
Raka baru saja pulang dari rumah Brandon, dia berbicara banyak dengan adik angkat nya itu, termasuk ke khawatiran nya tentang kondisi sang ayah.
Meski pria itu menyembunyikan keadaan nya yang sebenarnya, tapi sebagai anak Brandon sangat peka dengan kondisi sang ayah.
"Darimana?" Tanya Mama Renata.
"Dari rumah Brandon, Ma.." Jawab Lita.
Sedangkan Raka, pria itu segera masuk ke kamar setelah pulang dari rumah Brandon.
...
Lita masuk ke dalam kamar nya, dia khawatir dengan suami nya.
Dia melihat suami nya tengah duduk sambil melamun di sofa dekat jendela, pandangan nya terlihat kosong, entah apa yang sudah terjadi pada Raka. Tapi dia terlihat tidak baik-baik saja!
"Mas, kamu kenapa?" Tanya Lita pelan, dia duduk di samping suami nya.
Raka melirik ke arah istrinya dengan tatapan sendu, dia seperti punya sebuah penyesalan.
"Aku hanya kepikiran sama perkataan Brandon, mungkin dia benar sebaiknya aku mulai menjalin hubungan baik dengan ayah ku. Apa kamu setuju sayang?"
"Tentu saja aku setuju Mas, bukan nya aku sudah sering bicara tentang hal ini padamu?" Ucap Lita.
"Entahlah, ucapan Brandon begitu dalam hingga membuat aku tersentuh." Jawab Raka.
"Lakukan saja yang menurut mu baik Mas, jangan menunggu hingga penyesalan datang, cobalah berdamai dengan hati mu, kamu harus bisa menerima kenyataan, mau bagaimana pun juga beliau tetap ayah mu."
"Iya sayang, terimakasih selalu mendukung ku dalam keadaan apapun." Raka meraih Lita kedalam pelukan nya, dia begitu bahagia memiliki Lita yang selalu ada di samping nya.
"Sama-sama Mas, bukan nya ini sudah tugas ku sebagai istri?"
"Iya dan kamu istri yang terbaik, aku sangat mencintaimu."
"Aku juga mencintai dirimu suami ku.." Ucap Lita, entah ke berapa ribu ungkapan ini keluar dari mulut kedua nya, tapi sebanyak apapun mereka mengungkapkan, rasa nya takkan pernah cukup.
....
Raka mengundang Danu untuk datang dengan acara makan malam, tapi tanpa di duga Danu malah membawa istri nya.
__ADS_1
"Selamat malam tante." Sapa Lita sopan, saat sepasang suami istri itu baru saja sampai.
"Aku ibu mu, Nak. Aku mertua mu, jadi panggil aku Mama atau Ibu seperti kamu memanggil Renata." Ucap Sinta, istri Danu. Dia sudah bsia menerima semua masalalu suami nya, lagi pun takkan ada guna nya dia dendam pada Renata, toh itu bukan sepenuh nya kesalahan wanita itu.
"Baik Bu, Mari masuk." Ajak Lita, dia mengajak ibu mertua nya itu masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Danu, pria paruh baya itu hanya berdiri tanpa berani memulai pembicaraan dengan Raka.
"Pa, bisakah kita bicara hanya berdua?" Tanya Raka memulai pembicaraan, karena jika menunggu Danu, seperti nya pria itu tak ada tanda-tanda akan memulai pembicaraan lebih dulu.
"Tentu saja, ada apa Nak?" Tanya Danu antusias, baru kali ini anak nya mengajak nya bicara lebih dulu.
"Sebaiknya Papa duduk dulu," Tawar Raka, Danu menurut dan duduk di kursi teras, bersampingan dengan anak nya.
"Rasa nya kita tidak pernah begini ya pa.." Celetuk Raka, membuat Danu menoleh dengan raut wajah terkejut.
"Tentu saja, setiap kesini palingan cuma berdebat sama kamu, atau berujung papa di usir." Jawab Danu, membuat Raka menoleh balik.
"Tapi tak apa, Papa mengerti kemarahan mu itu Nak. Jadi papa tak pernah marah, tapi papa hanya ingin menunjukan keseriusan papa, menunjukan bahwa papa menyesal." Ucap Danu, Raka menatap pria paruh baya itu. Ya, benar kata istrinya. Walau bagaimana pun, seburuk apapun dia di masa lalu, tapi beliau tetap ayah nya.
