Mencintai Adik Sahabatku

Mencintai Adik Sahabatku
Ngidam Tengah Malam


__ADS_3

"Lita masih ingat dengan baik tentang kalung ini, saat itu aku masih remaja. SMP kelas satu."


"Teman-teman ku memakai kalung berlian dengan ukiran nama mereka, saat itu hanya aku yang tak memiliki nya. Mereka mengata-ngatai ku, masa anak seorang pengusaha tak mampu membeli kalung seperti ini."


"Saat itu aku hanya diam, aku tau jika aku melawan mereka akan lebih senang mengata-ngatai diriku."


"Tapi semakin hari, ejekan mereka semakin membuat panas telinga. Dan akhirnya emosi ku meledak, aku melawan semua orang yang mengganggu ku. Ya abang tau kelanjutan nya, aku di skors satu minggu."


"Bahkan aku masih ingat saat abang marah-marah karena kenakalan ku hari itu, tapi sebenarnya itu kejadian yang sebenarnya."


"Orang tua kita marah besar kan, tapi aku tau kesalahan ku jadi aku diam."


"Tapi saat mereka bertanya dengan emosi, aku juga menjawab dengan emosi. Aku sudah bilang, aku menginginkan kalung yang sama seperti teman-teman ku, tapi Mama Papa bilang nanti saja."


"Dan saat itu juga aku baru tau, kalau perusahaan Mama di ambang kebangkrutan karena ada pegawai yang korupsi, merugikan perusahaan."


"Tapi aku masih remaja, jiwa pemberontak ku baru saja tumbuh. Jadi aku tak percaya dan bilang, untuk apa mereka bekerja kalau aku meminta hal itu mereka tak memberikan nya."


"Hingga Ibu emosi dan hampir menampar ku, untung nya Papa datang dan mencegah Mama melakukan itu, dia bilang jangan sakiti anaku."


"Aku merasa bersalah dan mengunci diri di kamar, dan tak sangka setelah perusahaan Mama membaik dia membelikan nya."


Lita terisak di sela cerita nya, dia tak sanggup mengingat moment kenakalan nya dulu.


"Kalung ini mungkin hadiah terakhir dari Mama untuk ku, dan di usia ku yang ke 21 ini aku baru mendapatkan apa yang ku minta." Ucap Lita, menangis sejadi nya di pelukan Raka.


Raka mengusap pucuk kepala Lita dengan sayang, dia tau rasa nya penyesalan. Dan penyesalan itu tak berguna lagi sekarang, bahkan meminta maaf pun tak ada artinya lagi. Karena kedua orang tua nya sudah pergi.


Rasa nya dia sangat ingin memeluk Mama nya saat ini, tapi jangankan memeluk. Bertemu saja tak mungkin, walau hanya dalam mimpi pun rasa nya takkan mungkin.


"Menangislah jika itu bisa membuat mu tenang sayang, tapi tolong jangan bebani dirimu dengan penyesalan." Ucap Raka.


"Aku hanya menyesal tak sempat meminta maaf saat Mama pergi, bahkan ini kesalahan yang besar buat Lita." Jawab Lita, sesenggukan.


"Percayalah, Mama Papa pasti sudah memaafkan mu dek. Kamu adalah anak kesayangan mereka, mereka membanggakan dirimu."


"Mereka pasti bahagia anak perempuan cantik mereka sudah besar dan sebentar lagi akan menjadi ibu." Ucap Haris, dia mengusap punggung Lita yang masih terguncang dengan lembut.


"Kalian membuat ku tak berhenti mewek sejak tadi siang." Ucap Bella, sambil mengusap ingus nya yang mulai mengucur hampir mengenai bibir.


"Jorok banget sih Bell, jijay.." Ucap Raka.


"Rusak suasana aja sih yang." Ucap Haris juga, mendekati Bella dan mengusap ingus nya dengan tissu.


"Ya ampun, ini basah kenapa?" Tanya Haris, saat melihat baju Bella basah.

__ADS_1


"Hehee, pake ngelap ingus yang."


"Astaga, kamu ini. Kan ada tissu di meja, ngapain di lap pake baju sih." Gerutu Haris.


"Ribet pake tissu, aku suka yang cepet. Keburu ke jilat Mas."


Haris menepuk dahi nya, heran dengan istri nya itu. Padahal sudah di sediakan sekotak tisuu, tapi dia lebih memilih mengelap ingus nya dengan baju.


Sedangkan Raka dan Lita hanya tersenyum simpul melihat tingkah kakak ipar nya itu, kadang ke konyolan nya itu mengundang tawa.


"Pakai kalung itu sayang." Ucap Raka, Lita mengangguk dan memasangkan nya di leher jenjang Lita.


"Nama yang cantik, persis seperti orang nya." Ucap Raka lagi, dia mengusap nama yang terukir indah di kalung itu.


"Terimakasih Mas."


