
Meninggalkan sejenak keluarga yang sedang berkumpul di rumah sakit, Jonathan terus berusaha mengingat wajah Brandon yang tampak tak asing, mulai dari mata,hidung dan senyum nya dia merasa familiar dengan sosok yang di panggil adik oleh Teman lama nya, Raka.
"Kenapa sayang?" Tanya Anita, karena sedari Jo hanya diam, dan sesekali mengerutkan dahi nya.
"Apa kamu gak ngerasa kalau adik nya Raka itu familiar dengan seseorang? Tapi aku tak mengingat siapa dan dimana." Jawab Jonathan.
"Aku hanya mengenali mata dan senyuman nya, aku juga merasa tak asing dengan pria itu."
"Raka bilang Brandon pernah amnesia kan? Apa dia melupakan negara asalnya? Karena menurut Raka, Brandon besar di London." jelas Jonathan, sesuai cerita Raka tadi.
"Bisa jadi sayang, nama lengkap nya apa?" tanya Anita.
"Brandon Se-..."
"Aku lupa sayang." Jawab Jo, sambil menggaruk pelipis nya, itulah daya ingat Jonathan lemah sekali, padahal baru tadi di beritahu oleh Raka.
"Huhh kau ini, bisa gak sih ini otak mu bekerja secara normal sekali saja? Aku heran, kenapa papah bisa percaya padamu untuk mengelola perusahaan, kamu kan lola. Gimana kalo lupa materi meeting, apa gak kacau?". Ketus Anita, kadang dia kesal karena ke lola an suami nya.
"Ya maafin aku sayang, ini bukan keinginan ku. Nanti aku ingat-ingat lagi, sekarang fokus jemput Frans."
Note: Frans itu nama anak nya Jo sama Anita ya☺️
Setelah perselisihan tadi, tak ada yang bicara lagi, hanya ada keheningan, hingga Jonathan bertanya yang membuat Anita membulatkan mata nya, kenapa dia juga baru menyadari nya.
"Bukan kah Brandon mirip dengan Tuan Robertson sayang?" Tanya Jonathan.
"What? Kau benar sayang.."
"Apa Brandon itu anak nya tuan Robert? Apa kamu setuju pendapat ku?" Tanya Jo lagi.
"Segala kemungkinan bisa saja terjadi Jo, masalah nya bukan kah Tuan Robertson itu menghilang akhir-akhir ini?"
"Ya sekitar tiga bulan yang lalu, beliau masih ada di mansion nya, tapi sekarang mansion itu sudah kosong." Jelas Jonathan.
"Tak mungkin beliau pergi begitu saja tanpa alasan kan? Apa mungkin di culik?"
"Seperti katamu tadi, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Anak buah Raka sudah mencari nya hampir ke seluruh pelosok negara itu tapi nihil, tak ada petunjuk apapun, seolah tuan Robertson menghilang di telan bumi." jelas Jonathan, Tadi Raka mengeluh kesulitan nya mencari sosok orang tua Brandon.
Dan bodohh nya Raka adalah, dia tak tau siapa nama ayah Brandon, dia hanya tau alamat mansion nya saja.
__ADS_1
"Bantu cari dia Jo, kasian kakak ku."
"Kakak mu?"
"Ya mau bagaimana pun dia adalah kakak ku kan? Meski berbeda rahim, tapi darah yang mengalir di tubuh kami sama." jelas Anita.
"Kamu semakin dewasa sayangku, baiklah ayo turun kita sudah sampai." Jonathan mengacak rambut istri nya dengan gemas, tak ada lagi Anita yang keras kepala dan selalu terobsesi dengan milik orang lain. Anita seolah menjadi sosok lain saat ini.
🌻
Di rumah Ibu Asih.
Brandon dengan gentle nya bertanya mengenai pernikahan nya.
"Ma, karena kakak ipar sudah melahirkan. Brandon fikir apa sebaiknya kami segera melaksanakan pernikahan? Agar hubungan saya dan Marsya resmi."
"Mama terserah kamu saja, lebih cepat lebih baik. Bawa saja orang tua mu kemari untuk berdiskusi masalah pernikahan ini, ingat pernikahan bukan lah suatu hal kecil, pernikahan adalah hal yang besar."
"Kenapa di katakan besar, bukan dilihat dari pesta atau mewah nya pelaminan, tapi hal besar karena menghalalkan yang semula haram, menyatukan dua insan yang tiada hubungan darah dalam suatu hubungan yang sah di mata tuhan." Jelas Ibu Asih bijak.