"Apa papa tak membenci Raka? Raka sering kasar sama papa."
"Mendengar mu menyebut ku papa saja sudah membuat ku bahagia, Nak. Lalu bagaimana aku bisa marah?"
"Masa lalu papa sangat buruk, kelakuan papa bahkan tak lebih baik dari papa tirimu, Farhan. Tapi ya, mungkin sekarang papa ingin berubah." Jelas Danu, dia tersenyum menatap anak nya.
"Kenapa papa tak pulang ke negara papa?"
"Negara papa ada disini, papa hanya merantau dan kebetulan ada bisnis disana. Lagi pun, mana bisa papa pergi sebelum berdamai dengan mu. Papa disini hanya karena dirimu, papa ingin mendapat maaf dari mu." Jawab Danu.
Raka menatap wajah tua yang tersenyum menatap nya juga, benar kata adiknya berdamai lah, percayalah berdamai itu indah. Jangan ada dendam, dendam hanya akan membuat kita rugi dan menyesal.
"Aku memaafkan Papa." Ucap Raka. Danu membulatkan mata nya, dia tak menyangka moment ini akan datang juga.
"Kamu serius?" Raka menganggukan kepala nya.
"Raka serius pa, mari kita jalin hubungan anak dan ayah dengan baik. Mungkin memang akan sulit untuk ku melupakan masa lalu antara papa dan Mama Renata, tapi biarlah itu menjadi masa lalu yang pahit."
Mata tua Danu berkaca-kaca, dia sungguh tak menyangka kalau pada akhirnya Raka akan memaafkan kesalahan nya di masa lalu dan mau mengakui nya sebagai ayah.
__ADS_1
Raka berdiri dan merentangkan tangan nya, Danu mengerti dan mereka berpelukan erat seperti layaknya anak dan ayah.
"Papa berjanji takkan mengulangi kesalahan papa di masa lalu, jika itu terjadi pasti kamu takkan pernah memaafkan papa lagi."
"Tentu saja, mana ada seorang anak yang mau punya bapak penjahat kelamiin, gak bakalan ada." Cetus Raka ,padahal mereka masih berpelukan.
"Maaf ya Nak."
"Jangan meminta maaf pada Raka, minta maaf sama Mama Sinta, sama Anita." Ucap Raka, dia melerai pelukan nya. Danu menatap wajah anak nya, begitu tampan bagai malaikat yang baru saja turun untuk memberikan kebahagiaan pada umat manusia.
Danu menganggukan kepala nya, dia perlahan menunduk dan tak terasa air mata nya menetes begitu saja tanpa bisa di cegah.
"Kenapa menangis pa?"
"Percayalah, ini air mata kebahagiaan Nak." Jawab Danu, suara nya bergetar karena tangis nya.
Tanpa mereka sadari, ketiga perempuan mengintip di balik pintu, mereka jadi saksi berdamai nya antara ayah dan anak itu.
"Sudah, jangan menangis. Ayo kita makan malam?" Celetuk Lita.
"Heii sedari kapan kalian disana?"
"Sejak kalian berpelukan tadi lho." Jawab Lita dengan senyum jahil nya, membuat Raka salah tingkah dengan menggaruk tengkuk nya.
...
"Renata, aku meminta maaf padamu juga." Ucap Danu, bahkan dia tak mampu menatap mata Renata, saking dalam nya rasa bersalah Danu pada wanita itu.
"Aku juga memaafkan mu Danu, tak apa itu sudah menjadi masa lalu." Jawab Mama Renata, membuat Danu mendongak dan dia kembali meluncurkan hujan badai nya.
"Kamu cengeng tak seperti kakak mu yang tangguh dan tegar." Ledek Renata, memang benar selain kelakuan Danu dan Dani yang sangat jauh bertolak belakang, ternyata sifat nya juga berbeda.
Dani pria yang tegas, tangguh, tegar dan kuat. Sedangkan Danu kebalikan nya, semua nya kebalikan dari kakak nya.
.....
🌻🌻🌻
Mungkin hanya akan beberapa bab lagi, novel ini akan end☺️🙏
__ADS_1
seneng aja Raka udah akur sama bapaknya😁