Mencintai Adik Sahabatku

Mencintai Adik Sahabatku
Kepergian Papa Roberts


__ADS_3

Waktu bergulir dengan cepat, hari ini kehamilan Marsya sudah menginjak 9 bulan, mungkin beberapa hari lagi dia akan melahirkan. Semakin hari, Brandon semakin sensitif dia juga menjadi lebih posesif dalam menjaga istri kesayangan nya yang tengah hamil tua.


Namun sayang, sudah beberapa hari ini kesehatan Papa Roberts juga sangat memburuk. Bahkan pria itu sudah tak mampu berdiri tegak lagi, Brandon sangat khawatir dengan keadaan papa nya, terlebih beliau tidak pernah mau di bawa ke rumah sakit, hanya mau di periksa dokter pribadi Raka.


Brandon sudah seringkali membujuk papa nya agar mau di rawat di rumah sakit, tapi hasilnya pria itu tetap kekeuh dengan keputusan nya yang hanya mau di rawat di rumah.


tring.. tringg..


Bunyi suara ponsel nyaring berasal dari saku celana milik Brandon, pria itu sudah mengajukan cuti melahirkan kemarin. Dia beralasan ingin fokus menjaga istri nya, dia ingin menjadi suami yang siaga.


"Hallo.."


"Hallo Brand, bagaimana keadaan papa?" tanya Mike di seberang telpon.


"Memburuk kak, papa bahkan sudah tak sanggup makan nasi. Hanya bubur, itu pun harus sangat cair." Jawab Brandon, dia mendesaahkan nafas nya berat.


"Kemungkinan kakak baru bisa kesana tiga hari lagi, kakak ipar mu sedang mengalami motning sickness parah."


"Kak Hanna sedang hamil kak?" Tanya Brandon, wahh sungguh berita yang mengejutkan.


"Iya, dia hamil enam minggu. Jadi mungkin kakak harus siap siaga kalau mau pulang, sementara tolong jagakan papa untuk kakak."


"Heii, aku juga anak nya. Kalau bisa secepatnya pulang kak, istri ku sudah menginjak usia kandungan 9 bulan, mungkin beberapa hari lagi dia akan melahirkan." Ucap Brandon serius, meski pun Ibu Asih dengan telaten mengurus Papa Roberts, tapi tetap saja dia merasa tak enak.


"Baiklah, lalu setelah kakak pulang, apa kakak juga harus membujuk papa agar mau di bawa ke rumah sakit?" Tanya Mike.


"Tentu saja kak, aku hanya khawatir. Kakak pasti mengerti maksud ku kan?"


"Ya tentu saja, sekarang kakak sedang menemani kakak ipar mu periksa kandungan. Jadi sudah dulu ya, nanti kakak kabari lagi kalau kakak akan pulang."


"Baik kak, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan, istri mu lebih membutuhkan." Peringat Brandon.


"Kakak tahu."


Klik..


Bunyi telepon yang di tutup, Brandon menjauhkan ponsel nya dari telinga, dia menatap benda itu dengan nanar.


"Kak Mike bahkan tak menanyakan kabar ku, apakah aku baik-baik saja?"


"Kenapa harus, selama ada aku kamu pasti akan baik-baik saja, iya kan?" Celetuk Marsya dari belakang. Dia berjalan pelan sambil memegangi perut nya yang membuncit besar, Brandon dengan cepat menggandeng tangan istri nya dan membawa nya duduk di sofa.


"Iya aku akan baik-baik saja selama kamu juga baik sayang, apa sudah ada tanda-tanda?" Tanya Brandon sambil mengelus perut bulat istri nya.


"Belum, hanya pinggang ku sakit." Jawab Marsya, dia mengusap lembut kepala suami nya yang kini menyuru dan sibuk menciumi perut nya.


"Aku baluri minyak kayu putih mau, biar hangat.."


"Boleh yang, tapi jangan kebanyakan ya. Kemarin juga aku gak nyaman tidur gara-gara kepanasan kamu ngolesin nya kebanyakan." Keluh Marsya, dia masih ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Dimana dia mengeluh sakit pinggang pada suaminya, tapi yang terjadi malah dia sulit tidur karena panas yang menjalar di pinggang sampai ke punggung nya, karena ulah Brandon.

__ADS_1


"Hehee, maafin aku istri ku. Cepatlah keluar ya dek, papa pengen jatah malam dengan bebas."


"Heh, setelah aku melahirkan kamu harus puasa minimal 40 hari." Ketus Marsya, dia melirik sebal ke arah suami nya.


Brandon memang selalu mengeluhkan kalau dirinya sering kelelahan padahal baru bertempur setengah nya, tapi istri nya meminta nya berhenti dan malah tertidur, sedangkan Brandon? Dia terpaksa harus menuntaskan nya di kamar mandi.


"Iya juga sih, tapi sekarang juga aku jarang puas."


"Siapa suruh main nya suka lama?" Ketus Marsya.


...


Di rumah Raka,


Rumah itu kembali menghangat setelah Raka memutuskan berdamai dengan keadaan nya dan menerima kenyataan.


Danu semakin sering bertamu ke rumah Raka, entah itu hanya untuk sekedar ngopi bareng atau makan malam bersama, tapi sering nya mereka berdua terlibat curhat antara laki-laki meski berbeda generasi.


"Jo sama Anita besok sampai kesini."


"Ada hal apa yang membuat mereka pulang, pa? Setauku Jo sangat sibuk dengan pekerjaan nya." Jawab Raka, dia memang sering berkomunikasi dengan suami dari adik tiri nya.


"Untuk membicarakan pembagian warisan, Papa sudah tua. Kalian harus melanjutkan bisnis papa, mau atau tidak mau tapi semua akan di bagi rata, antara kamu dan Anita."


