
"Kenapa sayang? apakah ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Malik sambil mencium punggung tangan Renita yang tampak melamun tersebut.
"Ach, tidak. Aku hanya kepikiran saja kok orang tua ku gak ikut sama Rendy tadi ke sini, menjenguk ku!" Renita berdalih dan memperbincangkan hal lain.
"Oh, iya ... kata supir. Besok mereka akan ke sini nya melihat istri ku yang cantik ini!" Malik mencubit pipi Renita dengan gemas.
"Ya sudah, kamu mandi dulu sana. Aku akan siapkan bajumu!" Renita memundurkan kursi rodanya dan mengarahkannya ke lemari pakaian.
Malik hanya melihat pergerakan dari Renita, lalu dia berdiri dan membuka semua pakaiannya kecuali ****** ***** di tempat tersebut.
Renita mengambil pakaian Malik yang sekiranya bisa dia jangkau. karena yang berada di atas tentunya memerlukan dia berdiri.
Malik sebenarnya bisa mengambilnya sendiri, menyiapkan sendiri pakaiannya. Cuman dia ingin lebih menghargai niat baik sang istri untuk menyiapkan keperluannya! kecuali yang mungkin terlalu berat untuk Renita.
Malik mengayunkan langkahnya berjalan dengan teratur menuju kamar mandi sambil menenteng pakaiannya yang kotor.
Renita menyimpan pakaian Malik di atas tempat tidur.
...----------------...
Setelah kejadian di hotel itu, Azam dirawat di sebuah rumah sakit. Karena lukanya di bagian perut dan saat ini dia sudah agak membaik juga sudah di bawa pulang ke rumah orang tuanya.
Karena Azam sendiri yang meminta untuk pulang ke rumah orang tuanya saja.
Istrinya Azam yaitu Sharon tidak pernah terlihat menjenguk suaminya tersebut, katanya dia malu semalu-malunya! karena wajahnya diviralkan sebagai wanita ja-lang yang tidak puas dengan suaminya. Sehingga mencari laki-laki hidung belang di luaran.
"Kamu itu sesungguhnya sangatlah bodoh, berani membuang berlian hanya demi sebuah tembaga yang tidak bernilai sedikitpun!" ucapnya sang ayah kepada putranya itu Azam.
"Semuanya sudah terjadi, Yah ... dan aku minta maaf atas sikap lu pada kalian juga. Dan aku menyesal telah menceraikan Renita, menyia-nyiakan putraku!" keluhnya Azam sambil menghela nafas dalam-dalam.
Kini Azam menyesali semuanya. Sudah mengkhianati istrinya, menyia-nyiakan putranya dan kini hanyalah tinggal penyesalan.
"Iya memang benar, semuanya sudah terjadi dan yang ada hanya penyesalan saja. Sekarang Renita sudah bahagia tanpa kamu Zam. Ibu sangat menyayangkan dan Ibu juga kecewa kenapa kamu tega seperti itu, Azam ..." sambungnya sang ibu menatap ke arah Azam.
"Tapi aku harus gimana lagi, Bu? aku pun ingin minta maaf sama Renita sama Putra ku, tapi mana dia nggak ada datang?" Azam menatap kosong pada ibunya. "Nomornya pun tidak bisa aku hubungi, sudah diblokir!"
"Bagaimana tidak di blokir? dia pasti kecewa dengan kamu Azam ... perjanjian yang kamu sepakati di pengadilan pun kamu ingkari, kamu sudah mangkir dari kesepakatan!" timpalnya sang ayah sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku mengaku salah, Ayah ... dan aku menyesal. Aku akan berusaha memperbaiki diri." Azam menunduk penuh penyesalan.
"Mana istri kamu yang kamu bela-belain itu ha? gak ada batang hidung nya bukan? dari mulai kamu di rawat di rumah sakit, sampai sekarang kamu di rumah kami? apalagi setelah kamu tidak punya apa-apa, apa mungkin dia masih mau sama kamu ha?" tambah sang ibu.
Azam yang berbaring di tempatnya dan sang ibu juga sang ayah, keduanya duduk di kursi tidak jauh dari Azam berbaring.
"Sudah lah Bu ... jangan bahas wanita itu lagi sakit telingaku!" pinta Azam pada sang ibu.
"Kami sudah membujuk agar Rendy mau ikut kami untuk menemui kamu. Tapi anak nggak mau, tanpa ibunya dia gak mau." Suara sang ayah.
"Berarti ajak ibunya ke sini. Aku ingin minta maaf sama Renita," kata Azam sambil menatap ke arah sang ayah dan ibunya.
