
"Kak, itu apa?" Tanya Lita polos saat melihat air yang menetes dari kakak ipar nya.
"Gak tau, tapi kakak gak pipis kok. Kenapa ya?" Balik tanya Bella.
"Aku panggil Mama dulu." Ucap Lita, lalu pergi keluar rumah memanggil Mama nya yang sedang duduk di taman, dengan para lelaki yang sedang ribut mengambil buah mangga.
"Ma, ayo ikut Lita.." Ucap Lita, segera menarik tangan Mama nya.
"Kemana?"
"Kak Bella.." Jawab Lita, dengan wajah cemas nya.
Mama Renata yang masih belum mengerti pun, memilih mengikuti menantu nya tanpa banyak tanya.
"Mom.." Panggil Bella lirih.
"Ya ampun Nak, ini ketuban nya sudah pecah. Panggil Haris, kita ke rumah sakit sekarang." Ucap Mama Renata dengan panik
Lita berlari lagi ke taman belakang.
"Bang, turun ayo ke rumah sakit." Teriak Lita, karena abang nya ada di atas pohon.
"Ngapain, siapa yang sakit?" Tanya Haris, berteriak juga.
"Kak Bella mau lahiran." Ucap Lita lagi, sontak saja membuat Raka dan Haris segera turun dari atas dan berjalan tergesa ke rumah.
"Beneran udah mau lahir?" Tanya Haris.
"Iya, udah pecah ketuban terus udah mules juga. Cepetan, keburu brojol disini." Ucap Mama Renata, sedangkan Bella hanya meringis menahan sakit, wajah nya memucat.
"Buruann woyy!" Panggil Raka dari mobil.
Dengan sigap, Haris menggendong tubuh istri nya, dan memasukan nya ke mobil. Juga Lita dan Mama Renata.
"Hati-hati di jalan, nanti gue nyusul." Ucap Brandon, segera masuk ke dalam rumah setelah mobil yang Raka kendarai sudah meninggalkan halaman.
Satu jam kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit tempat praktek dokter Paramitha.
Bella segera di bawa ke ruangan persalinan, untuk di cek pembukaan nya.
"Permisi tuan, saya akan memeriksa pembukaan nya." Ucap perawat kepercayaan dokter Mitha. Karena dokter Mitha sedang menangani pasien lain.
Haris mengerutkan kening nya saat melihat perawat itu memasukan tangan nya ke area inti sang istri.
"Eehh kok begitu?"
"Prosedur nya seperti ini tuan, bagaimana saya tau sudah pembukaan berapa kalau tidak di cek sendiri." Jawab Perawat itu, Haris hanya menganggukan kepala nya. Tangan nya terus menggenggam erat tangan istri nya yang terasa dingin.
"Baru pembukaan 5 tuan, tunggu sebentar lagi sampai pembukaan nya lengkap."
"Lengkap itu sampai berapa sus?" Tanya Haris.
"Sepuluh tuan, saat ini Nona masih bisa berjalan-jalan dulu agar mempermudah terbuka nya jalan lahir."
"Tapi, jangan di biarkan sendiri ya. Jika mulas, berhenti dulu. Usahakan ada makanan yang masuk." Ucap Perawat itu, setelah nya dia pergi karena sudah di panggil.
Haris menatap wajah istri nya dengan sendu, dia tak menyangka moment ini akan datang hari ini.
__ADS_1
"Mas... " Panggil Bella lirih.
"Iya sayang, sakit?" Bella mengangguk.
"Maafkan Mas sayang."
"Tidak apa-apa kok, sebentar lagi kita akan bertemu." Jawab Bella sambil tersenyum, bahkan di saat kesakitan seperti ini, Bella masih bisa tersenyum.
"jangan menguatkan aku dengan senyuman mu itu sayangku, berjuanglah. Jika sakit, kamu boleh menjambak atau menggigit ku."
Hingga pintu terbuka, Mama Renata masuk dengan menenteng secangkir besar teh manis hangat.
"Di minum ya Nak, teh manis bisa bikin kuat. Mau makan dulu?" Tanya Mama Renata.
"Makan kue yang tadi aja Ma." Jawab Bella, dia ketagihan dengan kue buatan Mertua nya Lita itu.
"Kebetulan Mama bawa, makan dulu ya. Nanti kalo udah gak mules, di bawa jalan-jalan aja dulu." Ucap Mama Renata.
Tak lama, datang Mama Bella dengan menjingjing tas yang cukup besar berisi peralatan bayi.
"Mam.." Panggil Lita.
"Apa sudah lahir?" Tanya Mama Bella.
"Belum, masih pembukaan lima." Jawab Lita.
