
Malam hari nya, seperti biasa Lita memasak untuk makan malam. Tapi makan malam kali ini terasa berbeda, karena Ibu Renata ada di antara mereka.
Dengan cekatan, tangan Lita menyajikan makanan ke piring Raka dan ke piring Ibu Renata. Membuat senyuman manis terukir di wajah wanita paruh baya itu.
"Makan Bu, semoga aja masakan Lita cocok sama lidah Ibu." ucap Lita sopan. Dia duduk di samping Raka, yang sudah fokus pada makanan di piring nya.
Sejak Ibu nya disini tadi siang, Raka menjadi pendiam. Dia tak banyak bicara, paling hanya sesekali saja. Raka sangat dingin dengan kedua orang tua nya, berbeda dengan kepada nya, pria itu menjadi pria hangat dan cerewet.
"Berapa hari disini?" tanya Raka datar.
"Mungkin lusa Ibu sudah kembali ke US." Jawab Ibu Renata di sela makan nya. Sebenarnya rasa benci Raka pada Ibu nya tak sebesar dia membenci ayah nya.
Dia sangat menyayangi ibu nya, tapi ayah nya memang tak pernah berubah, dia selalu menyakiti dan menduakan Ibu nya.
"Bisakah tinggal disini lebih lama Bu?" tanya Lita, dia masih merindukan sosok ibu mertua nya ini.
"Bisnis Ibu akan terbengkalai di sana, cantik."
"Ya, dia memang gila kerja, harta dan kekuasaan sayang. Biarkan saja, padahal hidup takkan selalu bahagia hanya karena memiliki uang yang berlimpah." Ucap Raka sinis.
"Bukan begitu Rak.. "
"Lalu apa? untuk apa terus bekerja hmm? aku mampu memberi mu makan disini, aku bekerja dan gaji ku cukup kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan istri dan ibu ku, kurang apa lagi?" Potong Raka dengan tegas.
"Selama ini aku diam Bu, aku membiarkan kalian berdua dengan dunia kalian dan aku dengan dunia ku. Tidakkah kalian merasa sudah berada terlalu jauh dari anak kalian ini?" Ucap Raka lagi, amarah nya cukup memuncak saat ibu nya menolak permintaan istri nya.
"Ibu hanyaa... "
"Hanya apa? Ingin kaya atau berkuasa? Semua itu takkan ada artinya jika hidup mu terasa hampa, percuma disana uang mu bertumpuk-tumpuk tapi hati mu kosong."
"Aku sudah selesai." Ucap Raka, lalu meninggalkan meja makan setelah perdebatan kecil dengan ibu nya.
Lita menatap Ibu mertua nya dengan sendu, wanita itu sudah terisak dengan kepala yang menunduk dalam. Seolah perkataan Raka adalah tamparan untuk nya, yang memang selama ini membiarkan Raka hidup dalam kesendirian tanpa kehangatan sebuah keluarga.
"Ibu baik-baik saja? sudah, jangan terlalu di dengarkan. Mas Raka berkata begitu hanya karena emosi, kalau sudah selesai makan Ibu istirahat ya." Ucap Lita lirih. Dia tak tega melihat ibu mertua nya menangis.
"Terimakasih nak, kamu menantu yang baik." Ucap Ibu Renata di sela isakan nya.
Perlahan dia bangkit dari kursi nya dan berjalan ke arah kamar nya, Lita menatap setiap langkah ibu mertua nya dengan mata yang berkaca-kaca.
Dengan cepat, dia mengusap mata nya. Mulai membereskan meja dan mencuci piring kotor bekas mereka makan, ada rasa sakit yang begitu terasa saat melihat tubuh ringkih ibu mertua nya berjalan menjauh dengan langkah pelan.
🥀
Setelah menyelesaikan pekerjaan nya, Lita beranjak ke kamar nya di lantai atas. Dia membuka pintu dengan perlahan, dan mengintip ke dalam. Dimana Raka tengah duduk bersandar di kepala ranjang, dengan kedua mata nya yang menutup dan sebuah buku di pangkuan nya.
__ADS_1
Perlahan, Lita mendekati Raka dan mengambil buku itu. Meletakan nya di nakas, dan ikut berbaring di samping Raka.
"Sudah selesai?" Tanya Raka.
"Sudah Mas. Kenapa?"
"Sejak kapan kamu memanggil ku dengan sebutan Mas?" tanya Raka heran. pasal nya Lita memanggil nya dengan panggilan yang berbeda dari sebelumnya.
"Gak mungkin aku terus memanggil mu kakak, kamu suamiku sekarang." Jawab Lita lirih, wajah nya memerah.
"Baiklah, aku sangat menyukai panggilan itu." ucap Raka. Dia meraih Lita ke dalam pelukan nya, mendekap tubuh mungil itu dengan mesra.
