benar hasilnya akurat. Karena dia tidak ingin seakan-akan memberi harapan palsu kepada suami dan mertuanya nanti ....