
Sore hari nya, Hanna pamit pulang karena sudah beberapa kali ibu nya meneror dengan panggilan telepon hingga membuat berisik dan Hanna tak nyaman dengan hal itu.
"Sya, aku pulang dulu ya. Bu bos udah nelponin mulu nih." Pamit Hanna.
"Yahh, padahal masih kangen nihh. Sering-sering main kesini ya, soalnya aku udah gak kerja di kantor lagi, suami aku ngelarang." Ucap Marsya, ya memang Brandon melarang nya untuk kembali bekerja, apalagi sebagai OG.
"Enak nya kalau udah punya suami, ada yang jamin. Tidur juga ada yang meluk" Celetuk Hanna, dengan bibir yang mengerucut lucu.
"Iya dong, mana bisa plus-plus lagi. Pokok nya mantap." Ucap Marsya dengan senyuman jahil nya.
"Ihh kamu jadi mesoom setelah menikah, ya ampunn!"
"Kamu belum tau enak nya, nanti kalau udah sekali pasti ketagihan aku aja gitu." Ucap Marsya lagi, membuat wajah Hanna memerah malu. Karena sejak menikah, sahabat nya ini jadi mesoom dan sering bertingkah.
"Iya deh terserah pengantin baru aja, udah ya aku pulang dulu ini emak aku nelponin mulu."
"Yaudah, hati-hati di jalan nya sayang ku. Sering-sering maen kesini biar aku gak bosen." Ucap Marsya lagi.
"Ya, aku kan kerja bestie. Kecuali kalau udah ada yang nafkahin." Gurau Hanna lagi.
Saat tengah berbincang ala teman baik, Mike keluar dari kamar nya hanya dengan kaos polos bertangan pendek dan celana kargo pendek selutut.
"Kakak, kebetulan banget.." Panggil Marsya, membuat Mike yang hendak ke dapur menghentikan langkah nya, dan berbalik menatap sang adik ipar.
"Napa dek?" Tanya nya.
"Anterin Hanna pulang dong, kasian. Nyari taksi pasti susah kalo udah sore gini."
Wajah Mike memerah setelah mendengar ucapan Marsya, ingin dia menolak tapi kesempatan bagus untuk mendekatkan diri tak tau kapan datang lagi.
Melihat Mike yang diam, Hanna merasa tak enak dan menyimpulkan kalau Mike tak mau mengantarkan nya pulang.
"Gak usah Sya, aku bisa sendiri kok. Aku bisa pesan taksi online pake aplikasi."
__ADS_1
"Saya antar, tunggu saya ambil jaket dulu." Setelah mengatakan hal itu, Mike pergi ke kamar nya dan tak lama dia sudah keluar lagi dengan menenteng jaket berwarna hitam.
"Hati-hati di jalan ya kakak ipar.." Teriak Marsya, karena Mike dan Hanna sudah berada di parkiran.
Setelah mobil itu melaju, Marsya masuk dan tersenyum geli saat melihat ekspresi malu-malu kakak ipar nya itu.
"Dasar, udah tua juga tapi masih aja malu-malu." Gumam Marsya.
"Siapa sayang?" Tanya Brandon yang seperti nya baru bangun tidur, setelah di susui oleh istri nya.
"Kakak mu, tadi aku suruh dia nganter Hanna. Eh, wajah nya malah memerah kayak orang alergi udang." Jawab Marsya.
"Anggap aja itu puber pertama nya sayang, ayo kamu mandi sekarang bau asep." Ucap Brandon, dia sudah mulai nakal lagi dan tangan nya sudah meraba-raba hal yang tak pantas di sentuh disaat seperti ini.
Marsya mencebikkan bibir nya kesal, dia tau apa arti di balik kata 'MANDI'. Pastilah itu bukan mandi biasa, tapi mandi dengan kaldu asin keringat.
"Kamu gak denger? Papa manggil tuh.." Brandon melepaskan pelukan nya dari pinggang Marsya, dan kesempatan itu Marsya pakai untuk menjauh sejauh mungkin dari jangkauan suami nya, saat ini dia tak mau melakukan nya.
"Sialan, kenapa gak ngeh dari awal sihh.." Gerutu Brandon, dia mengepalkan tangan nya dan meminju udara, dia sangat kesal karena gagal mengerjai istri cantik nya sore ini.
sedangkan di jalan, tepat nya di dalam mobil. Disana sedang terjadi kecanggungan luar biasa, khusus nya untuk Mike yang dari awal memang mengincar gadis yang duduk manis di samping nya itu.
"Kak, disana ada warung seblak. Mau mampir dulu gak?" Tanya Hanna.
"Boleh, aku juga ingin mencoba nya." Lancar, kemana kegugupan yang sedari tadi melanda?
Benar saja, Mike menghentikan mobil nya di depan warung seblak langganan Hanna bersama Marsya.
"Dulu, kalo pulang kerja aku sering kesini sama Aca. Tapi setelah Aca jadian sama Kak Brandon, dia jadi jarang punya waktu sama aku karena di antar jemput sama kak Brandon." Hanna bercerita, padahal Mike sudah memasang ekspresi datar nya tapi tetap mendengarkan.
"Terus, kalo makan seblak biasa nya pedes gak?"
"Hanna gak terlalu suka pedes kak, beda sama Aca dia tuh doyan banget makan pedes, biasa nya beli disini dia pake 10 sendok cabe." Jelas Hanna, dia sudah mulai akrab dengan kakak ipar sahabat nya itu.
__ADS_1
"Yaudah kamu yang pesen ya, aku gak tau ada apa aja. Nanti aku yang bayar."
"Oke, aku kesana dulu sebentar." Hanna bangkit dan terlihat mencatat di buku dengan serius.
Meninggalkan dua sejoli yang sedang berusaha pendekatan, lain hal nya dengan keadaan Raka yang sedang uring-uringan sore ini.
Kenapa lagi sih? Ya karena jatah nya harus tertunda lagi, karena setiap mereka akan melakukan penyatuan Baby Ralinsya selalu terbangun.
"Dah, nyari baby sitter aja."
"Gak usah Mas, aku masih bisa handel kok." Jawab Lita.
"Iya, tapi senjata ku terbengkalai, kurang belaian dan kepuasan." Ketus Raka.
"Ya terus aku harus gimana, Mas?"
"Harus adil, kalau siang kamu sama Baby Ralin terus aku kerja, malem nya kamu sama aku. Paham gak?" Ucap Raka sinis, bagaimana tidak sebal coba, saat sudah hampir saja masuk semua ehh malah Ralin terbangun, padahal udah bernafsu sampe ke ubun-ubun.
"Yaudah, cariin aja baby sitter, tapi dari penyalur yang udah terpercaya ya."
"Sip, aku nyari sekarang." Raka tersenyum puas setelah mendengar jawaban istri nya, dia sudah membayangkan akan menghajar istri nya semalaman dengan leluasa, tanpa gangguan dan tanpa suara tangisan!
Raka mengambil kembali pakaian nya yang sudah teronggok mengenaskan di lantai dan kembali memakai nya.
Dia masuk ke kamar mandi dan menatap senjata nya yang terkulai lemas.
"Sabar ya Juniorr, sebentar lagi kamu akan di pakai berperang selama yang kau mau." gumam Raka, lalu segera memakai pakaian nya dan keluar kamar.
🌻🌻
Alur nya ngebosenin gak sih? Kalo iya, maaf ya🙏🙏
__ADS_1