
Pagi hari nya, Brandon mengerjapkan mata nya terganggu dengan sinar mentari pagi. Dia mengucek mata nya, tapi aneh terasa berat. Saat dia melihat ke bawah, ternyata Marsya masih terlelap sambil memeluk nya erat.
Seulas senyum terbit dari bibir nya, dia mengusap puncak kepala kekasih nya dengan lembut. Udara pagi yang terasa sejuk, membuat Marsya mengeratkan pelukan nya di tubuh Brandon.
"Apa kamu tak mau bangun gadis kecil?" Gumam Brandon, dia memainkan rambut lurus Marsya dan menggulung nya dengan jari.
"Kamu suka sekali memanggil ku gadis kecil, padahal usia mu tak jauh dengan ku." Gumam Marsya dengan suara serak nya khas bangun tidur nya.
"Memang nya berapa usia mu yang?" Tanya Brandon pada Marsya yang masih duduk melamun mengumpulkan nyawa nya.
"21.." Jawab nya singkat, ternyata dia sebaya dengan kakak ipar nya, Lita.
"Wah kita hanya berbeda dua tahun saja, aku 23 yang." Ucap Brandon antusias, tapi Marsya hanya menganggukan kepala nya, nyawa nya masih belum terkumpul sempurna.
Itu lah fakta tentang Marsya yang baru Brandon ketahui, dia suka lama melamun setelah bangun tidur. Bisa di pastikan jika mau pergi bekerja, dia harus bangun lebih awal agar bisa melamun dulu.
Brandon ingin bangkit, tapi pinggang nya terasa sakit.
"Awsss pinggangkuu..." Ringis Brandon sambil memegangi pinggang nya, hingga membuat Marsya yang sedang melamun terkejut hingga terlonjak.
"Masih muda kok udah encok sih.." Ledek Marsya, nyawa nya sudah terkumpul kembali.
"Ini gara-gara terlalu lama duduk, jangan lupa kamu juga tidur di pelukan aku semalaman." Brandon mengingatkan, tapi Marsya tidak menjawab tapi wajah nya memerah seperti kepiting rebus.
"Udah, gak usah malu. Cuci muka sana.." Ucap Brandon, dia berbaring di sofa dan memijit pinggang nya sendiri. Tapi karena tangan nya tak sampai, jadi dia tak bisa menjangkau seluruh pinggang nya.
Marsya baru saja keluar dari toilet saat melihat Brandon kesusahan, dengan mengumpulkan sedikit keberanian, dia mendekat dan menyingkap kemeja Brandon.
Refleks Brandon bangun karena terkejut dengan aksi Marsya.
"Kenapa? Kok bangun, aku bantu pijitin kak.." Ucap Marsya.
"Hemm, enggak deh. A-aku malu yang.."
"Loh kenapa? Biasa nya kamu kayak orang gak punya malu kok." Ledek Marsya.
"Kamu makin lama makin berani ledekin aku yah? Mau aku hukum?" Tanya Brandon, dia tersenyum nakal menatap Marsya. Tentu saja Marsya tau apa yang di maksud hukuman oleh Brandon, tak jauh-jauh dari hal yang berbau mesoom.
__ADS_1
"Aku kan niat nya cuma mau bantuin kamu pijit pinggang, kok malah melebar kemana-mana sih?"
"Kamu yang ledekin aku terus sayang.." Rengek Brandon.
"Jadi nya mau di bantuin gak?" tanya Marsya lagi.
"Kalo kamu gak keberatan, aku mau pake banget." Jawab Brandon sambil cengengesan.
"Terus dari tadi aku nawarin itu apa sih? Kamu ini, aku gosokin pake minyak kayu putih mau?"
"Mau kalau ada mah yang.." Jawab Brandon, dia kembali menelungkupkan tubuh nya di sofa.
Marsya kembali duduk di samping Brandon dan kembali menyingkap kemeja nya, seketika kedua mata Marsya membulat sempurna.
"Kak, ini luka apa?" Tanya Marsya, dia merabaa punggung Brandon yang menghitam seperti bekas luka.
"Di punggung? Biasa lah korban balapan liar.." Jawab Brandon santai, dia menikmati pijatan tangan mungil Marsya di punggung dan pinggang nya.
"Jadi beneran kakak suka balapan liar ya?"
