
"Ya sudah aku balik lagi ke ruanganku ya?" Malik membaringkan kembali Alena di tempatnya.
Renita yang baru saja dari mushola mengangguk dan mendekat serta merapikan kemejanya serta dasinya yang sedikit longgar. "Oke. Sebentar ku ambil parfum dulu."
Wanita berjilbab itu mengambil parfum dari tasnya yang lalu disemprotkan ke tubuhnya Malik.
"Ini 'kan parfum wanita sayang ... parfum ku ada di tas!" Malik protes.
"Ya nggak apa-apa, biarpun parfum wanita. Biar menandakan kamu itu punya istri dan punya anak," ucap Renita sambil menutup botol parfumnya.
"Hem ... cemburu nih ceritanya? ha ha ha ..." Malik tertawa lepas.
"Siapa juga yang cemburu? Enggak ach." Renita mengulum senyum nya yang manis menunjukan kecantikan wajahnya.
"Tapi 'kan barusan bilangnya lain, menandakan kalau istriku ini sedang cemburu dan tidaklah ingin atau takut suaminya didekati orang lain!" Malik mendekat dan memeluk pinggangnya sang istri.
"Aku rasa ... cemburu sama pasangan sendiri itu wajar, kalau cemburu sama pasangan orang lain itu ... baru kurang ajar!" kata Renita dalam pelukannya Malik yang memeluknya erat.
"Iya, iya ... aku senang kalau istri ku punya rasa cemburu, menandakan kalau dia sayang sama aku!" Malik memudarkan rangkulannya dan menempelkan bokongnya di bibir meja kerja Renita.
Sementara Renita berdiri di hadapannya Malik sambil menautkan kedua alisnya. "Emang kamu pikir aku ini gak sayang sama kamu Hem?"
"Sayang sih ... tapi kan paling sulit dan jarang di ungkapkan dengan kata-kata." Ungkap Malik sambil tersenyum samar.
"Ach, sudahlah ... sana kerja lagi. Sudah terlalu lama di sini jangan mentang-mentang bos ya ... sesuka hati dengan waktu! bagaimanapun harus menjadi contoh yang baik untuk bawahannya!" ujar Renita sambil menggerakkan tubuhnya kembali ke kursi kebesarannya tersebut.
Namun lagi-lagi Malik meraih pinggang Renita yang lantas dibawa ke dalam pelukannya kembali dan Malik langsung menyentuh benda tipis Renita yang berwarna merah merona. Sejenak mereka berdua menikmati sentuhan tersebut dengan penuh kasih dan sayang.
Akan tetapi ritual itu terganggu dengan terdengarnya suara Alena, sehingga keduanya dengan refleks menoleh dan melepaskan sentuhannya yang mengasikan tersebut.
__ADS_1
"Eh, eem, mam-mam ..." suara Alena yang sontak papa dan bundanya menoleh dan menjauhkan wajahnya masing-masing.
Bibir Renita yang lembab membentuk sebuah senyuman dan berkata. "Sudah sana ke ruangan mu, sudah terlalu lama Abang di sini!"
Lantas wanita pun mendorong punggungnya Malik, agar keluar dari ruangannya dan dengan malasnya Malik keluar dari ruangan tersebut.
"Istriku jahat sama suaminya nggak boleh nemenin! jahat sekali." Malik sambil tersenyum dan membawa langkahnya ke luar.
Setelah balik keluar kita pun kembali masuk dan mendekati Putri kecilnya, sebentar berbincang dan memberikan mainan setelah itu dia kembali ke meja kerjanya.
...----------------...
Karena waktu itu Yusna tidak juga menemukan suaminya dengan wanita mana, Sementara di saat-saat dia menunggu suaminya keluar dari hotel! putrinya keburu nelepon menyuruhnya pulang, ya terpaksa Yusna segera membawa lari mobilnya untuk pulang dan tidak peduli lagi dengan suami serta selingkuhannya. Setidaknya dia sudah merasa puas karena mobil suaminya sudah rusak kaca belakang samping kanan kiri.
Selang satu jam kemudian suaminya pulang juga, tentunya menggunakan mobil yang jendelanya pecah.
Yusna menatap tajam pada sang suami, ingin rasanya dia marah semarah-marah nya dan murka dengan siapa dia pergi, melakukan apa? sehingga mem-booking kamar hotel segala, namun perasaan itu dia berusaha tahan. Dan mencoba untuk menunjukkan senyumannya pada sang suami yang dia pikir sudah melakukan enak-enak di kamar hotel.
"Apa Mas! mobil kamu ada yang merusak? maksudnya gimana sih aku nggak ngerti!" Yusna pura-pura tidak tahu padahal dia yang sudah memecahkan semua kacanya.
