Mencintai Adik Sahabatku

Mencintai Adik Sahabatku
Lita Kritis?


__ADS_3

Raut wajah Brandon berubah seketika, dia kalang kabut dan segera menyambar jaket jeans nya yang tadi dia letakan di sandaran kursi.


"Sayang kenapa? kok gitu, baru aja duduk." Tanya Marsya heran.


"Kak Lita mau lahiran yang, sekarang udah di rumah sakit, dan keadaan nya kritis." Jawab Brandon dia memakai jaket nya dengan tergesa.


"Terus sekarang ayang mau kesana? Aku ikut ya.."


"Ganti baju nya cepetan sayang." Ucap Brandon, Marsya pun mengangguk dan segera pergi ke kamar dan mengganti pakaian nya.


Setelah berpamitan pada ibu nya, Marsya pun pergi ikut ke rumah sakit bersama lelaki nya. Di jalan, Brandon tak fokus hingga beberapa kali motor yang dia kendarai hampir oleng ke samping, untung nya ada Marsya yang mengingatkan, dia sangat panik saat mendengar kakak ipar nya kritis.


Setengah jam kemudian, Brandon berlari di koridor rumah sakit di ikuti Marsya di belakang nya, dia tau kalau kakak nya masih di ruang UGD.


Cukup lama berlari kesana kemari mencari ruangan UGD, akhirnya dia melihat abang nya tengah duduk sambil menunduk di kursi tunggu.


"Bang, gimana keadaan kakak ipar?" Tanya Brandon, dengan nafas yang tersengal karena habis berlari, begitu juga dengan Marsya.


"Dokter masih nanganin di dalam," Jawab Raka pelan.


"Gimana bisa melahirkan sekarang? Kan harus nya masih beberapa hari lagi kan?" Tanya Brandon.


"D-dia jatuh di kamar mandi Brand." Jawab Raka lirih.


"Apa? Hei bang, lu sebagai suami nya kemana aja hah?"


"Kejadian nya sebelum gue pulang, saat gue masuk kamar Lita udah bersandar dengan darah yang menggenang di lantai kamar mandi." Jelas Raka.


"Ahhh sialll, pantas saja hati ku tak tenang." Rutuk Brandon, dia menjambak rambut nya sendiri.


"Udah yang, sekarang bukan waktu nya untuk saling menyalahkan atau marah-marah, tapi kita harus mendoakan agar kak Lita baik-baik saja dan bayi nya juga." Marsya mengusap punggung lelaki nya dengan lembut.


"Sayangg.." Brandon memeluk Marsya, dia menangis terisak dalam pelukan gadis nya, rasa nya dia gagal menjaga kakak ipar nya, meski ini bukan sepenuhnya kesalahan nya juga.

__ADS_1


"Sabar sayang, kita doakan kak Lita. Kuatlah, lihat kasian abang mu. Kamu harus nya menguatkan dia, dia pasti lebih merasakan sakit dan merasa bersalah, kamu gak boleh nyalahin dia. Ini semua bukan keinginan kita,"


Tak lama, datang lah Mama Renata dengan wajah pias nya. Dia baru saja pulang dari lembang, menghadiri acara sebuah acara santunan untuk anak-anak yatim. Tapi ketika pulang, dia malah di kejutkan dengan darah yang tercecer dari lantai atas tepat nya kamar Anak dan menantu nya, sampai ke garasi.


Perasaan nya tak enak, dia segera menghubungi ponsel Raka dan benar saja yang dia takutkan benar-benar terjadi.


Lita tak sendiri, ada satu pembantu rumah tangga. Tapi entah kemana dia, saat Nyonya muda nya mengalami kejadian tragis dia malah menghilang.


"Bagaimana menantu ku?" Raka mendongak perlahan, dan menggeleng mengisyaratkan semua nya tak baik-baik saja.


Mama Renata menatap sendu keadaan dua pria gentle di depan nya, yang satu nya bersandar di bahu kekasihnya , tapi pandangan nya kosong dengan wajah yang di penuhi bulir-bulir air mata. Sedangkan yang satu nya, menunduk dalam dan meremat jemari nya.


