
Hari ini, entah kenapa aura nya sangat ceria. Hingga membuat Raka sangat bersemangat untuk bekerja, dia ingin segera menyelesaikan pekerjaan nya dan pergi menemui Lita di rumah sakit.
Itu seperti sebuah kegiatan rutin bagi Raka, setiap hari sepulang bekerja dia akan pergi ke rumah sakit untuk sekedar bercerita, berkeluh kesah tentang pekerjaan nya. Meski Lita belum bangun, tapi Raka tak putus asa, dia yakin istri nya akan kembali.
Drett..
Ponsel Raka yang tergeletak di meja bergetar, siapa yang menelpon nya saat waktu bekerja seperti ini?
Raka mengambil ponsel nya dan segera mengangkat nya, ternyata dari Mama nya.
"Hallo.. "
"Cepatlah kesini, Lita sudah bangun dan menanyakan dirimu." Ucap Mama Renata dengan semangat di seberang telepon.
"Mama bercanda kah?"
"Mana ada Mama bercanda soal menantu Mama, cepatlah kesini." Ucap Mama Renata lagi.
"Raka kesana sekarang." Jawab Raka lalu mematikan sambungan telpon nya secara sepihak.
Di rumah sakit, Lita masih berbaring tapi bibir nya sudah aktif berbicara dengan Bella dan Mama.
Meski tadi dia sempat histeris setelah mengetahui kalau anak dalam rahim nya sudah pergi, tak dapat bertahan karena perut nya membentur sisi trotoar dengan keras.
"Kamu sudah lebih baik Nak?" Tanya Mama Renata.
"Lita baik Ma, hanya saja hati Lita masih ngilu." Jawab Lita lirih.
"Bersabarlah sayang, setiap kejadian pasti ada hikmah nya."
"Bagaimana keadaan Brandon, Ma?" Tanya Lita, dengan raut kecemasan nya.
Mama Renata malah melirik Bella, tapi Bella juga enggan menjelaskan, dia khawatir Lita akan histeris lagi bila tau kalau Brandon masih koma karena menyelamatkan dirinya.
Untung lah, pintu kamar Lita terbuka dan menampilkan sosok Raka dengan pakaian yang berantakan dan rambut yang tak karuan bentuk nya.
"Sayang.. " Panggil Raka dengan nafas yang tersengal, karena berlari. Dia tak sabar melihat istri nya, hingga saat turun dari mobil dia langsung berlari.
"Iya Mas.. " Jawab Lita dengan senyum di wajah nya.
Raka berjalan mendekati Lita yang terduduk di brankar nya, dia memeluk istri kesayangan nya dengan erat. Air mata nya tak bisa di bendung lagi, Raka menumpahkan semua nya di pelukan Lita.
__ADS_1
Lita tau, suami nya masih dalam keadaan yang rapuh. Dia membiarkan suami nya menangis, mengusap rambut belakang nya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Jangan seperti ini lagi sayang, Mas mohon. Sudah cukup kamu membuat ku takut." Ucap Raka lirih di sela isakan tangis nya.
"Takut kenapa Mas?"
"Aku takut kau meninggalkan ku, cukup sudah aku kehilangan anak kita, aku tak mau kehilangan dirimu sayang." Ucap Raka.
"Nyata nya aku disini, bersama mu Mas. Aku tak pergi kemana-mana, aku sudah berjanji untuk selalu ada di samping mu dalam keadaan apapun." Jawab Lita, dia masih mengusap kepala Raka.
Bella dan Mama Renata yang melihat Raka serapuh itu pun ikut terhanyut dalam suasana haru itu, mereka menitikkan air mata nya menyaksikan adegan sedih itu.
"A-anak kita, apa kau sudah tau dengan apa yang sudah terjadi?"
"Aku sudah tau semua nya dari Mama dan Kak Bella. Aku tak apa-apa, sungguh. Aku masih memiliki dirimu di samping ku, juga ibu mertua dan kakak ipar yang baik." Jawab Lita.
"Syukurlah sayang, terimakasih karena tetap disini bersama ku, aku mencintaimu."
"Aku bahkan lebih mencintai mu, Mas." Ucap Lita. Mereka kembali berpelukan hangat, akhirnya setelah sekian lama Raka bisa memeluk istri nya lagi.
"Bagaimana Brandon, Mas?"
Raka terdiam dan mengurai pelukan nya, ternyata Mama dan Bella belum menjelaskan bagaimana keadaan Brandon saat ini.
