
"Bunda pulang yok, Rendy mau istirahat dulu, kan kata papa nanti sore mau jalan-jalan ke mall!" Rendy menoleh pada sang bunda yang lantas mengajaknya pulang.
"Iya saya, bentar lagi ya!" Renita mengusap rambutnya Rendy.
Azam menatap ke arah putranya yang seolah tidak menganggap keberadaannya. "Rendy mau, jalan-jalan sama Papa yo?" dengan suara yang bergetar.
Rendy menggeleng dengan tatapan mata yang bening itu pada Azam. "Nggak mau, Rendy mau pergi sama papa Malik saja!"
"Aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas semua kesalahan ku padamu juga Rendy. Dan aku menyesal telah menyia-nyiakan kalian berdua!" ucapnya Azam Semar yang menundukkan kepalanya.
"Sudahlah Mas tidak usah minta maaf, sekarang semuanya sudah berlalu dan aku sudah melupakan semuanya." Balasnya Renita tanpa menoleh dan melihat ke arah Azam.
"Selamat ya! sekarang kamu sudah bahagia dengan Malik bahkan bisa menggantikan posisi aku sebagai papanya Rendy, aku tidak menyalahkan siapapun! karena yang salah itu pasti aku sendiri. Rendy nggak mungkin bersikap dingin dan acuh padaku jika aku sebagai papanya perhatian juga peduli padanya selama ini!" Azam menghela nafas yang tampak begitu berat.
"Alhamdulillah, Mas. Aku cukup bahagia denhan Malik, dan dia begitu menyayangi Rendy sehingga Rendy pun tidak canggung kepadanya dan cukup happy! meskipun tanpa kehadiran kamu Mas. Sebelumnya aku suka sedih jika Rendy menanyakan kamu! dan dia bilang papanya Rendy nggak sayang ya sama Rendy! rasanya hancur hati ini. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu dia bisa menyesuaikan diri begitu dekat dengan Malik." Ungkap Renita dengan nada lirih.
Azam merasa mencelos dan melihat ke arah Rendy yang bermain di dekat mobil. "Rasanya ... memang kata maaf dari ku tidak akan pernah cukup. Juga tidak akan pernah bisa menebus kesalahan yang sudah aku perbuat kepada kalian berdua!"
"Bunda ayo pulang ngapain sih lama-lama di sini? daripada lama-lama di sini mendingan ke kantor Papa yo?" Rendy kembali memakai kepada bundanya jatuh ke ingin segera pulang.
"Em, Mas. Kami pulang dulu ya!" Renita beranjak lagi duduknya seraya memegang tas kecil.
"Iya, titip Rendy ya, tolong bilang sama Malik!" gumamnya Azam. "Bagaimanapun aku bukan ayah yang baik untuk Rendy."
Renita mengangguk pelan sambil mengulurkan tangan pada Rendy yang sepertinya sudah tidak sabar untuk pulang.
"Sayang salam dulu sama papa!" titah Renita pada Rendy.
Rendy pun dengan cepat menyalami sang ayah, begitupun dengan Azam. Dia mencium pucuk kepalanya Rendy.
"Jadi anak yang baik ya? menurut sama bunda dan papa Malik. Papa sayang sama kamu Nak, maafkan Papa!" kata maaf yang terucap dari Azam sudah sering Rendy dengar waktu itu.
__ADS_1
"Bunda, sedari tadi papa minta maaf dan minta maaf aja, tidak bosan kali ya minta maaf terus?" ucapnya Rendy setelah berada di dalam mobil.
"Iya nggak apa-apa! minta maaf itu kan memang baik, kalau merasa bersalah berarti harus minta maaf. Rendy maafkan nggak?" Renita menoleh berasalnya buah hati.
"Rendy maafin kok," balasnya Rendy.
"Em ... Rendy nggak kangen apa sama papa? kok Rendy cuek gitu sama papa? dia itu papa Rendy yang asli. Dan Rendy harus sayang sama beliau--"
"Tapi Papa tidak sayang Rendy, Bunda!" potong Rendy mengungkapkan perasaannya pada sang bunda.
Degh.
Renita terdiam kaget mendengar perkataan anak itu yang mulai berani berpendapat kerena memang kedewasaan nya pun mulai berkembang.
“Sayang ... sesungguhnya tak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya, semuanya juga pasti menyayangi anak-anaknya. Namun terkadang ada suatu keadaan yang memaksa atau membawa pada kenyataan yang kurang baik, Rendy maafkan segala kesilapan Papa dan sayangi dia juga hormati dia.” Ujar Renita sambil mengusap pucuk kepalanya sang buah hati.
Anak itu hanya terdiam dan menyenderkan kepalanya di dada sang bunda. Bagaimana pun dia merasakan bila dirinya telah di campakkan oleh sang ayah yang seharusnya perduli dan perhatian.
