
Marsya dan Brandon masuk ke dalam ruangan Lita, hingga membuat perhatian semua orang tertuju pada nya yang masuk dengan wajah datar sambil menggenggam tangan Marsya.
"Brand, darimana aja?" Tanya Lita.
"Habis sarapan sama Aca kak, udah lebih baik? apa masih ada yang sakit?"
"Hanya tinggal ngilu nya aja," Jawab Lita dengan senyum simpul nya, ternyata Brandon sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Syukur deh, aku pamit dulu mau nganter pulang calon istri."
"Iya, hati-hati di jalan, jangan ngebut ya Brand. Inget bentar lagi kawinan." Ledek Lita, membuat wajah Marsya memerah karena malu oleh ucapan calon kakak ipar nya.
"Kakak buat Aca malu, nanti aku kesini lagi buat liat dede bayi nya."
"Gak usah malu-malu kali Sya, yaudah ingat hati-hati di jalan nya.." Peringat Lita sekali lagi.
"Iya kakak ipar ku yang cantik, mandiri dan tidak sombong." Brandon pun pergi keluar ruangan bersama Marsya, membuat tatapan heran kedua wanita yang sejak tadi hanya diam dan bertanya-tanya, siapa kira nya lelaki muda yang memanggil kakak pada istri Raka?
"Gak usah gitu kali natap nya, dia adik ku Brandon." Jelas Lita, mengerti dengan tatapan heran kedua wanita yang berstatus ibu dan anak itu.
"Adik? Tapi dia terlihat seperti seumuran dengan mu kak.." Tanya Anita, dari tadi hanya dia yang aktif bertanya, sedangkan Sinta memilih sering diam, begitu juga Danu dia masih tertampar oleh ucapan menantu nya.
"Ya, dia memang adik angkat nya Mas Raka. Dia yang menyelamatkan aku saat kecelakaan dua tahun lalu." jelas Lita.
"Bagaimana bisa?"
"Ya ini ada campur tangan ayah Farhan juga sih, beliau menjodohkan Mas Raka dengan wanita bule. Tapi Mas Raka gak mau, karena saat itu kami sudah pacaran meski backstreet. Dan ya, wanita itu dendam padaku, kamu tebak sendiri lah."
"Terus hubungan nya sama Brandon apa?" Tanya Anita lagi.
"Brandon sahabat kakak waktu kuliah, An. Dan wanita yang hampir menabrak kakak itu adalah kakak kandung nya sendiri, kamu percaya? Dia membangkang kakak nya sendiri demi menyelamatkan aku, An." Jelas Lita lagi.
"Saat itu aku tengah hamil muda, karena benturan yang cukup keras di perut ku, itu membuat janin ku tak bertahan dan dia pergi, bahkan sebelum aku sempat melihat nya. Setelah kecelakaan itu, aku kritis selama 2 bulan, dan Brandon koma sembilan bulan lebih."
"Juga karena benturan kuat di kepala nya, dia juga mengalami amnesia. Begitu miris perjalanan hidup ku saat itu, aku di vonis akan susah hamil, bahkan ayah Farhan menyebut ku wanita mandul. Butuh satu tahun lebih setelah kecelakaan itu untuk aku kembali mengandung, dan ya sekarang aku sudah punya putri cantik, meski harus menunggu waktu yang cukup lama."
__ADS_1
Lita bercerita dengan sesekali menyeka sudut mata nya, ada banyak rasa sakit di masa lalu yang sudah dia jalani demi bisa bersama Raka.
Danu berkaca-kaca setelah mendengar cerita dari menantu nya itu, betapa bersalah nya dia membiarkan anak dan menantu nya tersakitin oleh ulah Farhan, lelaki bejatt yang sudah banyak kali menyakiti anak menantu nya.
"Farhan tidak memperlakukan mu dengan baik sayang?" Tanya tante Sinta. Sedikit banyak dia tau tentang seluk beluk seorang Farhan, lelaki bejatt yang suka mempermainkan wanita. Yeah, sama seperti lelaki yang menjadi suami nya, dia juga penikmat ranjang panas secara bebas.
Lita tersenyum kecut dan kemudian menggelengkan kepala nya, dia masih ingat di perlakukan bagai pembantu oleh Farhan dan Catherine, hingga tangan nya terluka karena di suruh membereskan pecahan piring karena amukan Farhan, hanya karena masakan Lita tak sesuai dengan selera lidah nya.
"Andai saja aku lebih cepat tau, mungkin kalian takkan terlalu menderita, ini semua ulahku." Rutuk Danu, dia menunduk dalam. Penyesalan nya sangat dalam saat ini.
