
Setelah selesai memakan mie bersama, saat ini Raka dan Lita tengah bersantai di ruang tengah. Dengan Lita yang berbaring di pangkuan Raka, dan Raka yang sedang melihat acara televisi ajang olahraga.
"Ayang fokus banget, suka banget sama olahraga ya?" Tanya Lita, sambil jari lentik nya memainkan perut kotak-kotak sexy milik Raka.
"Aku memang suka olahraga, doyan nge gym. Kenapa yang?"
"Pantesan punya roti sobek kayak aktor-aktor korea gitu." Ucap Lita lagi.
"Emang nya yang punya perut gini tuh cuma aktor korea aja gitu? Setiap yang suka olahraga pasti punya sayang." Bantah Raka.
"Ya kebanyakan sih perut donat." Jawab Lita, jari nya masih bermain santai di perut Raka. Menyentuh setiap kotak yang berbaris di perut Raka.
"Berhenti sayang, kau membangunkan nya." Pinta Raka, dia sudah tidak tahan dengan sentuhan Lita. Hingga membuat junior nya menggeliat minta di keluarkan.
"Aku mainin ya, boleh gak?" Tanya Lita, sambil tersenyum genit.
"Enggak ah, gak boleh."
"Sama pacar sendiri, gak boleh pelit. Kamu aja udah mainin dada aku, sampe bengkak gini." Ucap Lita ketus.
"Yaudah, buka aja sendiri." Ucap Raka, bahkan dari luar celana nya saja sudah terlihat bahwa ukuran nya cukup membuat terkejut.
Lita tersenyum penuh kemenangan, dia bangkit dari posisi nya dan mulai membuka kancing celana jeans Raka. Perlahan, dia menurunkan resleting nya, hingga terlihat jelas tonjolan itu.
Satu langkah lagi, Lita akan berhasil melihat dan memainkan nya. Tapi, niat nya harus tertunda karena terdengar bunyi bel pintu.
Seseorang datang, siapa? Haris? Tak mungkin, tak terdengar suara deru mobil, lagi pula ini kan rumah nya, tak perlu menekan bel langsung masuk saja.
Lita mendengus kesal, karena keinginan nya harus terhenti karena seseorang iseng di balik pintu.
"Sayang, bukain pintu nya." Ucap Raka, sambil merapikan kembali resleting celana yang sempat Lita buka tadi.
"Gagal deh." Gumam Lita. Entahlah, kenapa saat ini dia sangat ingin menyentuh bahkan memainkan milik Raka, yang dia tebak ukuran nya sangat wow.
Lita berjalan lemas ke arah pintu, dia memutar kunci dan membuka pintu nya pelan.
Lita membulatkan mata nya saat melihat siapa yang datang.
"Hai, Litaa." Sapa nya.
"Mbak Hana."
__ADS_1
Hana datang kesini sendiri, dari mana dia tau alamat rumah nya? Apa dia memata-matai dirinya?.
"Haris nya ada?" Tanya Hana, sambil tersenyum manis.
"Abang gak ada mbak, lagi ke rumah Bella." Jawab Lita, seadanya.
"Siapa itu Bella?" tanya Hana.
"Kekasih nya Bang Haris." Jawab Lita, dia mulai kesal juga di tanya-tanya oleh mantan cinta pertama abang nya ini.
"Apakah kamu sudah melupakan aku Ris? Aku rasa, takkan semudah itu kamu melupakan semua tentang diriku. Apa semudah itu kau menggantikan ku?" Batin Hana, setelah mendengar jawaban Lita tadi.
"Mbak? Heiii.. Kenapa melamun?" Ucap Lita sambil melambai-lambaikan tangan nya di depan wajah Hana.
"A-ahhh tidak, kalau begitu mbak pamit dulu. Nanti kesini lagi kalau ada Haris."
"Darimana mbak tau rumah saya?" Tanya Lita, mengutarakan rasa penasaran nya.
"Dari kampus kamu." Jawab Hana singkat.
"Mbak tau saya kuliah di kampus itu?" Tanya Lita lagi dengan nada terkejut.
"Aku akan berusaha merebut mu kembali Haris ku, hubungan kita belum selesai. Sekarang aku sudah kembali, dan tidak akan ada yang bisa mencegah hubungan kita lagi." Gumam Hana, sambil tersenyum menyeringai.
