
Hari ini adalah hari yang paling Brandon tunggu, kalian tau alasan nya? Ya apalagi kalau Marsya sudah selesai datang bulan, hal apalagi yang membuat mood pria menjadi sangat baik kalau bukan selesai nya tamu yang suka mengganggu itu.
Bahkan pagi ini Brandon berangkat bekerja dengan semangat, dia berniat menyelesaikan pekerjaan nya secepat mungkin agar bisa pulang lebih awal untuk mengerjai istri cantik yang suka marah-marah kalau lagi dateng bulan itu.
Seminggu sudah Brandon dan Mike jadi sasaran kemarahan Marsya, ada saja hal yang membuat nya marah. Bahkan hal sekecil pasir saja bisa menjadi masalah yang besar dan sangat merugikan bagi Brandon.
"Kenapa senyam-senyum gitu, lu gila ya?" Celetuk Raka yang baru saja datang, bersamaan dengan Haris.
"Gila apaan, abang kalo ngomong suka gak di saring dulu." Ketus Brandon.
"Ya masalah nya dari tadi gue perhatiin lu senyam-senyum terus kayak orang kurang we waras, atau setelah kawin otak lu geser ya?" Cecar Raka, sedangkan Haris hanya terkikik geli belakang punggung Raka.
"Ciee, jadi dari tadi abang merhatiin aku ya? Makasih lhoo."
"Isss amit-amit, udah ah gue mau rapat." Ucap Raka, merasa tak ada lagi yang harus di bicarakan. Apalagi Brandon mulai jahil.
"Tumben gak bawa kak Lita kemari bang?" Tanya Brandon lagi sambil menyodorkan kertas absensi.
"Ada Bella di rumah," Jawab nya singkat, padat, jelas.
"Ohh, bini gue pasti ngumpul disana juga kayak nya."
"Bisa jadi, tadi mereka mau nyeblak bareng katanya." Celetuk Haris dari belakang Raka yang masih mengisi absensi dan membubuhkan beberapa tandatangan.
"ohh yaudah kalo gitu."
"Kita ke ruangan dulu, yang semangat kerja nya." Ucap Raka, dia menepuk pelan pundak adik nya.
"Fighting Brand.." Haris juga memberi nya semangat, dan interaksi mereka tak luput dari penglihatan karyawan lain. Ada yang kagum, iri dengki juga.
Hanya Brandon satu-satunya karyawan yang bisa akrab dengan para petinggi perusahaan, termasuk Raka dan Haris yang menjabat sebagai Asisten tiga serangkai AM Group yang paling berpengaruh di perusahaan ini.
Di rumah, ketiga wanita cantik itu sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing, ada yang merebus kerupuk, menghaluskan bumbu-bumbu. Seperti perkataan Haris tadi, ketiga wanita itu ingin nyeblak bareng dengan resep Ibu nya Marsya. Jangan di ragukan lagi, seblak buatan Ibu Asih juara rasa nya.
"Kakak, mau gendong Baby Ralinsya boleh kah?" Tanya Marsya, sudah dari tadi dia memerhatikan Baby Ralin yang nampak anteng di asuh oleh baby sitter nya, tapi dia malu meminta pada Mina.
"Boleh, gendong aja, kenapa?"
"Hehee, malu sama mbak Mina." Ucap Marsya sambil nyengir.
"Gak usah malu kali, kamu kan tante nya ya gapapa kalau mau gendong, Brandon juga suka gendong baby Ralin, apalagi tangan nya pasti nusuk-nusuk pipi nya Ralinsya."
"Tapi kakak gak masalah kok, selama dia senang asalkan baby nya gak sampe nangis. Aneh aja, Baby Ralinsya itu pasti anteng kalo di gendong Brandon, gak pernah rewel." Jelas Lita, tangan nya sibuk mengaduk bumbu di wajan dengan spatula.
"Nyaman kali kak.." Celetuk Marsya, dia menggendong baby Ralinsya dan sesekali mengecup pipi gembul nya.
__ADS_1
"Ehh ponakan aunty senyum, ihh cantik banget sihh."
"Kamu pake kontrasepsi gak, Sya?" Tanya Bella.
"Enggak kak, kenapa?"
"Mau langsung punya anak ya?" Tanya Lita.
