Mencintai Adik Sahabatku

Mencintai Adik Sahabatku
Kehamilan Simpatik


__ADS_3

"Sayang, aku mohon mau di periksa dokter ya? Kalo gak di periksa, aku gak tau kamu sebenarnya sakit apa sayang." Bujuk Lita, mengusap wajah pucat suami nya.


"Aku gak mau sayang."


"Jangan keras kepala bisa gak sih Mas? Jangan buat aku khawatir dengan keadaan mu yang seperti ini." Ucap Lita sendu, bahkan kedua mata nya sudah berkaca-kaca.


"Ohh, aku memang tak bisa melihat mu seperti ini. Panggilah dokter nya, aku tak mau pergi ke rumah sakit." Jawab Raka, dia mengusap mata Lita dengan kedua ibu jari nya.


Lita tersenyum dan mengambil ponsel nya, menghubungi dokter terdekat, agar lebih cepat.


"Jangan terlalu lama, aku harus bekerja." Pinta Raka.


"Gak pusing ya kalo kerja?" Tanya Lita, setelah selesai menelpon.


"Malah membaik sayang, jadi aku fikir bekerja adalah obat nya." Jawab Raka.


Lita hanya mengerutkan dahi nya merasa aneh, ada ya orang sakit, tapi malah baikan kalo kerja? Ya ada lah, itu kan Raka.


Butuh waktu lima belas menit menunggu dokter sampai. Dokter sedang memeriksa kondisi Raka saat ini.


"Keluhan nya seperti apa Nyonya?" Tanya dokter itu.


"Muntah-muntah setiap pagi dok, penciuman nya juga aneh, tapi kalo siang dia baik-baik saja." Jawab Lita.


"Gejala nya mirip dengan gejala morning sickness, apa Nyonya sedang hamil?" Tanya dokter itu lagi. Lita hanya mengangguk mengiyakan.


"Jalan minggu ketiga dok."


"Tuan Raka mengalami kehamilan simpatik, Nyonya." Ucap dokter itu sambil tersenyum.


"Maksudnya? Apa hal semacam itu ada dok?" Tanya Lita lagi.


"Tuan Raka mengalami morning sickness yang biasa nya di alami ibu hamil."


"Sampai berapa lama ini terjadi dok?" Tanya Raka.


"Biasa nya akan berhenti di bulan ke empat, atau bisa sampai bayi nya lahir Tuan." Jawab dokter itu, membuat Raka tertunduk lemas.


"Apa itu wajar dok?" Tanya Lita lagi.


"Wajar-wajar saja Nyonya, kasus seperti ini sudah sering terjadi. Kalau kata orang tua dulu, artinya suami nya terlalu mencintai istrinya, makanya gejala nya pindah." Jelas dokter itu, sambil tersenyum simpul.


"Saya hanya akan memberikan vitamin, dan obat pereda mual saja, karena tak ada penyakit yang membahayakan."


"Apa obat nya manis dok?" Tanya Raka, membuat Lita menepuk dahi nya pelan.


"Manis tuan, hanya sedikit kecut. Seperti permen." Jawab dokter.


"Ahh syukurlah. Terimakasih dok."


"Tugas saya sudah selesai Tuan, Nyonya. Saya permisi dulu." Pamit dokter itu setelah memberikan resep obat nya.

__ADS_1


Mama Renata pun mengantar dokter sampai ke halaman.


"Sayang, apa kau sangat mencintai ku?" Tanya Lita dengan senyum cerah nya.


"Ohh, tentu tidak."


"A-apa? Lalu kenapa?" Tanya Lita lagi.


"Sudah tau pake nanya, kamu gak lihat selama ini aku gimana yang? Kamu dunia ku sekarang, My Universe."


"Jangan buat mewek lagi, udah baikan? Mas Haris udah nungguin di luar." Ucap Bella, yang nyelonong masuk kamar, karena pintu nya terbuka lebar.


"Rusak suasana aja Lu." Ketus Lita, lalu masuk ke ruangan ganti, menyiapkan pakaian kerja untuk suami nya.


"Apa kata dokter Raka?" Tanya Bella.


"Kehamilan simpatik Bell."


"Wahh berarti Lu cinta banget sama Lita ya? Selamat ya dek." Ledek Bella.