🌻


Tengah malam, tiba-tiba saja Lita terbangun dengan wajah bantal dan rambut acak-acakan nya. Malam ini dia berhasil lolos dari jatah malam Raka, jadi dia bisa tidur lebih awal.


"Makan seblak enak kali ya, duhh netes nih liur." Ucap Lita, dia beberapa kali menelan ludah nya saat membayangkan semangkuk seblak dengan kuah yang merah. Padahal tadi siang, dia sudah memakan makanan itu.


"Mas, bangun.." ucap Lita, sambil menggoyangkan tangan Raka yang masih melingkar erat di pinggang nya.


"Mas.." Panggil Lita lagi, karena Raka tak ujung membuka mata nya.


"Hemmmm." Raka hanya menggumam tanpa membuka mata nya.


"Mas, mau seblak." Pinta Lita pelan.


"Apa?" Tanya Raka, sambil membuka mata nya lebar-lebar.


"Mau seblak." Ucap Lita lagi, kali ini lebih pelan. Takut suami nya itu marah.


"Kan tadi siang udah makan seblak sayang, masa sekarang mau lagi? Mana udah malam, warung seblak pasti udah tutup jam segini." Raka menggerutu.


"Tapi ini bukan kesalahan ku Mas, aku juga tak mau merepotkan mu. Tapi tiba-tiba saja aku menginginkan nya, mungkin ini yang disebut ngidam."


"Bikin aja gimana? Besok beli ya?" Tawar Raka, dengan lesu Lita mengangguk.


Raka bangkit dari posisi nya dengan lesu, dia masih mengantuk berat, apalagi karena tak mendapat jatah rasanya dia sangat lemas.


Dengan perlahan, Raka menuruni anak tangga. Keadaan rumah sudah gelap, penghuni nya sudah istirahat semua. Hanya satu yang masih menyala, televisi.


"Siapa yang masih nonton tv tengah malem gini?" Gumam Raka.

__ADS_1


Dia pun mendekati ruang tamu dan melihat Haris yang sedang duduk anteng melihat siaran sepak bola luar negeri.


"Belum tidur bang?" Tanya Raka.


"Setannn.. " Teriak Haris.


"Sembarangan, masa ada setan secakep gue bang. Gini-gini gue juga suami adek Lu." Gerutu Raka, sambil menghidupkan lampu.


"Ohh, gue kirain setan tadi. Ngapain juga muncul tiba-tiba."


"Istri gue yang paling cantik sedunia minta seblak." Jawab Raka.


"Tengah malam begini?" Tanya Haris lagi, dan Raka hanya mengangguk lemah.


"Sabarin aja, istri Lu lagi ngidam. Bella juga pernah tuh ngidam malam-malam gini, malah dia minta rujak jambu kristal, coba dimana yang ada jualan begituan tengah malam."


"Serius?" Haris mengangguk mengiyakan.


"Terpaksa lah gue keliling nyari tuh rujak, gak nemu juga sampe pagi. Akhirnya masuk supermarket yang buka 24 jam, cuma nemu jambu nya doang."


"Pulang dah gue, bukan nya di sambut. Malah dapet tatapan tajam dari bumil cantik itu, kata nya lama. Ya jelas lama, wong minta nya tengah malam." Ucap Haris.


"Ngidam cewek hamil aneh-aneh dah, temenin gue masak seblak ya, jangan tidur dulu."


"Siip, bikinin gue juga ya. Rasa nya gue juga kepengen." Pinta Haris sambil tersenyum jahil.


"Idihh, ikutan ngidam Lu." Tapi Haris hanya terkekeh pelan.


Meski sempat menggerutu, tapi Raka tetap membuatkan nya juga.


Setelah cukup lama berkutat dengan alat dapur di tengah malam, akhirnya dua porsi seblak sudah tersaji di mangkuk.


Dan tepat saat itu juga, Lita turun dari kamar dengan wajah berbinar nya saat mencium bau seblak yang menguar.


"Silahkan tuan putri.." Ucap Raka, menarik kursi untuk Lita dan mempersilahkan wanita itu duduk.


Lita menyuapkan sesendok seblak itu dengan perlahan, dan mengunyah nya dengan penuh perasaan.


"Seblak nya mantul, ada bakat buat jualan seblak kamu Mas. Pasti laku." Ucap Lita, sambil menyuapkan seblak lagi ke mulut nya.


"Yang ada kamu makin seneng, bisa makan seblak tiap hari. Gak sehat, aku gak bakal buat peluang kamu terus makan makanan ini sayangku." Ucap Raka, sambil mencubit gemas pipi Lita.


🌻🌻


__ADS_1


Ngiler gak sama seblak nya?🤭🤭


Yukk tinggalkan jejak, hari ini author up cuma satu bab aja. Gak enak nih badan, besok di usahain up dua bab seperti biasa☺️ happy reading❤️❤️


__ADS_2