"B-brandon koma Yang." Jawab Raka lirih. Pandangan nya menunduk, tak siap melihat bagaimana ekspresi Lita setelah mendengar nya.
"K-koma? Kau hanya bercanda kan? Brandon gak mungkin koma."
"Itu kenyataan nya sayang." Ucap Raka.
"Gak mungkin, gak mungkin Brandon koma." Lita menangis sejadi nya, sama seperti saat dia tau janin dalam rahim nya tak dapat bertahan.
"Sabar lah sayang."
"Bagaimana aku bisa sabar, Mas. Aku sudah kehilangan anak ku, anak yang ku idam-idamkan, anak yang sudah lama aku nanti kan, tapi saat dia hadir malah meninggalkan ku."
"Aku tak bisa kehilangan teman ku juga." Ucap Lita lirih, dia menutup wajah nya dengan kedua tangan nya. Air mata nya mengalir deras, dia masih ingat semua kebaikan dan kebersamaan nya dengan Brandon.
"Kalau saja aku tak mau jajan, mungkin Brandon takkan begini. Semua ini salahku, maafkan aku Brand. Aku melibatkan mu dalam masalah." Lirih Lita, di sela tangisan pilu nya.
"Tenang lah sayang, kamu baru saja siuman. Kesehatan mu belum stabil."
__ADS_1
"Antarkan aku ke ruangan Brandon, Mas. Aku ingin melihat keadaan nya." Ucap Lita.
"Baiklah, tapi kamu harus memakai kursi roda." Lita hanya mengangguk saja. Jujur saja, rasa nya dia sangat lemas setelah tau kalau teman nya koma.
Dengan cekatan, Raka menggendong tubuh ringkih Lita dan mendudukan nya di kursi roda.
Raka mendorong nya dengan perlahan, dia harus mendampingi istri nya. Tak menutup kemungkinan, dia akan lebih histeris dari sebelumnya.
Mereka berdua akhirnya sampai di ruangan Brandon, Raka membuka pintu nya dengan perlahan.
Air mata Lita kembali tumpah saat melihat kondisi Brandon, kepala nya di perban, kaki nya masih di perban, bekas luka yang terukir di tubuh nya juga semakin membuat Lita terluka.
"Brand, gue datang. Kapan Lu bangun, gue rindu sama keisengan Lu. Lu gak rindu sama gue?"
"Thanks ya, Lu rela ngorbanin diri lu sendiri demi gue."
"Gue gak bakal lupain kebaikan Lu, gue janji bakal jadi temen Lu sampai kapan pun."
"Jadi, Lu bangun ya. Kita bisa ngobrol lagi, Lu bisa jahilin gue lagi."
"Lu tau Brand? Anak dalam kandungan gue udah pergi, bahkan gue belum ngasih tau suami gue. Kado yang kita buat juga hancur kayak nya, thanks ya, Lu temen yang baik." Ucap Lita lirih, dia memegang tangan Brandon.
Andai saja suasana nya tak begini, Raka pasti sudah marah besar. Tapi kali ini, dia akan mengalah saja.
Brandon meneteskan air mata nya, dia bisa mendengar ucapan Lita.
"Mas, Lihat Brandon menangis." Ucap Lita.
"Walaupun dia koma, tapi dia bisa denger ucapan kamu sayang. Itu artinya dia mulai ngerespon."Jelas Raka.
"Lu denger gue kan Brand? Ayolah jangan tidur mulu, udah cukup istirahat nya."
"Bangun yokk, gue yakin Lu bisa. Gue nungguin Lu ya, gue mau balik ke ruangan gue dulu. Besok gue kesini lagi." Ucap Lita, dia mengusap punggung tangan Brandon pelan.
Raka kembali mendorong kursi roda Lita, dengan pelan. Hingga di ambang pintu, dia berbalik dan melihat Brandon.
"Lu pria baik Brand, lu harus bangun, lu gak bisa terus gini, sampai kapan lu mau bikin gue merasa bersalah sedalam ini sama Lu. Terimakasih buat pengorbanan Lu, gue nungguin Lu sadar, maafin gue ya." Batin Raka, lalu kembali melangkahkan kaki nya keluar dari ruangan Brandon.
🌻🌻🌻
cepetan sadar ya Brand😭
__ADS_1
Salam manis dari Lita&Raka❤️❤️