
Raka membawa Lita pulang, tangan nya terus menggenggam tangan Lita, seolah tak membiarkan dia pergi atau sekedar menjauh saja. Lita miliknya, dan akan selalu begitu.
Akhirnya dia bisa bernafas lega, karena sudah bicara semua nya pada Lita, meski pun sebenar nya Lita sudah tau ,tapi tak masalah.
" Yang, jika pria tadi mengganggumu, bilang pada ku atau pada Bella ya?" ucap Raka.
" Tentu saja, selain pada Abang dan Kakak aku selalu bicara semua nya pada Bella." Jawab Lita, dia belum tau kalau Bella adalah mata-mata Lita di kampus.
" Termasuk apa yang aku lakukan pada mu?" Tanya Raka.
" Aku tak semurah itu sayang, aku masih punya rasa malu." Jawab Lita ketus.
" Haahha, aku lupa sayang. Soalnya kamu kalo sudah sama aku tuh konyol nya suka kambuh."
" Seperti nya itu adalah alasan kenapa kita cocok kak, kita sama-sama konyol dan sengklek." Jawab Lita.
" Heemmm, iya sayang."
🥀
Waktu terasa berjalan dengan cepat jika sudah bersama Lita. Dia ingin mengantarkan Lita ke rumah nya, tapi hati nya menginginkan Lita tinggal di apartemen nya, menyambut nya setiap pulang bekerja, atau sekedar memijit kepala nya seperti tadi pagi.
Tapi dia tak boleh egois, dia harus memiliki alasan yang sangat kuat untuk bisa menahan Lita agar tetap di apartemen nya. Dan itu adalah pernikahan yang sah di mata hukum dan agama.
Terlihat Haris sudah berdiri sambil melipat tangan di dada nya, saat melihat mobil Raka parkir di halaman rumah nya.
" Dari mana aja kalian berdua? Ngapain aja?" Baru saja Raka dan Lita turun dari mobil, sudah di berondong banyak pertanyaan.
" Dari apartemen, terus ke mall, terus ke danau setelah itu pulang." Jawab Raka.
" Ohh baiklah." Ucap Haris.
" Lita ke kamar dulu." Pamit Lita, Haris dan Raka hanya mengangguk mengiyakan tanpa mejawab.
Raka memilih duduk di kursi teras, dia sangat suka dengan suasana Rumah Haris, masih terdapat kebun-kebun warga, dan membuat udara nya lebih segar.
" Kenapa?" Tanya Haris, dia baru keluar lagi dengan membawa secangkir kopi tanpa gula untuk Raka. Lalu meletakan nya di depan Raka.
" Gue lega Ris, gue dah cerita semua nya dan Lita gak mempermasalahkan hal itu." Jawab Raka.
" Syukurlah, walau gue tau itu bukan seratus persen kesalahan Lu, tapi gue gak bisa maksain kehendak gue supaya dia nerima Lu, karena itu masalah Hati dan buat kebahagiaan adek gue." Ucap Haris.
" Dan ternyata Ris, dia dah tau semua nya sebelum gue ceritain."
__ADS_1
" Maksud lu?" Tanya Haris.
" Waktu gue curhat ke Lu, Lita ngikutin kita dan nguping keluh kesah gue. Maka nya dia diemin gue, karena ngerasa kesal karena gue lebih milih curhat sama Lu, bukan sama Dia." Jawab Raka.
" Terlepas dari itu semua, gimana hubungan Lu sama orang tua Lu?" tanya Haris.
" Gimana apa nya Ris? Ya tetep aja gini, gak ada perubahan. Gue males Ris, mau di telpon atau gue samperin, mereka selalu ngajakin gue ribut mulu." Jawab Raka.
" Terus gimana?"
" Lah Elu kepo amat, nanti dah gue bilangin semua nya ke Elu. Btw hubungan Lu sama Bella gimana?" tanya Raka, mengalihkan pembicaraan.
" Baik, hubungan gue datar-datar aja sih. Yang penting jangan ada pihak ketiga aja." Jawab Haris.
" Si Bella tuh setife sama Lita, sama-sama pecicilan dan doyan makan."
" Darimana lu tahu?" Tanya Haris.
" Yaelah, gue dah liat gimana semangat nya dia saat gue traktir makan seblak, dia sampe pesen dua mangkok, di bungkus juga." Ucap Raka.
Haris hanya menyengir kuda, sifat kekasih dan adiknya memang tak jauh berbeda, dari hobi dan makanan favorit. Dia merasa seperti memacari adiknya sendiri, hanya berbeda nama dan postur tubuh saja.