"Aca mah sedikasih nya aja, di kasih cepet ya syukur, kalo pun harus nunggu ya gapapa."
"Bagus, gak boleh pake gituan nanti kalo mau punya anak suka susah." Cetus Bella.
"Enggak pake apa-apa kok kak, kontrasepsi alami aja palingan."
"Ada gitu yang alami Sya?" Tanya Lita.
"Ada dong, ya keluarin nya di luar." Jawab Marsya sambil terkekeh.
"Iya juga sih, kenapa ga kepikiran ya."
"Kamu kan lola.."
"Lu juga sama kak." Ucap Lita tak mau kalah.
"Iya deh terserah adek ipar aja, seblak nya udah mateng yuk makan." Ajak Bella. Mereka pun memakan seblak buatan mereka dengan segala kerempongan ala ibu-ibu itu, Mina juga ikut bergabung karena paksaan dari Lita.
....
Sore hari nya, Brandon bersiap akan pulang. Tentu nya dengan senyuman yang tak pernah hilang sejak tadi pagi, inilah moment yang sangat dia tunggu-tunggu.
Brandon melajukan sepeda motor nya dengan terburu-buru, tapi baru setengah perjalanan motor matic itu malah ngadat dan tak mau melaju lagi, seperti nya dia lelah.
"Arrgghh, sialan motor bututt.." teriak Brandon frustasi, dia menendang-nendang motor nya karena kesal.
Brandon akhirnya duduk di sisi trotor dan menopang dagu nya dengan kedua tangan, menunggu angkutan umum lewat.
"Sialan,kenapa gue berharap bisa naek angkot padahal daerah rumah gue gak bisa di lewatin angkutan umum."
"Sial banget nasib gue hari ini," Gerutu Brandon, dia sangat kesal bukan main.
Tinn.. Tinn..
Suara klakson mobil membuat nya punya harapan, dan apa yang di harapkan nya benar terjadi. Raka datang dengan wajah panik nya.
"Kenapa Brand?" Tanya nya dengan raut wajah khawatir. Apalagi saat melihat wajah Brandon yang memerah dan keringat yang mengucur dari dahi nya.
__ADS_1
"Motor sialan itu mogok, bang." Jawab nya ketus.
"Hoalah, abang kira kamu sakit.."
"Gue baik-baik aja, cuma nih motor bikin gue darah tinggi." Jawab Brandon ketus.
"Yaudah ayo pulang, biarin nih motor abang yang urus nanti."
Brandon mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil abang nya.
"Gimana bisa mogok sih, tadi kan baek-baek aja?" Tanya Raka.
"Mana gue tau bang, gue cuma tau make nya doang."
"Udahlah, nanti abang telepon montir buat benerin motor lu." Ucap Raka.
"Thanks ya bang, untung aja lu lewat tadi."
"Kenapa gak nelpon aja sih?" Tanya Raka lagi.
"Hape nya habis batre, metong." Raka menggelengkan kepala nya, ada-ada saja nasib sial Adik nya ini.
....
Brandon berjalan gontai masuk ke dalam rumah, bahkan tak melirik sedikit pun ke arah papa nya atau Kakak nya.
"Kenapa tuh anak?"
"Kerasukan setan diem kali." Celetuk Mike dengan wajah datar tanpa ekspresi nya.
"Husstt, gak boleh gitu. Kali aja adek mu itu lagi punya masalah."
"Iya-iya papa.." jawab Mike, lalu melanjutkan acara berkirim pesan dengan gadis pujaan nya, Hanna.
Brandon membuka pintu kamar secara perlahan, dia tak mau mengganggu kegiatan apapun yang dapat memancing emosi istri cantik nya.
"Sudah pulang sayangku?" sambut Marsya dengan senyum manis, dia meraih tas kerja dari tangan suami nya, juga melepaskan dasi yang mengikat ketat di leher suami nya.
"Aku cape yang.." Keluh Brandon.
"Aku mandiin yuk," Tawar Marsya, membuat wajah Brandon berbinar cerah.
Marsya menarik tangan suami nya ke kamar mandi, dia sudah menyiapkan air hangat di bath up tadi. Dia tau betul jam berapa suami nya pulang.
🌻🌻
__ADS_1
buka puasa nya di bab selanjutnya ya, nanti up lagi🤭 maaf kalo garing atau ngebosenin🙏