"Masalah nya, ayah saya masih belum bisa di temukan Ma." Ucap Brandon lesu.
"Baik Ma, terimakasih sudah mau memberi kesempatan untuk Brandon." ucap Brandon sopan.
"Berbahagialah, jika bahagia mu bersama anak gadis Mama." Ucap Ibu Asih, sedikit banyak dia mengetahui tentang permasalahan hilang nya ayah Brandon, karena pria itu sering bercerita padanya.
Marsya datang dengan wajah yang lebih segar, dia baru saja mandi karena merasa tak nyaman. Padahal tadi pagi dia sudah mandi di penginapan.
"Saya permisi dulu ya Ma, mau ke rumah sakit lagi. Tadi belum sempet liat dede bayi nya." Pamit Brandon sambil tersenyum.
"Hati-hati di jalan ya Nak." Peringat Ibu Asih.
Marsya mengantar Brandon sampai teras, senyuman tak pernah pudar di kedua sudut bibir Brandon, dia sangat bahagia. Nanti setelah suasana nya cukup baik, dan kakak ipar nya sudah di perbolehkan pulang, dia akan membicarakan tentang pernikahan nya.
"Kamu ingin pernikahan seperti apa sayang?" Tanya Brandon, dia menggenggam kedua tangan Marsya erat.
"Aku tak berani bermimpi atau berharap lebih, aku tak masalah seperti apa pernikahan kita, yang penting hubungan kita resmi, tapi kalau bisa aku ingin pernikahan yang sederhana saja."
"Baiklah, aku akan mengabulkan nya untuk mu tuan putri ku." Ucap Brandon, membuat kedua pipi Marsya merona. Baru pertama kali dia di perlakukan seperti ini.
__ADS_1
"Terimakasih sudah memilihku,"
"Tentu saja, aku mencintai mu Marsya." ungkap Brandon.
"A-aku juga mencintaimu Brandon." Balas Marsya, Brandon tersenyum sumringah, ini pertama kali nya dia mendengar ungkapan cinta dari gadis manis di depan nya.
"Ahhh, aku bahagia sekali sayang. Rasanya aku ingin memakan mu, bolehkah?"
"Aku bukan makanan yang, kok di makan." Jawab Marsya polos.
"Setelah menikah kamu akan mengerti, aku akan kembali ke rumah sakit. Besok aku jemput sayang,"
"Baiklah, hati-hati di jalan nya. Jangan terlalu siang ya jemput nya." Peringat Marsya.
"Oke, sun dulu.." Pinta Brandon sambil memajukan pipi kanan nya.
"Enggak ah.." Tolak Marsya, tolong keadaan jantung nya tak baik-baik saja. Meski sering melakukan nya, tapi selalu Brandon yang memulai.
"Cepatlah, aku takkan pergi sebelum mendapat cap bibir."
"Ihh keras kepala banget sih, aku bilang gak mau ya gak mau." Kekeh Marsya, hingga membuat Brandon gemas.
Brandon menarik tangan Marsya cukup kuat, hingga Marsya tertarik dan menabrak dada nya, Brandon menunduk dan meraih bibir mungil Marsya, awal nya hanya mengecup tapi merasa ada dorongan, Brandon malah memainkan bibir Marsya dengan melumaatnya dalam, Marsya diam saja tak membalas atau menolak perlakuan Brandon, tapi tak bisa di bohongi hal ini sangat nyaman dan membuat ketagihan.
Cukup lama bibir itu saling bertaut, akhirnya Brandon melepaskan bibir manis itu setelah merasakan nafas Marsya yang tersengal.
"Terimakasih calon istri, aku pamit dulu. Hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa hubungi aku."
"Cepatlah pergi sana, puas membuat ku malu." kesal Marsya.
"Jangan marah, hanya sedikit saja." Ucap Brandon sambil nyengir.
Brandon membalikan badan nya, dan menaiki motor matic nya. Marsya masih berdiri di teras dan melambaikan tangan nya dengan senyum bahagia, apalagi tadi Brandon memanggil nya dengan sebutan calon istri, meleleh gak tuh Sya?
🌻🌻
calon suami nya Marsya, nih🤭
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak dan tap favorit, kasih hadiah juga boleh deng bunga atau kopi, atau vote, author banyak mau nya😂