
Hari ini sesuai kesepakatan kemarin, Roberts dan Mike datang ke rumah Hanna untuk melamar nya. Sebenarnya Brandon dan Marsya ingin ikut, tapi keadaan Marsya tak memungkinkan sejak tadi pagi dia muntah-muntah.
Disinilah Mike saat ini, berhadapan dengan ibu Hanna yang menatap nya tajam sejak tadi. Entah lah, ada dengan ibu nya Hanna padahal kemarin hubungan mereka baik-baik saja.
"Begini Bu, maksud kedatangan saya kemari ingin melamar Hanna untuk putra sulung saya, Mike."
"Saya sangat bersyukur dengan niat baik bapak meminang anak saya, tapi semua keputusan ada di tangan Hanna." Jawab Ibu Hanna.
"Bagaimana nak Hanna, apa sudah siap menikah secepatnya? Saya sebagai orang tua hanya khawatir, takut nya terlalu dekat dan terjadi hal-hal yang tak di inginkan, semua orang tua takut akan hal itu."
"Hanna bersedia pak, Usia Hanna memang sudah cukup untuk menikah." Jawab Hanna sambil tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu, saya menginginkan acara nya di percepat mungkin satu atau dua bulan lagi."
"Pa, dua minggu lagi saja." Usul Mike, menyela ucapan papa nya membuat Hanna tersenyum geli.
"Apa tidak terlalu cepat? Bagaimana menurut ibu?"
"Saya setuju-setuju saja, lebih cepat lebih baik." Jawab Ibu Hanna, dengan senyum manis nya.
"Baiklah, sudah di tentukan dua minggu lagi acara nya akan di laksanakan. Tepat nya tanggal 25 bulan juni."
"Kami akan mempersiapkan semua nya." Ucap Papa Roberts lagi.
"Terimakasih tuan.."
"Jangan memanggil ku seperti itu, kita calon besan kan?" Ucap Papa Roberts.
"Mari makan malam dulu, saya sudah memasak banyak hari ini." Tawar ibu Hanna. Mereka pun pergi ke ruang makan dan memakan makan malam masakan ibu Hanna.
Sesekali Hanna dan Mike curi-curi pandang, mereka saling melempar senyum diam-diam. Para orang tua juga bukan tak menyadari interaksi diam-diam kedua anak muda itu, tapi mereka memilih membiarkan nya saja, selama ini wajar dan tak melanggar batas.
.....
Di rumah, Marsya tengah muntah-muntah parah. Dari pagi hingga saat ini frekuensi muntah nya malah semakin sering, hingga tenggorokan nya terasa pahit.
"Sayang, apa aku perlu panggilkan dokter? Dari tadi pagi kamu muntah-muntah, gak berhenti sampe sekarang.." Ucap Brandon khawatir.
"Tak usah sayang, aku akan sembuh hanya dengan istirahat. Kamu makan dulu ya, biarkan aku tidur dulu, aku lelah, lemas."
__ADS_1
"Baiklah, aku makan dulu sebentar. Setelah nya aku akan kesini lagi." Brandon mengusap pelan rambut istri nya yang tergolek lemah di ranjang nya.
"Nanti bawakan aku teh manis hangat ya sayang." Pesan Marsya sebelum suami nya benar-benar keluar dari kamar.
"Iya sayang, tidur dulu ya.." Jawab Brandon, dia menahan lapar sejak tadi karena harus menemani istri nya yang muntah parah sejak tadi pagi.
Brandon menuruni tangga dengan perlahan, dia lemas juga karena belum ada makanan yang masuk ke perut nya.
"Brand, gimana Marsya? Sudah lebih baik?" Tanya Mike, dia tau betul kenapa istri adik nya yang muntah-muntah di kamar atas.
"Makin parah kak, sampe muntahan cuma cairan berwarna kuning." Jawab Brandon lesu.
"Lu mau kemana? Udah manggil dokter?"
"Mau makan, belum makan apa-apa dari tadi laper. Belom, Marsya bilang dia cuma masuk angin aja." Jawab Brandon.
"Mikir aja, gak mungkin cuma masuk angin tapi muntah-muntah nya parah banget."