“Kemarin kemana saja Mas? di saat kamu masih banyak uang. Dan kini kamu cerita saat kamu terpuruk dan tidak punya apa-apa, ha ... Mas, ini lah hidup yang memang berputar.” Gumamnya Renita di dalam hati.
Selang beberapa puluh menit di perjalanan dan tibalah di rumah. Renita dan juga Rendy turun dari mobil, tidak lupa mengucapkan terima kasih pada supir.
Baru saja mau melintasi pintu. Renita mendengar sebuah obrolan dari dalam suara ibu mertua dan putrinya Yusna. Membuat Renita menarik tangan Rendy yang hampir saja masuk. Renita menyuruh Rendy menggunakan jalan belakang saja, Rendy pun menuruti jalan belakang seperti yang ibunda suruh.
“Mah. Aku kecewa banget deh, belum satu hari dia di rumah. Sudah membuat ulah,” keluhnya Yusna pada sang bunda.
“Siapa, Shopia? Emangnya membuat ulah apa Yus ...” tanya sang bunda sambil menatap penasaran pada Yusna.
“Iya Ma ... siapa lagi. Dia berlagak sok menjadi Nyonya di belakang ku, lama-lama mungkin suami ku juga akan di embatnya kali, makanya aku suruh dia ngontrak saja lah. Aku tidak sanggup untuk menampung dia di rumah.” Balasnya Yusna sambil meneguk minumnya.
“Sebenarnya kasian Shopia itu Yus, tapi Mama tidak menyangka kalau perilakunya seperti itu kepada Malik, sangat menjijikan. Padahal kita sudah sayang sama dia dan putranya bahkan Malik berlaku seperti kepala rumah tangga untuknya sehingga mencukupi semua kebutuhannya, tapi bukannya berterima kasih pada Malik. Malah inginkan lebih, tidak sadar diri atas kebaikan kita terutama dengan Malik. Bukannya kita tidak kasihan sama putranya juga ya,” lirihnya sang bunda.
__ADS_1
“Kalau saja dia tidak seperti itu gak mungkin lah dia pergi dari sini. Bukannya kita tega sama dia tapi kita jadi takut sendiri Mah ... takut dia jahat sama kita kan jadi was-was. Mah ...” tambahnya Yusna sembari bergidik menggoyangkan Bahunya.
“Gimana coba nasib dia ke depannya ya Yus ...” lirihnya sang bunda.
“Setau ku tabungannya lumayan kok Mah ... dia bisa kok menyewa pengasuh dan dia bekerja kan bisa. Jangan menunggu tabungan habis. Dulu juga dia bekerja kok. Kenapa sekarang setelah dia mempunyai anak malah keenakan hidup senang di sini di, bawah ketiaknya Malik. Seharusnya dia itu berpikir lebih dewasa.” Tambahnya Yusna.
Sang ibu terdiam dan kepikiran Shopia yang sudah tidak punya siapa-siapa selain saudara.
“Aku jadi malau sama Malik dan Renita yang sudah aku tampar dan Renita sudah jadi bahan ghibah ku Mah. Malu banget aku Ma,” Yusna merasa malu pada sang adik dan iparnya itu,
Renita yang sejak tadi mendengarkan dari balik pintu, akhirnya masuk juga dan mengucapkan salam. “Assalamua’alaikum ... Mah, Mbak Yusna?”
“Wa’alaikumus salam ... kok baru pulang Ren? terlambat pulangnya.” Sambut sang ibu mertua.
“Iya Mah ... tadi Rendy bertemu dengan papa nya, jadi kita berbincang sebentar di depan sekolah.” Sahutnya Renita sambil mendudukan dirinya di samping sang ibu mertua.
“Oya, terus Rendy nya mana Ren? Apa ikut papa nya ya?” bu Amelia celingukan mencari Rendy yang tidak dia lihat.
“Ikut kali Mah ... wajar lah sama papa nya kok,” jawabnya Yusna sebelum Renita yang menjawab.
“Oh, tidak Rendy tidak ikut papa nya kok Mbak. Dia sudah masuk lewat belakang, tadi berlari.” Kata Renita pada Yusna dan juga melihat pada sang ibu mertua.
“Em ... Mama kira ikut sama papanya, sepi dong kalau dia ikut.” Sambungnya sang ibu mertua kembali sambil mesem.
“Mungkin ... karena lama tidak bertemu, jadinya Rendy kurang anu sama papanya Mah ... dia lebih anu sama abang dan dekat sama dia.” Tambahnya Renita sambil menegakkan posisi duduknya.
Kemudian Rendy muncul dengan sudah mengganti pakaian buat bermain dan menenteng banyak mainan di tangannya menghampiri dan laya-leye pada sang oma. Sepertinya anak itu sudah tidak sungkan lagi pada oma barunya itu ....
...🌼---🌼...
Jangan lupa tinggalkan jejak nya ya, makasih
__ADS_1