Mencintai Adik Sahabatku

Mencintai Adik Sahabatku
Dendam Masa Lalu


__ADS_3

Raka baru saja akan menutup mata nya, saat pintu terbuka dengan perlahan. Seketika kantuk nya hilang, mata nya terbuka lebar dan melirik ke arah pintu, siapa yang datang malam-malam begini.


"Apa aku mengganggu?" Tanya Pak El.


"Ahh saya kira siapa, silahkan masuk Pak." Jawab Raka sambil tersenyum canggung, atasan nya datang bersama istri nya.


"Kak Mira.. "


"Bagaimana keadaan mu Lita? Sudah baikan?" Tanya Amira, istri Elgar.


"Iya kak, besok sudah bisa pulang kok."


"Syukurlah, ini salad buah buatan Siska untuk mu. Kamu tau? Salad buah buatan Siska itu enak nya kebangetan, kamu harus coba." Ucap Amira, antusias.


"Ohh ya, Siska sama Monica gak bisa ikut, soalnya anak nya lagi sakit, kompakan."


"Maura sama Arvin gimana Kak?" Tanya Lita.


"Sama kakek nenek nya, Lit."


"Ohh iya kak."


Meninggalkan istri-istri yang sedang berbincang, para suami pun memutuskan untuk keluar ruangan, berbicara suatu hal.


"Ikut aku Raka." Ajak Pak El. Raka mengangguk dan mengikuti Elgar keluar ruangan, setelah pamit pada istri nya, yang sedang asik mengobrol dengan istri bos nya.


Mereka berdua keluar, dan duduk di kursi ruang tunggu.


"Ada apa pak?" Tanya Raka.


"Ingat kata ku jika di luar kantor, jangan formal dengan ku."


"Tapi bapak adalah atasan saya." Ucap Raka.


"Di kantor, sekarang bukan jam kantor. Jadi panggil nama ku saja, kita sama orang biasa. Hanya saja istri ku kaya, jadi aku kecipratan." Gurau Elgar.


"Hheee, iya El."


"Terdengar lebih baik." Ucap Elgar.


"Ngomong-ngomong mau bicara apa El?" Tanya Raka serius.


"Ayah mu yang melakukan itu pada istri mu kan?"

__ADS_1


"I-iya.." Jawab Raka sambil menunduk.


"Kau tak terfikirkan untuk membalas tua bangka itu, dan kau tau? Aku memiliki dendam pribadi pada ayah mu itu." Ucap Elgar, fikiran nya menerawang jauh saat pertama kali bertemu pria angkuh itu di toko buah nya.


Raka membulatkan mata nya, bagaimana bisa ayah nya memiliki masalah dengan orang yang berpengaruh seperti Elgar?.


Flashback on.


Elgar tengah menunggui kios milik Robi, jauh sebelum dia mengenal Amira.


"Berapa buah mangga ini?" Tanya Seseorang pria dengan wanita yang menggelayut manja di lengan nya, terlihat perut nya membuncit.


"250ribu perkilo Tuan."


"Apa? Kenapa buah yang di jual di pinggir jalan seperti ini bisa semahal ini?" Teriak orang itu dengan nada tinggi.


"Maaf tuan, paman saya hanya menjual buah dengan kualitas yang terbaik."


"Terbaik apa nya? di pajang di pinggir jalan, di supermarket juga takkan semahal ini. Lihat, bungkus nya saja penuh dengan debu." Tunjuk nya dengan sombong.


"Jika tidak berniat membeli, setidaknya jangan membuat keributan dan merendahkan Tuan. Saya sudah cukup bersabar dengan segala teriakan anda sedari tadi." Elgar menatap pria itu dengan tajam.


"Ckkk, orang miskin. Lihat sayang, pedagang nya tidak ramah. Kita pergi saja." Ucap Lelaki itu.


"Saya memang miskin makanya saya bekerja, tapi saya beretika dan tidak merendahkan orang lain."


"Kau berani menjawab ku hah? Bocah sialan.." ucap pria itu, melayangkan sebuah tinju hingga Elgar terkapar. Sudut bibir nya mengeluarkan darah segar.


"Jangan mencoba memancingku bocah, aku pria kaya yang berkuasa. Kau tak ada seujung kuku dari ku, cihh.." Pria itu meludah ke arah Elgar, mungkin belum cukup dia memberi bogem pada Elgar.