Mereka lanjut berbincang, hingga sore hari.
🥀
Raka melajukan mobilnya nya dengan kecepatan sedang, dia sedang memikirkan bagaimana bicara damai dengan kedua orang tua nya yang sama-sama egois.
Tak butuh waktu lama, Raka sudah sampai di parkiran apartemen ,setelah keluar dan mengunci mobil nya dia langsung pergi ke unit nya dengan langkah lebar nya.
Setelah di dalam, Raka mendudukan tubuh nya di sofa ruang tamu apartemen. Terasa sepi dan sunyi, kemarin ada celotehan Lita yang menemani nya. Tapi sekarang? Lita sudah di pulangkan kepada abang nya, tinggal lah dia sendiri, Lagi.
Di tengah lamunan Raka, tiba-tiba ponsel nya berdering nyaring. Raka cukup terkejut dan langsung mengambil ponsel dari saku celana nya dan segera mengangkat nya, setelah membaca siapa orang yang menelpon nya saat ini.
" Hallo."
" Hallo, Nak. Apa kabar?" Tanya seorang perempuan, Ibu Raka.
" Tumben menanyakan kabar ku, apa karena Ibu sudah di duakan ayah, begitu?" Tanya Raka sinis, selama ini ibu maupun ayah nya tak pernah menyanyakan kabar atau kondisi Raka, mereka akan menelpon jika ada kepentingan dan di akhiri dengan perdebatan.
" Ibu hanya ingin tau, sudah lama tak berbicara dengan mu." Ucap Ibu, suara nya mulai melunak.
" Aku baik, sangat baik malahan." Jawab Raka malas.
__ADS_1
" Kapan kau akan ke kesini nak?"
" Untuk apa? Menemui perempuan yang ingin di jodohkan dengan ku? atau sekedar menjebak ku, seperti terakhir kali?" Tanya Raka, dia sudah sangat bisa menebak Ibu nya.
" Tidak nak, ibu merindukan mu."
" Aku tidak, kemana saja selama ini Bu? Apa kau pernah ada saat aku sakit atau sedang kesusahan? Disini aku hanya ada teman ku, kakak dari kekasih ku yang selalu mendukung dan mengkhawatirkan ku." Ucap Raka, sendu.
" Maafkan Ibu nak, ibu tau ibu salah."
" Sudah tau salah, kenapa terus di ulangi Bu? Katakan, ada apa menelpon? Aku lelah bersandiwara." Ucap Raka ketus.
" Ayah mu mengabaikan Ibu dan sibuk dengan Catherine, istri muda nya."
" What? Hanya karena itu? Selama ini ayah selalu bermain wanita, lalu ibu kemana? Kenapa baru mengeluh sekarang?" Ucap Raka dengan nada kesal.
" Jangan terlalu kasar dengan ku Raka, seburuk apa pun, aku tetap ibu mu, ibu yang melahirkan mu." Ucap Ibu dengan sendu.
" Ibu baru merasakan kalau Ibu butuh anak? baru sadar, atau baru bangun dari tidur mu Ibu?" Tanya Raka lagi.
Ibu diam, tak menyahut lagi. Hanya terdengar isakkan di seberang telpon.
" Menangis saja takkan menyelesaikan masalah, pikirkan kesalahan Ibu. Menyesal kemudian tak berguna." Ucap Raka.
" Seminggu lagi, aku akan melamar kekasih ku. Terserah jika Ibu dan Ayah mau datang atau tidak, aku tidak terlalu peduli."
" Sebenci itu kah kamu pada ku dan ayah mu Nak? Hingga tak meminta restu pada kami berdua?"
" Aku tak pernah membenci siapa pun, aku sudah mencoba nya, tapi kalian selalu membicarakan tentang kebaikan ku. Padahal itu hidup ku, yang tau terbaik atau tidak adalah aku sendiri."
" Satu lagi, dengan atau tanpa restu Ibu aku akan tetap melamar kekasih ku, menjadikan nya istri ku satu-satunya, dan ibu dari anak ku."
" Aku akan berbahagia dengan pilihan ku sendiri Bu, maaf aku takkan mau di jodohkan lagi, dengan wanita mana pun, aku berhak memilih masa depan ku dengan siapa."
" Aku lelah, aku ingin tidur. Selamat malam."
Klik.
Raka mematikan sambungan telpon nya secara sepihak, bahkan ibu nya belum sempat menjawab pernyataan Raka.
🌻🌻🌻
__ADS_1
jangan lupa kasih dukungan dan semangat buat author dengan like, komen, vote dan follow akun author. happy reading❤️
tap favorit juga yaww😘