Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Jangan fit-nah


__ADS_3

"Ooh ini ya yang kamu lakukan di saat suami tidak ada di rumah, berduaan dengan laki-laki lain!" suara itu tiba-tiba bagai petir yang menyambar di siang hari bagi Renita.


"Mbak Yusna." Gumamnya Renita dengan tatapan yang di arahkan pada wanita berambut sebahu itu.


Renita sangat terkejut dengan kedatangan Yusna yang pasti dia berpikir macam-macam karena melihat dirinya dan Azam berduaan. Sebenarnya tidak berduaan sih ... Di rumah itu ada Bibi di dapur dan mereka duduk pun berjauhan.


"Ternyata Malik itu salah ya! memilih istri, bukan istri yang baik yang bisa menjaga kehormatannya! melainkan istri yang suka selingkuh bahkan di rumahnya sendiri berani berduaan dan membawa laki-laki lain," suara Yusna kembali.


"Maksud Mbak Yusna apa sih? Mbak kan tahu siapa dia? dia datang untuk menemui Rendy putranya dan kita nggak melakukan apa-apa!" Renita membela diri sambil melirik pada Azam. "Dan di sini kita tidak mendoakan saja Mbak ... ada Bibi kok!"


"Helehh ... siapa tahu aja pas saya datang kalian itu memang berjauhan. Tapi sebelumnya dempet-depetan, kan siapa yang tahu! jangan-jangan bayi yang kamu kandung pun bukan anaknya Malik, karena Malik kan tidak subur kata dokter juga!" Yusna berkata sangat pedas serta tatapan yang penuh kebencian.


Degh.


Hati Renita bagai di guris pisau, mendengar fitnahan dari kakak iparnya tersebut. Perih dan nyeri. Membuat dadanya terasa sesak mendadak.


"Astagfirullah ... Mbak bicara apa sih kok tega Mbak bilang seperti itu? aku ini mengandung anaknya Abang, bukan seperti yang mbak tuduhkan itu, hati-hati Mbak nanti menjadi fitnah." Renita menggelengkan kepalanya dia tidak menyangka kalau Yusna akan tega berkata demikian.


"Nggak usah istighfar deh ... bagaimana pun kalian sudah tertangkap basah. Mungkin kalian bukan baru kali ini ya berduaan seperti ini, sudah sering ya?" Yusna menatap ke arah keduanya dengan penuh curiga.


Melihat Renita yang terus menggelengkan kepalanya dibarengi sorot mata yang diarahkan kepada Yusna, membuat Azam membuka suaranya.


"Maaf Mbak! hati-hati ya! dengan omongan Mbak, kita tidak pernah melakukan apapun dan kami tidak pernah berduaan Mbak. Lagian kalau kita mau ngobrol itu apa salahnya? untuk sharing tentang anak juga, Mbak nggak usah bikin sesuatu yang bikin fitnah bahkan secara tidak langsung Mbak sudah memfitnah kami berdua." Azam memandangi ke arah Yusna yang berdiri dan tidak ada sopan-sopan nya ataupun bicara dengan duduk.


"Saya tidak akan bicara kalau saya tidak punya bukti, dan bukti kuat adalah kepala saya sendiri yang melihat kalian berduaan! wajar dong kalau saya menganggap seperti itu. Secara laki-laki dan wanita berduaan--"

__ADS_1


"Kami tidak berduaan Mbak, itu ada bibi saksinya. Dan kita tidak melakukan apapun jangan pernah Mbak memfitnah saya atas dugaan yang tidak pernah kami lakukan. Mbak ingat kan? yang belum lama ini Mbak katakan! kalau saya hamil bukan anak Abang itu sudah fitnah besar Mbak dan bahkan kita yang bisa di tuntut kan!" potongnya Renita yang tidak terima dengan semua omongan dari Yusna.


"Assalamu'alaikum ..." suara itu langsung menyeruak masuk setelah membuka pintu yang tidak lain adalah Rendy sambil menjinjing berapa paper bag dan di belakangnya Bu Amelia berjalan pelan memasuki ruang tamu.


"Bunda, Papa dah lama ya nunggu! itu omah ngajak aku ke mall. Dan lama di sana!" Rendy langsung menyimpan paper bag di atas meja dan menghampiri papanya.


"Iya nih ... Papa lama banget nunggunya sampai bosan! tadinya mau main sama Rendy, Rendy nya nggak ada! Papa jadi bosen sendiri nih." Azam mengusap kepalanya putranya.


