
Sore hari nya, saat Haris dan Bella sudah pulang. Lita dan Raka kembali ke kamar nya, entahlah sejak dia tau kalau kakak ipar nya sudah kembali mengandung, ada sedikit rasa sesak di dada nya.
Bukan nya dia tak senang dengan kabar kehamilan Bella, tapi kapan dirinya akan kembali mengalami hal membahagiakan itu? Sudah cukup lama sejak kehamilan pertama nya, tapi sampai saat ini masih belum ada tanda-tanda.
"Yang kenapa?" Tanya Raka, saat melihat wajah Lita yang murung.
"Enggak kok Mas, aku gapapa." Jawab Lita, dengan senyum yang di paksakan.
"Jangan berbohong, aku tau kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari ku. Ayo bicaralah, apa yang mengganggu pikiran mu sayang." Ucap Raka, dia tau istri nya pasti punya masalah, tak biasa nya dia akan murung seperti ini.
"Dulu kita menantikan buah hati itu cukup lama, tapi saat momen itu datang aku malah kecelakaan dan anak kita pergi. Tapi sekarang aku juga harus menunggu lagi, entah sampai kapan." Jawab Lita sendu.
Raka menghela nafas nya pelan, selalu saja seperti ini. Lita pasti akan jadi sensitif jika menyangkut hal anak.
"Apa tak ada masalah yang lain? Aku sudah bilang, semua akan ada waktu nya sayang."
"Tapi kapan Mas? tetangga kita selalu tanya, kapan aku punya anak. Tapi ini bukan keinginan ku untuk susah hamil lagi." Ucap Lita.
"Siapa yang menginginkan hal itu terjadi sayang, takkan ada yang mau. Jadi jangan selalu mengeluh hal seperti ini, percaya lah keajaiban itu pasti datang." Raka mengusap wajah Lita dengan sayang, dia sangat mencintai istri nya ini.
"Walau apapun yang terjadi, kita akan tetap bersama. Aku takkan pernah meninggalkan mu sayang."
"Jika kamu tak bahagia denganku, aku mengizinkan mu jika kau mau menikah lagi. Asal kamu bahagia, aku gapapa." Ucap Lita, yang mana membuat ekspresi Raka berubah.
"Kau ingin aku menikah lagi hah? Baiklah, aku akan melakukan nya jika itu memang keinginan mu."
"Tapi satu hal yang perlu kau ketahui, aku takkan pernah menyentuh atau pun belajar mencintai wanita lain selain dirimu."
"Kau jangan egois, aku menerima kekurangan dan kelebihan mu karena aku benar mencintai mu, tapi jangan pernah berfikir karena aku mencintaimu kau bisa berbuat sesuai keinginan mu." Ucap Raka tegas, sudah cukup dia mendengar kata-kata itu dari mulut Lita.
Tak cukup kah dengan kasih sayang dan perhatian nya selama ini membuktikan kalau dia sangat mencintai nya? Dia menerima semua yang ada di dalam diri Lita begitu dia menikahi wanita itu, tapi kenapa Lita selalu meminta nya untuk menikah lagi hanya karena dia susah hamil?
"Maaf.. " Ucap Lita lirih sambil menunduk.
"Jangan membuatku marah Arlita, sampai kapan pun aku takkan pernah menikah lagi dengan siapa pun. Camkan itu." Raka bangkit, dan pergi keluar. Membanting pintu cukup keras hingga berdebum dan membuat Lita terlonjak kaget, suami nya marah.
Tentu saja dia marah, kata-kata Lita yang menyuruh nya menikah lagi seolah dia tak bisa menerima keadaan Lita yang di vonis akan susah hamil lagi, karena benturan di perut nya membuat rahim nya terluka.
🥀
Di bawah Raka sedang melamun di teras, dia tak habis pikir dengan istri nya itu. Kenapa selalu menuntut agar dirinya menikah lagi, padahal dia tak terburu-buru ingin punya anak, dia malah ingin menikmati momen kebersamaan nya dengan istri nya itu.
"Kenapa bang?" Tanya Brandon, yang baru saja pulang dengan setelan santai nya.
__ADS_1
"Lu dari mana?" Tanya balik Raka.
"Di tanya malah balik tanya sih, habis jalan-jalan aja sih bosan di rumah terus."
"Pusing gue Brand." Keluh Raka, saat Brandon sudah duduk di samping nya.
"Kenapa lagi Bang?"
"Lita nyuruh gue kawin lagi, cuma gara-gara dia susah hamil." Jawab Raka.
"Emang nya Lu ngebet pengen punya anak gitu?" Tanya Brandon.
"Enggak lah, gue mah sedikasih nya aja. Gapapa kalo harus nunggu lama, gue gak masalah. Dari awal nikah juga gue dah bilang, kalau dia mau nunda kehamilan nya dulu gue gapapa, fokus aja kuliah dulu."
