Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Sekian lama


__ADS_3

Brek!


Azam dan Rosita terkaget-kaget mendengar suara itu. Mereka berdua saling bersitatap dan Azam bergegas beranjak dari duduknya sambil memberi isyarat supaya Rosita tetap diam di situ menjaga anak-anak. Dan dia pergi sendiri.


"Suara apa itu mas?" Rosita menatap khawatir pada sang suami yang mulai berjalan.


Azam berjalan menuju sumber suara, dengan hati-hati dan ternyata suara itu dari ruang tengah datangnya, saat Azam berdiri dan mendapati bibi tengah berjongkok.


Bibi menoleh pada Azam yang tampak kaget, dengan perasaan khawatir majikannya marah karena guci nya jatuh dan pecah.


"Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja memecahkan guci ini," bibi menunduk dalam sambil memungut pecahannya.


Azam mematung melihat Bibi yang sedang memungut pecahan guci tersebut, agak kecewa tapi harus bagaimana? semuanya sudah terjadi dan tidak mungkin dapat di lem dan utuh lagi. Mau marah juga percuma.


"Ya sudahlah, tidak apa-apa, awas membuat luka." Azam gegas melengos dengan hati yang kesal sebenarnya. Akan tetapi ia tidak mungkin marah-marah Hanay karena barang itu rusak, percuma dan juga buat apa. Lagian bisa beli lagi.


"Ada apa, Mas?" tanya Rosita dengan perasaan yang tidak enak dan penasaran sambil memeluk Syifa.


"Oh itu Bibi, nggak sengaja menyenggol guci dan gucinya pecah!" Balas Azam sembari menundukkan dirinya di tempat semula dengan lunglai.


"Terus, gimana gucinya pecah?" tanya kembali Rosita.


Azam mengangguk. "Iya pecah, remuk! ya sudahlah biarin aja. Benda bisa dibeli daripada dia celaka," Azam menghela nafas dalam-dalam untuk membuang kekesalannya bagaimanapun itu benda kesayangannya harga nya pun cukup mahal.


"Ya sudahlah, Mas ... cuman benda doang, bisa dibeli asalkan ada rejekinya. Jangan marah ... nanti bikin pekerja kita nggak nyaman ataupun nggak betah. Susah lho cari pekerja di rumah. Mungkin dia juga bukannya sengaja!" lirih Rosita sembari menggerakkan tangan naik turun di belakang punggung Azam.


"Aku tidak marah sayang ... aku juga sudah bilang biar aja!" Azam menoleh dengan tatapan dingin.


Setelah menyelesaikan kembali makannya, Azam langsung ke ruang kerja dan Rosita menemani kedua putrinya untuk tidur lebih dulu.


"Mama, Mama ... bacain dongeng ya? sudah berapa hari ini Mama nggak ada dan nggak ada yang bacain dongeng buat kita berdua. Biarpun ada bibi tapi nggak sama!" celotehnya Poppi, mendongak menatap wajah sang Bunda.


"Iya sayang ... Mama akan bacain dongeng ya ... biar kalian cepat bobo, biar besok kalian tidak kesiangan bangunnya besok mau sekolah kan," kebetulan keduanya sudah masuk sekolah dan sekolahnya pun hanya sekitar 20 meter dari kediaman Rosita dan Azam.


Azam masuk ke dalam kamarnya dan mendapati sang istri sudah berada di sana, dengan senyum yang mengembang Azam mengunci pintu dan mendatangi sang istri yang tengah duduk manis di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Anak-anak sudah bobo? sayang," tanya Azam sambil membuka kaosnya yang ia simpan di atas bahu sofa.


"Sudah. Mereka sudah pada tidur," seru nya Rosita yang menggerakan tubuhnya berbaring di bawah selimut. Azam menerbitkan senyumnya sambil merangkak naik ke atas tempat tidur mendekati lawan bicaranya yang mulai menggoda.


"Kangen Sayang, sudah lama tidak seperti ini!" Azam memeluk sang istri dengan sangat erat serta suara yang parau dan menahan sesuatu.


"Kangen? tiap hari juga ketemu!" Gumamnya Rosita sambil membalas pelukan suaminya yang sangat erat sambil menautkan kedua alisnya.


Selanjutnya dengan tangan yang terampil, Azam membuat semua penghalang buat dia melakukan sebuah ritual yang sudah dinantikan dari siang.


.


.


"Bunda ... ada salam dari Mama, katanya terima kasih juga atas perhatian Bunda sama mama!" Ucap Rendy pada sang Bunda.


Wanita yang sedang menggoreng tahu buat makan malam tersenyum dan menoleh pada putranya Rendy. "Wa'alaikum salam ... sekarang dia sudah di rumah 'kan, dah pulang?"


"Sudah. Sudah baikan kok!" sahutnya Rendy sembari mengambil piring menuangkan nasi, pepes ayam dan sayur. "Nyamy, yamy ... enak nih makan malam ini."