"Iya, mobilku kaca depan samping kanan kiri ada yang pecahin dengan batu! sehingga semuanya pecah dan sekarang sedang dalam penyelidikan, bisa-bisanya security atau tukang parkiran di sana tidak tahu siapa yang rusak," kepala Anto menggeleng lemah bagaimanapun itu mobil kesayangannya yang dia pakai untuk membawa Shopia juga.
"Ya ampun ... tega banget ya dia, apa kamu punya musuh Mas? sehingga dia tega merusak mobilmu itu!" Padahal dalam hati Yusna merasa puas.
"Musuh apa, Mah ... mana ada aku punya musuh--"
"Ya kali aja. Kamu punya musuh, namanya juga pebisnis 'kan? atau mungkin saingan lain," tanyanya Yusna.
"Enggak lah aku nggak punya musuh ataupun saingan lain, ya ... kalau namanya juga usaha wajar lah, tapi nggak segitu juga kali. Mobil orang di gitu-gitu! coba pikirin kalau mobil nya sendiri yang digituin sama orang! bisa nerima nggak?" suaranya Anto menggebu-gebu.
__ADS_1
"Kok kamu marah-marah sama aku sih, Mas? marah nya sama orang itu dong bukan ke aku!" Yusna mulai tersinggung. sedikit merasa was-was. Gimana kalau nanti CCTV keluar dan membuktikan kalau dirinya yang merusak mobil sang suami.
Tapi bukan Yusna namanya kalau tidak bisa menutupi itu semua, setiap dia pergi dia pasti memakai pakaian yang belum pernah dipakai sebelumnya! dan seperti waktu itu pun dia memakai hoodie hitam dan sepulang dari situ Hoodie nya dia bakar. Jadi setidaknya kalau hanya melihat dari hoodie, itu nggak akan ada barang bukti dan tangannya pun memang sudah terlapisi oleh tangan hoodie tidak langsung memegang batu waktu itu.
"Makan aja tuh Mas. Mobil kesayangan ku rusak! masih mending masih bisa dipakai, coba kalau aku udah gila! mungkin aku bakar di tempat tuh mobil, untung saja otaku masih bisa berjalan dengan normal!" Batinnya Yusna sembari menatap sang suami yang kini berjalan gontai menaiki anak tangga.
Yang kemudian Yusna pun segera menyusul sang suami yang menuju lantai atas. "Sebenarnya kamu itu hanis dari mana sih Mas? bukannya hari ini tidak ada jadwal meeting atau apa?"
Anto menoleh dan menatap tanpa ekspresi pada sang istri, apa mungkin dia mulai memata-matai dirinya.
Melihat reaksi suami seperti itu Yusna mencoba meralat perkataannya tadi. "Maksud aku kan kamu tidak bilang kalau ada meeting atau acara penting di malam ini, biasanya kamu bilang kan?"
"Oh iya, memang mulainya nggak ada urusan penting soal kerjaan, cuman mendadak dan aku nggak sempat bilang sama kamu!" Akunya Anto.
"Urusan penting di ranjang atau di mana Mas?" Dalam hatinya Yusna sambil terus berjalan mengikuti langkah suaminya menuju ke map pribadi mereka.
Ketika suaminya sedang melucuti pakaiannya dan hendak membersihkan diri, berdiri di hadapannya dan mengalungkan kedua tangan di pundak pria yang tampak salah tingkah itu.
"Kenapa wajahmu tegang seperti itu? kalau soal mobil kan ... mudah, tinggal di betulkan saja, lagian cuman kacanya doang. Masih mending dia punya hati kali ya, cuma merusak kacanya saja, kalau nggak punya hati, mungkin mobil itu sudah dibakarnya!" Yusna sambil menatap lekat pada sang suami.
Anto terdiam dengan tatapan yang kosong, ada benarnya juga perkataan dari Yusna masih mending orang itu tidak membakar mobilnya dan hanya merusak kacanya doang.
Tapi tetap saja bikin dia penasaran siapa orang yang sudah tega melakukan itu,Renita sementara dia merasa tidak ada musuh depan mata sih, entah kalau di belakang.
"Kamu emang ada benarnya masih mending cuman kacanya aja yang pecah-pecah dan mobilnya tidak dimakan tapi aku tak penasaran siapa yang sudah tega melakukan itu?" gumamnya Anto yang segera menjauhkan kedua tangannya dari.
"Aku mau mandi dulu Sayang, gerah!" Anto menjauhkan dirinya dari sang istri.
Yusna melongo melihat sang suami yang seakan-akan tidak tergoda lagi sama dirinya ....
__ADS_1