Pria itu mengambil buah yang di tunjuk nya tadi, tak tanggung-tanggung bahkan dua kap sekaligus, tanpa membayar.


Elgar menatap nanar kepergian pria itu dengan membawa buah dagangan nya, sudah di pastikan dia rugi lima ratus ribu dan paman nya pasti akan marah besar.


"Kata nya kaya dan berkuasa, tapi ngambil buah gak bayar. Darimana aku ganti kerugian nya Paman?" Gumam Elgar sambil membereskan dagangan nya yang sempat di acak-acak oleh pria itu.


Flashback off.


Raka masih melongo mendengar kilas balik masa lalu atasan nya dengan laki-laki tua yang dia sebut Ayah.


"Maafkan ayah saya Pak."


"Kenapa? kau tak salah apapun, tapi rasa sakit itu masih ada Raka." Jawab Elgar.

__ADS_1


"Silahkan buat apapun yang menurut bapak bisa membalaskan rasa sakit bapak dulu." Ucap Raka.


"Kau tak keberatan?" tanya Elgar, Raka menggeleng.


"Saya sudah muak dengan pria itu, saya tak tenang. apalagi dia selalu mengganggu istri dan ibu saya, saat ini dia ada di markas kecil Pak."


"Kata Bima, luka tembak nya sudah membusuk. Di tambah dengan penyakit yang di derita nya, semakin menambah kesakitan nya setiap waktu." Jawab Raka.


"Aku hanya ingin dia mengingat ku Raka, rasa nya tak pantas jika aku harus menunjukan siapa aku yang sebenarnya. Tuhan sudah menghukum nya dengan penyakit, jadi aku rasa itu sudah cukup mewakili."


"Lakukan lah Pak, aku takkan melarang. Aku akan membiarkan dia mati secara perlahan, aku tak mau mengotori tangan ku." Ucap Raka.


"Baiklah, aku terlalu banyak bicara dengan mu. Dan kau terlalu banyak tau tentang masa lalu ku."


"Orang miskin takkan bisa di hargai Raka, mau kita cerdas atau berprestasi sekali pun. Jika tak ada uang, semua nya sia-sia. Uang memegang kendali penuh atas hati manusia, mereka bisa baik karena uang."


"Jika kita banyak uang, orang asing pun akan berdatangan dan mengaku sodara, tapi saat kita tak punya uang? Mereka akan pergi, tak ada yang abadi bersama kita Raka. Bahkan bayangan mu sendiri akan meninggalkan mu di saat kegelapan."


"Jadi yang bisa kita lakukan adalah, cari uang. Disaat kita banyak uang, beli omongan orang yang dulu mencaci, menghina kita. Tapi jangan tiru sifat nya yang seperti bunglon, berubah-ubah sesuai biaya yang masuk ke dalam kantong." Ucap Elgar, menasehati Raka.


"Terimakasih atas nasehat nya Pak, akan selalu saya ingat." Elgar tersenyum dan mengusap pundak Raka pelan.


"Kau sekretaris plus asisten terbaik yang pernah aku temukan, kau bisa jadi teman dan rekan kerja dalam waktu bersamaan. Bekerja lah dengan nyaman bersama ku Raka."


"Saya takkan kemana-mana Pak El, saya sudah nyaman dengan pekerjaan saya yang sekarang." Jaawab Raka, mereka berdua pun tertawa.


Hingga tak lama kemudian, Amira keluar.


"Yang, pulang yuk udah malem. Lita sama Raka harus istirahat, Maura sama Arvin takut rewel juga." Ucap Amira.


"Baiklah Raka, aku pulang dulu. Besok gak usah masuk kantor, temenin dulu istri mu. Semoga cepat sembuh." Amira pun menggamit tangan Elgar dan berjalan beriringan. Potret suami istri yang harmonis.


Raka pun masuk kembali ke dalam ruangan Lita, dan melihat istri nya tengah memakan salad buah yang di bawa Amira tadi.


"Enak?"


"Banget, Mas mau?" Tawar Lita, Raka mengangguk. Dengan sigap Lita menyuapi Raka.


"Enak yang, tapi buat kamu aja biar dede bayi nya sehat. Habisin cepet, setelah itu kita tidur, udah larut banget." Ucap Raka. Lita pun mengangguk mengerti dan melanjutkan makan salad nya dengan lahap.


🌻🌻🌻


Farhan biang masalah🤭

__ADS_1


Tinggalkan jejak, vote dan tap favorit ya😍✨


__ADS_2