"Kemarilah Nak, kamu butuh sandaran kan?" Tanpa basa-basi, Raka memeluk erat mama nya. Tangis nya pecah di iringi isakan yang memilukan, dia menumpahkan segala nya di pelukan mama nya.


"Aku suami yang buruk kan Ma?"


"Tidak! Kamu suami yang baik Nak, semua ini bukan keinginan kita." Jawab Mama Renata, dia mengusap punggung Raka yang bergetar karena tangisan nya.


"Jangan menyalahkan diri sendiri, ini sudah takdir. Kuatlah," Ucap Mama Renata,


Tak lama derap langkah mendekat, itu Haris dan Bella yang datang bersamaan dengan Elgar dan istrinya, Amira.


"Bagaimana keadaan adik ku?" Tanya nya dengan wajah khawatir nya.


"Dokter belum keluar dari ruangan ini bang," jawab Brandon, dia sudah bisa mengendalikan kesedihan nya.


"Ya tuhan! Harusnya aku membawa nya pulang, punya suami tapi gak becus jagain istri nya." Sindir Haris. Raka hanya diam, tak berniat menjawab sindiran abang nya karena itu fakta nya, dia tak mampu menjaga istri nya yang tengah hamil tua.


Amira melihat kehancuran di mata asisten suami sekaligus suami dari sahabat nya, dia pernah ada di posisi ini kehilangan sementara orang terkasih nya. Saat itu rasa nya dunia seakan runtuh, harapan nya seolah sirna apalagi setelah suami nya di nyatakan koma.


"Sayang, lihat wajah Raka.." Ucap Mira. Elgar paham, dan langsung duduk di samping asisten kepercayaan nya.


"Sabar ya, gue gak bisa bilang apa-apa lagi. Tapi kalau bisa, lu harus tetep kuat. Percaya sama yang di atas, istri lu pasti baik-baik aja."

__ADS_1


"Terimakasih pak, sudah menyempatkan datang kemari." Ucap Raka lirih.


"Tentu saja, kau orang kepercayaan ku. Lagi pun istri mu berteman baik dengan istri ku." Raka hanya mendongak sedikit, dan tersenyum samar.


Hati nya terasa sangat sakit, bagai di tikam seribu pisau. Ingin sekali dia mendobrak pintu dan melihat bagaimana keadaan istri nya, tapi semua itu menyalahi aturan rumah sakit, dan dia tak bisa melakukan itu.


Lagi-lagi, suara derap langkah mendekat dan pemilik nya adalah dua pria paruh baya. Danu yang datang bersama kakak nya, Dani.


Elgar memberi isyarat agar jangan mengajak bicara dulu, apalagi dengan Raka. Dan mereka berdua paham dengan keadaan Raka yang sangat rapuh.


Pintu terbuka, menampilkan empat orang perawat dan dua orang dokter yang mendorong brankar Lita.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Raka dengan wajah pucat.


"Sementara kondisi istri bapak masih kritis, kami harus membawa nya ke ruangan lain. Bayi nya sudah berhasil di selamatkan, berjenis kelamin perempuan sehat dan sempurna. Saat ini sedang di bersihkan dan di mandikan suster di ruangan khusus bayi."


"Apa ada yang bergolongan darah A negatif? Kebetulan di rumah sakit ini stok darah sedang kosong, kami membutuhkan donor segera."


"Saya dok, saya bersedia mendonorkan darah saya." Ucap seseorang dari belakang, dia Danu.


"Baik pak, mari ikut saya." Danu mengekor di belakang dokter itu, bagaimana pun cara nya akan dia lakukan agar Raka bisa berdamai dengan nya.


Raka tertegun di tempat nya, dia tak menyangka orang yang dia benci ternyata mau mendonorkan darah untuk istri nya yang sangat sedang membutuhkan.


"Terimakasih, semoga ini awal yang baik untuk mereka berdua." Batin Brandon.


🌻🌻


Litaaa😞😞



tinggalkan jejak ya readers☺️

__ADS_1


__ADS_2