"Apa sikap Mas tadi pada Ibu gak keterlaluan? dia menangis Mas." Ucap Lita memberanikan diri untuk bertanya, setelah lama mereka hanya diam.
"Tidak, mungkin."
"Apa tak bisa bersikap lembut pada Ibu?" Tanya Lita lirih.
"Aku ingin melakukan nya, tapi sayang ke egoisan ku selalu menuntun ku untuk berkata pedas seperti tadi."
"Apa mas menyayangi Ibu?" Tanya Lita lagi.
"Tentu saja, tak ada anak yang tak menyayangi Ibu nya Sayang."
"Untuk masalah itu Mas gak bisa, kamu udah denger kan jawaban nya seperti apa?"
"Apa gak sakit setiap hari melihat kemesraan suami sama madu nya? Kalau kau mendingan minggat aja." Ucap Lita, dia tak berani membayangkan bagaimana sakit nya jika harus melihat suami nya dengan wanita lain.
"Ibu wanita yang kuat sayang, ayah dari dulu memang begitu. Selalu bermain wanita, sering juga membawa jal*ng nya itu ke rumah dan bermain di kamar tamu."
"Entah Ibu itu terlalu mencintai pria bejat itu atau apa, tapi Ibu hanya diam saja. Membiarkan ayah dengan semua keinginan nya, dan ibu bisa bertahan sampai sekarang."
"Dan satu lagi, kamu takkan pernah mengalami nya. Aku takkan pernah mencontoh apa yang di lakukan ayah terhadap Ibu." Ucap Raka tegas.
"Kalau begitu, ayo lah ajak Ibu bersama kita. Bahkan hanya membayangkan nya saja membuat dada ku sesak Mas." Ucap Lita kekeuh.
"Nanti kita bicarakan lagi ya, sudah malam. tidurlah." Ajak Raka, mengeratkan pelukan nya.
"Hujan nya deras banget Mas."
"Ya terus kenapa? Takut mati lampu? Tenang aja kan ada Mas disini." ucap Raka, dia masih ingat kalau Lita itu takut dengan kegelapan. Dia masih ingat momen pertama mereka tidur bersama saat di rumah Haris mati lampu.
"Hiss bukan itu maksud ku Mas." Ucap Lita dengan nada manja nya.
"Lalu?".
__ADS_1
"Lita pengen Mas." Ucap Lita, wajah nya sudah merona dan langsung menyembunyikan wajah nya di dada Raka.
"Hayolohh pengen apa?" Goda Raka, dia bukan nya tak tau maksud Lita. Tapi dia ingin menggoda istri nya itu.
"Jangan menggoda ku Mas. Aku malu." Ucap Lita.
"Kenapa harus malu sih. Ayo." Ucap Raka bersemangat.
Raka bangkit dari posisi nya ,dia juga menarik tangan Lita dan mendudukan nya di pangkuan.
Raka mulai melakukan foreplay dengan titik yang pas, hingga membuat Lita menggelinjang hebat karena sensasi dari sentuhan tangan Raka yang menyusuri tiap lekuk tubuh nya, juga tangan nya bermain di titik sensitif Lita.
Raka mengu*um puncak dada Lita dengan nikmat nya, tangan nya juga terus memberi rangsangan di bagian tubuh yang lain. Lita membusungkan dada nya dan menekan kepala Raka agar lebih dalam menyusu di dada nya.
Hingga dengan tak sabar nya, Raka langsung menuntun Lita untuk segera memasukan milik nya yang sudah menegang sejak tadi.
"Ahhhhh.. Mass... Penuh.." Des*h Lita dengan mata yang merem melek merasakan benda besar yang telah menerobos masuk ke inti nya.
"Bergerak sayang.. " Ucap Raka, Perlahan Lita mulai menggerakan pinggul nya naik turun dengan tempo yang pas.
"Fasterr babyy... " Racau Raka. Bahkan tangan nya ikut menggerakan pinggul Lita agar bergerak lebih cepat.
Entah di menit ke berapa, Lita semakin mempercepat gerakan nya dia akan segera sampai.
"Ehhmmm Raka.. "
"Ya, terus panggil nama ku sayang."
"Ahhhh ... "
Cairan hangat begitu terasa di dalam, juga denyutan yang kuat meremas nikmat milik nya
Dengan sekali gerakan Raka menindih Lita, dia masih belum mengeluarkan lahar panas nya.
Dia memacu tubuh nya dengan cepat, hingga tubuh Lita terguncang dan ranjang yang berderit menandakan bahwa sang pemilik kamar tengah mengejar suatu kenikmatan.
Hingga tak lama kemudian, terdengar erangan tertahan dari mulut Raka. Dia langsung ambruk di atas tubuh Lita yang sudah di banjiri keringat.
Setelah menetralkan nafas masing-masing, mereka pun tertidur dengan saling memeluk.
🥀🥀
Author nulis nya sambil tahan nafas ini😂😂
jejak ya wakk😘
__ADS_1