"Tak apa, tak usah menyesali hal yang sudah terjadi Yah."
"Aku bangga, punya kakak dan kakak ipar yang baik juga penyabar." Ucap Anita, dia memeluk Lita dengan erat.
"An, kau membuat ku sesak.." Lirih Lita, hingga membuat Anita melerai pelukan nya.
"Hehee, maafin Anita ya kak. Anita lupa kalau kakak masih sakit." Jawab Anita sambil cengengesan.
"Kamu sudah punya anak, An?" Tanya Lita.
"Wah berarti sudah besar ya?" Tanya Lita lagi.
"Sudah usia 6 tahun kak, aku kan pas nikah udah isi."
"Hamil duluan ya?" Ceplos Lita, tapi langsung menutup mulut nya dengan tangan.
"Kenapa? Gapapa kok, itu memang kesalahan aku, jadi aku gak bakalan tersinggung dengan hal sepele macam itu." Jawab Anita santai, dia sudah terbiasa dengan hal semacam ini, dia tak pernah serius menanggapi omongan di luaran sana, toh itu memang fakta.
Dia tak mau terbebani dengan omongan orang lain, buat apa? Gak ada guna nya! Mereka hanya membicarakan keburukan orang lain, tanpa mau mengaca. Apalagi Anita terbiasa hidup di luar negeri, pergaulan nya pun sangat bebas, teman nya dulu sudah punya dua anak tapi belum menikah, tapi berbeda dengan negara ini dari pergaulan dan budaya nya juga.
"Kamu tak mempermasalahkan hal itu An?"
"Untuk apa? selama suami aku baik dan bertanggung jawab, buat apa dengerin perkataan orang? Toh yang ngasih aku uang sama makan kan suami aku, bukan tetangga atau pun orang lain. Jadi hal itu gak penting menurut aku, biarin aja mau sampai berbusa pun aku gak bakal lawan."
"Nurutin kemauan manusia mah gak bakal ada habis nya kak, mereka hanya mengikuti hawa nafsuu aja." jelas Anita, sangat tepat sasaran.
__ADS_1
"Kok bisa kamu secuek ini sih, An. Aku harus belajar bodo amat dari kamu sepertinya."
"Intinya gini kak, jangan terlalu peduli pada orang yang belum tentu juga peduli sama kita. Istilah nya harus ada timbal baliknya gitu lho." Ucap Anita santai.
"Kamu kayak Bella.." celetuk Lita.
"Bella? siapa Bella kak?"
"Dia istri kakak aku, An." Jawab Lita dengan senyum manis yang terukir di bibir mungil nya, dia merasa punya teman yang bisa di ajak curhat, terlebih sikap Anita yang apa adanya, sangat asik jika di ajakin ghibah. Eh!
"Aku gak tau kak."
"Iyalah, kalian belum pernah bertemu kan. Sebentar lagi mereka pasti kesini." ucap Lita. Tapi tiba-tiba saja Jo masuk ke ruangan dengan wajah ceria nya.
"Sayang, ayo pulang kita juga harus menjemput anak kita ke sekolah nya."
"Ahh ya aku lupa, baiklah aku pamit dulu kakak ipar, besok aku kemari lagi." pamit Anita.
"Baiklah, hati-hati di jalan An." Anita mengecup pipi kiri dan kanan kakak ipar nya, secepat itu mereka bisa mengakrabkan diri.
Tak lama, Raka juga masuk dengan wajah datar nya. Tante Sinta yang melihat itu mengernyit heran, anak itu selalu berwajah datar, apalagi pada Suami nya. Apa hubungan mereka baik-baik saja? Jawaban nya tidak!
"Waktunya makan sayang, Mama juga lagi kesini."
Dan benar saja, hanya beberapa menit berselang Mama Renata datang dengan troli bayi nya. Dia menatap Danu dengan wajah masam nya, dia masih sangat membenci pria tua itu.
"Makan nya sambil ngasih ASI ya sayang, dede nya laper dari tadi bobo nya nyenyak." Lita menganggukan kepala nya, secepat kilat Raka mengambil nasi di piring dan menyuapi istri nya dengan telaten.
Tentu saja sepasang suami istri yang maish terasa asing itu kompak menyunggingkan senyum nya, melihat betapa perhatian nya Raka pada istri nya. Jelas dong, Lita kan istri kesayangan nya Bang Raka!
🌻🌻🌻
Dede bayi nya belum di kasih nama nih, ada rekomendasi nama gak sih?🤭🤭😂
jangan lupa tinggalkan jejak, dan tap favorit, mau kasih hadiah juga boleh deng, bunga atau kopi gitu biar semangat ngetik nya😁
__ADS_1