Meninggalkan sejenak ke khawatiran orang-orang di rumah sakit, beralih dulu ke Brandon.
Di rumah, Brandon sedang bersiap-siap pergi ke rumah sakit menyusul semua orang.
Dia segera melajukan motor nya, menembus jalanan kota yang sedang padat. Hingga pandangan mata nya tak sengaja, melihat gadis kecil yang sedang berjualan kue, tapi di ganggu oleh preman.
"Kemarin gak bayar, sekarang gak bayar lagi? Udah gua bilang, kalo gak mau bayar iuran keamanan gak usah dagang disini, ngarti kagak lo bocah kecil?"
"Tolong pak, ibu saya sedang sakit. Saya berjualan untuk membeli obat ibu saya." Jawab bocah kecil itu dengan menunduk, usia nya sekitar 10 tahunan.
"Jangan beralasan.." Ucapan preman itu terhenti, karena deheman dari arah belakang.
"Ada apa ini?" Tanya Brandon datar.
"Anak kecil gak mau bayar iuran keamanan."'
"Keamanan dari apa? Dari pemalak kayak kalian gitu?" Tanya Brandon.
"Lu jangan ikut campur, atau mau gue hajar hah?"
"Silahkan maju, saya akan meladeni dengan senang hati." Jawab Brandon, tersenyum smirk.
Preman yang berjumlah 2 orang itu langsung maju melawan Brandon bergantian, tapi ternyata Brandon dapat melumpuhkan mereka berdua dengan mudah, bahkan hanya dalam hitungan menit.
"Ampun bang, gue janji dah gak bakalan cari gara-gara lagi sama tuh bocah."
"Sono pergi lu, sebelum gue berubah pikiran." Ucap Brandon, mereka berdua pun langsung berlari kocar kacir.
"Dekk.." Gadis kecil itu mendongak melihat siapa yang memanggil nya.
"Terimakasih sudah menolong saya.."
__ADS_1
"Sama-sama, kenapa jualan sendiri? Bahaya loh, banyak preman tukang malak." Tanya Brandon.
"Saya jualan sama Kakak."
"Hemm, siapa nama mu, dan berapa usia mu?" Tanya Brandon lagi.
"Sania Kak, sembilan jalan sepuluh tahun."
Tiba-tiba saja, ada yang memanggil gadis itu. Dan ternyata gadis incaran Brandon.
"Kakak..." Panggil Sania sambil berlari memeluk gadis incaran nya.
"Kakak, jadi kakak nya anak ini adalah gadis kecil ku?" Brandon menganga, ternyata anak kecil yang dia tolong adalah adik dari gadis impian nya. Dunia terasa sempit memang.
"Tuan Brandon, anda disini?" Tanya Gadis itu.
"Kakak ini tolongin Nia dari preman tadi kak."
"Benarkah? Terimakasih tuan, sudah dua kali anda menolong kami." Ucap Gadis itu.
"Sama-sama, waktu itu aku belum tau nama mu. Jadi siapa nama mu Nona?" Tanya Brandon.
"Marsya tuan."
"Kenapa berdagang kue? Bukan nya kamu kerja di kantor?" Tanya Brandon lagi.
"Karena hari ini libur, jadi saya nyambi jualan kue. Lumayan buat nambah-nambah beli obat ibu." Jawab Marsya.
"Ibu mu sakit apa memang nya?"
"Paru-paru tuan, ginjal nya juga bermasalah." Jawab Marsya pelan.
Brandon merasa iba, mereka sangat pekerja keras bahkan adik nya yang belum genap 10 tahun sudah di haruskan mencari uang.
"Baiklah, aku beli semua kue nya." Ucap Brandon, kedua gadis itu menganga mendengar ucapan Brandon.
"Serius tuan?"
"Apa aku terlihat sedang bercanda Nona, bungkus semua ya." Brandon tersenyum saat melihat kedua nya sedang mengemas kue nya ke dalam kresek.
"Berapa semua nya?" Tanya Brandon.
"280 ribu tuan."
Brandon merogoh dompet nya di dalam saku, dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikan nya pada Marsya.
"Ini terlalu banyak tuan.." Ucap Marsya mengembalikan dua lembar uang merah.
"Ambil saja, untuk membeli obat. Aku pergi dulu, pulang lah." Brandon kembali memakai helm nya dan kembali melajukan motor nya.
"Kakak nya ganteng ya?" tanya Nia.
"Selain ganteng, dia juga baik Nia." Ucap Marsya, dengan senyum manis nya.
🌻🌻
Marsyaa☺️
__ADS_1
Jangan lupa jejak nya, happy reading❤️