Tak heran jika Haris pernah cinta mati dengan gadis itu, wajah nya cantik, tubuh nya tinggi, juga dada dan bok*ng yang montok. Mungkin dulu belum sebesar itu, tapi wajah cantik nya tidak berubah. Itu yang dia lihat, setelah melihat foto Hana dan Haris di ponsel nya, yang masih Haris simpan.
Padahal sudah bertahun-tahun yang lalu, tapi Haris masih menyimpan foto itu. Entah untuk apa tujuan nya ,mungkin hanya untuk kenangan.
"Siapa yang?" Tanya Raka ,dia menyusul kekasih nya karena cukup lama tak masuk kembali.
"Hana yang." Jawab Lita. Membuat Raka mengerutkan dahi nya.
"Loh darimana dia tau rumah kamu yang?" Tanya Raka.
"Kata nya dari biodata kampus aku." Jawab Lita, sambil berjalan mendekati Raka yang sudah duduk lagi sambil memainkan remot televisi di tangan nya.
Tanpa di sangka, Lita malah duduk mengangk*ng di pangkuan Raka. Raka tak menolak, dia justru menyukai Lita yang panas seperti ini. Andai saja mereka sudah menikah, pasti Lita sudah di makan habis oleh Raka.
"Ada apa sayang?" Tanya Raka, dia memeluk pinggang Lita dan Lita mengalungkan kedua tangan nya di leher sang kekasih.
"Kapan mau nikahin aku?" Tanya Lita serius.
__ADS_1
"Beri aku waktu sebentar lagi sayang, aku perlu menyiapkan segala nya." Jawab Raka tak kalah serius nya.
"Aku tak menginginkan pernikahan yang mewah dan resepsi yang berjilid-jilid, aku ingin hubungan kita sah di mata hukum dan agama." Ucap Lita.
"Pernikahan sederhana saja, yang penting momen nya." Sambung Lita.
"Baiklah, tiga minggu lagi." Ucap Raka tegas. Lita tersenyum senang, bahkan langsung menubruk tubuh Raka.
"Sesenang itu kah?"
"Wanita mana yang gak seneng coba?" Lita malah balik tanya.
"Setelah pernikahan itu berlangsung, aku akan membawa mu ke amerika, sekedar memperkenalkan mu pada orang tua ku."
"Tapi aku mohon, jika mereka berbuat tak pantas pada mu laporkan pada ku tapi jangan pernah berfikir untuk meninggalkan ku."
"Bahkan aku belum menikahi mu saja, aku sudah bisa menebak bagaimana mereka nanti. Tapi apa pun yang terjadi, tetaplah bersama ku." Ucap Raka, sambil membelai surai panjang kekasih nya.
"Aku sudah berjanji pada mu, sebesar apa pun masalah yang akan datang di masa depan, aku tak peduli. Selama kamu bersama ku, aku akan selalu kuat jika itu bersama mu. Jadi ayo berjuang bersama." Ucap Lita.
"Apa pun yang akan mereka katakan nanti nya, jangan dengarkan. Cukup percaya padaku."
Lita mengangguk pasti, sedikit demi sedikit dia tau bagaimana sifat dan sikap orang tua Raka. Mereka sangat jauh berbeda dengan Raka.
Entah laki-laki seperti apa yang meninggalkan benih nya di rahim ibu Raka, sehingga bisa menjadi manusia tampan dan sederhana seperti Raka.
Dia tidak pernah melihat orang berdasarkan kemampuan atau kekayaan nya. Juga dalam berteman, dia tak pandang bulu, jika orang itu membuat nya nyaman dia akan berteman dengan nya. Seperti hal nya Haris dan Edo dulu, hingga persahabatan mereka terjalin kuat, saling membantu, tapi satu saja penghianatan menghancurkan semua nya.
Lita masih duduk dalam pangkuan Raka, dia mulai nakal dan mendekatkan bibir nya pada Raka, tapi sialnya hal itu harus tertunda lagi karena terdengar suara mesin mobil di halaman, Yeaahh itu pasti Haris yang habis ngapel pagi-pagi buta.
"Gagal lagi, hadeuhhhh.. " Gerutu Lita, lalu turun dari pangkuan Raka.
Raka hanya tersenyum melihat kekesalan Lita, dia sudah dua kali gagal untuk melakukan hal kesukaan nya.
🌻🌻🌻
Gagal lagi ya Lita🤭 sabar, akan ada waktu nya😂
tinggalkan jejak, follow akun author dan tap favorit juga ya wakk.. Happy reading❤️❤️
__ADS_1