"Mungkin iya, mungkin juga enggak. Biar besok aku panggil dokter buat meriksa keadaan nya, sekarang mau makan dulu, laper." Ucap Brandon lalu pergi ke dapur, dimana disana masih ada Nia yang makan.
"Masih makan Nia?" Tanya Brandon, dia menyendok nasi ke piring nya juga mengambil beberapa lauk nya.
"Iya kak, gimana kak Aca? Masih muntah?"
"Tak usah khawatir dek, kakak mu baik-baik saja." Ucap Brandon, dia tau ke khawatiran yang di rasakan Nia.
"Iya kak, Nia percaya sama kakak pasti bisa jagain kak Aca."
"Udah ya, sekarang Nia makan yang banyak. Kalo nanti makan nya sedikit, sakit kayak kak Aca, Nia gak mau sakit kan?" Ucap Brandon, karena sedari tadi Nia hanya memainkan nasi di piring nya. Tanpa berniat memakan nya.
"Iya kak, Nia gk mau sakit dan bikin Mama sama Kak Aca khawatir." Ucap Nia semangat, dia akhirnya mau makan.
Setelah makan, Brandon menghampiri papa dan Kakak nya.
"Gimana lamaran nya?"
"Diterima dong Brand, mana ada yang bisa nolak pesona kakak mu ini." Bangga Mike.
"Ckk, kepedean udah tua juga." Ledek Brandon.
__ADS_1
"Yang tua itu biasa nya lebih berpengalaman, lebih hot gitu."
"Berpengalaman apa nya? Pacaran juga kagak pernah, kalau berpengalaman jomblo mungkin iya, terbiasa sendiri." Ledek Brandon lagi.
"Dua minggu lagi dia mau nikah Brand." Ucap Papa Roberts.
"Wihh sebentar lagi mantenan, selamat ya. Semoga malam pertama nya berkesan."
"Iya, temenin istri lu tuh kasian." Ucap Mike tiba-tiba saja mengingat adik ipar nya itu. Brandon menganggukan kepala nya dan pergi ke kamar dengan segelas besar teh manis hangat pesanan istri nya.
Brandon celingukan mencari istri nya, tadi dia berbaring lemas di ranjang, tapi sekarang istri kesayangan nya sudah tak ada di ranjang.
Brandon meletakan teh manis nya di meja nakas dan pergi ke kamar mandi.
"Sayangg..." Pekik nya saat melihat Marsya sudah tergeletak tak sadarkan diri di dalam kamar mandi.
Brandon menepuk pelan wajah pucat istri nya,tapi nihil Marsya tak kunjung sadarkan diri. Brandon panik dan segera membawa istrinya dalam gendongan nya dan segera menuruni tangga dengan cepat tapi tetap hati-hati.
"Kak, siapkan mobil.." Teriak Brandon, dia masih melihat kakak nya ada di ruang tamu bersama Papa Roberts.
"Kenapa Brandon?"
"Cepetan kak, Marsya pingsan di kamar mandi." Ucap Brandon panik, Ibu Asih yang datang saat mendengar teriakan Brandon.
Tanpa bicara lagi, Mike segera keluar menyiapkan mobil nya.
"Ibu ikut ya, Nia tunggu aja sama Kakek." Ucap Brandon, lalu berjalan setengah berlari dengan Marsya di pelukan nya.
....
Disinilah mereka sekarang, berdiri di luar ruangan UGD dimana Marsya tengah di periksa oleh dokter.
"Mama, maafin Brandon gak jagain Marsya.." Ucap Brandon, dia sudah tak sanggup menahan air mata nya.
"Tak apa nak, ini bukan kesalahan mu. Tak ada yang mau istri nya sakit." Ucap Ibu Asih menenangkan menantu nya yang sudah menangis terisak dengan menutup wajah nya.
Mike melihat betapa khawatir nya Brandon pada Marsya menunjukan bahwa adiknya sangat mencintai istri nya, tak di ragukan lagi.
....
__ADS_1
๐ป๐ป๐ป๐ป
Kenapa sih Sya?๐๐