"Iya, Nih ... kelamaan di mall nya." Tambahnya Rendy sambil melihat ke arah Bundanya dan juga Yusna yang masih juga berdiri dan wajahnya tampak tegang.


"Kok Mama mendengar ribut-ribut sih dari luar ada apa?" tanya Bu Amelia sambil menundukkan dirinya di salah satu sofa yang tidak jauh dari Renita.


"Ini, Mah ... pas aku datang! dia berduaan mah sama laki-laki ini, kan bukan muhrim di saat suaminya nggak ada di rumah lagi. Apa namanya wanita seperti itu?" Yusna mendelik kan matanya.


Bu Amelia menatap lekat pada Azam dan Renita. "Tadinya Mama cuman ingin jalan aja ke depan, tapi lama-lama berubah pikiran sehingga kita pergi ke mall. Rendy juga sudah bilang sama Mama kalau akan datang papanya. Saking asik nya jadi lama deh."


"Mah, nggak ada jaminan kalau mereka tidak melakukan apa-apa di saat kita tidak ada! dalam pandangan pun sudah salah mereka bukan muhrim biarpun cuman berdua saja!" ucap Yusna yang seakan-akan ingin memojokkan Renita dengan Azam.


"Cukup! Mbak tidak perlu mengotori hati dan pikiran tentang kami berdua! karena Allah lebih mengetahui apa yang kami lakukan! cukup nggak usah banyak bicara lagi Mbak, karena hanya akan menimbulkan dosa buat mbak sendiri!" timpalnya Renita dengan cepat. Menggelengkan kepalanya, benar-benar Yusna seperti ingin memojokkan dirinya dan Azam memfitnah mereka berdua.


"Renita benar Yus buat apa sih kamu berpikir yang tidak tidak tentang mereka berdua! Mama percaya kok kalau mereka tidak melakukan apa-apa kamu jangan mengotori hati dan pikiranmu Yusna ... Azam ke sini pasti nggak punya niat buruk selain bertemu sama anaknya, ketika Malik ada di rumah juga Azam sering datang. Karena mereka selain antara atasan dan bawahan. Mereka pun berteman silaturahmi mereka cukup baik!" Bu Amelia mengarahkan penglihatannya ke arah Yusna serta mengungkapkan pandangannya terhadap Azam.


"Sebenarnya ada apa sih? Rendy nggak ngerti deh ... Ayolah Pah ... kita main di atas! pusing dengerinnya," ucapnya Rendy sembari beranjak dari duduknya lalu menarik tangan Azam diajaknya ke lantai atas yaitu ke kamarnya.


Renita memandangi putranya dan Azam yang naik ke lantai atas pikirannya pun kacau, kepikiran omongan Yusna yang telah berkata dirinya melakukan yang tidak-tidak bersama Azam bahkan menyebut-nyebut kalau bayi yang ia kandung bukanlah anak Malik.

__ADS_1


"Mama ini kenapa sih kok lebih percaya dia ketimbang aku, bahkan Mama lebih percaya si azam daripada aku sendiri anaknya Mama, aku tidak habis pikir jadinya!" Yusna melengos pergi dari tempat itu meninggalkan mama dan Renita.


Wanita sepuh itu hanya mematung mengatupkan mulutnya, memandangi ke arah Yusna yang pergi begitu saja.


Lalu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Renita. "Jangan didengar ya omongan Mbak mu itu. Mungkin dia lagi pusing dengan masalah keluarganya!"


"Masalah keluarganya? apa hubungannya dengan ku? dan ngapain juga hingga menyenggol rumah tangga ku juga! aneh sekali!" batinnya Renita.


Renita mengangguk ada sang ibu mertua, kendati terasa sakit. Apalagi beliau tidak mendengar omongan pedasnya Yusna yang sengaja diucapkan untuk menyinggung hati orang lain.


...----------------...


Renita Tengah berada di ruang kerjanya, Dia sedang melakukan video call bersama sang suami.


"Gimana di sana baik-baik saja kan?" katanya Malik pada sang istri.


"Baik alhamdulillah baik. Gimana sebaiknya? sudah makan!" Renita bertanya sambil sedikit menggeser posisi duduknya ke belakang.


"Sudah! sayang baguslah kalau di sana baik-baik saja, aku kangen sama kalian." Malik menatap intens ke arah istri nya.


Beberapa saat mereka pun mengobrol dihiasi dengan canda tawa aja yang renyah. Sehingga dapat mengobati rasa kerinduan yang tersimpan dan terpaksa harus ditahan sampai waktunya tiba ....


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2