"Ih, emangnya tiap makan nggak enak apa? bilang makan sekarang enak segala!" Cibirnya Alena sembari memonyongkan bibirnya pada sang kakak.


"Yey ... Tuh-tuh, tuh-tuh kan. Pah, Bun ... kak Rendy ini ada aja deh ulahnya buat aku marah. Coba lihat ayam ku diambil juga! dia kan sudah ngambil dan makan pepes ayam, kenapa ayam goreng aku juga juga di ambilnya Bun ... tolongin?" Alena merajuk tatkala ayam gorengnya di ambil sang kakak.


Malik yang sedari tadi hanya tersenyum melihat kedua putra dan putrinya yang ada saja bikin drama di meja makan, bikin rame dan terkadang kesal juga. Tapi ini hanya sementara nanti juga kalau mereka sudah lebih dewasa dan punya kesibukannya masing-masing. Momen ini nggak akan ditemui lagi.


"Kakak jangan bikin gaduh mulu ah, di meja makan ... makan yang benar! nanti makanannya pada sedih, kalian ribut mulu!" lirih Renita sambil mendudukan dirinya dan memulai makan.


Setelah melewati drama dan makan pun selesai, kemudian mereka berkumpul di ruang tengah. Namun Rendy langsung beranjak kembali karena dia ingat bahwa dia ada tugas yang harus dia kerjakan.


Namun setibanya di kamar! ponsel Rendy berdering dan sejenak Rendy membiarkannya. Nomornya tidak dikenal, namun setelah berapa kali berdering, pada akhirnya Rendy pun mengangkatnya.


Hening.


(Halo apa kabar, masih ingat gak sama suara ku? namaku Pricilia teman sekelas mu di SMP. Masa lupa sih?)

__ADS_1


Rendy terdiam dan mengingat-ingat. Sosok orang yang tengah berbicara di ujung telepon tersebut.


"Oh iya Pricilia yang waktu itu rambutnya keriting ya?"


(Iya, itu kamu masih ingat! tapi sekarang tidak keriting kok ... sudah lurus dan cantik, kita sering ketemu di kelas waktu itu dan setelah kelas 2 itu kita tidak ketemu lagi sampai sekarang, berhubung aku diajak pindah oleh keluarga ku ke luar Negeri dan sekolah di sana.)


"Oh iya, terus sekarang kamu di mana?" tanya Rendy.


(Untuk saat ini aku masih berada di luar Negeri, tapi bulan depan aku mau kembali ke Indonesia bersama keluargaku juga dan melanjutkan kuliah di sana!)


Rendy tersenyum, mengenang ketika dulu sering bermain dengan Pricilia, orangnya yang riang dan baik. Mereka bersama hanya sampai pertengahan kelas 2 saja. Waktu itu rambutnya keriting kadang dipanggil sama teman-temannya yang iseng dipanggil kribo, padahal rambutnya gak kribo cuman keriting doang.


"Oh ya seneng dong ... kita bisa ketemu lagi, terus kamu dapat nomor aku dari mana? jangan-jangan kamu dukun ya? he he he ..."


(Iya nih ... aku dukun, dukun santet eh bukan. Dukun memberi pelet sama kamu agar selalu mengingat ku he he he ...)


"Bisa saja kamu, dari mana punya nomor aku. Setelah sekian lama, sekian abad! sekian tahun kita tidak pernah komunikasi. Lagian waktu SMP kan aku nggak pegang HP!"


(Pengen tahu apa pengen tahu banget? Kalau pengen tahu nggak aku kasih tahu, kalau pengen tahu banget nanti aku kasih bocoran.)


"Em ... Pengen tau aja, dari mana? tapi kalau nggak mau ngasih tau juga ... nggak apa-apa, nggak penting juga. Oya Makasih ya udah hubungin aku!"


(Ih ... kamu jangan marah dong, aku kan cuma bercanda, ber-can-daaaaa. Aku minta nomor kamu dari si Z dan dia ngasih sama aku. Tidak apa-apa kan?)


"Ya tidak apa-apa lah, emangnya kenapa! senang kok bisa komunikasi lagi sama kamu Dan semoga suatu saat nanti kita bertemu lagi, bisa berteman lagi seperti dulu,"


(Iya benar, aku juga sangat berharap kalau kita bisa bertemu lagi bahkan lebih dari sekedar teman, ups aku sudah tahu kok foto kamu yang sekarang! kamu sudah menjelma menjadi pemuda yang tampan dan banyak para gadis yang mengejar mu cuman ... Kata si Z, kamu nggak mau buka hati buat mereka! apa hati kamu buat aku?)


"Ha! ngarang dia. Lagian aku pengen fokus kuliah bukan untuk pacaran. Pacaran itu nomor sekian bagi aku dan kuliah, belajar nomor satu. Apalagi untuk mencapai cita-cita aku, no pacaran dan no ... cewe."


Tok.


Tok.


Tok ....

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2