"Renita tidak akan ke sini bila tidak ada ijin dari suaminya. Apa lagi dia sekarang dia mengalami kelumpuhan." Lirihnya sang ibu.
"Apa? renita lumpuh?" Azam begitu kagetnya mendengar berita itu, dia baru tahu kalau Renita mengalami kelumpuhan.
"Benar, Renita kecelakaan. Sehingga dia mengalami kelumpuhan seperti sekarang." Tambah sang ibu.
"Kecelakaan apa, Bu ..." tanya Azam penasaran.
"Dia di tabrak orang." Jawabnya sang ayah.
"Ya begitu, mungkin sekarang sudah pulang ke tempat suaminya!" tutur sang ibu.
"Suami, dia ... sudah menikah lagi?" Azam semakin penasaran.
"Iya, tadinya mau pesta besar-besaran. Tetapi ... karena kondisinya Renita yang belum memungkinkan, jadinya mereka baru mengadakan akad saja di rumah sakit. Dan katanya nanti bila kondisi Renita sudah agak membaik baru akan mengadakan resepsinya." Ujar sang ibu.
"Kalian datang di acara akadnya Renita?" tanya Azam kembali.
"Tentu lah, kami di undang, emangnya kamu. Menikah cuma bawa diri sendiri dan burung doang? mana ada kau ingat kami sebagai orang tua mu." Sindir sang ibu yang tampak sewot dengan sikap putranya itu sewaktu dekat dengan istri barunya.
"Aku minta maaf, Bu ... Ayah ... aku yang salah!" Azam dengan suara yang pelan.
"Ayah salut sama Malik, dia tetep menikahi Renita biarpun kondisi Renita yang dalam keadaan sakit." sang ayah merasa kagum dengan Malik yang tetap kekeh menikahi Renita apapun kondisinya.
"Paling karena ada maunya saja." Timpalnya Azam.
__ADS_1
"Jangan begitu sama orang, justru kita harus doain agar mantan istrimu itu hidup bahagia! setelah kamu sia-siakan dan kamu kecewakan, kamu khianati dan kau siksa batinnya." Protes sang ibu.
"Ibu mu betul. Doakan Renita dan putra mu itu, kasihan dia ... sudah kamu sia-siakan." Tambahnya sang ayah.
Azam terdiam, dan menatap lekat pada kedua orang tuanya.
...----------------...
Renita dan Malik makan malam di dalam kamar, dan Rendy pun menjadi tidak mau makan di meja makan apalagi bersama Shopia.
Kini Malik sedang sibuk dengan laptopnya di atas sofa sementara Reni telah bermain di lantai dengan mobil-mobilannya. Renita sendiri tengah membaca novel di ponsel walau televisi pun menyala.
"Rendy, kenapa nggak main sama Genta?" tanya Malik sambil melihat ke arah Rendy yang tampak menggeleng.
"Rendy ngantuk ah mau bobo, Papa. Bunda ... Rendy mau bobo dulu ya!" anak itu menoleh pada Malik dan bundanya yang berbeda tempat.
"Iya, langsung masuk kamar ya? jangan kemana-mana dulu!" pesan sang Bunda.
Malik hanya melihat ke arah sang istri mendengar pesan demikian, namun ia tidak banya bicara selain mengangguk pada Rendy.
"Baik Bun!" anak itu langsung beranjak dan membawa mainannya keluar dari kamar tersebut.
Malik menutup laptopnya lalu mengikuti anak itu untuk memastikan masuk ke dalam kamarnya atau bermain lahir, tapi Rendi yang sesekali berjongkok mendorong mainannya tapi lurus hingga masuk ke ke dalam kamarnya.
Pria itu tersenyum lalu kembali menutup pintu menghampiri sang istri. "Dia sudah masuk kamar nya dan kita ... sudah saatnya untuk ..." ucap Malik menggantung perkataannya.
Perasaan Renita menjadi tidak enak melihat ekspresi dari Malik. ia sedikit gugup dan salah tingkah jadinya.
"Em ... kalau belum siap juga, tidak apa sih, aku tidak akan memaksakan mu kok!" Malik langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi tengkurep.
Renita bengong melihat pria itu dan menjadi galau, bingung harus gimana. Renita menggeser posisi duduknya dan mulai berbaring.
"Kamu mau tidur sekarang?" tanya Renita dengan lirih.
Malik menolehkan kepalanya melihat ke arah Renita sambil tersenyum. "Iya sayang, ngantuk." Tangannya menjangkau remote, menggantikan lampu menjadi temaram ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Mohon segera komen bila typo nya bertebaran di mana-mana langsung di paragraf ya, dan makasih pada semua yang selalu mendukung ku🙏