"Masalah gue cinta sama Lita, itu emang bener pake banget Bell. Mengingat perjuangan berat yang gue laluin buat bisa luluhin hati nya, semua itu bukan hal yang mudah Bell."


"Apalagi saat luluhin hati si Haris, abang es kutub nya itu. Tapi ternyata dia mempermudah jalan ku untuk bersama adik nya, itu suatu keberuntungan buat gue." Jawab Raka.


"Syukurlah, gue percaya kok Lu bisa jadi suami yang baik buat Lita. Makanya gue mau bantuin Lu." Ucap Bella.


"Thanks ya."


"Heh Lu nyebelin ya, awas Lu." Gerutu Raka, sambil menatap tajam kakak ipar nya.


Lita keluar dari ruang ganti, dan melihat suami nya sudah duduk manis di sisi ranjang.


"Baju kerja nya udah aku siapin sayang, cepetan pake. Keburu telat, nanti di marahin Pak El." Ucap Lita, Raka pun berdiri dan mencium singkat bibir dan kening Lita, lalu pergi ke ruang ganti.


Lita pun turun ke bawah setelah membereskan tempat tidur nya hingga rapi.


"Mana abang Lit?" Tanya Brandon.


"Masih ganti baju Brand." Jawab Lita seadanya.


"Bang Raka sakit apaan sih?"


"Kehamilan simpatik." Cetus Bella, nimbrung dari belakang.


"Beneran?"


"Ya bener lah, masa boongan. Punya otak tuh di pake Brand." ucap Bella sinis.


"Yaelah gue kan kaget Bell, sinis amat. Lu punya dendam apa sih sama gue?"


"Gak ada sih, cuma suka gemes aja kalo lu telat mikir gitu." Ucap Bella sambil tertawa jahil.

__ADS_1


"Menyebalkan, otak gue kan beku. Tidur 9 bulan."


"Iya, kayak bunting aja 9 bulan." Ledek Bella.


" Siapa yang mau sih? Gue juga kagak mau Bell, tapi udah takdir nya, gak mungkin gue rubah kan?"


"Heem, dah sarapan?" Tanya Bella.


"Belum lah, nungguin abang-abang dulu. Yakali sarapan sendiri, kagak asik lah." Jawab Brandon.


Tak lama, terlihat Raka yang menuruni anak tangga dengan berpegangan pada sisi nya.


Dengan cepat Brandon mendekati Raka, takut nya dia masih pusing dan terjatuh.


"Gue bantu bang." Ucap Brandon, menuntun Raka.


"Thanks ya Brand." Brandon hanya menganggukan kepala nya.


Brandon menuntun Raka, sampai ke meja makan. Tapi Raka malah menutup hidung nya, karena ada kopi milik Haris di meja itu.


"Bau apa nih?"


Haris yang tau bau apa yang di maksud Raka pun, segera menyingkirkan kopi nya.


"Gak ada bau apa pun kok." Ucap Haris.


"Iya sih, tadi mah ada."


"Ayok sarapan dulu, keburu siang. Nanti di sidang Pak El." Ucap Lita, segera menyajikan sarapan nya.


Aneh nya, Raka tak pernah pilih-pilih kalau soal makan. Asal ada sambel, pasti dia makan dengan lahap.


🌻


Setelah selesai sarapan, mereka pun pergi ke kantor. Haris mengemudikan mobil nya cukup kencang, karena 30 menit lagi jam kantor akan di mulai.


Benar saja, saat mereka sampai dan turun dari mobil. Pak El sudah berdiri di pintu masuk, seperti kemarin.


"Hemm, tepat waktu. Bagus." Ucap Nya, sambil memperhatikan jam tangan nya.


"Andai saja Adam tak punya sekretaris, pasti Brandon aku rekomendasi kan." Gumam Elgar, saat melihat pria muda yang rajin dalam bekerja, juga selalu tepat waktu.


Setelah memastikan para sekretaris itu masuk tepat waktu, Elgar pun melenggang pergi ke ruangan nya.


Dia tegas jika masalah kedisiplinan pegawai, apalagi sekretaris yang merangkap menjadi asisten pribadi itu.


🌻🌻🌻



jejak nya jangan lupa ya wehh😁

__ADS_1


__ADS_2