"Tapi Lita nya kagak mau, yaudah jadi gue biarin. jadi ya syukur, gak jadi juga gapapa berarti harus lebih usaha nya."
"Cuma emang kalau gak punya anak setelah nikah itu berasa hambar aja, tapi gue gak ngebet kok." Jelas Raka.
"Mungkin Lita nya gak PD aja Bang, Lu juga harus ngerti. Bujuk dia dengan lembut, jangan menyelesaikan masalah dengan emosi. Gak baek." Ucap Brandon bijak.
"Gue pusing aja, udah keseringan dia minta gue nikah lagi. Ya jelas gue kagak mau lah, gue cuma cinta sama istri gue aja, Lita."
"Gue ngerti kok Bang, tapi Lu juga harus ngerti gimana rasa nya jadi Lita. Dia pasti insecure sama sekitar nya, apalagi Bella dah hamil lagi kan. Pasti nyesek lah." Ucap Brandon.
"Iya gue cuma jadi kambing conge aja disini." Kedua nya pun tertawa, tapi tawa itu seketika terhenti saat ponsel Raka berbunyi.
"Hallo bos.. "
"Ada apa Bim?" Tanya Raka, pada anak buah nya yang bernama Bima.
"Nona Catherine bunuh diri bos, dia gantung diri."
"Apa?." Tanya Raka dengan semua keterkejutan nya.
"Iya bos, saat ini kami masih belum menurunkan nya, kami menunggu bos kesini."
"Saya kesana sekarang." Putus Raka, dia mematikan sambungan telpon sepihak.
"Kenapa Bang?"
"Kakak Lu bunuh diri Brand, mau ikut ke markas?" Ucap Raka, tapi yang di maksud markas oleh Raka adalah markas kecil di tengah hutan, bukan markas besar milik Red Rose.
"Gue ikut bang, pengen lihat tuh orang yang lu bilang kakak gue." Jawab Brandon. Raka mengangguk dan segera pergi setelah berpamitan pada Mama nya.
__ADS_1
"Ma, Raka sama Brandon pergi dulu ada urusan. Kalo Lita nanyain, bilang aja pulang nya agak maleman." Ucap Raka, Mama Renata hanya mengangguk saja. Dia tak ingin memberitahu Mama nya kalau madu nya bunuh diri.
"Lu gak takut darah atau hal-hal yang berbau kekerasan?" Tanya Raka sambil menyetir.
"Takut apaan, gue suka malah. Apalagi mafia, kalau Lu mafia gue ikutan lah."
"Lu amnesia tapi tau mafia, jangan-jangan lu pura-pura aja." Tebak Raka.
"Yakali aja gue pura-pura, gue tau mafia itu dari novel online. Bosen gue kalo cuma nonton drakor, gue juga butuh baca." Ucap Brandon.
"Gue kira Lu pura-pura amnesia aja."
"Tapi beneran ya ini kakak gue yang mati Bang?" Tanya Brandon.
"Ngapain gue becanda sih, Lu kebanyakan cingcong, diem lah gue lagi fokus bawa mobil liat jalan nya tuh. Kayak sungai kering."
"Markas tuh harus nya di tengah kota, bukan di hutan kek gini. Jadi nya jalan nya gak pernah di aspal, bikin sakit badan." Ucap Brandon.
"Heh bocah tau apaan? Mana ada markas penyiksaan di tengah kota, yang ada kantor polisi penuh sesak kalo bikin markas sesuai ucapan lu."
"Wahh, iya juga sih. kenapa gue lola ya?" Tanya Brandon.
"Kebanyakan makan micin sih, jadi nya otak Lu itu gak berkembang, cuma jalan di tempat aja."
"Sejak kapan otak punya kaki sampe bisa jalan di tempat?" Tanya Brandon.
Raka sudah kesal dengan perdebatan unfaedah ini, jadi dia hanya diam saja meski Brandon terus saja mengoceh.
"Bukan nya sedih kakak nya mati, ini malah bikin orang lain pusing dengan kekonyolan nya. Pusing gue." Gumam Raka.
🌻🌻🌻
Brandon nya nyebelin yee bang🤭🤭🤭
🥀🥀
Sedikit curhat ya😁 Aku sekarang lagi kesel plis sedih juga, kenapa yang favorit di novel aku makin hari berkurang terus? Kemaren udah 74, sekarang kembali lagi jadi 70, apa kalian unfav novel ini? Ya gapapa sih, tapi aku sedih aja😅
buat yang masih favoritin novel ku ini, terimakasih ya, author cuma bisa bilang itu. Dan jangan bosen baca tulisan author yang kadang ngebosenin ini☺️ Tetap jadi pembaca setia ya, terimakasih😘
Sekian curhat pendek saya🤭🤭
Salam hangat dari Raka&Lita❤️
__ADS_1