"Takut kenapa?" Tanya Marsya lagi.
"Takut aja, bang Raka tuh udah kayak bapak buat aku. Dia tuh bisa tegas, konyol, pecicilan, sengklek, dalam waktu yang bersamaan. Dia orang baik yang aku punya, aku sayang sama mereka. Ya walau di masa lalu, aku dan dia bermusuhan."
"Lho kenapa?" Rasa penasaran Marsya semakin membesar.
"Rebutin Lita lah, kamu kan tau aku cuma adik angkat bang Raka doang. Tapi dia nganggap aku lebih dari itu, dia sayang dan sangat memperhatikan aku, persis seperti kakak ke adik kandung nya."
"Di zaman ini, nyari orang sebaik mereka itu susah yang. Kebanyakan yang bermuka dua, di depan pura-pura baik, tapi di belakang dia jelekin kita."
"Emang ya, hati orang tuh gak bisa ketebak. Bisa jadi sekarang dia jadi temen, tapi gak tau kalau besok, bisa aja dia jadi musuh kita kan?" Ucap Brandon.
Marsya hanya mendengarkan keluh kesah Brandon, semua yang di katakan nya adalah kebenaran. Di jaman seperti ini, nyari orang baik tuh emang susah, apalagi yang tulus menerima apa adanya.
Begitu juga dengan pertemanan, jarang ada yang berteman tulus tanpa mengharapkan keuntungan, itulah alasan nya orang akan lebih memilih berteman dengan orang kaya, agar bisa di manfaatkan, benar gak?
"Aku sudah baikan sayang, aku ke toilet dulu.." Ucap Brandon, lalu bangkit dan pergi ke toilet, sekedar membasuh wajah nya yang terlihat kusut, tapi masih terlihat tampan dan imut.
__ADS_1
Brandon keluar dan melihat Marsya tengah duduk sambil melamun, entah apa yang membuat gadis nya sering melamun.
"Yang, gak boleh sering ngelamun. Ini di rumah sakit, nanti kesambet loh.."
"Kak, apa kakak tulus gak sama aku?" Tanya Marsya.
"Loh kok nanya nya gitu, emang nya kenapa? Apa perhatian aku selama ini kurang buktiin kalo aku tulus dan serius sama kamu yang?" Balik Tanya Brandon.
"Enggak sih, cuma aku berasa mimpi punya pacar ganteng kayak kamu, hehee." Jawab Marsya, meski Brandon tau gadis di depan nya ini tengah menyembunyikan sesuatu, tapi dia lebih memilih percaya saja.
"Jangan nanya hal ini lagi ya sayang, kamu terkesan gak percaya sama aku kalo terus nanya kek gini."
"Maaf kalo kakak tersinggung, apa kakak marah?" Tanya Marsya pelan.
"Tak apa sayang, mana bisa aku marah dengan mu." Jawab Raka, dia menarik Marsya ke dalam pelukan nya.
Marsya mendongak kan kepala nya menatap wajah tampan kekasih nya, dia meraih kepala Brandon dan mencium bibir nya.
Brandon terkejut dengan apa yang Marsya, tapi tak dia pungkiri bahwa dia sangat menyukai nya.
Mereka berciuman dengan mesra, tanpa peduli tempat, mereka masih berada di rumah sakit menunggui Ibu Asih yang belum siuman juga.
Hingga ciuman itu harus terhenti karena suara pintu yang terbuka, dan menampilkan sosok yang paling menyebalkan versi Brandon.
Brandon menatap pria itu dengan tatapan tajam, mau apa dia kesini? Dan dari mana dia tau kalau Mama nya Marsya masuk rumah sakit?.
Pria itu tersenyum hangat pada Marsya, tapi hanya di balas dengan tatapan heran dari gadis itu. Seketika itu juga Marsya merasakan dingin yang luar biasa hingga membuat bulu kuduk nya berdirii.
Saat melirik ke samping, benar saja aura dingin itu berasal dari Brandon yang menatap pria itu dengan tajam.
🌻🌻
Siapa sih wehh? Ganggu aja.
jangan lupa like, komen, vote, dan tap favorit, happy reading ❤️
Kasih hadiah deh, bunga atau kopi gitu, lagi hujan nih enak nya minum kopi kan😂
__ADS_1