"Papa masih hidup kenapa sudah membicarakan tentang warisan?" Tanya Raka.


"Entahlah, hanya saja papa yakin ini yang terbaik. Sebaiknya kamu keluar dari perusahaan AM Group dan pindah ke perusahaan papa."


"Hanya Asisten saja kan? Di perusahaan papa kamu bisa jadi CEO nya biar perusahaan papa lebih maju."


"Keputusan Raka sudah bulat, apapun yang terjadi Raka akan tetap kerja sama pak El." Kekeuh Raka.


"Hemm baiklah ,kamu memang keras kepala."


"Turun dari siapa?" Tanya Raka dengan senyum jahil nya.


"Hahahaa, baiklah kamu menang." Kedua nya tertawa bersama, membuat Lita tersenyum melihat ayah dan anak itu sudah akur, bahkan hubungan mereka semakin membaik seiring berjalan nya waktu.


...


Brandon sedang duduk di dekat kolam, ya baru-baru ini dia membuat sebuah kolam renang untuk istri nya berolahraga, berenang bisa membuat jalan lahir nya cepat terbuka, itu menurut bidan.


"Sayang, kenapa disini? Papa nanyain kamu tuh." Ucap Marsya.


"Kenapa sama Papa?"


"Aku gak tau yang, makanya kamu samperin dulu sekarang." Ucap Marsya setenang mungkin, padahal di dalam hati nya dia sudah kalang kabut saat melihat kondisi ayah mertua nya.


"Ya tuhan, kuatkan lah hati suamiku. Jika pun beliau pergi, tolong berikan kesabaran pada nya, agar menerima kenyataan." Gumam Marsya, dia melihat keputus asaan dalam sorot mata mertua nya.

__ADS_1


Brandon secepat kilat pergi ke kamar ayah nya, dia melihat pria itu tergolek lemah tak berdaya di ranjang nya. Wajah nya pucat dan tatapan mata nya sendu, di ujung mata nya dia dapat melihat ada genangan air mata yang siap tumpah.


"Pa, papa kenapa? Brandon disini sama papa.." Ucap Brandon, dia memegang tangan lemah papa nya dan beberapa kali mengecupi nya dengan sayang.


"P-apa tau Nak, kamu sudah bahagia dengan istrimu, sebentar lagi kamu akan menjadi ayah kan? Jadilah suami dan ayah yang baik, yang bisa melindungi dan menjaga mereka, memberikan contoh yang baik."


"Brandon, papa tak tau harus bicara apalagi. Kamu sudah sangat sempurna di mata papa, kebaikan dan kerendahan hati bahkan sudah kamu miliki. Papa hanya berpesan, tolong bahagiakan menantu dan cucu papa."


"Jika sudah waktu nya nanti, kamu harus kuat. Berdiri di depan dan menguatkan yang lain, jangan lemah, jangan cengeng, apalagi menangis meraung, tak boleh begitu. Kamu pria yang kuat dan tegar."


"Kenapa papa bicara seperti ini, memang nya papa mau kemana? Lihat Marsya, sebentar lagi dia melahirkan. Apa papa tidak ingin melihat cucu papa, bermain dengan nya?" Tanya Brandon, air mata nya sudah tumpah membasahi kedua pipi nya.


Papa Roberts tersenyum manis, entah apa maksud dari senyuman itu.


"Setiap yang bernyawa pasti mati Nak, begitu juga papa. Jika papa pergi, kamu harus ikhlas, menerima semua nya dengan lapang dada. Maaf jika selama ini papa banyak salah pada mu, pada kakak mu, tolong sampaikan permintaan maaf pada kakak mu dari papa. Papa hanya takut tak sempat.."


Nafas nya berat, seperti apa himpitan batu berat yang menimpa nya.


"Papa rasa waktu papa segera datang, ingat pesan papa tadi. Jangan menangis, jadi lah pria yang kuat, jangan jadi lemah hanya karena kehilangan. Berbahagialah, doa papa selalu menyertai mu, meski nanti kita berada di alam yang berbeda."


Sedetik kemudian, tangan Papa Roberts terkulai lemah. Brandon yang sadar, buru-buru memeriksa denyut nadi nya, tapi sayang Papa nya telah pergi untuk selamanya.


Brandon menangis dalam diam, dia mengusap wajah papa nya dengan buliran air mata yang terus merembes keluar.


"Papa, maafkan Brandon belum bisa membahagiakan Papa." Gumam Brandon di sela tangis nya.


Marsya yang merasa tak enak hati dia masuk menyusul suami nya, dan dia melihat pemandangan yang begitu memilukan.


Brandon duduk bersimpuh di lantai dengan kepala yang tertunduk dan menyandar di sisi ranjang, tapi bahu nya berguncang pelan.


"Sayang, ada apa? Kenapa menangis?" Tanya Marsya, dia belum paham dengan situasi yang terjadi.


"Papa yang..."


"Papa kenapa sayang?" Tanya Marsya, padahal dalam hati dia sudah berfikiran kemungkinan terburuk yang terjadi, yaitu kematian.


"Papa pergi meninggalkan kita untuk selamanya." Jawab Brandon.


Marsya mematung dengan air mata yang meluncur bebas begitu saja, tak menyangka kalau nasihat nya tadi pagi adalah yang terakhir.


"Ma.." Teriak Marsya.


"Ya, kenapa Ca?"


"Panggil bang Raka sama bang Haris." Ucap Marsya, dia sendiri langsung memeluk suami nya.


"Iya.." Ibu Asih segera pergi dengan tergesa, bahkan dia lupa menggunakan alas kaki.


....

__ADS_1


🌻🌻🌻


Yang sabar ya bang.😭😭


__ADS_2